Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
79 - Ramuan Aneh


__ADS_3

Semua pandangan mengarah ke arah telunjuk Amdara. Tepat ke tiga murid penjaga yang dibuat tercengang dan tersedak napas sendiri.


Terlihat Tetua Genta menimang-nimang, dia melirik ke arah 'penyusup kecil' ini yang memiliki aura berbeda dan seperti ada sesuatu yang tengah direncanakan.


Amdara yang merasa Tetua Genta tengah memandangnya segera menoleh, dan tersenyum tipis sebelum berkata, "tiga Senior itu tidak mengikuti pertandingan. Jadi tidak masalah, 'kan?"


Tetua Genta mengembuskan napas panjang sebelum mengangguk setuju. Dia berkata tanpa rasa curiga, "kalian, kemarilah."


Ketiga Senior Penjaga Gerbang dibuat menelan ludah susah payah mendengar perintah langsung dari Tetua Genta. Ketiganya saling pandang sebelum beralih ke bocah berambut putih yang sebelumnya mereka remehkan. Senyuman yang tidak pernah terlihat itu membuat ketiganya dibuat merinding.


Dirgan, Atma, Aray, Inay, Rinai, dan Nada juga sama tercengangnya dengan yang lain. Kelompok kelas Satu C itu tidak pernah berpikir Amdara akan melakukan tindakan seperti ini. Namun, rasa-rasanya Amdara tengah membalaskan sedikit dendam mereka.


Dengan langkah berat setelah kembali diminta Tetua Genta, ketiga murid tersebut berdoa dalam hati agar ramuan aneh yang dibuat Atma tidak membuat mereka kehilangan napas. Mau menolak perintah pun, ketiganya tidak enak. Alhasil, nyawa dipertaruhkan karena perasaan tidak enak itu.


Masih dengan senyuman aneh, Amdara meminta Atma untuk mendekat membawa periuk. Dirinya berujar, "ambil satu sendok."


Disaksikan oleh Tetua Genta sendiri, tiga murid itu sampai gemetar saat mengambil cairan aneh dan bau tak enak masuk ke hidung.


"T-tetua ...."


Salah satu dari murid itu menatap Tetua Genta, meminta belas kasih.


Tetua Genta berkata, "tidak ada racun di dalamnya. Kalian tenang saja. Jika terjadi sesuatu, aku ada di sini."


Amdara tak memudarkan senyum, dia masih ingin cepat ketiga murid ini menyicipi ramuan Atma.


Atma merasakan keringat dingin yang mulai bercucuran di punggung dan dahi. Dia tidak pernah melihat bibir Amdara yang lama melengkung. Ada keanehan dalam diri temannya itu. Atma berharap, ramuan buatan itu tidak membuat hal-hal aneh dalam tubuh ketiga murid penjaga gerbang.


"Senior, bukankah kalian memperlambat waktu?"


Ketiga murid itu tersentak dengan perkataan Amdara. Mereka mengepalkan tangan, dan menatap tajam. Setelah ini selesai, jelas mereka harus membuat perhitungan.


Dengan wajah pucat dan keringat bercucuran, ketiga murid itu langsung menelan cairan hitam. Ketiganya hampir merasakan muntah jika saja tidak tahan karena aroma serta rasa yang sulit diartikan.


Tidak ada hal yang terjadi. Tetua Genta masih menunggu, tetapi memang tidak ada perubahan yang terlihat.


Jantung para murid dan guru kini tengah berpacu dengan cepat. Mereka penasaran dengan apa yang akan terjadi setelah meminum cairan milik Atma.


Amdara menajamkan penglihatan, senyumnya perlahan pudar. Harapannya seperti akan pupus, tetapi tiba-tiba dalam waktu lima menit, salah satu murid itu merasakan tubuhnya yang seperti disetrum. Dia sampai berteriak kesakitan.

__ADS_1


Tetua Genta segera bertindak, dia merasakan kekuatan muridnya ini stabil. Tetapi ada gelombang lain yang tengah masuk.


Dua murid yang belum merasakan reaksi apa-apa terkejut bukan main. Keduanya dibuat lemas, melihat temannya berteriak kesakitan.


Amdara, Atma, dan orang-orang yang melihat juga terkejut bukan main. Mereka langsung berteriak menyalahkan ramuan aneh yang dibuat Atma.


"Sudah kukatakan, dia berniat meracuni Senior ...!"


"Dia benar-benar keterlaluan. Hukum saja dia ...!"


"Nyawa dibalas dengan nyawa. Tak ada toleransi untuk bocah-bocah dari kelas Satu C ...!"


Sorakan-sorakan bertambah keras. Atma yang merasa bersalah mengepalkan tangan, dan menunduk sedalam-dalamnya.


Amdara menepuk bahu Atma pelan dan membuat bocah laki-laki itu menoleh. Mendapati Amdara yang mengangguk dan menunjuk ke arah murid yang telah reda berteriak kesakitan.


Tangan Tetua Genta terangkat, meminta para muridnya tenang. Tetua Genta menanyakan keadaan murid penjaga, "apa yang kau rasakan?"


Murid penjaga itu mulai duduk perlahan dan melihat kedua tangannya.


"T-tubuhku ...."


"R-ramuan ajaib."


