
Inay melesat dengan cepat. Pikirannya berkecambuk dengan kondisi Amdara. Dia menggertakkan gigi.
"Sudah kukatakan ini berbahaya. Tapi kau malah bersikukuh menjalankan misi ini?! Dara, apa kau bosan mendapat masalah sampai berinisiatif mengambil masalah?!"
Inay tahu kekuatan Amdara yang hanya satu langkah darinya. Tetapi bocah berambut putih tersebut terlihat mampu menghadapi semua masalah. Namun, sebenarnya Amdara hanya seorang bocah lemah yang sengaja dia sembunyikan.
"Bertahanlah, Dara."
Sekelebat bayangan putih melintas di depannya. Inay yang tak bisa menghentikan laju terbangnya menabrak bayangan tersebut hingga dirinya terlental ke bawah tepat di hutan yang pernah dia dan Amdara menghabisi Roh Hitam.
BAAM!
Sebuah serangan yang entah dari mana melesat cepat tepat di samping Inay yang langsung menghindar. Detakan jantungnya begitu cepat. Entah apa yang baru saja ditabrak, tetapi Inay merasa itu adalah manusia. Tak jelas wajahnya, tetapi Inay tahu manusia barusan memiliki tubuh kecil seumurannya.
Letusan kembang api di atas membuat Inay tersentak. Kembang api biasanya digunakan seseorang untuk memanggil bala bantuan.
Inay yang belum setengah sadar atas apa yang baru saja terjadi menahan napas merasakan hawa membunuh tak jauh darinya. Bahkan Inay merasakan dadanya semakin sesak.
Inay menyipitkan mata ke atas tak jauh darinya tatkala dia seperti mengenal orang tersebut yang kini tengah melawan seorang wanita berumur 25 tahunan.
"Bocah itu?"
"Sialan!" Inay menggunakan rambutnya untuk berlindung dari serangan nyasar. Dia hampir saja celaka jika tak cepat berlindung.
Debaman keras serta petir menyambar. Percikan kembang api akibat serangan menambah kesan tak tertahan di pandangan orang.
Entah bagaimana orang yang dilihat Inay adalah Kenes. Sebelumnya tidak ada seseorang yang tengah bertarung.
Tak ingin mendapat masalah, Inay terbang ke arah lain mencari jalan menuju penginapan. Berharap kehadirannya bukanlah pengganggu untuk Kenes dan lawan.
Inay harus cepat-cepat membantu Amdara sebelum hal terburuk datang. Sayangnya, harapan itu pupus setelah seorang wanita yang barusan menyerang Kenes kini muncul di hadapannya.
"Kau ingin pergi ke mana, Nak?"
Wanita itu tersenyum, lebih tepatnya menyeringai ke arah Inay di depannya yang kini benar-benar terkejut.
"S-siapa kau?"
Pertanyaan bod*h tersebut muncul begitu saja. Hawa membunuh sebelumnya ditarik kembali oleh wanita yang memakai pakaian serba hitam. Rambut panjangnya sampai dilambai-lambai angin malam.
"Mn? Seorang bocah barusan menunjuk kau bisa membantuku."
Kaki Inay lemas seketika. Dia baru saja akan melarikan diri sebelum mendapat masalah atau lebih buruk lagi dirinya akan dilenyapkan. Tetapi dengan cepat wanita itu melilitkan sebuah selendang hitam ke seluruh tubuh Inay. Inay tidak bisa melakukan perlawanan. Dia merasakan kekuatannya mulai terserot ke selendang lawan.
Di sisi lain, orang yang dicemaskan Inay kini nyawanya hampir di ujung tanduk.
__ADS_1
Seseorang nyaris merenggut nyawa Amdara jika saja sebuah benda melayang menangkis serangan Waki.
Nenek Tua mendarat di depan Amdara sambil menatap nyalang ke arah Waki yang tersentak.
