Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
131 - Keinginan


__ADS_3

Meledaknya tubuh Raja Roh Hitam berarti sudah berakhir pertarungan sengit itu. Yang meledakkannya adalah Tetua Wan yang berhasil merebut kembali jurus ilusinya dari aura Raja Roh Hitam.


Cahaya putih tiba-tiba muncul menyilaukan. Para peserta memejamkan mata saking tidak kuatnya melihat cahaya tersebut. Ketika mereka membuka mata, pemandangan yang mengejutkan terlihat. Sebuah lapangan latihan Akademi Magic Awan Langit yang penuh dengan murid-murid sedang terkejut.


"Cepat bawa mereka ke ruang pengobatan ...!"


Seorang murid baru sadar keadaan para peserta sedang terluka parah. Mereka segera membantu para peserta dan pergi ke tempat pengobatan. Banyak yang mendapat luka luar dan dalam, ada juga yang masih tidak sadarkan diri. Keadaan mereka sungguh memprihatinkan. Para guru juga langsung membantu, termasuk Guru Aneh yang langsung menghampiri murid-muridnya.


"Apa kalian baik-baik saja?"


Nada menepuk jidat mendengar pertanyaan Guru Aneh. Dia melihat Dirgan, Atma, dan Rinai yang terkena luka dalam dan luar. Ketiganya tidak dalam keadaan baik-baik saja sekali melihatnya. Tapi apa yang dikatakan Guru Aneh?!


"Khakha. Guru, kau melihat kami terluka dan malah menanyakan hal tersebut?"


Nada menggeleng-gelengkan kepala. Tubuhnya juga terluka, tapi dia tidak terlalu lemas seperti ketiga temannya.


Guru Aneh tertohok. Dia segera membawa Atma dan Dirgan, sementara Rinai dan Nada dibantu oleh murid lain menuju tempat pengobatan.


"Di mana Aray dan Luffy?"


Nada menggeleng lemas dan berkata, "mungkin mereka sudah dibawa ke ruang pengobatan. Khakha."


Guru Aneh mengangguk dan melesat ke gedung pengobatan.


Tiga Tetua sebelumnya yang terkena serangan Raja Roh Hitam segera dibantu oleh Tetua Haki untuk menyembuhkan luka. Karena Tetua Wan yang sudah tidak mendapat aura Roh Hitam, dia bisa membantu ketiga Tetua itu yang ternyata terkena luka dalam cukup parah.


Sekarang tempat pengobatan penuh dengan pasien, bahkan Orion dan rekan-rekannya sampai dibuat sangat sibuk.


Keadaan jadi lebih tidak mengkhawatirkan lagi karena para peserta selamat walaupun mendapatkan luka.


Hanya satu bocah yang tidak pergi ke ruang pengobatan, bocah itu malah pergi ke hutan buatan dan duduk bersila sambil menyerap kekuatan alam. Kekuatan alam perlahan mendekat dan mengelilingi bocah berambut putih itu.


Rasanya nyaman serta sejuk secara bersamaan mengalir. Amdara mulai menyembuhkan luka dalam dan luarnya perlahan. Dia memejamkan mata, menghirup napas dalam.


Pertarungan melawan Raja Roh Hitam kali ini nyatanya membuat Amdara sadar masih tidak mampu melenyapkan Roh Hitam lagi. Dirinya jadi merasa bersalah karena tidak menjalankan misi dari Tetua Bram dengan baik.


"Tetua, maafkan aku."


Amdara mengepalkan tangan. Dia dalam hati bertekad akan latihan lebih keras agar bisa menjadi lebih kuat. Selain untuk melenyapkan Roh Hitam, Amdara juga perlu kekuatan besar untuk mencari kedua orangtuanya.

__ADS_1


Semalaman itu, Amdara terus memulihkan diri. Sesekali dia menyalahkan diri sendiri karena gagal melenyapkan Roh Hitam karena kekuatannya tidak cukup.


Sampai mentari pagi memunculkan diri. Menyapa bumi dengan kehangatan nyata. Tidak ada yang sadar jika Amdara tidak berada di ruang pengobatan. Bahkan Guru Aneh semalam harus terus menyembuhkan luka dalam Dirgan, Atma, dan Rinai yang parah tanpa istirahat. Sementara murid lainnya dia yakin sudah ditangani oleh orang lain.


Cerita demi cerita mulai terdengar, dari peserta yang sudah lumayan sembuh menceritakan bagaimana Qi yang berubah menjadi Raja Roh Hitam dan menyerang mereka dengan sengit. Bahkan sampai membuat para peserta tidak bisa berkutik. Tentu banyak yang tidak menyangka dengan kejadian tidak terduga ini.


Sementara Guru Kawi telah menyelidiki mengenai Qi, yang mana ternyata sebelum pertandingan individu, Qi dikatakan memang memiliki perbuatan dalam hal sikap. Dari informasi yang didapat dari teman Qi, mereka mengatakan tidak menemukan jasad Qi di Akademi Magic Awan Langit.


Guru Kawi menyimpulkan kemungkinan tubuh Qi telah dilahap oleh Raja Roh Hitam.


Dalam pertandingan yang berakhir memprihatinkan para peserta itu, Tetua Wan meminta maaf karena keteledorannya sampai tidak menyadari adanya Raja Roh Hitam.


