Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
258 - Roh Hitam V


__ADS_3

"Karena kekuatan istimewamu, kau pasti kesulitan di luar sana. Raut wajahmu yang menyedihkan membuatku senang, Ang. Ha ha ha!"


Tetua Ketu menghembuskan napas gusar. Dia menyeruput teh biru, untuk menenangkan pikiran dan hatinya yang tengah dicambuk rasa rindu sekaligus kesal.


"Lima tahun kau pergi dari Akademi ini dengan mengatakan ingin berkelana. Sampai sekarang belum kembali dan membawakan bocah dungu itu kepadaku, hah yang benar saja!!"


Dia tidak berhenti mengomel. "Saat kau kembali nanti, kupastikan tubuhmu akan kubuat lumpuh agar tidak bisa membuat gara-gara."


"Aku yang membawamu ke Akademi ini untuk melatih kekuatan besar itu. Aku juga yang merawatmu lima tahun lamanya. Namun, kau malah pergi seenak jidat, seolah membuang ku?! Ang!! Murid laknat!"


Napas Tetua Ketu naik-turun karena marah. Dia membayangkan Ang yang sekarang berada di depannya, dan membayangkan Ang yang terduduk meminta ampun kepadanya.


Dia tidak peduli kepada orang kedua yang mengatakan tentang dirinya kepada Amdara. Jika bukan karena isi kertas tanda pengenal dirinya, Tetua Ketu tidak mungkin mau melakukan hal yang menurutnya cukup membahayakan. Benar, mencabut Benang Merah.


Tetua Ketu sengaja meminta gadis muda itu untuk mencari bahan-bahan yang diinginkan. Tentunya karena bahan-bahan tersebut setengah dari harga jasa mencabut Benang Merah.


Tetua Ketu menutup mata. "Aku tidak peduli bocah dungu itu tewas mengambil Bunga Api dan Permata Air. Karena kedua bahan itu memang berada di tempat membahayakan nyawa."


Dia membuka sebelah mata. Dan berkata kembali, "itu artinya dia lemah. Kau tidak boleh menyalahkan gurumu, Ang!"


Yang dikatakan Tetua Ketu memang benar. Bunga Api dan Permata Air berada di tempat yang sulit dijangkau, walau masih dalam cakupan hutan ini.


Malam semakin larut, sementara Amdara masih mencari tempat yang dikatakan Tetua Ketu. Api Biru terus menerangi jalan Amdara. Suara-suara siluman di hutan tidak pernah reda. Aura tidak biasa pun terus gadis itu rasakan.


"Tidak boleh putus asa." Amdara menyemangati diri sendiri penuh keyakinan.


Api Biru terus melayang naik-turun, seolah menyemangati Tuannya juga.


Menurut penjelasan Tetua Ketu, tempat keberadaan Bunga Api berada di sekitar lembah api. Sementara Permata Air berada di air terjun. Hanya penjelasan itu yang dikatakan.


Amdara menghela napas panjang. Dia tidak tahu di mana tempat keduanya. Dia melirik Api Biru. Senyumnya melengkung. Memunculkan dua Api Biru lagi.


"Kau cari lembah api sekitaran sini. Dan kau cari air terjun yang memiliki aura tidak biasa."


Kedua Api Biru yang diperintahkan naik-turun seolah menjawab dan melesat pergi sesuai perintah. Satu Api Biru terus menemani. Berguna melindungi Amdara jika ada siluman yang tiba-tiba menyerang. Apalagi ketika malam tiba seperti ini, biasanya para siluman akan lebih aktif beraktivitas.


Amdara memfokuskan pendengaran. Dia terbang lebih tinggi. Menyipitkan mata ke depan. Siluet orange baru saja melesat ke arah timur. Dengan gerakan cepat, gadis itu juga melesat ke sana.


"Raja Roh Hitam, yah."


Amdara menyeringai. Sudah lama dia tidak bertemu Raja Roh Hitam dan Roh Hitam lain. Hidupnya sudah lama pula terasa tenang. Dia harap, ketenangan ini akan berlangsung lama. Namun, Amdara juga tahu rode kehidupan selalu berputar.


Lesatan angin beliung tertuju pada siluet orange yang langsung berhenti dan melakukan serangan balik. Amdara langsung membuat perisai pelindung, sekaligus secara diam-diam memunculkan banyak rantai es untuk menangkap Raja Roh Hitam yang belum melakukan pembentukan tubuh asli.

__ADS_1


Sambaran petir mengarah ke atas begitu kedua serangan bertemu. Menggelegar, membuat suara-suara siluman sebelumnya terdiam.


Perisai pelindung yang dibuat tiba-tiba hancur tanpa disadari Amdara. Sampai membuatnya sontak terdorong mundur. Beruntung Api Biru membesar, membuat perisai kembali.


Amdara menekan dada yang terasa sakit.


"Raja Roh Hitam ini berbeda."


Selain kekuatan berwarna orange, kekuatannya jauh lebih besar dari yang pernah Amdara lawan.


Api Biru mengecil lagi, lalu melesat ke arah Raja Roh Hitam yang masih berbentuk cahaya lonjong panjang. Api Biru menyerang, tapi langsung mendapatkan serangan lagi.


Amdara menghilang dan muncul di belakang musuh.


"Kilatan Angin Aliran Pertama ...!"


Pusaran angin biru melesat sangat cepat, tajam mengarah Raja Roh Hitam. Pepohonan sekitar tumbang, serangan itu mengenai telak di belakang Raja Roh Hitam yang kurang fokus akibat gangguan Api Biru.


