
BAAM!
Amdara terpental karena Raja Roh Hitam yang berhasil memecahkan jurusnya. Retakkan besar terjadi pada tanah, dua rumah sekaligus meledak begitu saja. Angin kejut yang dihasilkan bahkan mampu membuat Amdara kembali terpental menabrak salah satu pohon hingga tumbang.
Suara geraman Raja Roh Hitam menjadi, dia hendak menyerang Cakra karena masih mengira bocah itulah yang telah menyerang. Menggunakan kekuatannya, Raja Roh Hitam mengeluarkan asap merah yang mana merupakan kumpulan kekuatannya, dia menggeram marah lalu melemparkan kekuatan tersebut ke arah Cakra.
Cakra yang hanya memiliki kekuatan sedikit juga melesatkan serangan balik. Dia tidak bisa menghindar karena di belakangnya teman-teman yang lain masih belum bisa menggerakkan tubuh mereka sehingga tidak bisa menghindari serangan. Cakra membuat perisai pelindung sekuat tenaga.
Kedua serangan dahsyat barusan membuat kembang api besar disertai angin kejut yang tidak kalah besar. Akibat kedua serangan yang bertabrakkan mengakibatkan perisai pelindung Cakra hancur seketika dan dirinya terpental menabrak salah satu rumah hingga berlubang besar.
Para peserta berteriak kesakitan karena terkena imbas serangan itu. Mereka juga terpental tanpa bisa memberikan perlawanan ataupun perlindungan untuk diri sendiri. Bahkan Atma dan Rinai sampai terkena luka dalam yang cukup parah. Mereka terbatuk darah, tubuh yang terasa amat sakit tidak bisa mereka lakukan apapun saat ini. Lima peserta lain dibuat tidak sadarkan diri.
Mata Raja Roh Hitam berbinar-binar, dia melihat para murid itu sebagai makanan yang lezat akan tetapi saat ini dia sedang terbakar emosi karena ada bocah yang hampir saja membuatnya lenyap hanya dalam satu jurus.
"Lemah. Kalian akan menjadi santapanku hari ini." Raja Roh Hitam kembali tertawa.
Sementara para peserta merasakan ketakutan luar biasa. Bahkan Aray sendiri sampai merasakan tubuhnya yang sudah lemah bergetar hebat. Ini pertama kali bagi mereka menyaksikan sendiri betapa mengerikannya Roh Hitam serta kekuatan yang begitu besar.
Amdara memuntahkan darah segar. Dia memandang punggung Raja Roh Hitam sambil bergumam, "mn? Raja Roh Hitam tidak menyadari kehadiranku?"
Amdara berpikir jika Raja Roh Hitam menyadari kehadirannya, seharusnya menyerang Amdara bukan Cakra. Saat ini Amdara tidak mungkin melenyapkan Raja Roh Hitam menggunakan kekuatannya yang lemah. Apalagi musuh bisa membuat lawan tidak bisa bergerak entah bagaimana caranya.
Amdara jelas salah perhitungan. Dia seharusnya melenyapkan Raja Roh Hitam ketika sebelum memasuki jurus ilusi ini. Sekarang apa boleh buat, bocah berambut putih itu harus memikirkan cara lain.
Perlahan Amdara berdiri, dia mencoba terbang ketika melihat nyawa teman-temannya dalam bahaya. Apalagi incaran musuh saat ini yang pertama adalah Cakra yang seperti sudah kehabisan kekuatan.
__ADS_1
Amdara menggeleng. Kekuatannya sudah tidak mampu melakukan perlawanan lagi. "Tidak. Aku harus mengulur waktu," batinnya. Ada setitik harapan kepada para Tetua yang dirinya yakin akan segera datang.
Dia mengusap darah yang keluar dari mulut menggunakan punggung tangan. Dirinya terbang walaupun beberapa kali nyaris jatuh. Menggunakan sisa kekuatan, Amdara mengeraskan suara agar Raja Roh Hitam mendengarnya. Amdara dengan nada bicara yang seolah sedang meledek berkata, "hmph, kau sebenarnya lemah."
Raja Roh Hitam menghentikan langkah, dia membalikkan badan. Terkejut melihat bocah berambut putih masih bisa bergerak bahkan dia tidak merasakan hawa kehadiran bocah itu. Mendengar perkataan Amdara, sontak Raja Roh Hitam memelototkan mata. Raja Roh Hitam menghentakkan kaki hingga membuat getaran pada tanah bahkan sampai membuat berlubang besar.
"Apa? Aku lemah? Ha haha! Bocah, kau sedang bercanda?"
Jantung para peserta dibuat hampir copot karena mendengar suara tawa yang begitu mengerikan. Bulu kuduk mereka kembali berdiri. Tentu mereka juga terkejut saat mendengar perkataan Amdara barusan.
