Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
161 - Burung Phoenix


__ADS_3

Serangan besar nyaris melenyapkan Amdara bersama Siluman Burung Phoenix. Beruntung tepat waktu dirinya masuk ke dalam portal sehingga serangan tersebut meledak ke tanah yang langsung berlubang besar warna hitam. Belum dapat menarik napas lega, Siluman Burung Rajawali melihatnya bersama dengan Siluman Burung Phoenix dari arah atas dan kembali melesat menyerang.


Masih dalam cengkraman Siluman Burung Phoenix, Amdara segera melesatkan serangan berupa pusaran beliung yang membuat Siluman Burung Rajawali cukup terkecoh. Menggunakan kesempatan itu, Amdara mencoba melepaskan diri dari cengkraman siluman api ini. Begitu berhasil, dia langsung mendarat, membantu Siluman Burung Phoenix yang terluka juga mendarat cukup jauh.


Tatapan Amdara teralih ke pusaran angin yang dibuat. Dia menarik napas dalam. Sepertinya dua siluman ini sangat kuat dan mungkin dirinya akan kalah jika nekad bertarung. Amdara memasang sikap waspada, dia tidak akan melarikan diri melihat Siluman Burung Phoenix yang terlihat tidak akan bisa melawan. Jika seperti ini ... mungkin Amdara akan memilih mencoba menyerang Siluman Burung Rajawali. Jika Siluman Burung Phoenix, rasanya dia tak tega saat melirik bagaimana kondisi siluman itu.


Amdara melesat terbang, tepat ketika jurus anginnya terhisap oleh Siluman Burung Rajawali. Amdara kemudian menyatukan tangan, dia berseru, "Kilatan Angin Aliran Pertama."


Sebuah pusaran angin kembali muncul dengan ketajaman bukan main. Cahaya birunya bersinar ke langit, menggunakan pemusatan kekuatan jurus Amdara ini jadi lebih kuat melesat tepat ke arah Siluman Burung Rajawali.


Debaman disertai angin kejut tercipta karenanya. Siluman Burung Rajawali menggunakan sayapnya untuk menangkis serangan dadakan. Dia mengeluarkan suara melengking sampai membuat pepohonan di dekatnya tumbang seketika. Tatapan amarah tertuju kepada bocah berambut putih yang terbang dengan ekspresi datar namun tidak dengan tatapan matanya yang mengandung ketajaman.


Bukannya pergi karena jurus pertama gagal, Amdara malah melesat ke arah siluman itu tanpa ragu. Dia menggunakan teknik kecepatan tinggi hingga Siluman Burung Rajawali mengepakkan sayap dan mengejar Amdara yang ternyata sangat lincah menghindari setiap serangan musuh. Amdara terbang melesat jauh ke arah berlawanan, sementara musuh yang awalnya mengincar Siluman Burung Phoenix, sekarang malah menargetkan Amdara.


Amdara menoleh ke belakang, kecepatan Siluman Burung Rajawali melebihi dirinya tetapi Amdara langsung melesatkan serangan berupa banyak pedang. Akan tetapi dihilangkan oleh musuh menggunakan kepakan sayapnya yang besar. Amdara mendengus melihat serangannya sia-sia.

__ADS_1


Sebuah bola besar keluar dari mulut Siluman Burung Phoenix BNN melesat ke arah Amdara yang sontak juga mengeluarkan jurus air bercampur angin. Jurus barunya yang belum sempurna meledak bersamaan serangan musuh hingga membuat Amdara nyaris terpental karena efek serangan itu. Bocah berambut putih ini sengaja memilih tempat yang agak jauh dari Siluman Burung Phoenix, karena dengan begini dirinya dapat melesatkan jurus yang lebih besar.


Harapan itu langsung pupus tatakala lima kekuatan dari musuh ternyata mengikuti dari belakang. Amdara berhasil menghancurkan dua sementara ketiga bola itu terus mengejarnya dengan cepat, walau sudah membuat perisai pelindung, nyatanya langsung hancur dalam hitungan detik tak kuat menahan serangan begitu besar dari Siluman Burung Rajawali yang sudah berumur lebih dari 45.000 tahun.


Amdara terkena serangan telak dan menghantam ke arah tanah yang langsung berlubang besar. Bocah itu merasakan tubuhnya dihantam sesuatu yang amat menyakitkan hingga merasa seluruh tulang di tubuh retak. Dia terbatuk darah, keringat dingin sudah bercucuran di tubuh. Napasnya tersengal-senggal. Sungguh keajaiban tubuhnya tidak hancur dalam serangan besar itu.