Tidak menyia-nyiakan peluang. Amdara melakukan sebuah gerakan tubuh.


"Jurus Elang Abadi Pemusnah Roh."


Cahaya emas membentuk pola elang muncul mengelilingi Raja Roh Hitam yang langsung kesulitan berkutik. Raja Roh Hitam itu tanpa di duga membentuk tubuh asli. Tubuh layaknya manusia berumur 18 tahunan. Nyaris sempurna. Berpakaian jubah aneh. Berambut kuning pendek dan bermata orange tajam menatap nyalang Amdara yang sekarang tersentak memandang Raja Roh Hitam.


Amdara sampai tidak menyadari jika jurusnya tidak langsung melahap Raja Roh Hitam itu. Pandangan keduanya bertemu.


"Hm? Kau---"


Raja Roh Hitam menghentikan kalimat, tatapannya langsung tertuju pada ikat kepala Amdara yang terambai-ambai oleh angin. Karena panjang, dia bisa melihat ukiran naga di sana yang terasa bercahaya.


Lalu melihat rambut putih itu beberapa saat sampai Amdara menyerang kembali. Dan bahkan kali ini Api Biru langsung menyerang membabi-buta.


Raja Roh Hitam berontak dan menghindar. Amdara langsung mengikat tubuh lawan menggunakan rantai es.


"Bod*h. Aku berkekuatan api yang sama dengan api biru milikmu. Kami satu. Bagaimana mungkin dia bisa membunuhku!"


Raja Roh Hitam berseru. Membuat Amdara menyerngitkan dahi bingung. Namun, Amdara tidak pedulikan. Dia kembali melesatkan serangan begitu sadar jurus pembasmi Roh Hitam tidak langsung bereaksi.


Pertarungan terjadi begitu sengit. Amdara melesatkan jurus andalan berupa pusaran angin dan rantai-rantai es untuk mengganggu musuh. Angin es yang menerpa pohon dalam sepersekian detik membeku dan hancur. Udara di sekitar sana langsung berubah dingin lebih dari sebelumnya.


Sambaran petir terjadi di langit akibat serangan keduanya. Apalagi Raja Roh Hitam telah terlepas dari jeratan cahaya elang.


"Kau masih dungu ternyata. Berani sekali melawanku!"

__ADS_1


Raja Roh Hitam kembali berseru dan melakukan serangan berupa api menyala. Menyambar ke sekitar, dia lesatkan ke Amdara yang sontak membuat perisai pelindung dan melakukan serangan angin. Dirinya menghilang menggunakan portal, muncul kembali di belakang musuh tidak jauh.


Baru hendak menyerang, tiba-tiba Amdara merasakan musuh yang berada di belakang. Responnya yang telat membuatnya mendapatkan serangan telak dari arah punggung. Dia menghantam ke tanah cukup keras, sampai membuat tanah berlubang besar. Darah mengalir dari mulut. Tubuhnya terasa sakit.


"Lemah. Sangat lemah. Kau tidak pantas."


Amdara membalikkan tubuh dan termundur. Kekuatannya ditekan begitu hebat oleh lawan. Dirinya mencengkram rumput kuat. Dia tidak takut, hanya saja perasaannya menjadi aneh. Seperti pernah bertemu.


Api Biru kembali melesat, tapi hanya dengan kibasan tangan Api Biru terpental ke belakang. Membakar pepohonan sekitar.


Musuh menyeringai. Dia mengangkat tangan kanan.


"Aku akan pergi! Kita akan bertemu lagi, Dara!"


Dia melesat begitu cepat. Sampai Amdara membulatkan mata saking terkejutnya. Raja Roh Hitam menghilang di gelapnya malam.


Amdara tersadar Raja Roh Hitam baru saja menyebut namanya.


"Apa?"


Pendengaran Amdara sama sekali tidak terganggu. Dia mendengar jelas Raja Roh Hitam menyebut nama belakangnya.


Dia segera memulihkan diri menggunakan aliran kekuatan alam murni. Memikirkan kejadian mengejutkan barusan.


Api Biru yang terpental mendekati Amdara sambil naik-turun.


"Nona, kau baik-baik saja?"


Suara Api Biru di dalam pikiran terdengar cemas. Amdara memberi anggukan sebagai jawaban pasti.


Amdara menatap Api Birunya. Teringat ucapan Raja Roh Hitam. Api Biru ini sudah ada sejak dirinya berumur 5 tahun. Gadis itu tidak pernah curiga dari mana asal Api Biru. Amdara tidak menciptakan, hanya Api Biru ini muncul saat dirinya dalam kondisi sangat membahayakan. Karena perasaan akrab dan tidak ada aura membahayakan, gadis itu menerima keberadaan Api Biru. Dan entah bagaimana dia bisa memunculkan Api Biru tersebut ketika pikirannya memanggil dan bisa menghilangkan dengan sekali pemikiran.


"Kau tahu siapa Raja Roh Hitam barusan?"


Api Biru seketika tidak berkutik saat mendengar pertanyaan barusan.


"Tidak. Sepertinya Raja Roh Hitam itu hanya membual," Api Biru kembali melayang naik-turun. "Bagaimana mungkin kami satu. Aku sudah bersama Nona sejak kecil. Nona, kau tahu sendiri Raja Roh Hitam memiliki pemikiran picik. Jangan terbuai oleh semua perkataanya."


"Lalu dari mana asalmu?"


"... Aku tidak tahu. Hanya saja Tuanku yang memerintah untuk selalu bersamamu, Nona."


"Tuan? Siapa?"

__ADS_1


__ADS_2