Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
42 - Menuju Ke Desa Bumi Selatan


__ADS_3

"Tsk. Kau dari mana saja? Kami mengkhawatirkanmu."


Atma mengembuskan napas lega saat terlihat Inay yang berjalan mendekat.


Rinai menangis, dia terlihat telah duduk di lempengan kayu yang cukup besar. Meringkuk. "Huhuhu. Kupikir kau dalam bahaya. Syukurlah kau kembali dengan selamat."


Dirgan mengamati Inay dari atas sampai bawah. Bocah cerewet itu seperti tidak tidur semalam dan memiliki banyak pikiran jika dilihat dari wajahnya. Sebagai seorang Ketua Kelas, Dirgan merasa dia perlu berbicara pada Inay.


"Nana, kau akan ikut atau kembali ke Akademi?"


Pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Senior Fans dan Amdara diwakilkan Dirgan. Mereka semua menatap Inay, harap-harap cemas.


Inay menguap, dia duduk di samping Rinai dan berkata, "tidak ada pilihan lain. Jika pun aku kembali ke Akademi sendiri aku hanya akan dihantam banyak pertanyaan."


Mendengarnya kembali membuat mereka lega. Nada tertawa cekikikan, dia berjalan menuju lempengan kayu dan duduk di sana sambil memegang erat bonekanya.


"Khakhaa. Pilihan tepat, kawan! Khakhaa. Senior, apa kita bisa pergi sekarang?"


Senior Fans segera mengangguk, dia meminta yang lain untuk menaiki lempengan kayu tersebut. Fans mengangkat tangan, detik itu juga lempengan kayu bercahaya dan mulai terbang. Awalnya Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada cukup merasakan degub jantung sendiri saat lempengan kayu yang mereka naiki mulai terbang.


Atma bahkan memilih duduk dari pada berdiri, itu sangat menakutkan! Dirinya berpegangan pada sisi lempeng kayu. Tatapan matanya sama seperti teman yang lain baru merasakan terbang.


Terperangah. Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada melihat semuanya. Mulai dari kekuatan Senior Fans sampai kegelapan hutan. Suara auman Siluman terdengar, tetapi mereka sama sekali tidak takut karena keadaan mereka terbang.


Senior Fans menerbangkan lempeng yang dinaiki bocah-bocah itu, melewati hutan yang amat gelap. Udara masih dingin, jadi dia menggunakan kekuatannya untuk menghangatkan tubuh bocah-bocah lewat cahaya pada lempeng. Senior Fans sendiri terbang seperti biasa di samping lempeng kayu.


"I-ini benar-benar terbang!"


Atma terlihat amat senang. Pertama kali dalam hidup dibawa terbang oleh seseorang. Dia jadi ingin segera bisa mengaktifkan kekuatannya.


"Khakha. Ini hanya terbang, kenapa kau senang sekali?"

__ADS_1


Pertanyaan dari Nada membuat Atma berdecak. Dia membalas, "kau jawab sendiri! Oh ya ampun. Hah, aku tidak sabar melihat dunia lebih luas."


"Huhuhu. Aku juga ingin ... aku ingin melihat lebih."


Rinai meringkuk dan menangis. Jika awal melihat sifat-sifat mereka, Senior Fans amat terkejut. Bagaimana bisa ada bocah-bocah begitu unik berteman akrab?


Dirgan mengatakan bahwa baik dunia luar atau pun tidak, semua membahayakan. Dia berkata serius. Di usia mereka, dunia luar sangat besar. Ada banyak orang-orang dewasa yang berbeda pemikiran, untuk membuat debat atau mencari masalah bahkan dengan keluarganya sendiri. Mereka akan akur jika saling menguntungkan tetapi akan menjadi musuh besar jika salah satu dari mereka bersikap picik. Mereka akan saling bertarung hanya untuk suatu hal. Tak peduli apakah itu keluarga atau bukan. Entah itu orang miskin atau bahkan keluarga kekaisaran sendiri.


Saat menceritakannya, Dirgan menunduk. Tangannya terkepal. Seakan dia menceritakan sesuatu yang dia lihat, dengar langsung dari semua kejadian itu.


Teman yang lain masih mendengarkan. Mereka terdiam, dan berpikir apa yang diceritakan Dirgan ada benarnya.


Atma membuang pandangan ke arah lain. Matanya seakan berkaca-kaca. Dia merasakan suatu lara yang telah lama terpendam.


"Ah, kau benar. Bahkan orang terdekat pun bisa mem*uh kita tanpa rasa belas kasih sedikit pun." Atma melanjutkan, "benar-benar kotor."


Rinai menanggapinya dengan tangisan. Dia berkata, "aku ingin ... huhuhu. Adik, huhuhu. Akan kutemukan 'dia'."


Yang dimaksud 'dia' oleh Rinai bukan adiknya sendiri. Melainkan seseorang yang telah lama dia cari. Yang telah lama ingin dia temui dan langsung melakukan hal yang sama padanya yang telah dilakukan pada si adik.


