Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
208 - Sesuatu Yang Tidak Terduga


__ADS_3

Setiap kali Amdara melangkah, akan ada jejak es dan asap hitam tipis. Tatapannya kali ini lebih tajam, tidak menandakan ada kesedihan yang terlihat menurut beberapa murid yang berpas-pasan sedang bersedih. Mereka nyaris ambruk ketika berpas-pasan dengan Amdara yang memiliki aura mengintimidasi dan menekan di lorong.


Tidak banyak yang tahu dia, karena waktu sudah berjalan setahun lebih. Penampilan Amdara juga sedikit berbeda.


Kakinya mendekat ke arah seorang gadis berambut merah panjang terurai menatap tanpa berkutik. Tatapan keduanya terkunci.


"Senior, kau tahu ruang bawah tanah yang mengurung tawanan Sekte Tengkorak Racun?"


Pertanyaan tiba-tiba Amdara menyadarkan gadis itu yang langsung berdehem. Dia sekali lagi menatap Amdara dari atas sampai bawah, merasa tidak asing. Namun, saat ini aura yang dirasakan sangat berbeda.


"Aku tahu. Ada apa?"


"Tolong arahkan."


"Kau bukan murid Akademi Magic Awan Langit, bukan? Untuk apa kau meminta hal privasi Akademi?"


"..."


Amdara mengeluarkan tanda pengenal, yang merupakan dirinya adalah murid di Akademi ini. Hal ini membuat gadis di depannya cukup tersentak.


Dengan berat hati gadis itu mulai menjelaskan arah ruang bawah tanah.


Amdara mengucapkan terima kasih, dan segera melesat ke arah jalan yang dituju. Kecepatannya bahkan nyaris diimbangi oleh mata manusia. Hembusan angin yang diakibatkan terasa dingin.


Ruang bawah tanah Akademi Magic Awan Langit berada di belakang gedung Akademi, tetapi di sana terdapat portal agar bisa memasuki ruang bawah tanah dan tempatnya tidak terlihat oleh mata biasa.


Amdara berhenti di belakang gedung. Di tanah, tidak jauh darinya terdapat pola awan biru, dia lantas mengeluarkan tanda pengenal dan meletakkannya di atas pola. Saat itu juga cahaya mengelilingi, dan membuatnya menghilang.


Dia muncul kembali di ruang berbeda. Tempat dengan dinding tanah, hanya diterangi oleh cahaya api biasa. Sama sekali tidak ada murid yang menjaga.


Jeruji berkekuatan terpampang jelas bercahaya putih. Tidak hanya satu, tetapi banyak ruang yang sudah banyak diisi orang. Orang-orang di sana cukup berbeda, mereka ada yang memiliki tanduk di kepala dan memiliki wajah berwarna biru dengan telinga panjang. Mereka menatap Amdara tajam. Aura yang dibawa Amdara ternyata cukup membuat mereka merinding tanpa sebab.


Amdara mengedarkan pandangan, mencari tawanan. Matanya tertuju pada ruangan besar dengan jeruji warna merah. Bahkan Amdara masih ingat orang-orang sekte itu.


"Aku menemukan kalian."


Ucapan Amdara membuat orang-orang Sekte Tengkorak Racun terkejut dan sontak menoleh. Mata membulat sempurna melihat seringai anak berambut putih. Tanpa sadar sampai menahan napas.


"G-gadis iblis!"


Suara Tetua mereka bertambah mengagetkan. Mereka tahu betapa mengerikannya kekuatan Amdara saat menggunakan elemen es. Tersentuh saja, mereka bisa beku dan pecah berkeping-keping.


Sepuluh rantai es dan api sekaligus muncul di belakang Amdara, bergerak-gerak liar. Sampai akhirnya menghantam jeruji, mengakibatkan suara keras terdengar. Percikan api keluar dan menggetarkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Suaranya sangat keras, bahkan tahanan ruangan lain sampai tersentak kaget.


Orang-orang sekte Aliran Hitam ini menelan ludah susah payah, saat ini kekuatan mereka telah tersegel dan tidak bisa mengeluarkan kekuatan. Sama sekali tidak bisa melawan.


"A-apa yang kau lakukan?!"


Salah satu dari mereka nampak marah sekaligus takut.


"Hmph. Membayar hutang Dua Tetuaku."


Blaaar!


