Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
45 - Makhluk Mengerikan


__ADS_3

"Kenapa Senior belum kembali?"


Kecemasan nampak di wajah Dirgan dan yang lain. Mereka telah lama menunggu tetapi Senior Fans tak kunjung kembali. Tanah lagi dan lagi bergetar hebat. Debaman keras semakin menjadi. Padahal malam telah datang membawa lintang sejak dua jam lalu.


"Kita sekarang hanya bisa berdoa. Di luar pasti ada sesuatu jadi Senior perlu ikut menyelasaikannya. Kalian tenang saja, Senior akan baik-baik saja."


Inay kembali menenangkan. Padahal jantungnya masih berpacu lebih cepat. Aura mengerikan dan pengap yang dia rasakan adalah dari makhluk yang pernah dia lawan saat berada di Organisasi Elang Putih.


"Mn. Dia akan segera kembali."


Amdara menambah, berharap mereka percaya dan tidak perlu terlalu khawatir. Dia menepuk-nepuk pelan punggung Rinai yang masih menangis.


Malam itu, mereka sama sekali tidak bisa tidur. Hujan juga tak bosan turun dengan deras.


"Ah, kenapa tiba-tiba aku merasa merinding?"


Atma mengusap-usap lengannya. Dia seakan merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Bukan hanya dia tetapi Dirgan, Rinai, Nada, dan Amdara merasakannya secara bersamaan. Berbeda dengan Inay yang telah merasakannya lama.


"A-apa ada h-hantu?"


Perkataan Rinai membuat yang lain tersentak. Saat mendengar 'hantu' Inay langsung mendekat ke samping Nada. Keringat menetes dari dahinya.


"Jangan berbicara sembarangan. Tidak ada hantu di si--"


"Nana, di belakangmu ada bayangan besar!"


Sontak Inay berteriak dan memeluk Nada erat. Dia tidak tahu bahwa teman-temannya tengah menahan tawa.


"Hahah! Lihat, Inay ternyata takut pada hantu!"


Atma tertawa terbahak-bahak. Dia sengaja mengerjai Inay agar suasana tidak terlalu tegang. Siapa sangka Inay memang takut pada hantu.


Inay berdecak, dia menoleh ke belakang yang tidak ada apa-apa. "Kau ...!"


Inay menggunakan rambutnya untuk menarik Atma keluar dari rumah kecil itu. Siapa sangka kejadian tak terduga terjadi. Begitu Atma ditarik keluar, tanah tiba-tiba saja berguncang hebat sampai retak besar. Nyaris Atma terjatuh andai Inay melepas lilitan rambutnya. Semua orang terkejut, dan langsung keluar rumah.


Keadaan di luar benar-benar kacau! Beberapa rumah telah roboh dan tanah retak di mana-mana. Orang-orang keluar dan berteriak, berlarian tidak tentu arah.


Penerangan di luar menggunakan api milik warga yang memasukannya ke dalam wadah khusus agar tidak padam. Setiap warga membawa api, jadi mereka bisa melihat kondisi di luar.


"A-ada apa ini?!"


Dirgan mengepalkan tangan. Melihat pemandangan seperti ini membuat kepalanya pusing, dia mengingat kejadian tidak mengenakan.


"Huhuhu. Aku takut. Huhu." Rinai memegang lengan Nada sambil menyembunyikan wajahnya.


Nada tak berbicara apa-apa. Tetapi tatapan matanya berkaca-kaca.


Inay menurunkan Atma di tanah yang tidak retak. Perasaannya mendadak tidak enak. Pikirannya tertuju pada Senior Fans.


"Luffy, kau jaga mereka."

__ADS_1


Belum sempat Amdara menjawab, Inay melesat, mencari arah debaman keras. Dia harap Senior Fans baik-baik saja. Suara gemuruh petir kian menjadi, ini tidaklah wajar. Pasti sesuatu yang membahayakan tengah melanda desa ini.


Amdara tidak bisa diam saja. Dia harus mengevaluasi warga. Banyak warga yang meringkuk ketakutan. Dan tidak ada seorang pun yang mencoba menenangkan. Masih banyak yang berlarian tidak jelas. Tetapi ada segerombolan warga yang duduk sambil menangis putus asa.


