Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
222 - Kepergian


__ADS_3

"Kenapa kau di sini?"


Amdara tidak mendekati tempat tidur, melainkan duduk di salah satu kursi. Tatapannya tertuju pada Inay yang masih berbaring sambil menatapnya aneh.


Tanpa diduga, Inay menggunakan rambut untuk menarik Amdara dengan cepat. Amdara yang kurang refleks tidak bisa mengelak.


"Hmph. Memangnya kenapa jika aku di sini? Apa aku tidak boleh masuk ke asramamu, Amdara?"


Inay menariknya sampai Amdara ambruk tepat di samping. Tidak sampai di sana, Inay bahkan melilit lebih erat tubuh Amdara agar tidak bisa lepas.


"Lepaskan."


Amdara menatap tajam Inay, berusaha berontak. Tapi yang ada kekuatannya malah ditekan.


Inay malah tertawa dengan ekspresi temannya ini. Dirinya berbaring menghadap Amdara sambil mengelus-elus pelan pipi putih teman.


"Hei, aku sudah lama tidak bercanda denganmu. Jadi menurutlah dan jangan berontak! Aiya, Dara. Apa kau tidak merindukanku?"


Inay memberikan tatapan menggemaskan. Bibirnya mengerucut, apalagi wajahnya kian mendekat ke arah Amdara.


Amdara mengepalkan tangan kuat. Dia menggertakkan gigi dan buka suara, "memalukan."


Tawa Inay kian menjadi, sampai membuat telinga temannya berdengung.


"Ha ha ha. Kau lucu sekali. Sudah lama aku tidak melihatmu kesal." Inay memegang perut yang terasa sakit karena terus tertawa. Dia menepuk-nepuk pelan pipi Amdara yang sudah sangat kesal.


Tapi bocah berambut putih itu sama sekali tidak membalas, hanya berusaha memalingkan pandangan.


Sampai beberapa saat kemudian, Inay memilih duduk bersila dan menggelengkan kepala. Dia berusaha menghentikan tawa dengan berdehem.


"Baiklah, sudah cukup. Dara, ceritakan apa yang kau alami saat pergi bersama Tetua Genta?"


Inay sangat penasaran, dia sampai datang ke asrama ini untuk menunggu Amdara kembali. Saat kembali pun, wajah Amdara terlihat tidak sedang baik-baik saja, makanya dia membuat lelucon ini.


Amdara memandang Inay, ada tatapan kesedihan bercampur harsa di netra.


"... aku sudah mengetahui nama ayahku di Klan Ang."


Mata Inay seketika membulat sempurna bersama mulut. Terkejut bukan main mendengar hal barusan.


"Apa?! Benarkah?! Ceritakan dari awal. Aku ingin mendengarnya."


Inay mengguncang bahu Amdara keras. Dirinya juga syok saat ini. Amdara mendesis, meminta Inay melepaskan lilitan rambut dari tubuhnya. Dengan cepat, Inay melepas. Menatap Amdara serius.


Amdara menarik napas dalam. Dia membenarkan posisi duduk bersila. Mengingat semua kejadian di Klan Ang. Tanpa ragu, dirinya mulai bercerita mulai dari perlawanan dengan Huzi.


Cerita demi cerita Inay dengarkan dengan serius. Mulutnya sampai dibekap sendiri, ketika Amdara menceritakan bagaimana seorang sesepuh yang tidak mempercayai dirinya dari Klan Ang. Dan sebuah jurus yang membuat mereka yakin bahwa Amdara dari Klan Ang.


"Lalu ayahku ... bernama Langit."


Amdara mengakhiri cerita dengan menunduk dalam. Dia masih merasakan perasaan sedih dan senang.

__ADS_1


"Langit? Aku tidak pernah mendengarnya. Dara, lalu bagaimana bisa kau berada di Negeri Elang Bulan?"


Amdara menggeleng dengan pertanyaan Inay. Dirinya juga belum menemukan jawaban.


Terdengar helaan napas panjang dari Inay sambil menepuk pelan bahu Amdara. Dirinya tersenyum dan berucap, "kau pasti akan menemukan jawabannya. Aku bersyukur karena kau sudah mengetahui nama ayahmu, Dara. Bukankah itu sudah sangat bagus?"


"Setelah ini, apa yang ingin kau lakukan?"


Amdara menoleh. Dia menatap Inay yang masih tersenyum.


"Kau ingin pulang?"


Inay berkedip dengan perkataan Amdara. Dirinya mendengus karena Amdara mengalihkan topik pembicaraan. Dia tahu bahwa Amdara telah menemukan apa yang dicari di Negeri ini, dia juga tahu bahwa misi dari Tetua Bram telah mereka lakukan setengahnya.


Bila ditanya ingin pulang, Inay jelas menginginkannya. Dia bertambah rindu pada orangtua, rumah, dan tentunya Organisasi Elang Putih.


"Aku akan membantumu."


Amdara menepuk bahu Inay, dan segera turun dari ranjang.


Inay tersentak, dia menaikkan sebelah alis bingung.


