
Di luar kediaman Kepala Desa, saat matahari sudah menampakkan diri warga desa berkumpul. Duduk dan bersenda gurau dengan sarapan yang telah disediakan.
Terlihat Inay dan teman-temannya tengah makan dengan perasaan senang. Hanya saja satu teman mereka belum juga kembali. Padahal penjamuan telah diadakan sepuluh menit lalu. Inay sampai bedecak sendiri.
"Ya ampun. Kenapa Luffy lama sekali? Apa dia tertidur?"
Inay meminum air setelah memakan daging. Pipinya bergelembung karena kesal.
Atma mengunyah daging sambil berbicara asal. "Ah, apa semua perempuan begitu lama membersihkan diri?"
Inay yang mendengarnya langsung menjitak kepala Atma dengan kesal. "Kau jangan samakan semua perempuan. Huh!"
Atma meringis, dia mengelus-elus kepalanya yang sedikit ngilu. Dia kemudian membalas jitakan Inay dan langsung melarikan diri sambil berteriak, "dasar betina menyebalkan ...!"
Inay jelas tersentak. Dia merasakan kepalanya yang dijitak keras tiba-tiba. Dirinya segera minum air setelah menelan daging terakhir dan kemudian melesat ke arah Atma.
"Kau yang menyebalkan ...!"
Atma memelototkan mata saat nyaris rambut Inay melilit kakinya. Jantung Atma berdetak lebih cepat, menghindari setiap serangan Inay.
Kedua bocah itu saling berteriak memaki dan menyerang satu sama lain. Bahkan Atma sampai melemparkan sepatunya ke arah Inay yang nyaris mengenai wajah bocah berambut ungu kehitaman itu.
Warga yang melihatnya tersenyum. Ada-ada saja tingkah bocah-bocah itu. Karena di desa terpencil ini sudah tidak ada lagi anak-anak, rasanya melihat Inay dan Atma yang bertengkar cukup menghibur mereka.
Senior Fans yang melihatnya menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya kedua adik seperguruannya telah mendapat hal baru yang sedikit demi sedikit akan mengubah mereka. Dia cukup bersyukur karena mereka tidak menjadikan misi dari Tetua Bram sebagai beban.
"Khakha. Mereka seperti bocah." Nada tertawa, dia mendapat tatapan datar Ketua Kelas Dirgan.
"Kau juga bocah, Nada."
Dirgan menggeleng-gelengkan kepala. Dia menium air panas, sebelum diminum.
Nada kembali tertawa cekikikan.
Rinai mengenbuskan napas dan berkata, "huhuhu. Apa kita akan merasakan ini setelah kembali ke Akademi?"
Perkataan Rinai membuat Dirgan dan Nada tersentak. Keduanya menatap Rinai dengan pandangan sulit diartikan. Ada perasaan sedih ketika mereka akan kembali ke akademi. Mungkin yang dikatakan Rinai benar. Mereka tidak akan menemukan hal baru selain belajar di kelas.
"Entahlah. Bukankah kau tahu dunia luar sangat berbahaya? Orang lemah seperti kita memang seharusnya berada di kandang." Dirgan tersenyum kecut.
"Khakhaa. Lemah, ya? Sepertinya kita juga akan terus lemah sampai hembusan napas terakhir." Rinai terlihat memeluk boneka erat. Dia memejamkan mata, mencoba menenangkan hatinya yang sakit.
__ADS_1
Ketiga bocah itu saling merenungkan apa yang selama ini terjadi. Banyak hal ketika mereka bertekad menjalankan misi. Sampai pada akhirnya akan kembali lagi, berakhir sudah kisah baru di dunia luar mereka.
"Kalian tidak lemah."
Perkataan seseorang barusan membuat ketiga bocah itu tersentak dan langsung melihat ke arah orang yang baru saja menghentikan langkah dan duduk di samping Rinai. Wajahnya tanpa ekspresi, menatap satu persatu teman-temannya.
"Luffy?!"
Dirgan, Rinai, dan Nada berkedip saat Amdara langsung mengambil daging dan memakannya. Amdara memang sangat lapar karena semalam tidak memakan apa pun. Tapi anehnya dia bisa tertidur pulas di bak mandi. Mungkin dia terlalu lelah. Walaupun tidak mengeluarkan kekuatan, dan tubuhnya layaknya manusia biasa tetap saja Amdara kelelahan.
"Kenapa kau lama sekali? Huhuhu."
Rinai menggeleng, dia melihat temannya itu makan dengan tenang.
Amdara hanya melirik sekilas tetapi tetap melanjutkan makan. Memang berapa lama dia tertidur sampai membuat wajah ketiga temannya kesal?
"Tiga jam. Kau membersihkan diri sampai tiga jam. Kau memiliki kuman apa di dalam tubuh?" Sindir Dirgan yang membuat Amdara terbatuk-batuk. Rinai langsung memberikan air dan menepuk-nepuk pelan punggung Amdara.
"Tiga jam?"
Amdara menatap tak percaya Ketua Kelas Dirgan yang mengangguk. Dirinya pikir hanya beberapa menit saja tertidur. Ternyata sampai tiga jam? Pantas saja Dirgan, Rinai, dan Nada yang melihatnya terlihat kesal. Mereka menunggu Amdara begitu lama rupanya.
