
Sekarang terlihat sudah banyak orang dari Klan Ang yang melihat takjub. Amdara merasakan pandangan tersebut, tapi ekspresinya masih datar. Dia sedang berpikir hal lain untuk sekarang.
Pandangannya mengedar, mencari seseorang yang mengeluarkan suara. Akan tetapi, dia tidak menemukan. Amdara menghela napas panjang, melayang mengarah ke Tetua Genta yang tersenyum.
"Kau benar-benar hebat, Luffy."
Tetua Genta menepuk bahu Amdara bangga. Dia yakin ketiga sesepuh akan mengakui bahwa Amdara adalah dari Klan mereka.
Deta, Jie, dan Kung mendekat dengan ekspresi berbeda. Namun, ketiga orang itu sudah mengangguk yakin bahwa Amdara memang dari Klan Ang.
"Nak, apa kau tahu jurus apa itu?"
Suara Deta membuat Amdara menoleh. Dia menggelengkan kepala pelan dan berucap, "aku menamai asal."
Deta berkedip mendengar jawaban barusan. Dia menggelengkan kepala tidak habis pikir.
"Jurusmu bernama Tarian Bumi Angin."
Tarian Bumi Angin, jurus luar biasa dari Klan Ang. Jurus ini selain sulit dipelajari, juga memiliki keistimewaan tersendiri yakni aroma khas, bunga putih, dan tentunya kekuatan yang dilesatkan sangat besar. Apa yang dilakukan Amdara sudah membuka mata banyak orang klan.
Jie menghentakkan tongkat, berjalan lebih dekat ke arah bocah berambut putih itu dengan ekspresi kesal.
"Menamai jurus dengan asal? Hei, Nak. Kau sudah sangat keterlaluan!"
Tatapannya tajam, seolah Amdara telah melakukan kesalahan sangat besar. Dia kembali berkata, "hanya kau bocah yang dengan berani memberi nama asal pada sebuah jurus!"
Amdara menarik napas, dia membungkuk meminta maaf tanpa pikir panjang.
Kung yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. Dia tahu perangai Jie seperti apa. Jelas sekali Jie tidak menyukai Amdara untuk sekarang.
"Sudahlah. Lupakan. Sekarang kita sudah menemukan orang yang selama ini kita cari."
Kung tersenyum hangat, mendekat ke arah Amdara yang bingung dengan ucapannya. Begitu pula dengan Tetua Genta yang sedari tadi diam memperhatikan.
Kung menepuk pelan bahu Amdara dan bertutur lembut, "kau anggota Klan Ang. Dan kau adalah seorang--"
"Penyelamat."
"Bencana."
Sepontan bibir Jie dan Deta bergerak mengeluarkan satu kata. Bebarengan, keduanya saling pandang dan mengepalkan tangan kuat.
__ADS_1
Kung langsung menoleh ke arah dua sesepuh dengan tatapan berbeda. Tajam, dan penuh siasat. Dia kemudian menatap Amdara yang tengah menatapnya.
"Apa?" Amdara mendengar kata dari dua sesepuh yang berbeda. Dia bertambah bingung sekarang.
Namun, hatinya cukup merasa lega karena Klan Ang sudah mengakuinya. Itu artinya informasi tentang kedua orangtua Amdara akan segera keluar.
"Siapa orangtuaku?"
Amdara angkat bicara, karena berpikir ucapan Jie dan Deta tidak perlu dipikirkan untuk saat ini. Hal yang terpenting sekarang adalah mengetahui orangtuanya.
Tentu Tetua Genta juga menunggu jawaban dari mulut Kung. Dia bertambah penasaran siapa orangtua dari bocah berambut putih ini.
"Aku tidak tahu maksud Tuan Deta dan Tuan Jie. Tapi, kuharap Amdara memang dari Klan Ang."
Tetua Genta tersenyum. Perasaannya sudah lega karena pikirnya benar bahwa Amdara berasal dari Klan Ang, walau sampai saat ini dia bingung tentang kehidupan Amdara di Negeri Elang Bulan.
"Kami mengakui kau dari Klan Ang." Kung tersenyum kikuk. Menarik pelan tangannya. "Kurasa kau memang anak dari Sang La--"
"Maafkan aku, Tuan."
Suara seseorang memotong ucapan Kung. Siluet putih baru saja mendarat di samping Tetua Genta. Detik berikutnya seseorang yang sangat dikenal Tetua Genta dan Amdara muncul. Dia pria yang selalu mengenakan jubah dengan bulu halus di bahu. Wajahnya nampak kelelahan, tapi bibirnya tersenyum.
"Tetua Haki?"
Tetua Haki mengangguk kepada Tetua Genta. Dia memberikan hormat kepada ketiga sesepuh sopan. Kedatangan tidak terduga ini juga membuat bingung ketiga sesepuh.
"Tuan-tuan, mohon izin. Tetua Genta dan Luffy harus segera kembali ke Akademi."