"Bagaimana kau akan membantuku?"


"Portal."


"Apa? Jaraknya sangat jauh. Itu akan sangat sulit. Yang ada bisa saja kau membawaku ke daerah aneh."


"Bukan begitu. Tapi ...."


Inay menatap Amdara yang tengah serius. Dirinya mengepalkan tangan kuat. Dan mulai mendekati Amdara. Berdiri berhadapan dan saling pandang.


"Tolong bantu aku."


Amdara mengangguk mengerti dengan ucapan Inay. Dia menyentuh bahu Inay, pelan dahinya mendekat dan menempelkan dahi dengan lawan bicara.


Hembusan napas terasa sangat dekat. Dalam hati, Inay berdecak kagum dengan kecantikan Amdara. Dirinya tersenyum tulus, bersyukur memiliki teman ini.


"Bayangkan tempat yang ingin kau tuju."


Amdara menatap netra ungu Inay, gelap tapi juga terlihat menenangkan. Sebuah kekuatan alam mulai mengelilingi keduanya.


Pelan netra ungu itu mulai menutup. Membayangkan tempat pulang yang dirindukan.


Netra biru itu juga tertutup. Mulai berkonsentrasi, menyerap kekuatan alam dan menyatukannya dengan bayangan Inay.


Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Amdara. Dia menggigit bibir bawah keras. Ternyata membuat portal dengan jarak sangat jauh cukup menguras kekuatan, dan tentu pikirannya saat ini tidak boleh bepergian. Dengan kata lain, harus tertuju pada apa yang tengah dibayangkan Inay.


Seperti pedang menusuk punggung Amdara. Nyeri dan sakit secara bersamaan. Tapi dia tetap berusaha membuat portal dengan resiko sangat tinggi.


Siluet emas mengelilingi tubuh Amdara, tapi juga ada warna hitam tipis seperti benang. Menyelimuti dan mulai memberikan kesakitan luar biasa.

__ADS_1


Pelan, sebuah cahaya muncul di atas keduanya. Memperlihatkan gambaran tempat di mana sebuah gedung besar dan halaman luas. Gedung itu memiliki patung elang besar, dan memiliki aura keagungan.


Tempat tersebut adalah gedung Organisasi Elang Putih. Di sana, hanya beberapa orang yang tengah melakukan aktivitas sendiri.


Tempat itulah yang selalu dirindukan Inay. Tempat menunggu pengambilan misi.


Amdara tersenyum pelan. Dia juga merindukan tempat tersebut. Perlahan matanya terbuka, tangannya turun. Netra Inay juga perlahan bergetar, dan terbuka. Keduanya terdiam dengan perasaan berbeda.


"Kau bisa kembali sekarang."


Inay mendongak, melihat gambaran yang benar-benar nyata. Dia sampai menahan napas, mengingat jarak jauhnya akan tetapi Amdara mampu membuat portal.


"Kau memang sudah berubah."


Senyum Inay terbit, entah mengapa dia ingin Amdara juga pergi bersama.


"Pergilah."


"... bagaimana dengan izin dari Tetua?"


"Aku yang akan mengatasi."


"Mn, terima kasih."


Inay melayang, hendak memasuki portal. Tapi dia sekali lagi menatap Amdara setelah melihat portal.


Dirinya berkata, "apa kau tidak akan pulang?"


"Aku akan pergi setelah urusan di sini selesai."


Inay lagi dan lagi hanya bisa mengangguk tanpa bisa memaksa. Dia tahu bahwa Amdara besok juga harus mengikuti Turnamen Magic Muda. Mungkin dirinya akan sangat merindukan bocah berambut putih itu. Perasaan sedih tentu sedang menggerogoti hati.


"Kak Inay," panggil Amdara pelan. Membuat Inay yang sudah melangkahkan satu kaki berhenti. Menatap Amdara bingung.


"Berikan salam untuk Tetua Bram."


Katanya sambil tersenyum tipis. Inay mengangguk paham. Itu adalah kode bahwa Inay bisa menanyakan mengenai ayah Amdara pada Tetua Bram.


"Aku pergi."


"Jaga dirimu."


Inay menghamburkan diri pada Amdara. Mendekap erat, seolah ini pelukan terakhir. Amdara tersentak tapi membiarkan, dia menepuk pelan bahu Inay.


"Kau juga, Dara. Jangan lupakan aku. Setelah urusanmu selesai, tolong kembali ke Organisasi. Aku akan menunggumu di sana."


Matanya terpejam, menahan genangan air mata. Terdengar suara Amdara yang mengatakan terima kasih secara tulus.


Pelan, Inay melepas dekapan. Melayang memasuki portal sambil melambaikan tangan perpisahan.


Cahaya portal mulai menghilang. Bersamaan dada Amdara yang terasa sakit. Punggungnya seperti terkoyak oleh pedang. Dia ambruk, kekuatannya sangat terkuras.

__ADS_1


Dia terbatuk darah sampai akhirnya pandangan menggelap dan tidak sadarkan diri.


__ADS_2