Samar-samar Amdara melihat seseorang yang baru saja mendarat di depannya sebelum dirinya kehilangan kesadaran. Tubuhnya tidak bisa digerakan, bahkan hanya untuk menyerap kekuatan alam pun rasanya begitu sulit. Seakan ada sesuatu yang menyegel aliran energi spiritualnya.
"Dasar nenek tua, apa yang kau lakukan?!"
Waki memelototkan mata, wajahnya terlihat merah menandakan dia marah besar. Nenek yang baru saja mendarat bernama Nian, seorang nenek yang menjual jepit rambut di pasar. Pakaian bercorak bunga warna hijau, rambut yang masih hitam digulung serta yang membuat mencolok adalah kacamata besar merah.
Nenek Nian mendenkus kesal dan berkata, "menurutmu apa yang kulakukan?"
Waki tersentak mendengar nenek tua itu berbicara demikian. Waki mengepalkan tangan dan hendak menyerang tetapi Nenek Nian kembali berujar yang membuat Waki sampai membuka mulut dan mata lebar-lebar.
"Kau pria tidak tahu malu! Bagaimana mungkin melawan seorang bocah?! Kau terlihat pecundang barusan. Apa sekarang kau juga akan melawan nenek tua ini? Bertambah sudah wajah pecundangmu di hadapan mereka yang melihat."
Nenek Nian menunjuk ke atas, di mana penginapan tingkat dua yang memiliki lubang transparan, memperlihatkan beberapa orang yang tengah melihat mereka santai.
Waki mendongak, dan wajahnya seketika bertambah marah. Dia sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Waki dapat melihat beberapa orang yang mungkin lebih kuat darinya tengah tertawa.
Pria berambut merah itu semakin mengepalkan tangan dan mulai berpikir dia baru saja dijadikan tontonan oleh orang-orang di atas sejak tadi.
Melihat ekspresi Waki, Nenek Nian tersenyum miring. Dia sengaja berkata demikian agar menghindari pertarungan yang akan berdampak besar jika dirinya sampai mengeluarkan sejurus kekuatan.
"Heh, sebaiknya jaga mulutmu Nenek Tua. Yang aku lakukan barusan hanya ingin melihat sampai mana kemampuan bocah itu."
"Ooh, benarkah?" Nenek Nian yang wajahnya sudah berkeriput itu mendekat. "Bagaimana jika aku tanyakan langsung pada mereka?"
Waki semakin dibuat tersentak. Dia menahan amarah dan menahan kekuatan yang hampir dilesatkan. Dan memalingkan wajah melenggang pergi begitu saja. "Aku akan membalas penghinaan ini."
Nenek Nian tersenyum puas. "Hah, silakan saja. Itu pun jika kau sanggup."
Seorang pria kisaran berumur 50an--pemilik penginapan--berlari mendekati Nenek Nian sambil membungkuk. "Terima kasih, Nyonya. Anda kembali menolong saya."
Nenek Nian tertawa dan melambaikan tangan. "Tidak perlu sungkan. Ini kewajibanku."
"Kurasa perlu memberikan Nyonya sebuah hadiah sebagai---"
"Apa maksudmu? Aku ini bukan penyelamat bayaran. Berhenti menganggapku demikian."
"Tapi---"
"Apa kau tidak mengerti maksudku, Pak Tua?"
Nenek Nian berkata tidak suka. Dia mengembuskan napas kasar. Matanya beralih pada seorang bocah yang wajahnya penuh darah, bahkan perutnya tak henti mengalirkan darah segar.
__ADS_1
Nenek Nian meminta pemilik penginapan untuk membawakan perban dan obat. Setelahnya dia menyembuhkan luka pada bocah berambut putih tersebut.
"Ini sebuah takdir tak biasa."
