
Inay melesat cepat, mengedarkan pandangan dan mencoba merasakan hawa kehadiran Amdara. Dia sampai berpas-pasan dengan dua anak perempuan yang menatapnya tapi tidak ada kata yang keluar. Dia adalah Nada dan Rinai.
"Auranya sangat tipis."
Inay tidak peduli dengan Nada dan Rinai.
Dia mengikuti aura tipis yang merupakan hawa Amdara yang berada di Balai Hukuman. Dia mendarat, dan mulai bertanya.
"Apa kau melihat bocah berambut putih?"
"Mn? Rambut putih ... Ah, apa dia yang mendapatkan hukuman berat hari ini?"
"... Hukuman berat apa maksudmu, senior?"
Murid itu kemudian menjelaskan bagaimana Amdara yang tiba-tiba datang dan meminta dihukum atas kejahatan yang dilakukannya. Mendengar hal tersebut, Inay sampai menahan napas. Dia yakin Amdara sekarang sedang dicambuk di ruang bawah tanah.
Sedikit memaksa, Inay akhirnya berhasil meminta izin ke ruang hukum Amdara. Jantungnya sampai berdegub kencang dan berharap Amdara masih hidup.
"Dia tidak pernah berubah. Urusan orang lain selalu dia campuri."
Jalan menuju ruang bawah tanah kali ini cukup jauh. Bisa dikatakan, Amdara berada di ruang paling bawah dan paling menyiksa.
Suara cambukan tidak pernah berhenti terdengar. Namun, tidak ada suara rintihan sedikit pun. Suara tetesan air dari atas ke genangan air.
Di sana, Inay menyaksikan pakaian putih bersih telah menghitam akibat darah dari tubuh. Punggung dan perut yang tanpa henti dicambuk begitu cepat oleh sebuah alat. Sementara tangan anak itu terantai tanpa bisa berkutik.
Inay menggeleng, "Dara, apa yang kau lakukan ...?!"
Sontak dia melesat ke arah Amdara, tapi begitu menyentuh air, tubuhnya langsung disetrum listrik. Inay langsung terbang, dan merasakan tubuhnya sakit akibat setruman barusan. Dia melihat ke bawah, ternyata genangan air itu bukan air biasa.
Amdara sedikit menoleh ke belakang dengan wajah pucat. Darah sudah mengalir di sudut bibir, tapi tatapannya masih datar. Dia melihat Inay yang masih syok.
Inay mendekat, dan berniat menghancurkan alat pemcambuk. Akan tetapi suara Amdara menghentikan.
"Sia-sia. Ini bukan alat sembarangan. Pergilah."
Inay terkejut mendengarnya. Dia menggeleng cepat.
"Apa maksud hukuman ini?! Kejahatan apa yang kau lakukan, Dara?!"
Suara Inay meninggi. Antara marah dan sedih melihat Amdara yang tengah disiksa.
Terpampang senyum kecil dari Amdara.
"Bukan kejahatan. Aku hanya menerima bayaran hutang."
Amdara sebenarnya lebih terkejut karena Inay tahu keberadaannya. Namun, saat ini untuk berbicara saja rasanya sulit. Tubuhnya sudah mengeluarkan banyak darah. Sudah mencapat 100 cambuk, tulangnya terasa seperti ada yang retak. Dia yakin kulit punggung dan perut mulai mengoyak. Walaupun dirinya memiliki regenerasi luar biasa, tetapi kecepatan alat pencambuk ini tidak main-main.
"Terserah kau saja! Sekarang aku harus membantumu!"
Inay menggunakan rambut, menyelimuti tubuh Amdara. Begitu ada cambuk mendarat, rambut Inay langsung gosong. Inay yang melihatnya membelalakkan mata. Alat ini memang bukan alat biasa.
Dia segera mengambil rambut. "Alat ini ... Melebihi kekuatanku."
"Aku tidak perlu bantuan. Pergilah," tutur Amdara sambil memejamkan mata. Menikmati rasa nyeri dan sakit di sekujur tubuh. Bahkan kakinya telah mati rasa.
Geram, Inay turun dan berdiri tidak jauh di belakang Amdara. Setruman listrik cukup membuatnya ingin menjerit, tapi dia tahan. Dengan gerakan cepat, Inay menghindari cambukan nyasar, dan langsung memunggungi tubuh Amdara dengan punggungnya. Terasa dingin, dan menyejukkan. Begitu campuk hendak mengenai punggung Amdara, tapi mengenai perut Inay.