Amdara menghampiri mereka setelah menenangkan teman-temannya. Mereka lalu berjalan ke arah sekumpulan warga itu.


"Tuan, Nona, tenanglah."


Tidak ada yang menghiraukan. Mereka terlalu takut pada gemuruh petir dan hujan deras. Bahkan mereka tak peduli seberapa dinginnya tubuh mereka.


Amdara mengepalkan tangan. Tak bisa membantu apa pun. Andai saja kekuatannya bisa dikeluarkan, dia tidak akan melihat warga ini ketakutan, kedinginan, dan putus asa.


"Kenapa kita tidak keluar desa?"


Saat ini hanya itu yang dipikirkan Amdara. Mungkin saja jika mereka keluar desa, keadaan tidak terlalu parah, bukan?


Salah satu warga menjawab histeris.


"Tidak bisa, Nak! Desa ini terkutuk. Siapa pun yang masuk, dia tidak akan bisa keluar begitu saja!"


Amdara, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada dibuat terkejut bukan main. Ini alasannya penjaga gerbang tidak memperbolehkan mereka masuk? Keadaan jadi semakin tidak terkendali saat tanah terus-menerus bergetar hebat.


Namun, dalam situasi seperti ini Amdara masih bisa mengendalikan ketenangannya. Tidak seperti Rinai yang menangis histeris sambil meneluk Nada yang juga hampir menangis. Tubuh Dirgan melemas, pikirannya pergi ke mana-mana. Apalagi Atma yang sudah ambruk ke tanah. Jantung mereka berpacu lebih cepat dari sebelumnya.


"Apa ada tempat yang aman?"


Amdara bertanya. Dia membantu nenek tua yang nyaris terjatuh karena guncangan. Beruntung Amdara menariknya tepat waktu. Namun, warga hanya menggeleng dan terus menangis.


Amdara tiba-tiba saja merasakan tubuhnya yang amat sakit. Sepertinya Benang Merah kembali berakar. Amdara hampir kehilangan keseimbangan saat guncangan hebat dari tanah.


Keputusasaan. Sama sekali tidak ada harapan untuk mereka hidup. Kini Amdara tak kuat menahan sakit di tubuhnya. Dia ambruk, menekan dadanya yang kini teramat sakit.


Di sisi lain, Inay baru saja menapak di belakang Senior Fans setelah membantu beberapa warga yang keluar dari ruang bawah tanah. Awalnya ada yang mencegah dia mendekat, tetapi Inay keras kepala. Dia hanya berpikir bisa membantu Senior Fans yang mungkin saja dalam bahaya.


"S-senior ...."


Jeruji yang sebelumnya mengurung makhluk mengerikan kini telah menampakkan wujud dan keluar dari jeruji. Tubuhnya amat besar, hampir menyamai besarnya ruang bawah tanah itu.


Terlihat makluk mengerikan itu berwarna hitam dengan bulu lebat. Matanya merah menyala, taringnya panjang sampai ke dada. Memiliki tanduk sampai tujuh, dan makhluk itu sama sekali tidak memiliki kaki! Dia melayang yang memudahkannya menyerang.


"Apa yang kau lakukan di sini?!"


Senior Fans menarik Inay yang hampir terkena serangan makhluk mengerikan itu. Inay yang tak sadar menahan napas, ini kali pertama bertemu makhluk mengerikan. Apakah ini ... Raja Roh?!


"R-raja Roh?!"


Inay tak menjawab pertanyaan Senior Fans. Dia bahkan sampai merasa lemas tiba-tiba.


Auman begitu keras sampai membuat banyak orang yang masih berada di ruang bawah tanah terpental jauh dan langsung memuntahkan darah.


"Semuanya pergi."

__ADS_1


Senior Fans yang masih menggendong Inay berkata dingin. Saat ini warga tak bisa melenyapkan makhluk itu, yang ada mereka akan tewas masal.


Tak ada yang menolak. Mereka saling membahu pergi dari ruang bawah tanah.


"Kenapa kau di sini?"