Di ruang Tetua, keempat Tetua Akademi Magic Awan Langit sama sekali tidak menyalahkan Tetua Wan.


Tetua Haki berkata, "kami bahkan tidak bisa merasakan hawa kehadiran Roh Hitam itu."


Tetua Rasmi menghela napas panjang. Dia berujar pelan, "antara kita yang lemah atau Raja Roh Hitam yang terlalu kuat?"


Jika bukan karena menggabungkan kekuatan, Tetua Rasmi tidak yakin bisa melenyapkan Raja Roh Hitam seorang diri. Kekuatan Raja Roh Hitam benar-benar besar.


Perkataan Tetua Rasmi membuat keempat Tetua bungkam. Mereka mulai memikirkan rencana agar memperkuat segel perisai Akademi.


"Lalu siapa si juara pertama?"


Tanya Tetua Widya, setelahnya dia menyeruput teh dengan tenang.


Tetua Wan menjawab, "aku akan tanyakan pada para peserta."


Tetua Wan hendak pergi, tapi dicegah Tetua Haki yang menggeleng dan mengatakan sesuatu yang disetujui Tetua lainnya.


"Sebaiknya tunggu para peserta benar-benar pulih."


Tetua Wan menarik napas dalam dan mengangguk. Kelima Tetua itu akhirnya membahas mengenai Raja Roh Hitam, lalu diakhiri dengan mengecek nilai-nilai kelompok yang tertinggi. Tidak hanya itu, mereka bermaksud membuat perisai pelindung yang lebih kuat.


Para peserta yang terluka parah sudah mulai membaik dan kini mereka ada yang pergi memulihkan diri sendiri serta bermeditasi.


Di hutan buatan, Amdara berkali-kali menghela napas panjang. Dia menyenderkan tubuh pada pohon di belakangnya.


"Bagaimana dengan keadaan teman-teman?" Amdara membatin.

__ADS_1


Semalaman berada di hutan buatan untuk memulihkan diri. Luka dalam serta luarnya telah sembuh. Amdara memutuskan pergi ke tempat pengobatan mencari teman-temannya.


Amdara terbang, dia melihat ke bawah di mana beberapa murid berjalan sambil mengobrol. Dari obrolan yang terdengar, mereka membahas mengenai Roh Hitam yang sangat kuat.


Amdara tidak mendengarkan terlalu jelas, dia melesat ke salah satu jendela yang terlihat seseorang berdiri di sana dan tengah menatapnya. Orang itu menghindar ketika Amdara menapakkan kaki di jendela.


"Dari mana saja kau?"


Inay terlihat kesal melihat Amdara yang tanpa ekspresi menjawab memulihkan diri di hutan buatan. Inay yang mendengarnya menggelengkan kepala dan nampak duduk di salah satu kursi di ruangan pengobatan itu.


Aroma obat-obatan tercium di hidung. Tembok bercat putih serta ada beberapa alat medis terlihat tergeletak di atas meja.


Amdara duduk di salah satu kursi di depan Inay. Dirinya memerhatikan Inay yang terlihat sudah membaik, tapi raut wajahnya terlihat sedang tidak baik-baik saja. Beberapa saat keduanya diam sampai akhirnya Inay menarik napas dalam.


Inay menatap adik seperguruannya itu dengan tatapan sulit diartikan. Inay mengatakan sesuatu yang membuat Amdara tersentak.


"Dara, apa kau ingat perkataanku saat berada di hutan ketika kita menjalankan misi?"


Amdara mengingat-ingat sebelum dia mengangguk dan berkata, "kau ingin kembali?"


Inay menghela napas panjang. Sudah banyak hal yang dia lalui di negeri ini. Sudah mulai kesal dengan keadaan.


"Aku berpikir begitu. Tapi urusannya akan panjang jika meminta izin kepada Tetua."


"Akan lebih panjang jika tidak meminta izin."


"Hah ... aku tahu. Tapi aku sudah lelah."


Inay mengembuskan napas panjang. Dia menyangga wajah menggunakan tangan. Pikirannya sebenarnya sama seperti Amdara, mengenai dirinya yang sangat lemah hingga tidak bisa melenyapkan Raja Roh Hitam.


Amdara sebenarnya juga lelah, dia ingin beristirahat walaupun sejenak. Berada di Akademi memiliki banyak masalah, sampai misi dari Tetua Bram mereka tinggalkan cukup lama. Melihat wajah Inay yang seperti ingin kembali pulang, Amdara mulai berpikir mereka harus menunggu Senior Frans.


"Kita tunggu kedatangan Senior Frans. Setelah itu minta Senior untuk meminta izin pulang kepada Tetua."


Amdara memberikan usul. Wajah Inay terangkat, dirinya lalu mengangguk. Keduanya kembali diam dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang berpikir mengenai hadiah yang seharusnya mereka dapat setelah memenangkan pertandingan antar kelas.


"Bagaimana dengan keadaan yang lain?" Amdara buka suara.


Inay menggeleng dan menceritakan bahwa semalam dia dibantu oleh seorang senior. Dia juga belum melihat teman-teman yang lain. Akhirnya dua bocah itu memutuskan pergi mencari teman-teman mereka yang mungkin masih dalam masa pemulihan.

__ADS_1


__ADS_2