Murid penjaga itu menyentuh pipi, dan segera menjelaskan dengan detail apa yang dia rasakan.


Amdara yang mendengarnya mengembuskan napas tidak suka. Dia berbisik pada Atma, "harusnya kau buat ramuan aneh. Bukan memulihkan kekuatan."


Atma yang mendengarnya tersentak. Dia menggaruk tengkuk yang tak gatal dan berkata, "a-aku malah bersyukur ramuanku tidak mengambil nyawanya."


Jelas yang paling merasakan lega adalah Atma. Entah bagaimana jika ramuan yang dibuatnya benar-benar merenggut nyawa.


Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dibenak para murid lain yang tidak mendengar penjelasan murid penjaga itu.


Dua murid yang sebelum terdiam mendengar penjelasan temannya nampak merasakan dada yang terasa sakit, dan satunya merasakan sengatan listrik dahsyat. Ambruk dan berteriak menahan sakit itu.


Tetua Genta tersentak, dan langsung memeriksa keadaan salah satu dari mereka. Keadaanya nyaris sama seperti sebelumnya, merasa tidak ada bahaya di dalam tubuh, Tetua Genta bisa menarik napas lega.


Amdara menunggu reaksi lain pada tubuh kedua Senior di depannya yang masih berteriak kesakitan sampai lima menit berakhir keduanya nampak ngos-ngosan. Salah seorang murid berlari dan memberikan air pada keduanya.

__ADS_1


"Apa yang kalian rasakan?"


Tetua Genta langsung ke inti. Dia nyaris tidak percaya dengan penjelasan murid sebelumnya. Bagaimana mungkin cairan aneh itu bisa memulihkan kekuatan?


Satu murid yang duduk dengan lemas itu menggeleng dan berkata, "a-aku ... merasa kekuatanku bertambah sepuluh persen."


Amdara dibuat tersentak lagi, dia tidak menyangka Atma hebat dalam hal ramuan. "Keburukan dibalas kebaikan?" Amdara membatin dan tersenyum kecut.


Tetua Genta menepuk-nepuk pelan punggung murid tersebut dan mengangguk. Sepertinya akan ada berita besar setelah ini. Dan nama kelas Satu C mulai melambung.


Atma berjongkok, dan bertanya memastikan kembali apakah ramuannya benar-benar bereaksi seperti yang dijelaskan. Murid itu nampak tersenyum senang dan menjelaskan sekali lagi.


Suasana hening sesaat, tak menyangka Tetua Genta menjelaskan bahwa ramuan Atma tidaklah mengandung racun tetapi malah bisa meningkatkan kekuatan. Keadaan tak terduga itu jelas masih banyak yang tidak percaya, tetapi dua murid penjaga menjelaskan sendiri dengan suara yang sengaja dikeraskan.


Di saat itu, Amdara melihat satu senior lagi yang diam dan duduk bersila sambil menunduk.


Amdara bertanya penasaran, "Senior, apa yang kau rasakan?"


Senior laki-laki itu menggeleng dan perlahan mendongak. Dia memperlihatkan wajah yang ingin menangis, membuat Amdara dan Atma yang melihatnya kebingungan.


"K-kau ...." Senior itu menunjuk Atma dan berkata, "kau pasti sengaja melakukan ini 'kan?! Kau membuat ramuan aneh untuk membalas dendam padaku?!"


Teriakan kemarahan itu membuat orang-orang yang mendengar segera menoleh. Mereka keheranan karena satu kelinci percobaan malah marah-marah tidak jelas.


Tetua Genta mendekat dan menanyakan apa yang terjadi. Namun, yang ada murid yang masih memeluk lutut menangis sekencang-kencangnya membuat orang-orang tercengang dibuatnya.


"Nak, ada apa?"


Tetua Genta bertanya tanpa nada. Dia merasa aneh jika murid satu ini malah menangis bukannya senang karena kekuatannya bertambah sama seperti dua temannya.


Sambil menangis kencang murid itu berkata, "Tetua, anda harus mencari penawar secepatnya ...! Aku sangat malu! Dan tidak mau melihat lagi wajah bocah yang membuat ramuan ini!"


Para peserta termasuk murid-murid lain yang tengah menonton dibuat kebingungan sekaligus penasaran. Bahkan Guru Kawi sampai berdiri sambil mengipas-ngipas wajah. Dua murid kelinci percobaan sebelumnya mendapat pemulihan kekuatan, tetapi yang satu ini malah menangis kencang. Dia dan guru-guru lain pun masih belum percaya dengan penjelasan langsung dari Tetua Genta. Guru Kawi memutuskan mendekat, agar lebih melihat dengan jelas apa yang terjadi.


Amdara berkedip, masih merasa aneh dengan perkataan Senior ini. Seperti ada kesalah pahaman.


Atma dibuat menelan ludah susah payah. Dirinya mendekat, tetapi langsung ditendang oleh murid Senior itu.


Tetua Genta mencoba menenangkan dengan menepuk-nepuk punggung muridnya. Dia bertanya sekali lagi, "jelaskan, apa yang kau rasakan?"

__ADS_1


Perlahan, murid itu menghentikan tangis dan meluruskan kedua kaki. Dengan wajah dan telinga yang sudah memerah, dia memperlihatkan dadanya yang seharusnya datar tetapi sekarang malah menonjol besar.


__ADS_2