
Sekitar lima menit Ang menangis tanpa henti. Amdara terus menenangkan dan menepuk pelan punggung Ang. Tanpa ingat pada Senior Fans dan Inay yang sekarang malah tengah bertemu mayat hidup lagi.
Setelah Ang agak lebih baik, Amdara melepas pelukan. "Apa sekarang kau merasa lebih baik?"
Ang mengangguk. Dia mengusap air yang mengalir pada pipi menggunakan punggung tangan. Perasaannya jauh lebih lega, dan juga dirinya merasa nyaman saat bercerita dengan Amdara, teman barunya.
Amdara tak tahu caranya menghibur. Dia mengajak Ang untuk duduk, melihat keadaan desa Bumi Selatan yang tenang di bawah sinar dewi malam.
"Terima kasih." Ang berkata tulus, "telah mau menjadi temanku."
Amdara tersenyum, lalu mengangguk tanpa beban. Dia merasa Ang sekarang hanya seorang bocah biasa yang kesepian. Tidak ada bahaya apa pun yang Amdara rasakan.
Menjadi teman dalam waktu singkat adalah hal yang masih baru bagi Amdara. Dia merasa senang karena Ang sudah menanggapnya sebagai teman.
Amdara mengatakan maaf karena datang terlambat, mungkin saja jika tak ada masalah dalam perjalanan kemari, Ang bisa merasakan memiliki teman dalam waktu cepat. Ang yang mendengarnya tertawa kecil, dia menjawab tak seharusnya Amdara meminta maaf karena hal itu. Namun, Anglah yang seharusnya meminta maaf karena sebelumnya membuat Amdara salah paham.
"Pertanyaan sebelumnya belum kau jawab."
Perkataan Ang barusan membuat Amdara berpikir sejenak. Sebelum akhirnya menjawab.
"Mn? Tujuanku?"
Ang mengangguk. Dia masih menatap Amdara yang kini menatap ke depan. Terlihat Amdara yang mengembuskan napas panjang.
"Aku menjalankan misi." Amdara mengepalkan tangan sebelum kembali berkata, "warga desa Bumi Selatan memiliki penyakit menular. Tak ada yang mengatakan warganya menjadi mayat hidup."
Amdara kembali berbicara dengan nada datar. "Kupikir misi ini ditulis sengaja oleh seseorang agar ada yang menyelesaikan masalah sebenarnya."
Ang terdiam, dia terbatuk kecil saat mendengar kalimat terakhir Amdara.
"Yah, mungkin kau benar." Ang menggaruk pipi yang tak gatal. "Selama ini tak ada yang mampu menyelesaikan. Jadi pasti orang itu menyebarkan isu bahwa warga desa ini terkena penyakit menular."
Amdara menoleh ke samping sambil menaikkan sebelah alisnya. Namun, bukankah tidak ada orang yang datang kemari untuk membantu? Lalu bagaimana dengan isu yang beredar dan surat permohonan bantuan? Dan lagi Amdara berpikir Ang berbicara seperti orang dewasa tidak seperti anak kecil pada umumnya. Walaupun Ang hebat di kekuatan dan cara pikir, tetap saja melihat bocah berumur 5 tahun berbicara seperti ini terlihat tidak biasa.
"Sejak kapan kau berada di desa ini?"
Pertanyaan Amdara membuat Ang tertohok, dan langsung memalingkan pandangan.
"A-aku, sejak lahir."
Amdara mengangguk dan kemudian berkata, "mn. Jadi kau yang menulis surat permohonan itu."
Kini Ang dibuat tersentak. Dia kelabakan. "T-tidak. B-bukan aku. Bagaimana mungkin aku yang menulis surat itu?"
__ADS_1
"Bohong." Amdara menatap tanpa ekspresi ke arah Ang yang langsung menelan ludah susah payah. Amdara kemudian menjelaskan tidak ada yang bisa membuat surat permohonan mengenai desa kecuali Ang sendiri.
"Kau juga sebenarnya bisa keluar desa 'kan?"
Ang menitikkan keringat di dahi. Dia merasa Amdara cukup pintar. Ang yang merasa Amdara tidak bisa dibod*hi akhirnya menghembuskan napas dan menjawab dengan anggukan kelapa.
Sudah Amdara duga sejak Ang yang berkata tidak ada orang luar yang membantu desa Bumi Selatan akan tetapi berita mengenai penyakit menular itu bisa masuk ke telinga warga lain. Keyakinan Amdara ditambah oleh kegugupan Ang saat mencoba berbohong.
Tidak ada alasan lain Ang berbohong sekarang. Dia juga mengatakan bahwa dirinyalah yang membuat surat permohonan, dan mengedarkan topik mengenai kondisi warga desa Bumi Selatan dengan harapan ada yang membantunya. Namun, sayangnya harapan itu mengambang. Tak ada yang membantu satu orangpun.
Amdara lagi dan lagi kecewa pada pemerintah negeri ini yang kurang tanggap pada warga masyarakat kecil.
Ang tiba-tiba berkata, "sudahlah. Cerita ini akan segera berakhir. Oh ya, kau tidak penasaran mengapa aku memakai penutup kepala?"
Amdara menggeleng, membuat Ang berdecak dan menggelembungkan pipi. Namun, sebenarnya Amdara penasaran tetapi dia tak ingin mengatakan.
