Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
22 Permainan 3


__ADS_3

Laki-laki itu menggeleng dan mengatakan dirinya tidak bisa menggunakan kekuatan. Mendengarnya membuat Amdara menggeleng. "Tanpa kekuatan pun, jika kau yakin pada dirimu sendiri itu bukanlah masalah. Aku percaya padamu--"


Belum selesai Amdara menyelesaikan perkataannya, dia langsung tertarik ke dalam air. Laki-laki bermata hijau itu berteriak histeris karena tangan Amdara terlepas begitu saja, dirinya menangis sejadi-jadinya tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Pusaran air hijau masih ada, tetapi akar-akar yang sebelumnya melilit tidak lagi muncul. Bocah laki-laki itu menjambak rambut stres. Dirinya ingin mencari bantuan tetapi mungkin saja waktunya tidak cukup.


Di sekeliling sama sekali tidak ada orang, jika dirinya berteriak memanggil teman-temannya pun kemungkinan tidak akan terdengar.


Di dalam pusaran air itu sendiri, Amdara merasakan dingin menusuk tulang. Gelap dan sesak pada dada Amdara semakin menjadi. Tarikkan pada akar masih terasa sakit, membawanya ke dalam dasar sungai.


Awalnya Amdara tidak mengira bahwa sungai ini memiliki gua panjang. Tiba-tiba saja seekor ikan emas kecil menggunakan giginya untuk melepas akar yang melilit kaki Amdara hingga terlepas. Amdara merasakan tubuhnya menghangat dan saat dia membuka mata, hal yang pertama kali dilihat adalah rekan kelompoknya yang sebelumnya tertarik ke dalam pusaran air.


"Kau baik-baik saja?"


Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan oleh Amdara. Di sekeliling ternyata adalah sebuah gua, tetapi sama sekali tidak ada air. Hal tersebut tentu membingungkan Amdara.


"Bagaimana denganmu?"


Sekarang Amdara harus memastikan keadaan rekan-rekannya. Sebagai ketua memang seharusnya memastikan rekan-rekannya selamat.


Bocah laki-laki itu mengangguk dan mengatakan dirinya baik-baik saja. Lalu menjelaskan kejadian sebelumnya pada Amdara. Seekor ikan emas yang menyelamatkan Amdara itu adalah teman bocah laki-laki tersebut. Untuk kejadian gua tanpa air di dalam sungai ini juga dijelaskan bahwa memang ada sejak lama. Sementara Amdara dan satu rekannya selamat dan tengah berbicara, bocah laki-laki bermata hijau masih terus menangis merutuki dirinya sendiri yang tidak berguna.


Masih terngiang perkataan Ketua Kelompok, selama hidupnya tidak pernah ada yang percaya begitu saja pada dirinya. Apalagi Ketua Kelompok hanya seorang bocah yang baru masuk kelas dan tidak dirinya kenal.


Akar pada pohon tiba-tiba saja bergerak ke arah air. Mata hijau bocah laki-laki itu bersinar. Dia bangkit dan kemudian mengangkat tangan, akar-akar itu langsung masuk ke dalam pusaran air mencari keberadaan teman-temannya. Sadar atau tidak, dia baru saja merasa yakin pada dirinya sendiri bisa menyelamatkan teman-temannya.


Di gua sungai, Amdara baru saja membujuk rekannya untuk berbicara pada ikan-ikan emas untuk membawa mereka keluar dari tempat ini. Awalnya rekan laki-laki yang bisa berbicara dengan ikan itu menolak dan mengatakan bahwa berbicara pada ikan hanyalah sebuah kebetulan tetapi Amdara yakin itu bukanlah kebetulan melainkan kekuatan murni.


Setelah beberapa saat menyakinkan, akhirnya teman Amdara itu mau melakukan sesuai permintaan Amdara.

__ADS_1


Sekarang Amdara dan rekannya menaiki ikan emas besar, Amdara tidak menyangka di sungai ini memiliki banyak ikan tersembunyi.


Keduanya menahan napas saat mulai keluar dari gua. Pusaran air hijau mulai terlihat, mereka semakin naik ke permukaan. Akar-akar hijau yang sebelumnya melilit sekarang entah ke mana.


Saat ini, Amdara masih belum bisa menggunakan kekuatannya. Ini memang aneh tetapi Amdara akan memikirkannya nanti.


Amdara dan rekannya mengembuskan napas lega saat sudah sampai di permukaan dengan selamat. Keduanya langsung dibantu bocah laki-laki bermata hijau. Terlihat Nada dan dua rekan lain tengah duduk dengan wajah pucat.


Pusaran air tiba-tiba saja menghilang, keadaan menjadi tenang sekarang. Entah bagaimana Nada dan dua temannya bisa selamat.