Perkataan Tetua Haki membuat kelima orang itu tersentak. Apalagi ketiga sesepuh yang jelas akan menolak mentah-mentah Amdara akan dibawa pergi.
"Apa ada hal yang mendesak?"
Tanya Kung dengan cepat. Raut wajahnya langsung berubah sedikit kesal.
"Benar. Turnamen Magic Muda dimulai dalam satu bulan lagi karena alasan tertentu dari pihak Akademi Nirwana Bumi. Untuk itu, hari ini Luffy harus bersiap untuk pergi."
Jarak antara Akademi Magic Awan Langit dengan Akademi Nirwana Bumi memang sangat jauh. Melakukan perjalanan selama satu bulan saja entah akan cukup atau tidak. Karena pastinya, akan selalu ada masalah di perjalanan. Itu hal yang lumrah terjadi karena dunia memang berisi hal baik dan tidak.
Tetua Haki tahu bahwa ini sangat tiba-tiba. Tapi dia juga mendapatkan informasinya baru beberapa hari lalu saat sedang menjalankan misi. Dirinya tidak menjelaskan mengapa turnamen ini diajukan dengan cepat. Tapi sekarang, dia harus cepat-cepat membawa Amdara pergi. Dirinya tidak mengetahui arti tatapan ketiga sesepuh yang seolah tengah menahan kesal karena kedatangannya.
Yang lebih terkejut sebenarnya Tetua Haki dan Amdara. Tapi kedua orang itu hanya diam, membiarkan Tetua Haki yang akan menjelaskan nanti.
__ADS_1
Jie berdecih mendengar hal barusan. Mengalihkan pandangan tidak suka.
"Benar-benar mengesalkan. Apa tidak bisa diganti murid saja?"
Tetua Haki sontak menggeleng sopan dan menjawab tenang, "maaf, Tuan. Tidak bisa. Kami sudah melatih Luffy selama ini."
Terdengar helaan napas kasar. Jie lagi-lagi menghentakkan tongkat dan berbalik badan meninggalkan mereka tanpa mengucapkan apa pun.
"Takdir memang tidak bisa disangka. Setelah datang membawa kekacauan, pergi tanpa bertanggung jawab. Tsk. Beruntung kau ternyata dari klan kami."
Suara Deta yang terdengar menyindir membuat Amdara, dan Tetua Genta tersinggung tapi hanya bisa diam. Sementara Tetua Haki tentu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Kung menarik napas dalam. Dia tahu turnamen ini sangat penting bagi Akademi. Dirinya tidak bisa menahan Amdara untuk saat ini. Dia mengangguk dan mengatakan Amdara bisa pergi.
"Setelah selesai, kembalilah kemari. Kau akan tinggal di sini."
Kung tersenyum ramah ke arah Amdara.
Tetua Haki dan Tetua Genta segera memberikan hormat dan mengucapkan terima kasih.
"Tunggu, siapa orang tuaku?"
Amdara menatap Kung penuh harap. Dia tidak mendengar ucapan lengkap Kung karena terpotong oleh kedatangan Tetua Haki.
Kung tersenyum. Kemudian berkata, "Sang Langit."
Bagai sambaran petir di siang bolong. Nama tersebut langsung terngiang-ngiang di pikiran Amdara saat ini. Nama melegenda. Nama yang sudah beberapa kali dia mencari informasi. Lintasan ucapan Tetua Besar Moksa langsung teringat.
Bahkan Tetua Haki dan Tetua Genta sampai dibuat terkejut bukan main mendengar nama tersebut.
"Apa? Bagaimana itu mungkin, Tuan?"
Tetua Genta menarik napas pelan, sambil melirik Amdaraa. Walaupun kekuatan Amdara besar, akan tetapi dia tidak menyangka Kung akan menyebutkan nama sang legenda.
Kung sudah menduga hal ini. Dia kemudian mulai menjelaskan.
"Tarian Bumi Angin, adalah sebuah jurus yang diciptakan Langit. Dia pernah mengajarkan jurus ini kepada Klan Ang. Hanya saja tidak ada yang bisa melakukannya. Sementara Luffy, kupikir gerakan jurus ini sudah diturunkan kepadanya saat masih bayi oleh Langit. Jadi memang benar tidak ada yang mengajarinya. Gerakan tersebut sudah ada di pikiran."
Penjelasan Kung membuat kedua Tetua Akademi menahan napas, menatap Amdara yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Nampak anak itu juga sangat syok mengetahui hal ini.
Deta tersenyum bangga. Dalam hati bersyukur masih bisa dipertemukan dengan keturunan langsung dari Langit.
__ADS_1
"Bukan hanya itu. Tapi aku melihat kemiripan wajah, rambut, dan bahkan ikat rambut yang anak ini pakai. Terlalu sulit dipercaya jika ini sebuah kebetulan."
Tambah Deta yang membuat Amdara mendongak. Tangan anak itu terlihat mengepal keras. Nyaris ada air mata yang jatuh. Dadanya terasa sesak. Napasnya sulit dikeluarkan. Perasaan ini, sungguh terasa aneh bagi Amdara.