
"Apa benar begitu?"
"Aray, jadi kau mencari kami selama ini?"
"Tidak kuduga. Aray, kau sangat mengkhawatirkan kami, 'kan? Jujur sajalah. Kami tidak akan menertawakanmu. Aiya, kau sangat menyayangi kami yah?"
Tanpa peringatan, Atma menerjang Aray dan membuat semua orang terkejut. Apalagi Aray yang tidak siap, kini mendapat dekapan erat dari Atma.
"Sialan! Singkirkan tubuhmu! Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan kalian. Sama sekali tidak ...! Menjauhlah ...!"
"Biarkan aku mendekapmu. Ini sebagai tanda kasih sayang sebagai teman, oke?"
Tangan Aray dikunci sampai tidak bisa bergerak oleh Atma yang tersenyum senang. Dia merasakan kebahagiaan karena ternyata Aray begitu perhatian pada teman sekelas.
Amdara yang melihat di depan matanya memalingkan wajah dan berujar dingin, "memalukan."
Dirgan sebagai ketua kelas jelas juga sangat senang pada Aray. Dia tidak akan membantu Aray yang kini tengah memberontak.
Sementara Inay, Rinai, dan Nada berkedip dengan tingkah laku Atma pada Aray yang kini terlihat wajah yang memerah.
"Atma, kau menjatuhkan harga diriku ...!" Tangan Aray terlepas pada kemudi tak terlihat, sampai membuat alat yang tengah mereka tumpangi bergoyang. Aray malu sekaligus marah berkata, "menjauhlah, sialan!
"A-aduh!" Karena alat yang mereka tumpangi bergoyang, Atma sampai terbentur sisi dari alat itu. Dia meringis, merasa ngilu di kepala. Apalagi teriakan Aray membuat telinganya lama-lama terasa berdenging.
Amdara membenarkan posisi duduk bersilanya. Dia berdecak, karena semakin lama arus air sepertinya mulai bergelombang tidak wajar. Niat awal dia mengatakan hal tak terduga itu untuk mengalihkan topik pembicaraan, tapi yang ada sekarang Aray dan Atma malah saling bergulat dan nyaris membentur kaki Amdara jika saja dia tidak segera mundur.
Dirgan malah tertawa, kejadian langka ini benar-benar membuatnya senang sekaligus menggeleng-gelengkan kepala. Tak ingin ikut campur.
"Kalian, berhentilah! Ya ampun. Aray, pegang kendali alat ini. Aduh!"
Guncangan besar itu membuat Inay yang tidak duduk dengan benar sampai tengkurap dan mencium ke bawah. Hidungnya bahkan sampai mengeluarkan darah.
Nada yang berpegangan pada Rinai juga ikut terbentur kepala keduanya dan hampir terjungkal ke belakang jika tidak ditarik cepat oleh Dirgan.
Atma sekarang malah berada di bawah Aray yang kini berhasil mengunci tangannya. "Sialan! Atma, kau benar-benar ...!"
"Aduh! Aray, lepaskan tanganmu! Ini sakit, tahu ...!"
Sialnya wajah Atma malah terus ditekan oleh Aray hingga bocah itu kesulitan bernapas. Bukannya mengindahkan, Aray malah semakin menarik tangan Atma ke atas dan tidak peduli dengan alat yang mereka tumpangi lepas kendali, sangat cepat menerjang arus.
"Aku tidak peduli. Berani sekali kau menjatuhkan harga diriku! Rasakan ini ...!"
Aray menggelitik telapak kaki Aray sampai dia tertawa tak tertahan dan meminta agar dilepaskan. Namun, tiba-tiba saja guncangan besar terjadi, alat yang mereka tumpangi secara tak terduga berbalik. Mengakibatkan mereka juga terjatuh secara terbalik.
"Aduh! Hidung!!"
Keadaan di mana Aray kini berada di bawah, dan membentur bagian alas sebelumnya. Dia merasakan hidungnya yang ngilu saat kepala Atma membentur keras.
Amdara juga sama halnya. Kepalanya bertabrakkan dengan kepala bagian samping Aray. Amdara meringis, sakitnya lumayan.
__ADS_1
"Atma! Singkirkan kakimu ...!"
Yang paling menyedihkan adalah Wajah Inay yang tertindih telapak kaki Atma. Inay sampai merasakan bau tak sedap.
Keadaan pada Rinai dan Nada adalah keduanya tak bisa dijelaskan. Pasalnya Rinai berada di apitan ketiak Nada entah bagaimana sampai bisa begitu.
