Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
85 - Kejadian di Balai Istirahat


__ADS_3

"Tetua, apa selesai?"


Amdara berkedip, menatap keempat Tetua yang terlihat berbeda setelah Amdara mencurahkan pendapatnya. Jika dihadapan para Tetua, Amdara sepertinya akan mendapat julukan baru, 'Si Pembuat Bungkam' karena sekarang keempat Tetua nampak menghela napas panjang sampai beberapa kali.


Tiga jam sudah berakhir dengan pemenang Amdara yang terus kuat dalam argumentasi kali ini. Wajah Tetua Rasmi memerah menahan kesal setengah mati. Dirinya jadi tidak berselera mengatakan sepatah kata lagi. Padahal awalnya begitu yakin Amdara akan ketakutan karena diserbu pertanyaan, sekarang yang ada Tetua Rasmi yang dibuat agak gugup melihat Amdara yang terlihat masih dibuat tenang.


Tetua Haki mengalihkan pandangan ke arah lain saat Amdara menatapnya polos. Namun, sebenarnya mulutnya tak bisa dibuat bergeming. Cocok sekali jadi pengacara.


Tetua Widya menutup wajah menggunakan telapak tangan sambil menunduk. Sementara Tetua Genta menggelengkan kepala.


"Kau boleh pergi."


Amdara mengangguk mendapat perintah Tetua Genta. Dirinya segera melenggang pergi setelah memberi hormat.


Sekarang Amdara seperti memiliki kekuatan untuk cakap bicara. Buktinya barusan selama tiga jam penuh dia terus berbicara, padahal seharusnya dia bocah dengan hemat bicara.


Amdara menyentuh ikat rambut dan mengembuskan napas pelan. "Aku tertular virus."


Keluar dari gedung Tetua, Amdara berniat pergi ke balai peristirahatan untuk mengisi perut. Semalam dia tidak makan, matahari telah naik di atas. Perutnya jelas-jelas sudah keroncongan sejak tiga jam lalu.


Virus yang dimaksud Amdara adalah virus cerewet milik Aray, Inay, dan Atma. Entah mengapa Amdara merasa berada di lingkungan mereka membuatnya perlahan berubah.


Memasuki balai peristirahatan, Amdara berbaris mengantri mengambil makanan sama seperti murid yang lain. Balai istirahat di siang hari nyatanya lebih ramai ketimbang malam. Beberapa murid yang melihatnya terdengar membicarakan Amdara. Bocah berambut putih itu tidak menghiraukan. Dirinya menoleh saat merasa seseorang berdiri di sampingnya.


"Senior?"


Cakra mengangguk saat namanya disebut.


Tidak perlu lagi Amdara bertanya sedang apa Cakra di sini. Jelas saja pasti tengah mengantri juga mengambil makanan.


Melihat Cakra yang berdiri di samping Amdara, aura wibawa keduanya tidak pudar. Malah terlihat semakin besar dan saling melengkapi.


Beberapa murid perempuan yang melihatnya terlihat tidak suka. "Bocah itu tidak tahu malu berdiri di samping Senior Cakra."


Salah satu dari mereka menghentakkan kaki dan berdecak kesal lalu menimpali, "tsk. Benar-benar harus diberi pelajaran."


"Memang dia siapa berani berdekatan dengan Cakra? Cih!"


Amdara yang jelas mendengar perkataan itu mengembuskan napas. Apa mereka buta tidak melihat Cakra yang lebih dulu memilih berdiri di sampingnya?


"Tidak perlu dihiraukan."


Amdara menoleh ke samping saat Cakra berkata demikian. Amdara mengangguk mengerti. Jika meneladeni mereka yang ada nanti dirinya yang malah dijadikan bahan bicaraan lagi.


Setelah mengantri beberapa saat, Amdara segera mencari tempat untuk makan. Tepat di kursi paling pojok, tidak ada yang menempati.


Baru saja dirinya akan menyuapkan daging bakar berbalut bumbu pedas, sebuah meja melesat tepat ke mejanya. Amdara berkedip, makanan di meja berhamburan di lantai. Beruntung dia tidak terluka.


Amdara menarik napas dan terlihat tenang. Tangannya yang masih memegang daging akan memasukan daging itu ke mulut, tetapi sebuah seruan menghentikan aktivitasnya.

__ADS_1


Jelas saja kejadian barusan membuat beberapa murid tersentak dan menatap ke arah sana.


"Hei, kau!"


