Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
108 - Kekuatan Inay


__ADS_3

Pertandingan kembali dilanjutkan tanpa kendala sama sekali. Amdara terus memerhatikan Roh Hitam yang akan diincarnya jika waktunya sudah tepat. Dia akan membiarkan Roh Hitam ini sampai besok dan mewaspadai setiap gerakannya.


Pertandingan selanjutnya tidak kalah menarik dan membuat penonton bersorak senang. Sengit tetapi juga ada kalanya si peserta yang sedang bertanding membuat ulah konyol. Tidak habis pikir dengan tindakan yang diperbuat. Seperti yang dilakukan Mega dari kelas B melawan Daksa dari kelas Satu A.


Mega terlihat mengayunkan tangan, detik berikutnya kekuatan berbentuk gajah dengan daun telinga kelinci dan hanya memiliki satu kaki itu membuat semua orang berkedip. Mega sendiri membuka mulut lebar, tidak menyangka jurusnya malah terlihat tidak menyeramkan melainkan aneh serta menggemaskan dengan warna merah muda.


Para penonton dibuat tertawa renyah dengan aksi Mega. Apalagi Daksa sebagai lawan berdecih, seolah Mega tengah mempermainkan.


"Senior, berani sekali kau meremehkanku?"


Daksa menatap nyalang Mega yang menggaruk tengkuk tak gatal. Daksa kemudian menjatuhkan diri dengan posisi menyentuh lantai arena pertandingan, tanah yang bergerak liar dikendalikan Daksa langsung menyerang Mega begitu brutal. Sementara hewan aneh yanh diciptakan Mega sekarang terlihat meringkuk ketakutan.


Semua orang menganggap Mega akan kalah telak. Ada yang beranggapan bahwa Mega tidaklah cocok menjadi seorang senior jika sampai kalah di pertandingan melawan Daksa.


Bunyi peluit tiba-tiba menyita perhatian. Mega membuat perisai pelindung untuk melindungi diri dari terjangan tanah yang dikendalikan lawan. Hewan yang dibuat Mega tiba-tiba menjerit nyaring, membuat Daksa kehilangan konsentrasi beberapa saat dan celah itu digunakan Mega untuk balik menyerang dengan membuat hewan ciptaannya melompat ke arah tubuh Daksa.


Daksa membelalakkan mata tidak sempat menghindar. Mengakibatkan tubuhnya tertindih hewan ciptaan yang ternyata beratnya berton-ton tidak dia duga. Napas Daksa tidak karuan, kekuatannya tiba-tiba melemah. Dengan terpaksa, dia mengatakan menyerah begitu saja.


Tetua Wan menggelengkan kepala dan menyatakan Mega sebagai pemenang. Suara riuh kembali terdengar. Malam itu, begitu ramai dan seru oleh pertandingan antar kelas.


Pertandingan berikutnya masih dari kelas Satu A melawan kelas Satu C. Sontak semua orang jadi menantikan siapa yang akan mewakili kelas Satu C. Sudah dua kali menang berturut-turut membuat mereka tidak sabar menyaksikan kehebatan murid kelas Satu C lagi. Ada beberapa yang penasaran pada kelompok kelas Satu C ini mengenai keaktifan kekuatan.


Kali ini terlihat Padma sudah berdiri angkuh menunggu lawan yang sedang disemangati oleh rekan.


Amdara menepuk bahu Inay dan mengangguk. Seolah memberi tanda bahwa keselamatan Inay lebih penting daripada kemenangan.

__ADS_1


Ketua Kelas Dirgan juga terlihat menyemangati Inay dengan berkata bahwa mereka tidak akan kalah hanya karena Inay mengalah. Namun, sudah mencapai di titik ini yang belum pernah terjadi sebelumnya sudah membuat mereka sangat senang.


Benar sekali yang dikatakan Dirgan. Aray, Atma, Rinai, dan Nada juga berpikir demikian. Mereka menyemangati Inay dan mewanti-wanti agar Inay berhati-hati saat melawan Padma yang jelas seorang jenius, memiliki jurus membahayakan.


Inay mengangguk dan melesat pergi. Saat mendarat lembut dia tersenyum ke arah Padma yang memutar bola mata malas. Ingin sekali Inay menggantung Padma di dinding Akademi melihatnya.


Keduanya memberikan hormat setelah diminta Tetua Wan. Suara kembang api terdengar, tapi kedua peserta itu belum juga bergerak menyerang satu sama lain.


Padma menyilangkan kedua tangan depan dada dan berkata malas, "hei, apa kau tidak ingin mengatakan menyerah sebelum pertandingan dimulai?"


Inay yang mendengarnya mendengus kesal dan menjawab ketus, "aku bukan pengecut, menyerah sebelum bertanding. Padma, sebaiknya kau jangan meremehkanku atau wajah menyebalkan itu akan tercoreng."