Awan tiba-tiba saja lebih menggelap. Angin berhembus pun semakin dingin. Matahari belum juga memunculkan diri, padahal mereka telah lama terbang dengan kecepatan standar. Seakan hujan akan turun, Senior Fans membuat perisai pelindung untuk bocah-bocah yang dibawanya. Namun, ada perasaan aneh saat melihat awan gelap di atas sana.


Air mulai turun dari langit, menyentuh apa pun yang langsung membuat hitam dan seketika meleleh. Senior Fans menyadari hal tersebut, dia menerbangkan lempengan kayu lebih cepat dari sebelumnya.


"Ada apa, Senior?"


Dirgan bertanya dan langsung berpegang erat pada sisi lempeng pada saat diterbangkan dengan cepat. Yang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka tersentak.


"Tidak. Kalian berpeganglah."


Bocah-bocah itu hanya menurut, terkecuali Amdara dan Inay yang mengetahui situasi. Mereka jadi cukup waspada dengan sekitar. Takut-takut ada musuh asing yang langsung menyerang.

__ADS_1


Yang ada dipikiran Dirgan, mereka harus cepat sampai di desa Bumi Selatan karena mereka telah lama meninggalkan Akademi dan tentunya mereka akan segera dicari. Dia yakin, Guru Aneh akan bertindak.


Rinai mendekat ke arah Amdara. Dia memeluk lutut, dan terus saja menangis tanpa henti. Amdara menggunakan tangan kanannya untuk memeluk pundak Rinai, mencoba menenangkan. Rasanya jika dikeadaan seperti ini, Rinai menangis dengan tersedu-sedu membuat suasana yang lumayan mengerikan. Ditambah tiba-tiba saja petir menyambar.


"Tidak apa-apa."


Tenang, suara yang menenangkan membuat Rinai merasakan sesuatu yang lega di hatinya. Dia melihat wajah Amdara yang menatapnya, datar tetapi entah mengapa Rinai merasa wajah Amdara sangat tenang dan membuatnya ikut tenang. Di saat yang bersamaan Rinai menghentikan tangisnya, hujan mulai berhenti dan awan gelap pun mulai pergi. Tidak ada yang menyadarinya bahkan Senior Fans sekalipun.


Mereka menghembuskan napas lega. Beruntung hujan itu tidak sampai melelahkan perisai pelindung Senior Fans yang sangat kuat. Akan tetapi Senior Fans tidak mengurangi kecepatan sedikit saja.


"Khakha. Apa kalian mendengar itu?"


Nada tertawa cekikikan di sebelah Atma, dia menatap ke depan tajam. Senior Fans, Amdara, Inay, Dirgan, Atma dan Rinai tidak mendengar apa pun kecuali tawa Nada yang semakin menjadi.


"Suara kesedihan. Khakhaa. Kasihan sekali siluman itu. Dia menangis ... dia ketakutan di sana. Khakhaa."


Mendengar hal tersebut membuat Senior Fans menajamkan pendengaran, tetapi dia sama sekali tidak mendengar apa pun.


"Kau sakit? Tidak ada suara kecuali tangisanmu. Nada, kau baik-baik saja 'kan?" Dirgan bertanya cemas.


Hal tak terduga terjadi. Nada mengaum, dan membuat suara aneh seperti Siluman. Mereka yang mendengarnya tersentak dan merinding seketika.


Nada tak menghiraukan teguran teman-temannya, dia terus saja membuat suara aneh. Entah apa yang bocah itu pikirkan.


Amdara dibuat cukup kagum. Pasalnya sebelumnya dia juga mendengar suara siluman, dan itu sangat mirip. Jika benar Nada telah membuat perubahan pada diri sendiri, itu hal luar biasa!


Dalam kecepatan Senior Fans, mereka hampir keluar dari hutan. Nampak cahaya matahari yang mulai terlihat.


Rasanya lega bisa keluar dari hutan yang gelap gulita itu. Senior Fans kali ini memilih menerbangkan lempengan kayu lebih tinggi, agar bisa melihat ke bawah dengan jelas. Di bawah sana, yang ada hanya lapangan rumput kering yang amat luas. Cahaya matahari beruntung tidak membakarnya.


Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada yang entah sejak kapan berhenti mengaum nampak terpana melihat pemandangan di bawah. Mereka bersenandung ria, seakan cerita-cerita sebelumnya hanya angin lalu.

__ADS_1


Untuk pergi ke desa Bumi Selatan, jika bocah-bocah itu yang pergi sendiri membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari. Tetapi dengan bantuan Senior Fans, maka mereka hanya akan membutuhkan beberapa hari saja. Senior Fans tahu bahwa desa itu memiliki penyakit menular, jadi dirinya akan mempersiapkan obat-obatan untuk membantu saat melewati sebuah desa.


Mereka beristirahat saat malam tiba, dengan membawa daging bakar sebelumnya sebagai bekal makan di perjalanan. Perjalanan malam biasanya lebih sering bertemu bahaya, jadi untuk malam mereka memilih beristirahat dan dilanjut perjalanan saat pagi-pagi buta.


__ADS_2