
Pagi di lapangan Akademi Awan Langit, terlihat arena pertandingan yang dibuat besar nyaris setengah dari lapangan luas itu. Setengahnya lapangan disediakan enam bangku besar paling depan untuk para Tetua, dan tiga bangku besar di belakangnya untuk Tiga Guru Besar. Sementara sebelas bangku yang tidak terlalu besar berada di belakangnya lagi yang disediakan untuk para wali kelas. Untuk bangku peserta sendiri, dibagian sisi kanan dan kiri luar arena pertandingan. Lima kelompok di sisi kanan, enam kelompok di sisi kiri. Bangku penonton dibuat bertingkat ke atas agar bisa melihat ke arah arena pertandingan.
Suasana ramai, beberapa murid penjaga gerbang saling mengomel karena ingin melihat sesi pertandingan yang sebentar lagi akan dimulai.
Seluruh peserta telah duduk rapi dengan perasaan membara. Wajah-wajah semangat terlihat, tetapi ada pula yang terlihat tegang. Pasalnya melawan murid akademi sendiri tidaklah mudah. Entah nantinya akan mendapat balasan dendam dari kelompok yang kalah, atau bisa saja kelas yang kalah akan dikatakan lemah oleh kelompok lain. Jelas mereka tak ingin menodai kelas dengan kekalahan.
Para penonton juga tengah menantikan pertandingan yang satu ini. Mereka sampai berebut kursi dan saling memberi dukungan pada kelas sendiri.
"Aku yakin kelas Tiga Unggulan, Tingkat Atas, dan Tingkat Tinggi yang akan bertanding sengit. Sama seperti tahun lalu, mereka juga saling berebut juara."
Salah seorang murid yang tengah duduk di bangku penonton itu berujar pada temannya yang mengangguk setuju dan menimpali.
"Itu benar. Para senior itu memang sangatlah kuat. Mana mungkin para junior bisa melawan? Haih, apa kau merasa pertandingan ini sangat tidak adil? Pemenang tahunan selalu dijuarai oleh para senior."
Temannya yang satu juga berdecak. Tidak tahu dengan jalan pemikiran para Tetua yang menggabungkan pertandingan antar kelas dari satu sampai tiga yang jelas-jelas senior dan sudah kuat.
"Yah, kita junior tidak memperoleh kesempatan sekali pun. Bahkan celah saja tidak ada."
Mereka terus saja berbincang-bincang. Tentu tidak ada yang mencegah. Toh itu adalah kebenaran yang nyata.
"Aku berharap kelasku setidaknya berada di peringkat lima besar."
"Kau bermimpi? Tahun lalu yang menjadi lima besar kelas Tiga A, dan kelas dua Z. Kelasmu yang payah selalu berada di sepuluh besar."
"Hei, tutup mulutmu!"
Dua penonton itu sibuk sendiri dengan perdebatan mereka. Beberapa penonton juga jadi ikut menimbrungi dan membanggakan kelas sendiri walaupun tidak ikut peringkat tiga besar.
Salah satu penonton yang juga ikut berbicara nampak tertawa dan berujar sinis, "tapi setidaknya kelasku tidak berada di peringkat terakhir."
"Mn. Peringkat terakhir selalu dimenangkan kelas Satu C. Hahaha!"
__ADS_1
Mereka berakhir dengan mengatakan kelas Satu C yang sangat lemah dan payah. Mereka jadi menjadikan kelas 'terbuang' itu sebagai lelucon. Dan sangat yakin kali ini pun kelas Satu C tidak akan memiliki perubahan apa-pun.
Mendadak telinga Aray panas. Dia mengedarkan pandangan, yakin ada yang tengah membicarakannya hal tidak baik. Pandangannya bertemu dengan mata hitam pekat dari depan, cukup jauh darinya.
Aray menatap tajam dan dibalas tatapan dingin oleh Cakra. Keduanya seakan tengah bertarung lewat tatapan mata.
Amdara yang duduk di samping Aray mengikuti arah pandang bocah pemarah itu. Wajah tampan dan tatapan yang sebenarnya terlihat menenangkan milik Cakra membuat Amdara menggeleng dan segera mengalihkan perhatian ke arah lain. Amdara belum sempat mengatakan terima kasih pada Cakra yang telah menolong.
Inay yang duduk di belakang Amdara menepuk bahunya dan bertanya bisik-bisik, "Luffy, apa menurutmu kita akan bertarung semaksimal mungkin?"
Amdara menoleh ke belakang dan mengedikkan bahu. Dirinya mengembuskan napas. Ini memang akan merepotkan jika sampai bertarung habis-habisan. Amdara dan Inay jadi terlalu ikut campur ke masalah Akademi ini. Padahal mereka seharusnya menghindarinya dan fokus ke misi melenyapkan Roh-roh Hitam dan Amdara juga harus fokus mencari keberadaan orang tuanya.
"Jangan sampai membuat terluka."
Amdara berpesan pada Inay yang langsung mengangguk paham. Keselamatan mereka yang terpenting. Kemenangan hanya sebuah keberuntungan dan hanya bisa diperoleh orang-orang yang memang mampu dan mau berusaha. Sementara kelas Satu C, hanya memiliki usaha, tidak dengan kemampuan.
Semalam, Inay beristirahat di asrama Amdara. Dia bertanya banyak hal sampai membuat Amdara beberapa kali menghela napas. Terutama mengenai dirinya yang sudah bisa menggunakan kekuatan. Amdara menjelaskan dirinya menebak Tetua Haki dan Tetua Rasmi yang menyembuhkan. Dia bahkan belum mengatakan terima kasih pada kedua Tetua itu. Sementara pertanyaan mengenai tanamam herbal yang didapat Amdara, dia menjawab mendapatkannya di suatu tempat.