Padma berdecak kesal sendiri dan berujar sinis, "hmph, keras kepala. Jangan salahkan aku jika sampai kau lenyap."


Padma menyeringai, mengatakan 'lenyap' dengan suara yang sengaja dipelankan. Dia kemudian terbang, begitu pula dengan Inay yang sudah siap menyerang.


Rambut Inay tergerai dan memanjang tiba-tiba. Bergerak liar seolah memiliki kekuatan tersembunyi.


Serangan pertama dari Padma berupa lesatan bunga-bunga yang jika sampai menyentuh sesuatu akan meledak. Bukan hanya satu, tetapi Padma melesatkan sebanyak sepuluh sekaligus untuk mengawali pertandingan.


Inay langsung membuat perisai pelindung menggunakan rambutnya, tapi bunga yang menyentuh rambut langsung meledak. Rambut Inay dibuat gosong seketika dan mengeluarkan aroma khas terbakar. Inay berdecak, dan langsung menghindar. Dia tidak lagi membuat perisai pelindung menggunakan rambut.


Dalam beberapa menit terakhir, Inay terpojokkan. Belum sempat menyerang Padma yang terus-menerus melesatkan serangan tanpa memberi celah. Lawan bahkan harus bergerak gesit untuk menghindar. Cukup menyulitkan bagi Inay yang menggunakan rambut sebagai senjata.


Amdara yang melihat hal pertandingan tersebut mulai khawatir apabila Inay terluka karena serangan lawan. Dia berharap Inay segera mengatasi Padma dengan cepat.

__ADS_1


Kecemasan itu juga dirasakan Dirgan, Atma, Aray, Rinai, dan Nada yang tidak mengalihkan pandangan. Mereka menelan ludah susah payah dan berekspresi pucat pasi melihat nyaris saja Inay yang tidak bisa menghindari serangan beruntun lawan yang kecepatannya mulai bertambah setiap detik.


Arena pertandingan sudah dibuat luluh lantakkan oleh serangan dahsyat Padma. Dia berhasil melukai Inay dalam sekejap.


Terpampang jelas wajah Inay yang terlihat tidak baik. Dia menggertakkan gigi kesal tidak memiliki kesempatan menyerang.


"Jika terus seperti ini, aku akan kalah tidak lama lagi." Inay memutar otak untuk bisa menyerang balik.


Rambutnya berputar liar, dan menangkap angin yang tiba-tiba berhembus kencang. Sontak dia menangkap angin tersebut dan melemparnya ke arah Padma yang terkecoh sebentar. Celah sedikit itu digunakan Inay untuk menangkap angin lebih banyak di sekitar dan langsung membuat pusaran angin yang membuat pandangan mata Padma terganggu.


Semua orang membelalakkan mata kaget. Tidak menyangka ada orang yang menggunakan rambut untuk menangkap hal seperti angin. Itu sungguh luar biasa! Bahkan para Tetua dibuat terpana melihat aksi Inay.


Malam kali ini cukup mendung. Keuntungan besar bagi Inay yang bisa menangkap awan sekaligus menggunakan kekuatannya. Rambut Inay memanjang dan terlihat melilit sesuatu yang tertutupi rambut membentuk lonjongan besar nyaris menyamai arena pertandingan.


Padma yang tidak sempat melihat apa yang terjadi kini membuka mata dan mulut lebar ketika lawan melesatkan serangan berupa awan yang jelas menghalangi pandangannya.


"Sialan. Berani sekali kau menyerang dengan sembunyi-sembunyi?!"


Padma berteriak nyaring melampiaskan amarah.


Inay yang mendengarnya menyeringai. Dalam jarak yang masih jauh mengantisipasi jurus Padma, Inay merubah rambutnya menjadi beratnya tidak kira-kira bahkan dibandingkan dengan hewan aneh buatan Mega, rambut Inay jauh lebih berat dari itu.


Para penonton tidak melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi di arena pertandingan yang kini tertutup awan.


Hantaman keras dari rambut Inay mengenai tubuh Padma telak sampai dia terpental dan memuncratkan darah dari mulut. Tentu saja tubuh bagian punggungnya terluka parah karena serangan Inay yang begitu tiba-tiba.

__ADS_1


Suara Inay terdengar dekat di telinga Padma saat mengatakan, "bukankah kau terlalu jelas meremehkan lawan, Padma? Lihat, sekarang kau bahkan tidak berdaya. Ck, ck, ck. Awal pertandingan, kau mengkhawatirkanku yang akan kau lenyapkan. Mn, bagaimana jika sekarang aku yang akan melenyapkanmu?"


Awan berubah menjadi warna gelap. Tentu saja membuat para penonton semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Suara teriakkan memekakkan telinga membuat semua orang terkejut. Suara itu berasal dari Padma yang sekarang entah bagaimana keadaannya setelah diserang Inay sekuat tenaga.


__ADS_2