Ang perlahan membuka penutup kepala, Amdara jadi tegang saat yang pertama kali terlihat wajah bersih tak seperti sebelumnya atau malah seperti mayat hidup. Ang masih menutup mata ketika penutup kepala dia lepas.
Amdara masih menunggu mata Ang yang terbuka tetapi sampai tiga menit tak kunjung diperlihatkan warna mata. Amdara berdecak dalam hati, dia tak ingin memaksa akan tetapi rasa penasarannya cukup besar.
"Buka matamu."
"Kau penasaran?" Ang tersenyum meledek.
Amdara mengembuskan napas kesal. "Tidak. Tutup saja matamu. Pasti matamu buruk."
"Kau kejam sekali ... mataku sangat bagus tau ...!"
Bulu mata lentik itu bergetar saat matanya terbuka perlahan. Mata hitam pekat yang pernah Amdara lihat tidak ada. Yang ada sekarang warna mata merah yang tengah menatapnya kesal.
Amdara menahan napas, mata Ang menggambarkan kekejaman pada lawan.
"Kan? Kau saja sampai terpesona."
Ang tersenyum meledek. Dia menyilangkan kedua tangan depan dada.
Amdara mengedutkan sebelah alisnya. Dia memalingkan wajah. Apanya yang terpesona? Amdara lebih terpesona pada mata Senior Fans ketimbang mata merah Ang.
Amdara berkata dingin, "tidak sama sekali."
Namun, yang ada Ang malah terus meledek dan mengatakan Amdara yang terpesona dengan matanya. Amdara sampai dibuat kesal sendiri.
"Memalukan."
__ADS_1
Satu kata itu dari Amdara berhasil membuat Ang tersentak dan langsung terdiam. Dia berkedip dan mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak memalukan. Yang ada malah Amdara tengah malu karena terlesona pada Ang.
Amdara tidak habis pikir pada bocah kecil ini. Padahal usianya lebih dewasa Amdara tetapi Ang menganggapnya seperti teman seumuran.
Keduanya terlihat seperti teman akrab.
"Berhenti bersikap tidak tahu malu." Amdara mengedarkan pandangan. Dia baru saja teringat dengan Senior Fans dan Inay.
Ang yang melihat Amdara seperti tengah mencari seseorang lantas berujar, "dua orang itu tidak akan menemukanmu. Aku telah membuat mantra agar tidak ada yang melihat kita."
Amdara membelalakkan mata. Dia tidak menyangka Ang telah membuat perisai pelindung agar orang lain tidak melihat mereka. Amdara jadi khawatir pada Senior Fans dan Inay.
"Kau tak perlu khawatir. Mereka baik-baik saja."
Ang berkata dengan ragu. Dia sebenarnya tidak tahu mengenai keadaan dua orang itu. Namun, agar Amdara tidak merasa cemas dirinya harus berbohong dan untungnya Amdara jadi merasa lega mendengar kebohongan itu.
Ang mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya keadaan Amdara yang lemah.
"Kau lemah sekali."
"Aku tidak lemah."
"Benarkah?" Ang menatap dalam Amdara. Dan lalu berkata, "lalu bagaimana dengan Benang Merah itu?"
Perkataan Ang membuat Amdara tersentak. Bagaimana Ang bisa mengetahui inti spiritualnya yang terlilit Benang Merah? Amdara bersikap waspada, terlihat dari tatapan matanya yang lebih dingin dan jelas ingin Ang mengatakan bagaimana dia bisa mengetahui. Ang tentu menyadari tatapan Amdara, tetapi dia diam seperti tak ingin mengatakan apa pun.
"Kau, apa yang kau ketahui mengenai Benang Merah?"
Amdara bertanya lain. Mau bagaimana pun mungkin Ang memiliki kekuatan besar sampai bisa mengetahui Amdara yang memiliki Benang Merah.
Ang menjawab, "mn, aku pernah mendengarnya dari seseorang." Ang mengangguk lalu kembali melanjutkan perkataannya. "Dia juga mengetahui cara melepasnya."
Amdara tersentak. Tidak menyangka Ang mengetahui orang yang bisa melepas Benang Merah. Dengan cepat bocah berambut putih itu bertanya, "siapa?"
Ang memberikan sebuah kertas yang mana berisi tanda pengenal orang yang mengetahui teknik yang bisa melepas Benang Merah. Amdara menerimanya hati-hati dan mengucapkan terima kasih. Dia lebih terkejut karena Ang memberikan sesuatu yang berharga begitu saja.
Ang hanya mengangguk dan berkata hal itu sebagai tanda terima kasihnya karena Amdara sudah mau mencoba membantu warga desa Bumi Selatan ini.
Amdara tersenyum simpul, lalu mengelus-elus kepala Ang pelan. Tindakannya membuat Ang tersentak dan segera menangkis tangan Amdara dari kepalanya.
"Aku bukan anak kecil."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Kau ingin melihat wujud asliku?"
Kabut hitam muncul di sekeliling Ang, aura gelap dapat dirasakan Amdara walaupun tipis. Tubuh kecil sebelumnya mulai tumbuh, jubah hitamnya berkibar. Tanda angin pada jubah yang dikenakan Ang tiba-tiba muncul dan bersinar, membuat mata Amdara tak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.