Dirgan sendiri terlihat mencium bagian bawah alas dengan tengkurap. Dia berdecak kesal, karena menurutnya ini posisi tidak layak bagi seorang Ketua Kelas.
Kejadian ini tidak akan terjadi, jika saja Aray tak melepaskan kemudi. Alat tanpa seorang kemudi itu menerjang dengan kecepatan yang tak terkira. Bahkan Amdara merasakan jantungnya yang berdebub lebih keras, seakan jiwanya tertinggal di suatu tempat.
Amdara menoleh, tepat ke wajah Aray dan berkata, "Aray, kendalikan."
Aray juga menoleh, dan seketika mengangguk. Sebelum itu dia membentak Atma agar menyingkir darinya.
"Bocah, menyingkirlah! Kau ini berat, kau pikir perempuan, hah ...?!"
Atma menutupi telinganya yang berdenging karena Aray yang berteriak keras di telinganya. Dia segera bangun, tetapi guncangan kembali terjadi mengakibatkan Atma yang kembali ke posisi semula dan membuat Aray bertambah marah.
"Hei, kubilang menyingkirlah, sialan ...!"
"Aku juga akan bangun, tapi guncangan terus terjadi tahu ...!" Atma balik berteriak.
Aray berdecak, menggunakan kekuatannya dia mengangkat Atma dan melemparnya tepat di samping Dirgan. Atma meringis kesakitan, dia mengusap-usap kepalanya.
Aray mencoba bangun, untuk mengendalikan alat yang ditumpangi. Amdara juga melakukan hal yang sama, tetapi dia kesulitan sampai beberapa kali terjatuh dan membentur dinding alat tersebut.
Saat Aray berhasil menghentikan alat itu, semuanya bisa mengembuskan napas lega. Dan bangun dengan pelan, masih merasakan sakit.
Perasaan itu sebenarnya telah dirasakan oleh Aray dan Inay, tetapi keduanya memilih diam. Aray mengecek keadaan di luar, dia melakukan sesuatu hingga membuat alat itu terbuka.
Masih dibilang cukup pagi sekarang, angin dingin dapat dirasakan Amdara sampai ke tulang. Tak ada suara apa pun, kesunyian itu membuat Amdara menelan ludah.
"Kita sampai."
Perkataan Aray membuat Amdara segera berdiri, dan melihat ke luar. Jelas Dirgan, Atma, Inay, Rinai, dan Nada tersentak mendengarnya. Karena memang kehilangan kontrol kecepatan, mereka lebih cepat sampai.
Tidak ada suara mengalir, padahal jelas-jelas mereka masih berada di sungai. Sebuah hutan dengan aura berbeda menyambut kedatangan mereka. Pohon-pohon yang menjulang tinggi, serta akar besar terlihat tak memasukkan diri ke dalam tanah. Rumput liar serta beberapa tanaman aneh.
Hanya Aray dan Inay yang melihat, sementara yang lain tak melihat apa pun karena gelap, termasuk Amdara sendiri.
Rinai dan Nada saling berpelukan ketakutan, suasananya sunyi dan itu sangat disukai keduanya, Dirgan, dan Atma yang seakan tak mendengar detakan jantung sendiri.
Amdara mengepalkan tangan. Dia mengedarkan sekitar sambil berkata, "strategi apa yang kau buat?"
Aray menatap ke depan dan saat itu juga sebuah asap hitam muncul dan segera membuat tubuh ketujuh bocah itu dikelilingi asap hitam. Mereka kembali tersentak, tetapi tidak menolak. Karena Aray lebih mengetahui apa rencana selanjutnya.
"Ini begitu gelap. Bagaimana bisa kita mencari tanaman herbal?!" Atma berkata keras, dia membuat Aray menatap tajam.
"Kecilkan suaramu."
__ADS_1
Aray segera berkata kembali dengan suara lirih tetapi teman-temannya masih bisa mendengar, "kalian pikir mencari tanaman herbal langka itu mudah? Dengar, ini kesempatan bagus karena matahari belum muncul. Untuk mencari ketiga tanaman ini, kita tak perlu melihat wujudnya."
Amdara mengerutkan kening bingung dan bertanya, "lalu bagaimana cara mendapatkannya?"
"Kita hanya meraba, mencium aroma khas herbal, merasakan tekstur dan yakin apa yang dipetik adalah benar-benar tanaman herbal yang dicari."
Atma menjawab serius. Jawaban itu diangguki oleh Aray yang tak menyangka Atma bisa mengetahui hal ini.
