Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
228 - Melewati Gunung


__ADS_3

Urutan ke dua dalam hal kecepatan adalah Amdara. Dia merasa tubuhnya sudah lebih baik, sehingga bisa terbang lebih cepat. Kecepatan terbangnya hampir sulit diikuti oleh netra biasa. Setiap kali hembusan angin dari kecepatan, benda di sekitar langsung sedikit berubah menjadi es. Tapi juga langsung berubah layu, seolah terkena sesuatu yang panas.


Setiap terbangnya, Amdara harus berpikir agar saat berada di Akademi Nirwana Bumi dapat bertemu Ketu, orang yang bisa mencabut Benang Merah sampai ke akar-akarnya. Namun, jika sampai di Akademi tersebut dengan waktu selang hanya satu atau dua hari, Amdara akan kesulitan mencari Ketu. Dia yakin Ketu ini bukan orang biasa, dan jelas akan sulit ditemui.


Amdara menarik napas dalam. Harus mencari cara agar sampai di tempat Turnamen dengan lebih cepat.


"Tidak bisa menggunakan portal."


Tubuhnya memang sudah membaik, tapi jika sampai menggunakan portal lagi, dia tidak yakin masa pemulihannya akan lebih cepat. Tentu hal ini masih dipengaruhi oleh Benang Merah.


Satu cara yang dipikirkan saat ini adalah terbang dengan cepat. Beruntung Tetua Rasmi sebelumnya telah mengatakan bahwa mereka hanya terus mengikuti hutan dengan lurus, setelahnya akan bertemu gunung. Mereka juga harus melewati gunung yang sangat besar, pasti akan memakan waktu berhari-hari jika kecepatan terbang tidak baik.


Suara geraman tiba-tiba terdengar, mengagetkan Amdara yang sedang berpikir. Dia menyapu pandang, tapi tidak melihat seekor siluman. Namun, tiba-tiba saja siluet orange melesat cepat berlawanan. Beruntung Amdara bisa mengelak cepat.


Dia menoleh ke belakang kaget, seekor Siluman Harimau Bersayap tengah menatap tajam. Tubuh Siluman Harimau Bersayap terlihat terluka, ada bekas koyakan di bagian punggung.


Dia menggeram, matanya merah tajam. Detik selanjutnya mulut terbuka, menyemburkan api tepat ke arah Amdara yang langsung menghindar kilat.


Siluman itu kemudian melesat, kembali menyemburkan api tidak biasa ke arah lawan.


Gesit Amdara kembali menghindar, membuat portal kuat hingga api tidak melukai.


Dia sama sekali tidak mengerti mengapa Siluman Harimau Bersayap menyerang tanpa sebab. Tapi, jika dilihat baik-baik nampaknya siluman tersebut tengah ketakutan, tetapi tertutup sebab menyerang terus menerus.


Pepohonan dalam sekejap hangus oleh api. Lawan Amdara masih terus menyerang, tapi kali ini terbang di langit mengikuti Amdara.


Groaaarr!


Geramannya mampu menimbulkan angin kejut. Tapi, sama sekali tidak menggoyahkan pertahanan lawan.


Amdara dengan tenang mengangkat jari telunjuk ke atas pelan, sebelum Siluman Harimau Bersayap kembali menyerang.


Rantai es muncul dari tanah, dengan kilat melilit kaki lawan. Siluman itu berusaha berontak, tapi rantai es semakin kuat melilit. Tubuh Siluman Harimau Bersayap yang telah terluka parah berakhir jatuh, tidak berdaya.


Amdara menapak, tepat di depan. Memperhatikan Siluman Harimau Bersayap yang kembali menggeram, memelototi tajam. Mulut itu langsung dibungkam oleh rantai es.


Siluman ini berusia masih muda, kisaran tiga ratus tahun. Terlihat dari segi kekuatan, serta tubuh. Luka di tubuhnya kian mengeluarkan darah, masih segar.

__ADS_1


Luka tersebut seperti diserang oleh cambuk khusus, sampai kulitnya mengelupas membentuk akar.


Pelan, Amdara mendaratkan tangan ke kepala siluman itu yang langsung berontak, tapi tidak berdaya. Mengusap perlahan, terasa menenangkan tapi juga mengintimidasi.


"Aku tidak akan menyakitimu."


Amdara melengkungkan senyum. Menarik tangan. Menatap luka lawan, dan tiba-tiba saja meniupnya.


Hembusan napasnya yang terasa dingin membuat Siluman Harimau Bersayap menggigil, sambil menatap anak manusia ini sengit.


"Kau pasti kesakitan."


Sebuah pil muncul ketika Amdara menengadahkan tangan. Kemudian pil itu dia masukkan ke dalam mulut Siluman Harimau Bersayap yang sedikit terbuka.


