Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
165 - Pelatihan Keras dari Dua Siluman


__ADS_3

Siluman Rubah Merah benar-benar menerjemahkan apa yang dituturkan Siluman Burung Phoenix kepada Amdara secara jelas. Dalam percakapan itu, Siluman Burung Phoenix mengatakan terima kasih kepada Amdara yang telah menolongnya. Tidak sampai di sana, dia juga ingin membalas budi kepada anak manusia itu.


Amdara mengangguk, dan berujar bahwa pertemuan mereka adalah takdir yang mungkin sudah ditentukan. Amdara juga berbicara bahwa Siluman Burung Phoenix tidak perlu membalas budi apa-pun, akan tetapi siluman itu tetap keras kepala ingin membalaskan budi.


Alhasil, lantaran Siluman Rubah Merah jadi kesal sendiri karena harus menerjemahkannya terus menerus. Dia mendengus kesal, dan berujar bahwa Amdara harus menerima balas budi yang diberikan Siluman Burung Phoenix dengan mendapatkan pelatihan khusus.


Amdara menatap Siluman Rubah Merah yang mendadak menjadi baik ini. Dia akhirnya pasrah dan menerima apa-pun yang akan diberikan.


Sekarang dirinya terbang sambil menatap kedua Siluman Burung Phoenix dan Siluman Rubah Merah yang sejak lima belas menit lalu masih saja berbicara dengan bahasa mereka. Dari raut wajah yang terpampang, Siluman Rubah Merah sampai dibuat marah entah karena apa. Sementara siluman satu lagi malah mengeluarkan suara burung dengan keras. Kedua siluman itu lalu menatap Amdara yang masih diam menunggu perintah.


Padahal niat Amdara di sini adalah untuk mencari permata siluman, tentu dia tidak mengatakan tujuan ini kepada kedua siluman di depannya. Kemungkinan besar jika sampai ketahuan, Amdara akan langsung dibabisi dalam satu serangan karena memburu teman-teman siluman ini.


Siluman Rubah Merah menyampaikan bahwa Amdara harus mengikuti instruksi darinya. Hal pertama yang dilakukan Amdara adalah harus bisa menyerap kekuatan alam, yang kemudian diubah menjadi sebuah elemen baru.


Elemen yang diajarkan adalah Elemen Api dari Siluman Burung Phoenix yang jelas sangat bertentangan dengan kekuatan serta jurus angin, dan air milik bocah berambut putih tersebut. Namun, Siluman Rubah Merah tidak ingin tahu, dia malah memaksakan kehendak agar Amdara dapat menguasai elemen api ini.

__ADS_1


Amdara memejamkan mata. Merasakan kekuatan ketenangan dalam dirinya yang terus mengalir. Dia mendengarkan penjelasan demi penjelasan dari Siluman Rubah Merah dengan telaten. Mulai berkonsentrasi dengan kekuatan sendiri yang menurutnya sangat tenang, tetapi saat melakukan permintaan Siluman Rubah Merah tubuhnya merasakan sesuatu yang amat menyakitkan dan membuatnya kesulitan bernapas. Sontak dia melepas kekuatan yang baru saja dipraktekkan dengan napas terengah-engah.


Siluman Rubah Merah mendengus dan mengejek Amdara yang payah karena sama sekali tidak dapat menerapkan hal yang diajarkan. Dia dengan gampangnya menjuluki bocah itu sebagai 'Si Payah Rambut Putih' dengan nada yang sengaja dibuat-buat. Bahkan Siluman Burung Phoenix sampai mengeluarkan suara khas, seolah sedang menertawakan Amdara juga.


Amdara mendengus kesal. Dia memejamkan mata kembali, memfokuskan pikiran. Mulai menggunakan teknik yang baru saja diajarkan. Pergolakan kekuatan angin, air dan api di dalam tubuhnya berguncang hebat. Sampai-sampai Amdara berkeringat dingin, masih mencoba mengendalikan ketiga kekuatan elemen ini. Namun, dia gagal kembali. Kali ini karena memaksakan diri membuatnya terbatuk darah.


Dia kembali melakukan hal serupa. Masih mendengar penuturan Siluman Rubah Merah yang melayang-layang di sekitarnya sambil membawa ranting yang berguna untuk menyadarkan Amdara ketika nyaris hilang kendali. Ranting tersebut mampu membuat bocah berambut putih itu seperti disetrum listrik berkekuatan dahsyat.