Amdara terkejut merasakan punggung seseorang. Dia mendengus dan berucap, "tidak perlu. Kau--"
"Berisik sekali! Aku sedang membalas budi atas apa yang pernah kau lakukan padaku dulu."
Inay memejamkan mata. Cambukan terus berlangsung membuat tubuhnya merasakan sakit. Dia menggigit bibir bawah agar tidak berteriak.
"Aku tidak akan mengatakan terima kasih."
__ADS_1
"Hmph. Kau tidak perlu mengatakannya. Aku tidak sedang membantumu, Dara."
Seulas senyum terukir di wajah cantik Amdara. Dia sangat bersyukur memiliki teman seperti Inay.
Darah sudah mengubah warna genangan air. Lima menit sudah berlalu, tapi sudah terasa satu tahun bagi Inay yang nyaris ambruk jika dia tidak menahan diri.
"Bagaimana Amdara bisa menahannya tanpa berteriak?!"
Inay nyaris menangis. Tapi dia segera menggeleng. "Aku merasa lebih lemah darinya sekarang."
Namun, rasanya punggungnya mulai menghangat perlahan. Inay menoleh ke belakang, dia merasakan kekuatan asing menyalur di tubuh. Ini pasti kekuatan Amdara.
"Hei, Dara. Kau tahu, banyak hal yang ingin kuceritakan padamu."
Lirihnya sambil tersenyum tipis. Dia berusaha tetap berbicara agar bisa mengalihkan rasa sakit.
"Sebenarnya aku sudah lelah, dan ingin kembali ke Organisasi Elang Putih." Inay mengangkat jempol kaki, yang sudah tidak merasakan apa pun. Dia berkata, "aku rindu negeri sendiri."
Amdara hanya mendengarkan sambil memejamkan mata. Dia tahu perasaan rindu Inay, di dalam lubuk hatinya sendiri juga merasa rindu Organisasi Elang Putih.
"Aku ... benar-benar ingin pulang."
Yah, Amdara tahu keinginan Inay ini berat. Namun, Amdara sudah merasa cukup Inay yang dengan sabar menunggu di Akademi. Ini sudah waktunya bagi Inay pulang ke negeri sendiri.
Tetapi untuk kembali ke Negeri Elang Putih, membutuhkan waktu lamaa. Apalagi perlu mengurus surat-surat politik yang sama sekali sulit dimengerti. Jika menggunakan portal ... Amdara masih belum yakin bisa melakukannya karena jaraknya sangat jauh.
"Aku akan membantumu."
Kata itu akhirnya keluar juga dari mulut Amdara. Dia merasa harus berbalas budi.
Inay tersentak dan menoleh ke belakang, dia sedikit tidak percaya.
"Benarkah? Kau akan membantuku, Dara?"
"Mn."
"..."
"Tapi ... Apa kau tidak akan ikut pulang?"
"... Tidak. Aku harus mencari orangtuaku sampai bertemu."
Inay terdiam, dia menghela napas. Dia tahu perasaan Amdara yang rindu dengan orangtuanya. Amdara sudah hidup sulit tanpa kedua orang tua. Dia sudah banyak belajar mandiri. Saat ini pun, Inay jadi merindukan orangtuanya.
"Kau memang kuat fisik, dan hati."
Inay memejamkan mata saat air matanya mulai keluar. Antara rasa sesak karena hidup temannya dan rasa sakit di perut akibat cambukan. Darah mulai keluar dari mulutnya. Dia berusaha mengontrol kekuatan dalam tubuh dengan benar.
*
*
*
Keributan terjadi di Balai Hukuman oleh kedatangan Dirgan, Atma, Aray, Rinai, dan Nada. Mereka terus mendesak murid yang berjaga agar memberitahukan di mana Amdara sedang di hukum. Mereka tahu hal ini karena Dirgan yang mendengarnya dari Tetua Widya saat keluar dari perpustakaan.
"Kau hanya perlu mengatakannya! Apa itu sulit?! Tsk. Aku akan merobohkan gedung ini jika kalian tidak mengatakan!"
Suara teriakkan Aray menggelegar. Bahkan murid penjaga sampai menutup telinga menggunakan jari.
Salah satu menanggapi kesal, "kau robohkan saja gedungnya! Dasar, baru bisa mengaktifkan kekuatan saja sudah sombong. Bagaimana jika kau kelak dewasa? Tidak akan ada yang mau menikah dengan pria sombong dan kasar!"
