
Amdara meraba-raba tanaman semak belukar, dia menahan napas saat tangannya entah menyentuh apa terasa menggelikan. Sontak dia menarik tangan dengan cepat, mundur beberapa langkah.
"Ulat?"
Amdara menelan ludah susay payah. Wajahnya pucat seketika. Tangannya terlihat bergetar menahan takut. Bocah berambut putih itu sejak belia kesulitan menahan rasa takut melihat ular, atau sampai menyentuhnya.
Merasa ketakutannya akan semakin menjadi, dia melangkah mencari tempat lain hati-hati.
"Berhati-hatilah."
Aray baru saja berucap, dia sama halnya dengan Amdara yang kesulitan mencari satu saja tanaman herbal. Aray mendengar derap langkah Amdara, dirinya mengikuti takut sesuatu tak terduga terjadi.
Aray berjongkok, meraba-raba tanaman di sekitar teliti. Dia tiba-tiba saja berkata lirih, "hei, perkataanmu itu ... sengaja mengalihkan topik pembicaraan, bukan?"
Amdara yang baru saja akan memetik tanaman, menghentikan aksinya dan terdiam. Amdara berkedip, dia kira Aray tak akan mengungkit perkataannya. Terdengar Amdara yang menghembus napas sebelum berucap, "tidak juga."
Aray menggaruk pipi yang tak gatal. Dia sebenarnya cukup malu mengatakan hal ini, tetapi karena dia penasaran Aray memberanikan diri.
"Ya-ya, baiklah. Biar kuanggap kau dan yang lain tak ingin mengatakannya." Aray kembali berkata, "bocah--maksudku Rambut Putih."
Amdara masih mencari tanaman hati-hati. Walaupun suara Aray lirih, tetapi dia masih bisa mendengarnya. Dia bergumam sebagai respon.
Semakin lama mereka mencari, perasaan Amdara mulai tidak enak. Seakan dirinya tengah diawasi oleh sesuatu, naas dirinya tak bisa melihat apa pun. Di Negeri Nirwana Bumi ini ada banyak Roh Hitam yang masih belum dimusnahkan oleh Amdara. Sekarang dia juga tidak bisa mengeluarkan kekuatan. Entah bagaimana reaksi Tetua Bram jika sampai mengetahui keadaannya. Bisa-bisa yang ada dirinya akan dipulangkan, tanpa perlu lagi mencari orang tuanya. Amdara sama sekali tidak ingin merepotkan Tetua Bram untuk mencarikan kedua orang tuanya. Amdara sudah banyak mendapat bantuan dari Tetua Bram, suatu hari nanti dia ingin membalas apa yang pernah Tetua Organisasi Elang Putih itu berikan.
Saat sedang sibuk dengan pemikiran sendiri, Aray tiba-tiba membuat lamunan Amdara buyar.
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Karena kau telah membantuku mengaktifkan kekuatan." Terdengar helaan napas Aray. "Kau ingat latihan malam yang membuatku kesakitan? Entah bagaimana tetapi kau sangat membantuku, tapi aku malah mengatakan hal buruk padamu."
__ADS_1
Seketika Amdara menghentikan aktivitas tangannya. Dia tersentak mendengar kalimat terima kasih yang diucapkan Aray. Apalagi Aray mengatakan Amdara cukup membatunya dalam mengaktifkan kekuatan. Jika itu benar, mungkinkah dirinya juga bisa membantu teman yang lain? Untuk memastikan, dia harus bertanya langsung pada Guru Aneh. Namun, sayang sekali Amdara sekarang malah tidak bisa mengeluarkan kekuatan.
Amdara menggelengkan kepala, jika kekuatan Aray saat itu sebenarnya belum menumpuk, mana mungkin Amdara bisa membantu?
"Aku sama sekali tidak membantu. Itu karena usaha kerasmu," ujar Amdara tanpa nada.
Aray menggeleng dan menyangkal.
"Tapi menurut penelitian Guru Aneh, kau masih berjasa dalam hal ini." Aray menatap ke depan dengan perasaan aneh. Dia berkata pelan, "ah, sudahlah. Aku hanya bisa mengatakan terima kasih padamu."
Amdara mengangguk dan bergumam sebagai jawaban dan melakukan pencarian tanaman herbal kembali. Setelahnya tidak ada lagi perbincangan. Keduanya harus cepat-cepat mencari tanaman herbal. Berhasil tidaknya, mereka harus berusaha.
Di sisi lain Hutan Arwah, sejak awal Inay merasakan bulu kuduknya yang berdiri. Dia menelan ludah susah payah, dan meningkatkan kewaspadaan. Sudah lama mencari, tetapi belum menemukan yang dicari. Perkataan Aray dan Atma masih terngiang di pikirannya, mendengar nama Hutan Arwah saja sudah membuat Inay lemas akan tetapi dia menutupinya dengan baik. Tidak mungkin Inay akan mengatakan 'takut', apalagi di hadapan Amdara. Mau jadi seperti apa pandangan Amdara padanya?