Jelas saja, semalaman Inay nyaris mengajak Amdara berduel karena Amdara tidak mengatakan secara detail mengenai dari mana dia mendapatkan tanaman herbal dengan usia ribuan tahun. Beruntung, Amdara memadamkan api kemarahan Inay dengan informasi yang tidak disangka-sangka Inay.
Bangku wali kelas telah penuh, Guru Aneh terlihat memakai topeng rubah dan menyapu pandang mencari murid didiknya. Dibalik topeng, segaris senyuman melengkung. Dia sangat senang ada perubahan pada murid didiknya. Dia selama lima hari kemarin tidak memunculkan diri bahkan bertanya keadaan peserta kelas satu c saja tidak. Entah ada urusan apa selama itu.
Bangku Tiga Guru Besar juga terisi. Empat bangku Tetua juga telah diduduki. Mereka menatap ke depan arena pertandingan.
Seseorang melayang dan berhenti di tengah-tengah arena. Dia seorang pria berumur kisaran 40 tahun, dengan wajah bersihnya dia mengangkat tangan dan detik berikutnya suara kembang api meletus di atas.
Semua tepuk tangan meriah menyambut. Antusias dari penonton membludak, beberapa guru yang bertugas menjaga jalannya pertandingan terlihat menegur.
Orang yang kini berdiri di tengah-tengah arena tersenyum dan memberi hormat dengan menyatukan kedua tangan. Dia adalah Wan, seorang Tetua dari Akademi Petir Pembunuh yang secara khusus dijadikan wasit pertandingan antar kelas ini di hari keenam dan terakhir besok. Siapa yang tidak kenal Tetua yang memiliki garis keturunan orang terpandang dari keluarga bangsawan ini? Selain berbakat dan menjadi tokoh yang menegakkan keadilan. Dia juga memiliki sifat yang ramah pada orang lain.
Tatapan kekaguman dan terkejut bukan main jelas tercetak dari wajah para murid yang tak menyangka Tetua Wan akan menjadi wasit kali ini. Ini adalah kali pertama Akademi Awan Langit yang mengundang dan menjadikan Tetua Wan sebagai wasit adil dan bijaksana.
__ADS_1
Tetua Wan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Nyatanya dia tetap bersikap hormat pada Tetua Akademi Awan Langit, walaupun statusnya yang tidak jauh berbeda.
"Baiklah, semuanya. Aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum memulai pembukaan acara pertandingan antar kelas Akademi Awan Magic Ini."
Tetua Wan mengeraskan suara menggunakan kekuatannya. Dia melayang, dan dengan senyuman ramah kembali berbicara.
"Aku Tetua Wan dari Akademi Petir Pembunuh. Kali ini menjadi wasit dari pertandingan kelas Akademi Magic Awan Langit. Sebuah kehormatan mendapat undangan dari Tetua besar langsung. Baiklah, tidak perlu berlama-lama lagi kita langsung saja meminta Tetua Haki untuk memberikan sabutan pertama."
Suara tepuk tangan meriah serta suara-suara penonton yang antusias menambah kesan ramai.
Amdara ikut tepuk tangan mengikuti yang lain. Dia menaikkan sebelah alis. Tidak menyangka pertandingan ini sepertinya akan sangat menarik sampai-sampai menjadikan wasit dari orang luar Akademi.
"Aura yang kuat." Amdara merasakan aura dari Tetua Wan yang berwibawa dan berkarisma. Dibanding dengan Tetua Bram, Tetua Wan jelas lebih memiliki aura wibawa ini.
"Tetua Wan, dia sangat adil dalam hal apa-pun."
Dirgan berujar di samping Amdara yang terlihat menatap kagum Tetua Wan. Amdara menoleh dan mengangguk saja.
"Bangsawan hebat. Aku sampai sekarang hanya mengakui dia bangsawan yang bersih dari sifat bangsawan lain."
Amdara tidak mengerti apa yang dimaksudkan Ketua Kelas Dirgan ini yang terlihat tersenyum sambil bertepuk tangan. Amdara tidak menanggapi, dia tidak ingin mengetahui apa yang sebenarnya Dirgan ketahui.
Dirgan terus berkata dengan nada yang terdengar sinis, "bahkan lebih baik dari orang-orang dalam kekaisaran."
Amdara sontak menggeleng. Entah apa yang pernah terjadi pada Dirgan sampai membuatnya berkata demikian. Menyinggung seorang bangsawan dengan perkataan tidak baik bahkan tidak diperbolehkan karena akan membawa masalah pada diri sendiri. Namun, Dirgan malah menyinggung orang-orang kekaisaran. Ini jelas bukan hal yang baik.
"Ketua Kelas, kau jangan berkata demikian."
Dirgan menoleh dan tersenyum. Dia menggelengkan kepala dan berkata, "aku mengatakan hal yang benar, Luffy."
Amdara mengembuskan napas mendengarnya. Dia hanya menegur, tetapi sepertinya Dirgan akan terus mengatakan apa yang dianggapnya benar.
__ADS_1
Tetua Haki melayang dan berdiri di samping Tetua Wan yang mempersilahkan Tetua Haki memberikan sambutan. Tetua Haki nampak mengedarkan pandangan, dia tetap berwibawa dilihat dari sisi mana pun.
"Ini adalah pertandingan sama seperti tahun-tahun lalu. Berduel dengan kelas lain dengan niatan kalian dapat mendapat pelajaran serta pengalaman bertarung. Ini adalah ajang silaturahmi bagi kalian sendiri dan pertandingan untuk mempererat hubungan persaudaraan."