
Para musuh jelas tidak mengetahui serangan barusan. Mereka terlempar dengan luka dalam dan luar. Nyatanya kekuatan mereka saat ini masih berada di bawah kekuatan Tetua Rasmi. Karena memang untuk mempelajari satu kitab terlarang saja membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Mendengar penuturan wanita itu membuat mereka mengepalkan kuat tangan, menatap nyalang. Tidak terima akan ditahan, apalagi dikatakan akan tewas jika sampai tidak mau menyerah. Rasa-rasanya mereka tengah diremehkan.
"Sialan wanita ja**ng kau! Berani sekali meremehkan kekuatan kami!"
"Tidak. Kita tidak boleh menyerah begitu saja. Dia hanya sendiri, melawan kita berjumlah banyak pasti akan kalah!"
"Hmph. Wanita itu akan mat* karena telah lama menghirup udara racun di sini."
Kalimat terakhir yang terlontar membuat mereka yang mendengarnya menyeringai. Sangat percaya pada kemampuan diri dan anggota.
Dengan keyakinan itu mereka melesat menyerang Tetua Rasmi secara brutal. Bahkan kali ini kekuatan mereka bertambah akibat kerja sama yang baik.
Sekte Tengkorak Racun udaranya memang beracun, tetapi udara itu tidak berlaku bagi anggotanya karena telah diberi sebuah mantra dan sudah terbiasa. Siapa pun yang memasuki sekte selain anggota, mereka hanya akan menyia-nyiakan diri.
Mereka sangat yakin bahwa Tetua Rasmi sekarang tengah berusaha keras mengeluarkan racun yang dihirup.
"Tertawalah kau wanita! Detik berikutnya kamilah yang akan menertawakanmu!"
Salah satu anggota Sekte Tengkorak Darah tertawa keras. Dia dengan semangat terus menyerang menggunakan bom racun.
"Racun di sini belum ada penawar! Sebentar lagi kaulah yang akan mat* mengenaskan. Ha ha ha!"
Tidak peduli dengan ocehan musuh, Tetua Rasmi hanya fokus melindungi diri dan memberikan serangan baik. Sedikit lengah saja nyawa melayang.
Tangannya kembali bergerak ke arah langit. Saat itu gemuruh petir menyambar di langit mengarah ke lawan yang tidak jauh darinya. Sementara lawan yang berada di dekatnya, dia lesatkan hantaman bola kekuatan.
Saat ini gedung yang tidak jauh dari mereka langsung meledak. Pepohonan di sekitar hangus karena serangan nyasar dengan jarak jauh.
"Hmph. Dasar sekelompok sampah. Hanya ingin yang instan demi kekutan tanpa mau merasakan suatu 'proses'."
__ADS_1
Katanya di sela pertarungan sengit itu. Walau melawan 30 orang, nyatanya untuk saat ini dia masih bisa mengimbangi dengan keunggulan kecepatan.
"Kami memang melakukan segala cara untuk menambah kekuatan. Dengan begitu kami akan lebih unggul dalam kekuatan dari yang lain dan dapat menguasai dunia!"
Satu dari mereka menjawab spotan. Dia menghilang, dan hendak menyerang dari arah bawah akan tetapi Tetua Rasmi terlebih dahulu menghilang dan menendang tubuhnya sampai terlempar ke arah yang lain.
"Tsk. Benar-benar keras kepala. Baiklah, ini saatnya kalian pergi!"
Tetua Rasmi menghilang di saat sepuluh bom hendak meledak. Dia muncul kembali di langit dengan melakukan gerak pada tangan yang membuat petir merah melesat ke arah tengah-tengah sekte. Suara petir itu sangat berbeda, bahkan seperti auman harimau.
Akibat sambaran petir itu, tanah retak besar. Di detik ke sepuluh, sebuah pola awan terbentuk bercahaya biru dan perlahan membesar. Tidak ada yang tahu juga bahwa saat ini pertarungan mereka berada dalam lingkungan segel yang telah dibuat Tetua Rasmi dan Tetua Genta.
Tetua Genta melihat sambaran petir barusan langsung mengangguk paham. Dia mengeraskan suara lonceng yang kembali membuat musuh terganggu dan merasakan sakit luar biasa. Dia kemudian melempar satu lonceng kecil yang langsung berubah menjadi burung, terbang ke langit dan membawa cahaya biru ke arah pola langit yang sudah menyebar.
Cahaya tersebut mengalihkan perhatian banyak orang. Mereka mengerutkan dahi bingung.