Dua Senior laki-laki berjalan ke arah Amdara dan langsung menendang meja keras membuat Amdara yang melihatnya menautkan alis.


"Mn?"


Dua senior itu berkacak pinggang. Wajahnya terlihat garang. Menatap Amdara seolah dia tersangka yang harus segera dibawa ke penjara.


Amdara sebelumnya tidak pernah melihat wajah Senior ini. Kedatangan keduanya pasti memiliki alasan. Jika tidak, Amdara tidak mungkin seterkenal di Akademi 'kan?


"Kau yang berani meracuni temanku, bukan?" Kata salah satu senior yang memakai kalung kerang di leher.


Amdara yang tidak tahu siapa yang dimaksud bertanya, "siapa?"


"Karenamu, temanku jadi frustasi dengan kondisinya. Dia dipermalukan oleh orang lain karena dadanya!" Senior satu lagi menambah. Dia membentak dan menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan meja dalam sekejap.


Amdara mencoba mengingat siapa yang telah dia racuni. Dirinya hanya mengingat senior penjaga gerbang yang dadanya jadi seperti perempuan karena meminum ramuan Atma. Dua senior ini sepertinya teman bocah yang menjadi kelinci percobaan.


Senior yang pertama mengangguk dan dengan mata yang melotot meninggikan nada bicara, "kau harus tanggung jawab dan diberi hukuman!"


Keributan itu memincu beberapa murid terlihat tegang dan memerhatikan dari kejauhan. Antara tidak berani dan enggan membantu bocah berambut putih itu yang terlihat menyedihkan.


Amdara yang mendengar berkedip. Masih dengan sikap tenangnys bertanya polos, "apa salahku?"


"Kau meracuninya menggunakan ramuan aneh ...! Hah, dasar ...!"


"Kau ...!"


"Dia masih bernapas. Aku tidak meracuninya." Amdara memasukkan daging di tangan ke mulut. Dia sebenarnya kesal karena acara makannya harus diganggu.


Dua senior di hadapan membuka mata dan mulut saling pandang. Jawaban Amdara membuat keduanya bertambah naik pitam mendorong bahu Amdara keras sampai kursi yang diduduki terjungkal. Sementara Amdara yang tengah mengunyah daging terdorong. Merasa sedikit ngilu di bagian bahu. Dia menatap dua senior yang seakan ingin membalas dendam.


Padahal jelas-jelas Tetua Genta sendiri yang mengatakan ramuan Atma tidak beracun. Tetapi apa dua senior ini sama sekali tidak mendengarnya?


Amdara menelan daging yang telah terkunyah lembut dan lantas bertanya dengan nada dingin, "apa yang kalian inginkan?"


Dua senior itu tertawa. Keduanya saling pandang sebelum akhirnya mengangguk seperti telah merencanakan sesuatu.


"Bocah, kau bertanya apa mau kami? Jelas saja membuat kau merasakan malu yang sama dirasakan teman kami ...!"


Semua meja yang berada di dekat senior itu melayang, beberapa murid langsung menghindar.


Amdara menatap awas ke sekitar. Jika mereka mengajak bertarung, Amdara jelas akan kalah telak dalam satu serangan.


Kabut merah muncul entah dari mana. Tetapi sepertinya dari satu senior lagi yang kini tertawa membayangkan lawan yang akan menderita.


"Bocah, kau harus menjadi pesuruh jika tidak ingin terluka."

__ADS_1


Perkataan senior sebelum menggema di telinga Amdara yang tidak bisa melihat ke sekitaran karena tertutup kabut merah. Tidak ada lagi suara murid-murid lain, ada kemungkinan mereka telah pergi dari balai istirahat menghindari serangan nyasar.


Perlahan, dua bayangan hitam yang lebih tinggi darinya muncul dan Amdara bisa melihat ke sekitar tetapi masih dikelilingi kabut merah. Amdara memundurkan langkah saat dua bayangan hitam itu terus mendekat.


Amdara merasakan tekanan pada tubuhnya. Ketika mencoba berlari menghindari dua bayangan itu, seakan Amdara tak menemukan titik temu. Tidak ada benda lain, yang terlihat hanya kabut merah. Seakan Amdara tidak lagi berada di balai istirahat.


Suara tawa mengerikan terdengar. Amdara merasakan tengkuknya yang merinding dan langsung membalikkan badan ketika suara itu terus tertawa.


"Kau tidak akan bisa melarikan diri."