Amdara mengepalkan kedua tangan sambil menggertakkan gigi. Tubuhnya sudah benar-benar lemah, menyerap kekuatan alam untuk menyembuhkan luka luar dan dalamnya pun memerlukan waktu. Sementara musuh sudah di depan mata. Rasanya tak mungkin dirinya bisa mengalahkannya.


"Lemah."


Itu yang digumamkan kepada diri sendiri yang tidak kunjung melakukan perlawanan. Amdara menatap tajam Siluman Burung Rajawali yang akan mendarat dengan serangan dari dalam mulutnya. Siluman Burung Rajawali sudah mengeluarkan serangan terakhir, tiga kekuatan bola sekaligus dalam hitungan detik akan melenyapkan manusia kecil itu.


Amdara hanya memejamkan mata tak berdaya. Dia menahan napas mendengar debaman keras. Dia kira tubuhnya sudah hancur berkeping-keping dan merasakan sakit luar biasa. Nyatanya beberapa saat kemudian membuka mata, dia masih bisa bernapas dengan baik dan melihat langit yang sudah menggelap. Percikan kembang api yang entah datang dari mana di atas sana membuat Amdara mengerutkan kening. Dia segera menoleh ke arah kanan, di mana ternyata Siluman Burung Rajawali sekarang berhadapan dengan Siluman Burung Phoenix dengan sengit. Bahkan Amdara dapat merasakan tanah yang bergetar hebat dan retak di mana-mana.


Debaman dan hantaman lagi-lagi terus berlanjut dari pertarungan dua Siluman dengan umur yang satunya 50.000 tahun, yakni Siluman Burung Phoenix. Suara dari kedua siluman itu sangat keras, memilukan telinga. Pohon-pohon di sekitar sudah banyak hangus karena serangan nyasar. Tanah sudah retak secara besar-besaran.

__ADS_1


Amdara menelan ludah. Belum pernah melihat pertarungan antara dua siluman yang begitu kuat di depan mata sendiri. Dia menghirup udara perlahan, memasukkannya ke paru-paru. Sambil terus menyerap kekuatan alam untuk menyembuhkan luka luar dan dalamnya, sampai beberapa menit hingga dia dapat berdiri dengan baik. Langit dipenuhi oleh serangan nyasar bercahaya merah dan orange milik Siluman Burung Phoenix.


Serangan telak berhasil dilakukan Siluman Burung Phoenix ke musuh yang menghantam tanah dengan keras. Tidak sampai di sana, dia kembali menyerang secara beruntun dengan kekuatan bukan main. Suara jeritan terdengar dari musuh yang dalam waktu sepersekian detik terjadi keheningan.


Amdara yang menyaksikannya menahan napas. Mungkin jika tidak ditolong oleh Siluman Burung Phoenix, dia sudah hancur sekarang. Tatapan matanya tertuju pada Siluman Burung Rajawali yang sudah babak beluar, dan tubuhnya yang mengalirkan darah. Ksmudian pandangannya beralih ke satu siluman yang mengepakkan sayap di langit sebelum perlahan turun perlahan. Amdara kira Siluman Burung Phoenix akan menyerangnya, tapi dirinya begitu terkejut karena Siluman Burung Phoenix ternyata langsung ambruk.


*


*


*


Malam menemani bumi. Suasana di daerah barat sangat sepi. Angin berhembus dingin sampai menusuk tulang. Di sana, Amdara terduduk bersila sambil menyembuhkan Siluman Burung Phoenix yang tidak kunjung sadarkan diri. Lukanya cukup parah, sampai Amdara harus mengeluarkan banyak kekuatan untuk bisa menyembuhkannya.


Amdara telah mengambil permata Siluman Burung Rajawali. Dia sangat beruntung kali ini. Entah bagaimana dengan kondisi kedua temannya. Amdara menarik napas, dia mengeluarkan beberapa tanaman herbal yang dipetik di kediaman Tetua Haki. Menggunakan kekuatannya, dia berhasil menciptakan sebuah pil penyembuh. Entah berhasil atau tidak, tapi dia memasukkan pil tersebut ke dalam paruh besar siluman ini.

__ADS_1


Tidak terasa, malam itu Amdara menghabiskan waktunya hanya untuk menyembuhkan luka disetiap tubuh Siluman Burung Phoenix. Sebagai rasa terima kasih karena telah menolong diri Amdara.


Bocah itu menarik napas dalam. Merasa bahwa Siluman ini seharusnya sudah sembuh walau belum total, tetapi Amdara tidak bisa terus berada di sini. Karena tujuan utamanya adalah mencari permata siluman sebanyak-banyaknya. Amdara tidak tega menghabisi Siluman Burung Phoenix ini yang sudah menolongnya dari kematian. Bocah itu kemudian merentangkan tangan, melirik sekali lagi ke arah siluman besar itu sebelum melesat pergi berburu kembali.


__ADS_2