Tetua sekte membulatkan mata mengetahui bahwa mereka sekarang terkurung dan tidak bisa keluar. Dirinya terbang setinggi-tingginya, melihat ada seorang wanita tengah bertarung dan di sisi lain seperti pria asing juga bertarung sengit.
Dia menggantungkan ucapan dan menyeringai. "Kalianlah yang akan mati!"
"Lima belas dari kalian, sedang pria itu. Sepuluh, serang musuh wanita. Gunakan Formasi Kematian."
Ucapannya didengar oleh dua puluh lima orang di bawah. Dengan cepat mereka mengikuti perintah.
"Kalian benar-benar membuat kami rugi. Lihat saja, aku akan membalaskan dendam ke Akademi Magic Awan Langit!"
Tetua itu hanya melayang tanpa mengkhawatirkan anak buahnya. Dia yakin mereka akan menang bahkan tanpa dirinya menghancurkan pola awan itu.
Sementara itu, pola awan sudah sangat besar dan bercahaya biru. Ketika itu juga, segel bereaksi dengan mengeluarkan bunyi gong. Awan gelap terasa semakin mendekat, memberi tekanan pada para musuh. Tekanan ini bukanlah tekanan biasa, mereka membulatkan mata saat menurunkan pandangan melihat pola awan yang mereka injak membuat kaki tidak bisa bergerak.
"A-apa yang terjadi?!"
__ADS_1
"Tidak mungkin! Ini adalah formasi yang sangat kuat!"
Banyak dari mereka yang nyaris memberi serangan dibuat tak bisa berkutik. Mereka menatap tajam musuh seolah ingin cepat-cepat menghabisi.
Tetua Rasmi tertawa melihat raut wajah musuh. Dia bahkan dengan santai menyentil kepala salah seorang musuh dan berkata.
"Kuberi kesempatan kedua. Menyerah atau mat*?"
Namun, musuh malah mengutuk dan mencacinya. Tetua Rasmi mendengus kesal. Tangannya tergerak, saat itu juga awan gelap menambah beban kepada musuh yang membuat mereka kesulitan bernapas. Mereka jelas terkejut dengan hal tidak terduga ini.
Banyak pikiran dari mereka bahwa saat ini tidak bisa menyerang dan akan benar-benar tewas jika tidak mengikuti perintah lawan.
"Berhentilah berpikir bodoh! Kita bisa menang! Ini hanya segel lemah. Cepat lakukan Formasi Kematian ...!"
Seru salah seorang membuat yang lain tersentak. Mereka mengangguk paham. Detik berikutnya sebuah asap hitam keluar dari kaki, mulai menyelimuti tubuh masing-masing.
Tetua Rasmi menautkan alis. Dia mulai waspada merasakan kekuatan hitam. Begitu pula dengan Tetua Genta yang sudah mulai bersiap menyerang merasakan udara yang jauh lebih pengap. Keduanya memang telah melakukan sesuatu agar tidak terkena racun, tetapi udara sekitar bertambah racunnya.
Pola tengkorak di langit muncul, menandakan Formasi Kematian sudah jadi. Satu orang yang merupakan Tetua tertawa melihat dua Formasi sekaligus untuk melenyapkan dua kurcaci musuh. Dia akan menikmati ini semua dengan tenang.
Perlahan, awan gelap yang sebelumnya menekan tubuh mereka mulai bergetar.
"Formasi Kematian ...!"
Ucapan serempak membuat pola tengkorak langsung menghancurkan awan gelap yang menekan tubuh mereka. Di saat itu juga segel yang dibuat dua Tetua Akademi hancur berkeping-keping. Kedua orang itu juga langsung terpental merasakan dada sesak dan luka dalam serius.
Asap hitam pada musuh mulai menghilang. Tanpa ragu ramai-ramai menyerang kedua Tetua.
Di sisi lain, ledakan yang tidak henti-hentinya sejak tadi membuat Amdara mengerutkan dahi bingung. Dia melihat awan yang tidak biasa. Merasakan perasaan tidak enak. Dengan cepat melesat ke arah sumber suara. Dia yakin ada yang terjadi dengan sekte hitam itu.
Betapa terkejutnya dia melihat gedung-gedung yang telah hancur. Pepohonan dalam jarak luas hangus oleh serangan. Dia melihat seseorang yang terbaring lemas. Matanya menyipit untuk melihat dengan jelas.
__ADS_1
Serangan dalam beberapa inci mengenai Tetua Genta dan Tetua Rasmi secara bersamaan yang tidak bisa melawan karena kehabisan kekuatan. Mereka juga merasakan racun yang mulai terasa bereaksi.