Dua bayangan hitam itu menghentikan langkah tepat lima delapan langkah dari Amdara. Seakan memiliki nyawa, dua bayangan itu tertawa dan terus mengoceh tidak jelas membuat Amdara menautkan alis. Dari suaranya, terdengar seperti dua senior sebelumnya. Namun, yang dirinya lihat sekarang hanyalah dua bayangan hitam saja.


Di saat seperti ini, jelas Amdara tidak bisa menang. Jadi dia harus melakukan sesuatu. Dua bayangan hitam tersebut mengangkat tangan dan detik berikutnya Amdara melayang dan langsung terpental, entah menubruk apa tetapi punggungnya rasanya sangat sakit. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Dua bayangan kembali mendekat, kali ini berubah wujud menjadi binatang berkaki empat dan besiap menerjang lawan.


Dengan sisa tenaga, Amdara menggulingkan tubuh ke samping dengan cepat. Jantungnya berdetak lebih keras, nyaris tubuhnya koyak karena binatang hitam barusan. Jika bisa menggunakan kekuatan, jelas Amdara tidak akan melarikan diri seperti ini. Entah kabut merah ini sebuah jurus atau apa pun itu, Amdara harus segera mencari titik terang.


"Kau sangat lemah. Apa benar bisa menang melawan senior?"


"Rasanya aku bermain dengan anak kucing. Hei, bocah. Apa kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu untuk balik menyerang? Cih, sama sekali tidak berguna."


Suara dari binatang hitam itu membuat Amdara menggertakkan gigi. Tangan terkepal kuat sebelum dirinya menghentikan langkah. Pikirannya mulai kacau mendengarnya.


"Lemah. Tidak berguna."


Rasanya menyakitkan dikatakan lemah oleh orang lain, tetapi memang seperti itu keadaannya. Amdara tidak bisa mengelak dari kenyataan.


Binatang hitam berlari secepat kilat saat melihat lawan tengah melamun. Amdara yang menyadari hal tersebut tidak lagi lari. Melainkan maju ke depan dan melawan tanpa rasa takut.


Dengan lincah, dan sedikit kekuatan manusia biasa bocah itu berhasil mengelabui bintang tersebut yang terlihat marah. Tendangan ke arah perut binatang itu dari Amdara membuat lawan mundur selangakah. Tidak memberi kesempatan lagi, Amdara menyerang tetapi kali ini lawan lebih awas dan langsung menarik jubah Amdara dan melemparnya ke lantai dengan keras.


Amdara terbatuk darah kembali dan kedua kalinya pungung terasa akan patah. Bahkan untuk berdiri saja kesulitan.


"Pecundang." Amdara memejamkan mata. Tidak pernah menduga diserang seperti ini saja sudah membuat kewalahan. Bagaimana dengan misi dari Tetua Bram nanti? Bagaimana dia akan menjelajahi dunia untuk mencari kedua orang tuanya?


Di saat sedang berpikir, suara tawa mengerikan membuyarkan semua lamunan Amdara. Tidak ada lagi binatang hitam. Namun, suara mengerikan disertai auman srigala terdengar dekat dengannya.


"Apa ini benar dunia nyata?"


Amdara perlahan duduk, mengedarkan sekitar. Tiba-tiba teringat akan ilusi yang pernah menimpanya saat di desa Bumi Selatan yang sengaja dilakukan Ang.


"Jurus ilusi?"


Dua bayangan hitam serta satu binatang berkaki empat muncul tidak jauh di depan. Amdara menelan ludah kesulitan. Detakan jantungnya berpacu memikirkan dirinya yang mungkin terjebak dalam ilusi.


Amdara berlari sekuat tenaga. Tidak peduli suara tawa dan auman-auman yang membuat merinding. Sejauh Amdara berlari, tak ada hal lain selain kabut merah ini. Dua bayangan dan binatang terus mengejar Amdara yang pontang-panting menahan sakit.


Amdara menghentikan langkah, mengatur pernapasan. Entah memang jurus ilusi yang bisa melukai fisik, atau jurus apa pun yang menurutnya mengerikan ini membuat dia yang kehabisan tenaga terduduk dengan lutut menyentuh lantai. Tubuhnya terasa amat sakit. Pikirannya kacau.


"Inti pengendali ilusi."

__ADS_1


Tidak peduli lagi di belakang dua bayangan dan binatang hitan tengah menargetkan kepala.


BAAM!


__ADS_2