Ucapannya kali ini membuat Aray bungkam seribu bahasa menahan amarah. Dia ingin sekali menyumpal murid perempuan di depannya.
Terdengar suara tawa dari Atma yang tak kuat menahan. Dia bahkan sampai menepuk-nepuk meja sambil terus tertawa.
__ADS_1
"Kau benar, nona. Aray memang sombong dan kasar. Kelak tidak akan ada yang mau menikah dengannya. Maka di saat itulah kau memiliki kesempatan untuk menikah dengan temanku ini."
Katanya sambil menunjuk Aray tanpa melihat mata Aray yang sudah sangat marah.
"Cih, sampai dunia hanya memiliki satu pria dan itu adalah dia." Murid penjaga itu menunjuk Aray menggunakan dagu. Dia berkata, "aku lebih baik melajang sampai ajal menjemput."
Sontak saja tawa Atma langsung kembali pecah. Dia memegang perut yang terasa sakit akibat terus tertawa.
Dirgan hanya tertawa biasa, dia masih bisa menjaga wibawanya di saat teman-temannya sulit terkontrol.
"Sudahlah. Jangan goda Aray terus."
Penampilan Dirgan yang sudah berumur 16 tahun jelas lebih dewasa dari yang lain. Penampilannya juga berubah. Tinggi besar, dan jelas tampan.
"Khakha. Kali ini kemarahan Aray sangat berbeda."
Nada masih saja membawa boneka seram. Dia tertawa cekikikan.
Di sampingnya, Rinai hanya bisa menggeleng dan menyenderkan kepala di bahu Nada.
"Huh, Atma tidak takut merasakan pukulan Aray."
Ucapannya kali ini membuat Aray yang tersulut emosi akhirnya menendang menggunakan kekuatan sampai Atma yang lengah terpental menabrak kursi.
"Beruntung aku masih menganggapmu teman."
Dengusnya yang beralih menghadap murid penjaga lagi. Kali ini dia menarik napas lebih dalam. Lima menit sudah bertanya, tetapi mereka tidak ingin memberi tahu keberadaan Amdara.
"Aku akan mencarinya sendiri. Sementara kalian ...." Aray menyeringai. Jari tangan kanannya mengetuk meja pelan. Saat itu juga sebuah perisai pelindung tercipta mengurung murid penjaga yang terkejut.
"Hei, apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan ini!"
Murid itu tahu Aray telah terkenal karena perisainya yang kuat. Jadi dikurung seperti ini tidak akan bisa membuatnya keluar.
Aray tertawa, dia malah berbicara pada teman-temannya, "jangan pikirkan dia. Ayo, pergi."
Dia melesat ke arah lorong, diikuti oleh teman-temannya. Atma yang baru saja bangun berdecak kesal, dia langsung meminum pil dan berlari mengejar.
"Ketua Kelas, apa yang diperbuat Rambut Putih sampai harus mendapat hukuman?"
Dirgan menoleh ke samping, Aray tampak khawatir dengan keadaan Amdara terlihat jelas dari mata.
"Tetua tidak mengatakan apa yang diperbuat Luffy. Tapi, beliau mengatakan Luffy tidak akan mudah keluar dari Balai Hukuman."
Aray berpikir sejenak. "Itu berarti hukumannya berat bukan?"
Dirgan mengangguk.
"Ayo cari ke ruangan paling menyeramkan."
Aray baru akan melesat, tetapi suara Nada menghentikan. Perasaannya benar-benar khawatir.
"Khakhaa. Memang kau tahu seluk beluk tempat ini?"
Nada tertawa cekikikan sambil menggandeng lengan Rinai yang tersenyum tipis.
Atma juga ternyata berada paling belakang masih tertawa pelan.
Aray berdecak kesal, tentu saja dia tidak tahu. Dia beralih menatap Rinai di belakangnya dan meminta Rinai menuntun jalan.
Rinai paham, dia melayang dan mulai mengedarkan pandangan. Dia tahu seluk beluk Balai Hukuman karena dirinya juga sering datang kemari untuk menggantikan orang lain mencambuk. Dia juga sering ditugaskan untuk membawa anak-anak yang bermasalah ke ruangan khusus. Bisa dikatakan dia sudah hafal tempat ini.
"Ruang paling mengerikan dari yang mengerikan di tempat ini hanya ada satu."
Rinai melangkah mendekat ke arah lorong yang lebih sempit, berbau, dan lembab. Karena ruangan ini berada di bawah tanah.
__ADS_1
"Yaitu Ruang Cambuk Iblis."