Sampai mentari terbit, Amdara sama sekali belum bisa melakukan apa yang diharapkan kedua siluman hebat ini. Berulangkali mencoba, tetapi selalu gagal. Bahkan Amdara merasa tubuhnya terasa sangat panas, sampai tidak kuat dan akhirnya terjatuh dengan wajah pucat.


Beberapa saat setelah berbincang dengan Siluman Burung Phoenix, siluman satunya lagi membawakan sebuah kendi yang ternyata berisi darah dari Siluman Burung Phoenix. Dia menyodorkannya kepada Amdara, meminta untuk menenggaknya. Amdara terhenyak, dia menggeleng cepat menolak. Meminumnya rasanya dia tidak akan sanggup.


Mendapat penolakan, Siluman Rubah Merah mengamuk dan memaksakan mulut Amdara untuk dibuka. Tapi Amdara dengan cepat melarikan diri dan berlindung di belakang Siluman Burung Phoenix sambil memohon bahwa dirinya tidak ingin meminum cairan merah tersebut walau tahu khasiatnya akan sangat luar biasa.


Siluman Burung Phoenix hanya tertawa dengan suara khasnya. Dia tidak menyangka bocah ini akan menolak meminum cairannya, padahal darah miliknya sangat dicari-cari oleh banyak manusia untuk meningkatkan kekuatan.

__ADS_1


Karena Amdara yang sangat keras kepala, akhirnya Siluman Rubah Merah menggeram marah. Melihat kemarahan yang sudah memuncak itu, Amdara ragu-ragu menyampaikan pendapatnya akan membuat obat dengan bahan dasar darah Siluman Burung Phoenix.


Siluman Rubah Merah menaikkan sebelah alisnya. Dia awalnya tidak percaya, akan tetapi Amdara sudah terlebih dahulu mengeluarkan lima jenis tanaman herbal yang pernah dia temukan di hutan ini, kemudian menerbangkannya bersama cairan merah kental tersebut. Menggunakan kekuatan, dia kemudian berkonsentrasi menyatukan bahan-bahan tersebut dengan sangat hati-hati. Masih teringat akan ramuan yang pernah dibaca dari kitab. Walau kali ini menggunakan darah Siluman yang sangat kuat dan sudah hidup lama, pastinya pembuatan serta khasiatnya sangat bagus.


Percikan api terlihat, bahkan sampai berkobar sangat panas dalam jarak dua meter ini disebabkan oleh darah Siluman Burung Phoenix benar-benar hebat.


Siluman Burung Phoenix dan Siluman Rubah Merah memerhatikan bagaimana Amdara dengan cerdasnya membuat sebuah ramuan. Kedua siluman itu sampai terkejut bukan main saat menunggu sampai lima jam lamanya hanya untuk melihat hasil dari kerja keras Amdara.


Amdara menghapus keringat di dahi menggunakan punggung tangan. Tersenyum tipis melihat di hadapannya sebuah pil berwarna merah darah melayang-layang di udara. Dari aromanya masih tercium herbal sangat kuat. Dia menyodorkannya kepada Siluman Burung Phoenix dan Siluman Rubah Merah bangga.


Sementara kedua siluman itu masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Siluman Rubah Merah mengatupkan bibir, ada rasa decakan kagum tapi dia tutupi. Amdara kemudian menelan pil buatan sendiri, merasakan pil tersebut melebur begitu saja ketika bertemu dengan lidah. Dia segera duduk bersila, menyerap kekuatan di pil yang sudah tertelan.


Penyerapan ini membutuhkan waktu. Tergantung jenis pil serta cara penyerapannya. Serta tidak boleh diganggu oleh siapa-pun, jika gagal, tubuh orang itu akan merasakan kesakitan luar biasa dan bisa saja meledak. Untuk itu, Siluman Burung Phoenix dan Siluman Rubah Merah benar-benar menjaga Amdara sampai senja datang menyapa.


Aura baru yang sedikit mirip dengan Siluman Burung Phoenix menguar dari tubuh Amdara. Cahaya orange, api juga terlihat mengelilingi tubuhnya. Tepat ketika dia membuka mata, debaman keras terjadi hingga entah dari mana cahaya lain menyilaukan mata Siluman Burung Phoenix dan Siluman Rubah Merah.

__ADS_1


__ADS_2