Senior Fans menurunkan Inay, dia bersiap melesatkan serangan tanpa ditahan. Senior Fans tentu tersentak saat Inay berada di sini. Dia meminta gadis kecil itu untuk menjaga teman-temannya, tetapi malah mengabaikan. Sekarang siapa yang menjaga Amdara dan yang lain?


"A-aku akan membantu Senior." Inay berkata gugup. Dia masih menatap ke depan di mana makhluk itu menatapnya tajam.


"Kau tak akan membantu." Senior Fans tahu kali ini makhluk itu tidak akan mudah diselesaikan. "Pergi. Lindungi warga."


"T-tidak. A-aku akan membantumu, Senior. Kau jangan meremehkan kekuatanku."


Tanpa di duga, Inay menggunakan rambutnya untuk melilit tangan Raja Roh yang memberontak. Tak sampai di sana, Inay langsung mengeluarkan jurus lain.


Senior Fans mengembuskan napas. Dia melesatkan serangan beruntun pada makhluk tersebut sampai berteriak. Telinga mereka hampir pecah karena auman makhluk itu.


Raja Roh melesatkan serangan dari matanya. Serangan tersebut berhasil di hindari oleh Senior Fans dan Inay yang langsung membuat rambutnya bersinar sehingga Raja Roh kesulitan melihat.


Serangan dari Raja Roh yang mengenai tanah langsung menjadi abu. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Senior Fans menggunakan jurus dari Organisasi Elang Putih untuk membuat segel Roh. Cahaya dari segel tersebut berwarna kuning, Raja Roh memberontak. Namun, Senior Fans mencoba konsentrasi dalam mengendalikan jurusnya.


Inay memukul tubuh Raja Roh yang begitu keras menggunakan rambutnya. Inay beralih memukul tanduk Raja Roh bahkan sampai retak. Raja Roh semakin memberontak, dia amat marah sekarang.


BAAM!


Segel yang dibuat Senior Fans gagal. Dia terlempar jauh, begitu pula dengan Inay yang tak sengaja menyerang sebelah mata Raja Roh.


Groaa!


Raja Roh marah besar. Dia membakar sekeliling. Senior Fans langsung membawa Inay yang sudah tergeletak kehabisan kekuatan. Tidak sampai di sana, Raja Roh melesat mengikuti Senior Fans yang terpaksa harus berhenti sebelum dia keluar dari ruang bawah tanah. Dia khawatir Raja Roh akan menyelakai warga desa.


"S-senior, a-aku tidak apa-apa."


Inay memuncratkan darah segar. Dia mengepalkan tangan. Tubuhnya terasa sakit.


"Tunggu sebentar." Senior Fans menurunkan Inay di belakangnya. Dia menghadap Raja Roh yang tak lagi mengeluarkan api dari mulut.


Senior Fans menarik napas dalam, dia kesulitan melawan Raja Roh. Sangat memalukan jika dia sampai kalah di hadapan seorang bocah. Senior Fans sebelumnya telah mengeluarkan banyak kekuatan untuk menerbangkan lempeng. Kekuatannya belum pulih penuh. Jadi wajar dia kelelahan.


Senior Fans tak mungkin maju ke depan, sementara Inay tengah terluka parah di belakang. Perisai pelindungnya mungkin tak akan mampu menahan serangan makhluk mengerikan ini. Jika dia membawa Inay ke atas duluan, kemungkinan besar Raja Roh akan mengikutinya. Dia hanya berharap jurus terakhir akan melenyapkan Raja Roh, walaupun mengantarkan nyawa sendiri. Tak peduli seberapa dia ingin terus mengembara, misi yang diberikan Tetua Bram mungkin adalah yang terakhir. Terakhir kali dia menemani seorang bocah di Negeri asing hanya untuk mencari orang tuanya. Anak malang. Hanya itu yang terpikir Senior Fans saat sebelum melakukan sesuatu.


Kaki dan tangan Senior Fans bergerak aneh. Seakan dia tengah melakukan jurus tertentu.


Benar saja, cahaya kuning muncul dari bawah kakinya. Matanya terpejam, dengan sisa kekuatan, dia menggunakan jurus sebelumnya.


"Jurus Pemusnah Roh Elang Putih ...!"


Groaa!!


BAAM!

__ADS_1


__ADS_2