Amdara memeriksa keadaan anggotanya dan meminta penjelasan. Setelah keluar dari air, kekuatan alam bisa dirasakan Amdara kembali.


Di sisi lain, kelompok Inay tengah mendapatkan masalah. Dia dan anggotanya sekarang berada di Balai Hukuman, karena salah satu dari mereka mengambil buah ajaib di belakang sekolah tanpa izin. Karena hal itu Inay merasa bertanggung jawab dan menerima cambukan tetapi rekan-rekannya tidak tega. Alhasil mereka mendapatkan cambukan semua.


Kelompok Dirgan juga mengalami masalah sendiri, dia sekarang tengah berada di Balai Istirahat dan mendorong seseorang.


"Aku hanya menjalankan tugas dari guru, apa masalahmu?!"


"Guru? Siapa gurumu? Oh, apakah pria tidak berguna yang bertopeng rubah itu?" Bena bersama dua temannya tertawa keras.


Dirgan yang mendengarnya langsung memukul perut Bena sekuat tenaga. Empat temannya juga melakukan hal yang sama karena marah pada Bena yang telah mengejek guru mereka.


Berbeda dengan kelompok Atma yang sekarang malah tebar pesona pada senior perempuan di tempat Pengambilan Misi. Rinai dan tiga temannya hampir menangis mengikuti permintaan Atma untuk membuat para senior itu tertawa dengan kelakuan-kelakuan aneh. Tujuan Atma tentu untuk mencari petunjuk mencari harta karun.


Rinai saat ini ingin bertemu Nada dan mengadukan semua tingkah Atma.


Nada yang berada di tepi sungai tiba-tiba saja merasakan hidungnya gatal. Dia baru saja menjelaskan kertas di dalam botol yang ditemukannya saat tertarik pada pusaran air.


"Temukan aku di tempat kau setiap hari datangi. Aku adalah tempat di mana kau cari dan mendapatkan semua pengetahuan."

__ADS_1


Amdara membaca isi kertas itu tanpa masalah. Nada dan keempat temannya sampai tidak bisa berkata-kata. Padahal mereka saja sulit membaca tulisan buruk itu.


Bocah laki-laki bermata hijau menatap Amdara penuh rasa kagum. Dirinya jadi memiliki kepercayaan diri hanya karena perkataan Amdara sebelumnya.


"Kelas!"


Kata bocah itu tiba-tiba, dan langsung diangguki Amdara. Tanpa memikirkannya lagi, mereka segera lari menuju kelas. Rasa sakit dan takut sebelumnya telah dibantu Amdara untuk menghilangkan. Amdara juga meminta mereka untuk menarik napas dalam dan berkonsentrasi merasakan angin sekitar.


Amdara juga menjelaskan bahwa kejadian seperti ini bukanlah apa-apa dibanding dunia luar yang kejam. Mereka diminta Amdara untuk yakin pada diri sendiri bisa melakukan sesuatu untuk menolong orang lain tanpa sebuah kekuatan.


Perkataan Amdara dimengerti Nada, dan keempat anggota. Mereka mengikuti perkataan Amdara dan tanpa disadari mulai merasakan sesuatu yang aneh tetapi nyaman pada tubuh.


Di depan sekolah, kelompok Atma baru saja sampai nampak tersenyum senang karena usaha mereka tidaklah sia-sia.


"Huh, tidak ada perempuan yang akan berpaling dari ketampanan ini!"


Atma membelai rambut hitamnya dengan senyuman bangga. Di tangannya terdapat bunga kertas sebagai petunjuk mendapat harta karun. Sama seperti Amdara yang petunjuknya ke arah kelas, Atma juga demikian.


Rinai menitikkan air mata, tidak menyangka usaha konyol mereka berhasil.


Amdara dan kelompok baru saja sampai, mereka tersentak saat melihat kelompok Atma sudah di depan sekolah, untung saja mereka belum masuk ke sekolah.


"Khakhaa, kita terlambat!"


Nada tertawa, dia melambaikan tangan pada Rinai yang langsung direspon dengan lambaian tangan kembali.


Amdara tidak menyangka kelompok Atma berada di sini sebelum kelompoknya. Yah, itu wajar karena Amdara dan kelompok memiliki kesulitan sendiri.


Anggota Amdara melambaikan tangan pada kelompok Atma yang tersenyum sambil memanggil mereka mendekat.

__ADS_1


Atma tertawa, tidak menyangka Amdara yang memiliki kekuatan bisa kalah dari kelompoknya. "Adik Kecil, kau telat. Kakak Tampan ini yang pertama kali ke sini, hoho."


__ADS_2