Amdara berdiri, dan menatap Raja Roh Hitam dengan dingin.
"Tidak. Kau memang lemah. Jika tidak, bagaimana teman-temanku kau buat tidak bergerak?"
Yang Amdara maksud adalah Raja Roh Hitam sengaja membuat para peserta tidak bisa bergerak karena dia lemah, dan pasti takut kalah jika mendapat serangan secara bersamaan. Cara bicara Amdara yang seolah memprovokasi itu membuat musuh menggeram, dia menatap satu persatu murid-murid yang sudah terduduk lemas tidak berdaya.
"Jadi, apa menurutmu mereka bisa mengalahkanku jika bekerja sama?"
Amdara tersenyum tipis. Raja Roh Hitam sepertinya tidak sadar sedang dipancing Amdara. Padahal seharusnya dia langsung melenyapkan mereka tanpa memedulikan perkataan lawan. Dalam pertarungan, mendengar lawan berbicara adalah salah satu kesalahan.
Mendapat kesempatan bagus ini jelas tidak akan dia sia-siakan. Amdara mengangguk dan berkata polos, "tentu saja."
"Ha ha ha. Kau percaya sekali pada mereka, Nak. Yah, baiklah. Aku akan menemani kalian bermain sebentar."
Kata Raja Roh Hitam yang menjentikkan jari dan saat itu juga para peserta bisa merasakan tubuhnya bergerak kembali.
__ADS_1
Inay terlihat mulai menyembuhkan luka dalam dan luar menggunakan kekuatannya. Dia kemudian berdiri, mengerti dengan rencana Amdara. Jika Amdara tidak bisa menggunakan mengeluarkan jurus pemusnah Roh, maka ini saatnya Inay yang beraksi karena dia belum mengeluarkan banyak kekuatan.
Terlihat Aray, Nada, Cakra dan para peserta lain yang masih mampu berdiri menatap tajam Raja Roh Hitam, walaupun tubuh mereka masih lemas. Namun, melihat bocah berambut putih dari kelas Satu C itu berkata tanpa rasa takut, membuat para Senior tidak ingin dipandang remeh.
Amdara menatap ke arah teman-temannya, jika mereka sudah bisa bergerak maka Amdara tidak perlu terlalu khawatir lagi. Jika ada serangan nyasar, mereka bisa menghindar tanpa perlu bantuan orang lain.
"Bagaimana? Apa sekarang aku sudah bisa bermain-main dengan kalian?"
Tanpa aba-aba, Cakra melesatkan serangan yang langsung ditangkis dengan mudah oleh Raja Roh Hitam yang menatap tajam dan kembali tertawa. Bukan hanya Cakra, tapi Senior seperti Puli, Giba, dan yang lainnya juga melesat menyerang. Mereka saling melindungi tanpa harus diberi perintah. Saling membantu ketika ada serangan dari musuh.
Pertarungan mereka semakin sengit. Debaman keras lagi-lagi meyambar menghanguskan rumah-rumah di sekitar. Peserta yang kondisinya tidak memungkinkan segera mencari tempat berlindung.
Dirgan, Atma, dan Rinai juga terlihat menjauh dibantu oleh salah seorang senior yang kondisinya juga terluka parah. Mereka menelan ludah susah payah melihat pertarungan tersebut.
"R-roh Hitam itu m-menyeramkan huhuhu. Aku takut sekali." Rinai memeluk lutut erat sambil menangis.
Di sampingnya, Atma sudah lemas melihat wujud roh tersebut. Dia sampai kesulitan menelan ludah. Begitu pula dengan Ketua Kelas Dirgan yang sedari tadi diam, tapi tubuhnya gemetaran.
Salah seorang senior berujar, "kalian tenanglah. Senior-senior itu akan berusaha melenyapkan Raja Roh Hitam."
Dirgan yang mendengarnya menoleh dan bertanya, "S-senior, apa terjadi masalah di Akademi sampai Tetua tidak datang kemari?"
Senior itu tersedak, Atma, Rinai, dan beberapa senior yang mendengarnya seketika semakin dibuat ketakutan saat ini.
"Aku tidak tahu. Kau jangan membuat yang lain semakin ketakutan."
__ADS_1
Wajah mereka sudah pucat pasi. Mendengar pendapat Dirgan membuat mereka semakin ketakutan. Tidak tahu apakah Tetua-tetua akan mengetahui hal ini atau tidak. Apalagi mereka melihat senior-senior yang sedang melawan Raja Roh Hitam mati-matian berkali-kali harus terpental hanya dengan jentikkan jari saja. Kekuatan musuh berbeda jauh dengan mereka walaupun sudah bekerja sama dengan baik.