Nenek Nian terkejut bukan main saat tidak bisa menyembuhkan luka bagian dalam. Aliran kekuatannya ditolak begitu saja oleh tubuh Amdara. Hal langka ini membuat Nenek Nian menahan napas sejenak dan segera membawa Amdara ke kediamannya tanpa menghiraukan pemilik penginapan yang berteriak memanggil.
Di ruang bawah tanah yang hanya diterangi oleh api yang menempel pada dinding, masih terasa dingin. Ruangan yang memiliki ranjang kayu dan dua meja itu terlihat bersih. Sebuah lukisan ular terlihat hidup di dinding. Api yang semula tenang baru saja bergerak-gerak ketika seseorang melesat begitu cepat dan terlihat membaringkan pelan tubuh seseorang.
Wajah seorang berpakaian corak bunga terlihat cemas. Tangannya tak henti-henti menyentuh perut serta wajah orang yang baru saja dibaringkan yang tidak lain adalah adalah Amdara dan orang yang membawanya adalah Nenek Nian yang kini bolak-balik meracik herbal.
Keringat dingin bercucuran, tangan yang gemetar memupuk tanaman herbal putih.
"Ini bukan kesalahan bocah itu."
Nenek Nian menggeleng dengan pemikirannya yang aneh. Setelah memerban perut dan luka yang lain, mulut Amdara diberi obat yang baru saja diracik.
Pagi begitu cepat datang, tetapi Amdara belum juga sadarkan diri. Nenek Nian yang tidak bisa menyembuhkan luka dalam Amdara hanya mengandalkan racikan yang dibuat.
Di Akademi Magic Awan Langit kelas Satu C, Guru Aneh bertanya pada murid-murid ke mana perginya Luffy, Inay, Ketua Kelas Dirgan, Atma, Rinai dan Nada tetapi tidak ada yang tahu. Bahkan Aray yang kini sudah bisa memasuki kelas nampak berdecak kesal. Semalaman dia mencari bocah berambut putih yang tidak lain adalah Amdara, tetapi dia tidak menemukan keberadaannya.
"Apa mereka keluar, Guru?"
Pertanyaan salah seorang murid membuat Guru Aneh berpikir ulang. Amdara dan Inay adalah penyusup yang memasuki sekolah ini tanpa terdeteksi segel pelindung. Ada kemungkinan mereka pergi dengan cara demikian lagi. Tetapi mengapa Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada juga tidak ada?
"Apa kau sama sekali tidak menemukan mereka, Aray?"
Aray segera menggeleng dengan pertanyaan Guru Aneh. Memang, dia hanya mencari Amdara. Tetapi gelengannya juga termasuk jawaban bahwa dia tidak melihat teman yang lain kan?
Tanpa mereka ketahui, salah seorang yang mereka cari sekarang tengah berbaring tidak berdaya di sebuah ruang bawah tanah.
Amdara perlahan membuka mata. Merasakan tubuhnya yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Matanya melihat ke atas, hanya ada tembok yang terlihat seperti tanah.
Amdara mencoba mengumpulkan nyawa yang belum sempurna terkumpul di alam mimpi. Dia terduduk dan mengedarkan pandangan. Ruangan asing.
"Mn. Di mana aku?"
Seseorang muncul di balik sekat kayu dan terlihat tersenyum ramah. Nenek tua yang pernah Amdara lihat ketika dia membeli jepit rambut yang tidak diduga memiliki Roh Hitam di dalamnya. Nenek Nian kemudian memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa Amdara berada di rumahnya.
"Kupikir kau akan bangun seminggu lagi. Tapi tak kusangka kau bangun secepat ini."
Nenek Nian memberikan racikan obat pada Amdara yang masih kebingungan dan mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Menyadari Nenek Nian orang baik, dan telah merawat dirinya. Amdara langsung mengucapkan terima kasih, dan bertanya.
"Maaf, berapa hari aku tidak sadarkan diri, Nek?"
Nenek Nian mengetuk-ngetuk jarinya di dahi sebelum menjawab.
__ADS_1
"Hanya dua hari."