"Tubuhku lelah." Amdara membatin dan melihat kedua tangannya dengan rasa iba sendiri.
Amdara makan dengan tenang, bahkan Dirgan yang melihatnya sampai terpana entah karena melihat cara makan Amdara yang seperti bangsawan atau karena hal lain.
Tidak jauh dari tempat Amdara, Kepala Desa dan Senior Fans masih berbincang-bincang. Mereka membahas mengenai apa yang akan dilakukan setelah desa diperbaiki. Senior Fans banyak membantu memberikan ide pada Kepala Desa.
Amdara menghentikan makan setelah beberapa suap. Dia meminum air, dan lalu menoleh ke arah Kepala Desa dan Senior Fans.
Amdara tiba-tiba saja bertanya, "apa sekarang kalian bisa keluar desa?"
Amdara mengajukan pertanyaan tersebut pada Kepala Desa yang langsung membuat Tua Bangka itu tersentak sebelum akhirnya mengangguk senang.
"Karena makhluk itu lenyap, maka kutukannya juga menghilang."
Mendengar hal tersebut membuat Amdara merasa lega. Namun, di sisi lain dia juga mengingat desa Bumi Selatan. Jika para mayat hidup telah dikubur dan jiwa mereka tenang, apa gerbang desa itu juga akan bisa dibuka?
"Sepertinya kami harus segera pergi." Terdengar Senior Fans izin pamit pada Kepala Desa.
Dan kebetulan Inay kembali ke kumpulan setelah menyeret Atma menggunakan rambutnya.
__ADS_1
Mendengar Senior Fans berkata demikian membuat Kepala Desa tersentak. Mereka baru saja pulang dari desa Bumi Selatan tetapi sudah mau kembali. Bukankah mereka merasa lelah?
"Tuan Muda, apa kau yakin tak akan beristirahat dahulu?" Kata Kepala Desa cemas.
Senior Fans menggeleng dan berkata, "tidak perlu. Kami akan kembali sekarang. Anda jaga diri dan warga dengan baik."
Senior Fans lalu membungkuk memberi hormat. Dia sudah membicarakan hal ini pada bocah-bocahnya. Jadi tidak ada yang keberatan jika mereka kembali sekarang.
Kepala Desa berdiri. Dia nampak kecewa saat Senior Fans akan pergi.
"Hah, baiklah." Kepala Desa membisikkan sesuatu pada dua orang suruhannya yang kemudian pergi entah ke mana dan beberapa saat kemudian kembali.
"Aku tak bisa membayar lebih dari ini. Tolong jangan menolak."
Kepala Desa memberi aba-aba agar dua orang kepercayaannya memberikan tujuh kantung yang berisi uang. Senior Fans jelas langsung menolak sopan dia berkata, "ini hanya kebetulan kami menolong desa ini. Jangan berlebihan, Kepala Desa."
Kepala Desa tersenyum. "Apanya yang berlebihan? Takdir yang membawa kalian menolong desa ini. Tidak peduli kalian sengaja atau tidak, kalian tetap telah menolong kami. Ini bahkan kurasa sangat kurang."
Tidak ada apa-apa lagi selain uang yang bisa Kepala Desa berikan. Dirinya juga merasa tidak enak karena tidak bisa memberikan lebih.
Dua orang suruhan Kepala Desa memberikan satu kantong pada Dirgan, Atma, Rinai, Nada, dan Amdara.
"Eh, kami tidak membantu apa-apa. Mengapa diberi uang?"
Perkataan polos Atma membuat Kepala Desa kembali tersenyum dan berkata, "apanya yang tidak membantu? Kalian juga membantu kami. Sudah, terima saja."
Atma menatap tak percaya pada sekantong uang di tangannya. Dia kemudian memeluknya seakan takut uangnya dicuri orang lain.
Nada terlihat tersenyum senang, begitu pula dengan Rinai yang menyembunyikan senyumannya. Berbeda dengan Dirgan yang hanya tersenyum simpul tidak sampai heboh seperti Atma yang sekarang melompat-lompat kegirangan. Mungkin karena bangga bisa mendapatkan uang setelah sekian lama.
"Terima kasih, Kepala Desa."
Kata mereka serentak. Amdara menatap uang di tangannya sebelum memasukkannya ke dalam Cincin Ruang.
"Kami tidak akan melupakan jasa kalian."
Kepala Desa memberi hormat diikuti seluruh warga desa yang hadir. Mereka terlihat tak rela sang penyelamat pergi.
Senior Fans langsung membuat cahaya yang kemudian bisa dinaiki bocah-bocah itu.
"Kami pamit." Senior Fans memberi hormat sebelum akhirnya terbang.
__ADS_1
Warga melambai-lambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Dirgan, Atma, Rinai, Nada, dan Inay juga melambai-lambaikan tangan. Mereka berterima kasih pada warga desa yang sangat ramah pada mereka.
Terkecuali Amdara yang diam tanpa ekspresi. Hanya anggukan kepala saat melihat warga desa melambaikan tangan.