Memang terdengar aneh dan tak masuk akal, tetapi seperti itu kebenarannya.
"Dan kalian tidak boleh sampai mengeluarkan suara keras juga mengeluarkan cahaya sedikitpun."
Amdara mengerti. Dia menatap ke depan dengan perasaan yang mencoba diyakini.
Berbeda dengan Rinai yang mengeluarkan isakan kecil dan berujar pelan, "huhuhu. Aku takut. Aku tidak mau ke dalam hutan. Huhuhu."
Nada mengeratkan pelukan. Memberi ketenangan. Dan berkata, "k-khakha. Aku akan melindungimu. Kau tenang saja."
Suasana yang hening itu memang cukup membuat merinding. Dirgan sebagai ketua kelas merasakan ketakutan pada Rinai, dan dirinya tak boleh memaksa bocah itu untuk masuk ke dalam hutan.
"Rinai dan Nada tunggulah di sini. Jaga transportasi ini. Biar kami yang pergi mencari tanaman herbal itu."
Amdara mengangguk setuju. Dia juga tak ingin memaksa teman-temannya yang tengah ketakutan setengah mati.
Aray menepikan alat yang mereka tumpangi dan segera turun. Dia berujar pelan, "baiklah. Tidak ada waktu banyak. Secepatnya kita cari ketiga jenis herbal itu sebelum matahari terbit."
Pasalnya akan lebih berbahaya jika sampai ketahuan salah satu orang dari organisasi aliran hitam. Walaupun pagi itu sinar rembulan tak nampak, tapi ini lebih baik. Karena mereka bisa bersembunyi. Dan ini salah satu keajaiban menurut Aray yang ada di Hutan Arwah, yaitu hawa keberadaan seseorang akan terasa amat samar ketika malam. Berbeda saat siang hari yang dalam radius puluhan kilometer saja masih bisa dirasakan hawa keberadaan seseorang.
Semua setuju dengan pendapat Dirgan. Aray segera menutup pintu transportasi aneh milik guru mereka, Rinai dan Nada pun segera masuk.
Sekarang yang menjadi masalah adalah, mereka sama sekali tidak melihat apa pun. Bahkan Aray meminta Inay agar tidak menggunakan kekuatan untuk melihat keadaan sekitar. Jelas Inay kebingungan, tetapi dia tidak mengutarakan.
"Kita akan membagi dua kelompok. Ketua Kelas Dirgan dan Atma ikut dengan Nana. Jika terjadi sesuatu, maka Nana yang akan mengurus."
Amdara mengerti, jika mereka mencari bersama-sama akan memakan banyak waktu. Namun, keputusan ini juga sangat berbahaya walaupun tidak ada cara lain.
Amdara berkata tanpa nada, "jika begitu kita gunakan ini untuk memberi tahu yang lain bahwa harus segera kumpul di titik ini."
Amdara memberikan sebuah benda aneh berbentuk sayap elang, dan memberikan satu pada Inay yang langsung tahu maksud Amdara.
Benda itu akan berubah merah jika ditekan, dan benda lain juga akan berubah merah. Mendapat sedikit penjelasan dari Amdara, Aray, Dirgan dan Atma langsung paham.
Tidak ada yang protes mengenai pembagian kelompok. Mereka segera pergi dengan langkah hati-hati.
Hutan Arwah ini berada di wilayah organisasi aliran hitam. Walaupun begitu tetapi jarang ada yang menjaga di hutan ini entah karena alasan apa. Dan sangat jarang pula ada orang yang bukan dari organisasi itu datang ke Hutan Arwah walaupun ada beberapa jenis tanaman herbal.
Hutan Arwah atau lebih dikenal dengan hutan yang banyak tanaman herbal itu memiliki kisah tersendiri yang cukup membuat siapapun dibuat merinding.
Sesuai dengan namanya, hutan ini dahulu adalah tempat pembuangan maya*, dan cerita-cerita mengerikan mulai beredar ketika salah seorang yang tewas mengenaskan di Hutan Arwah entah karena apa. Salah satu temannya yang berhasil melarikan diri menyebarkan isu ini, dan telah dibuktikan oleh orang-orang yang sebelumnya tidak percaya.
__ADS_1
Hutan Arwah dari cerita ke cerita, memang dihuni arwah atau lebih tepatnya ruh dari orang-orang yang telah dibuang di hutan ini. Siapa pun yang menginjakkan kaki di Hutan Arwah, maka kesialan apa pun akan menimpa.