Inay mengembuskan napas kasar. Dia berharap segera pergi dari Hutan Arwah. Matanya yang tidak terbiasa dengan gelap, membuatnya kepalang kesal. Inay tidak bisa berjauhan dari Atma dan Dirgan, takut sesuatu buruk akan terjadi. Lebih tepatnya, kenampakan tak diinginkan muncul tiba-tiba di hadapannya. Itu sangat mengerikan jika Inay memikirkannya kembali!
Atma dan Dirgan sangat serius mencari, pelan-pelan tetapi yakin pada diri sendiri bisa menemukan.
Perkataan Atma tiba-tiba mengagetkan Dirgan dan Inay yang perlahan mendekati Atma sambil berpegangan pada benda apapun dan mengingat posisi Atma sebelumnya.
"Benarkah? Mana?"
Dirgan yang berhasil menyentuh kaki Atma yang langsung tersentak karena dikiranya apa menepuk bahu Dirgan dan memberikan tanaman yang dia pegang di dada Dirgan.
Dirgan memegang tanaman yang tidak bisa dilihatnya. Menyentuh daun yang bulat telur terbalik, dengan pangkal daun runcing, ujung membulat dan tumpul. Permukaan daun licin dan lembut, jika ditekan terasa lembut berdaging. Dirgan kemudian beralih menyentuh bunganya yang seperti anak payung, ujung bercabang dan menggarpu, dan mahkota berjumlah 5 helai dengan bentuk oval sepanjan 3-4 mm. Dan menyentuh akar nya yang mana masih terasa ada bekas tanah. Akar tanaman itu merupakan akar tunggang, ketika Dirgan mengambil sedikit dan menekan agar hancur sebelum menghirup dari aroma itu dia tersentak mendengar Atma yang mengatakan itu adalah tanaman gingseng merah yang mereka cari.
"Gingseng ini juga sepertinya telah hidup puluhan tahun. Ini sangat bagus!"
Atma begitu senang saat menemukan tanaman tersebut tanpa disadari sampai bersuara keras yang langsung ditegur Inay. Dia cukup paham mengenai tanaman herbal hingga mengetahui berapa lama tanaman itu hidup.
Dirgan yang memegang tanaman herbal itu dan meminta agar mereka segera mencari tanaman herbal lain karena waktu yang dimiliki terbatas.
__ADS_1
"Ayo cari lagi. Waktu kita tidak banyak."
Inay tak sempat merasakan bentuk daun tanaman yang katanya gingseng itu. Bukan masalah, toh nanti saat matahari terlihat akan membuatnya bisa melihat bentuk tersebut.
Ketiganya bertambah semangat, kali ini mereka mencari pohon dan berusaha meraba-raba akar yang tidak tertanam atau sangat besar jadi tidak masuk ke tanah. Tanaman herbal yang hidup tidak di air tinggal satu. Sementara tanaman herbal bunga teratai hitam hidup di air. Jelas, mereka akan kesulitan mencarinya.
Beberapa kali Atma menemukan tanaman herbal lain, tidak disangka keberuntungan berpihak pada mereka. Atma berniat membawanya, dia yakin akan sangat berguna nanti.
Sementara itu, gelapnya malam akan segera pergi. Dan mereka baru menemukan satu tanaman herbal.
Inay menghentikan aktivitasnya dan langsung merunduk. Dia berkata, "kalian, cepatlah merunduk."
Suaranya lirih, tetapi Dirgan dan Atma yang mendengarnya tersentak dan segera merunduk.
"Ada apa?" Dirgan bertanya cemas.
Inay menelan ludah susah payah. Keringat mulai bercucuran di dahi. Sesuatu yang aneh dia rasakan, Inay berkata dengan bergetar, "s-sebaiknya kita cepat pergi dari sini."
"Memangnya ada apa? Kau merasakan apa, Nana?"
Atma bertanya cemas juga, dia yakin Inay tengah merasakan sesuatu yang tidak baik.
"Hal buruk. Akan ku ceritakan di tempat berkumpul." Inay kembali menelan ludah. Dan segera berdiri lalu berujar pelan, "kita harus saling berpegangan."
Inay segera memencet benda di tangannya yang langsung berubah warna merah. Seharusnya Amdara saat ini tahu apa yang harus dilakukan.
Dirgan dan Atma langsung menuju dekat Inay sambil berjalan pelan. Keduanya masih ada pertanyaan, akan tetapi hawa dingin mulai terasa dan membuat bulu kuduk keduanya berdiri.
"Cepatlah datang, Luffy."
Mentari segera akan menampakkan diri. Jelas keadaan ini sangat membahayakan jika sampai mereka ketahuan. Perasaan Inay sungguh tidak enak, mengingat Amdara yang tak bisa menggunakan kekuatannya untuk melindungi diri sendiri, walaupun dia bersama Aray akan tetapi Inay masih saja khawatir. Kekhawatiran Inay semakin menjadi saat benda di tangannya yang tak kunjung berubah warna, seharusnya jika Amdara menerima sinyal tersebut maka akan langsung memencet yang berarti sinyal diterima.
__ADS_1