Ketahanan jeruji itu tidak lama dihancurkan Amdara menggunakan kekuatan besar. Bahkan sekarang dia mampu mengeluarkan lebih besar kekuatan.


"Dengan membantai kalian!"


Rantai-rantai api dan es langsung melilit tawanan. Mereka yang tidak bisa mengelak hanya bisa menjerit kesakitan.


Amdara mengangkat tangan, mengepal dan langsung menurunkan dengan cepat. Saat itu juga tawanan yang terlilit terhempas ke atas dan bawah sangat keras.


Jeritan mereka terdengar tahanan di ruang lain.


"Akkh!! Lepaskan kami!!"


"H-hentikan!! Akkh!"


Amdara menggeleng, tidak merasa puas.


"Ini belum cukup."


*


*


*


Di ruang pengobatan Tetua, masih terlihat sepi hanya suara tangis lirih Tetua Widya dan Guru Kawi. Keduanya masih belum percaya atas kejadian ini.


Namun, tiba-tiba suara batuk Tetua Rasmi membuat Tetua Widya terbelalak kaget. Tetua Rasmi perlahan membuka mata, sebuah cahaya keluar dari tubuhnya yang langsung membuat warna hitam berubah seperti kulit sebelumnya.


Tetua Widya yang menyaksikan sampai membuka mulut lebar.


"K-kau hidup lagi?!"

__ADS_1


Suara Tetua Widya terdengar Guru Kawi yang langsung menoleh, dia juga sama terkejutnya. Dia baru hendak ke sana, tetapi suara batuk Tetua Genta terdengar. Hal yang sama pun terjadi.


Guru Kawi menutup mulut menggunakan kipas. Tanpa sadar berdiri dan mundur beberapa langkah.


"Tidak. B-bagaimana ini mungkin? Kau sudah tidak bernapas dan berdetak sebelumnya, Tetua."


Saat ini baik Guru Kawi dan Tetua Widya masih sama-sama syok berat. Seperti mimpi. Bagaimana bisa orang mati bisa hidup kembali?!


Tetua Genta perlahan duduk, melihat kedua tangan dan mengusap wajahnya yang sama sekali tidak ada rasa sakit. Dia memejamkan mata, merasakan semuanya berjalan lancar.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Tatapannya beralih ke Guru Kawi, meminta penjelasan. Namun, Guru Kawi malah menggeleng bingung.


"A-apa kau benar-benar Tetua Genta? Kau bukan roh jahat yang memasuki tubuh Tetua Genta, bukan?"


Pertanyaan tidak terduga keluar dari Guru Kawi. Dia mendapatkan tatapan aneh dari Tetua Genta.


"Aku hidup kembali?" Tetua Genta termenung sesaat. Mengingat terakhir kali tubuhnya terasa sakit dan dia pikir sudah mati. Dia menoleh ke arah ranjang lain, yang ternyata Tetua Rasmi juga sedang menatapnya.


Tetua Genta segera bertanya cepat, "siapa yang mengobatiku?"


"Apa? Yang mengobatimu sangat banyak. Bahkan kami tidak bisa menyelamatkanmu. Kami sudah berusaha sangat keras. T-tapi apakah obat yang kami berikan benar-benar manjur?"


Guru Kawi malah sibuk berpikir sendiri. Dia mengipas-ipas wajah menggunakan kipas berbulu.


"Tapi ... kami yakin saat itu kau dan Tetua Rasmi telah tiada. Baik dari jantung, dan organ lain tidak lagi berfungsi ...." Guru Kawi menggantungkan ucapan. Dia menautkan kedua alis.


"Dan setelah Luffy entah memberi apa di mulutmu ... tidak lama setelahnya kau kembali."


Tutur Tetua Widya setelah berpikir. Dia membuat terkejut Tetua Rasmi dan Tetua Genta.


Guru Kawi mengangguk setuju. "Itu benar. Gadis itu memberi sesuatu sebesar biji sawi ke dalam mulutmu."


"Di mana dia?"


Tanya Tetua Genta langsung membuat Guru Kawi dan Tetua Widya menggeleng.


"Dia pasti memiliki obat ajaib! Kita harus cepat bertanya kepadanya."


Suara Tetua Rasmi diangguki Tetua Genta. Mereka memiliki banyak pertanyaan saat ini. Apalagi tubuh mereka benar-benar sudah sembuh. Sungguh keajaiban yang nyata!


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2