Siluman yang terus berontak itu mengakibatkan tangan Amdara tergores taring tajam sampai mengeluarkan darah segar. Amdara segera menarik tangan, menatap dingin binatang di depannya ini.


Dirinya mendengus. Perlahan luka di tangan tertutup kembali.


"Hmph."


Pil yang dia berikan adalah pil penyembuh. Dia harap luka koyakan itu bisa sembuh.


Dia melesat dengan cepat, tanpa peduli apakah pilnya bereaksi pada Siluman Harimau Bersayap atau tidak.


Dia bahkan tidak tahu bahwa sedikit darahnya yang masuk ke mulut Siluman Harimau Bersayap langsung membuat perubahan. Perlahan rantai es mulai memudar dan menghilang setelah Amdara sudah jauh.


Siluman Harimau Bersayap segera berdiri. Dia menggeram, perlahan luka tubuhnya benar-benar sembuh. Bahkan kekuatannya langsung pulih.


Cahaya putih tipis mengelilingi, membuat kulit luar siluman tersebut mengalami perubahan berupa warna keunguan dan keras. Bahkan tiba-tiba sayapnya semakin besar, seiring tubuhnya juga perlahan membesar. Perubahannya sangat drastis. Dia terlihat seperti siluman berusia ribuan tahun.


*


*


*


Ketiadaan cahaya mengakibatkan keadaan gelap. Suasana hutan kini terasa lebih mencekam karena aura tidak biasa. Angin bertiup dingin bertiup pelan. Suara dari siluman yang tinggal di hutan mulai terdengar jelas.

__ADS_1


Lesatan cahaya putih baru saja melintas melewati seekor siluman tupai yang berada di dahan pohon sampai jatuh. Tupai itu bahkan langsung membeku ketika terkena hembusan angin barusan.


Bau anyir memasuki lubang hidung. Nampak beberapa Siluman Serigala tewas mengenaskan. Bahkan ada siluman lain juga yang tergeletak tidak bernyawa. Terlihat baru beberapa jam terbunuh. Entah oleh manusia atau siluman lain.


Amdara melewati dengan cepat. Terbang tinggi untuk melewati gunung besar dan luas di depannya. Dia mengeluarkan api biru, untuk menemaninya. Bukan takut, hanya ingin ditemani saja.


Asap hitam muncul dari tanah secara misterius. Mengelilingi tubuh siluman, tanpa membutuhkan waktu lama mayat siluman-siluman itu mengering. Hanya meninggalkan tulang belulang. Asap hitam itu semakin membesar, membawa aura misterius pula.


Akan tetapi auranya sama sekali tidak dirasakan Amdara. Tiba-tiba saja Seluring Putih muncul di sampingnya. Ikut terbang cepat mengagetkan anak manusia berambut putih ini.


Amdara langsung menoleh, berkedip. Dia bertanya dengan nada dingin, "kenapa kau keluar?"


Seluring Putih terbang naik-turun seolah mengatakan sesuatu. Api Biru Amdara langsung mendekat.


Sebuah suara dalam pikiran Amdara muncul.


"Nona, Seluring Putih mengatakan bahwa tempat ini sangat cocok untuk berlatih seluring."


Suara itu milik Api Biru yang bisa bicara, tapi hanya didengar oleh Amdara.


"Aku sudah berlatih. Tidak perlu."


Amdara menolak mentah-mentah. Akan tetapi Seluring Putih itu langsung terbang, berhenti tepat di depan wajah. Nyaris saja Amdara menabrak, jika tidak refleks menghentikan terbang.


Seluring Putih terbang naik-turun lagi. Kemudian suara Api Biru terdengar.


"Dia mengatakan Nona harus segera meniup seluring irama ketenangan."


Amdara mendengus, menatap Seluring Putih keras kepala. Ini bukan waktu yang tepat untuk berlatih, tapi dia tidak tenang jika Benda Pusakanya mengganggu.


"Merepotkan saja."


Amdara mengambil seluring, perlahan meniupnya dan memainkan irama ketenangan.


Suasana di sekitar Amdara mendadak hening. Hanya ada irama ketenangan yang membuat siapapun nyaman saat mendengarnya. Udara di sekitar berubah lebih dingin, bak angin dari es.


Irama ketenangan yang dimainkan terdengar sampai jauh.

__ADS_1


Asap hitam yang sebelumnya menghisap tubuh mayat-mayat siluman bergerak-gerak tidak jelas, hingga perlahan membentuk tubuh manusia yang berguling-guling tidak jelas sambil menyentuh kepala.


Suara geraman terdengar dari asap tersebut. Geraman kesakitan luar biasa nan mengerikan, membuat tubuh yang mendengarnya merinding.


__ADS_2