SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
AJAKAN BOLOS SEKOLAH


__ADS_3

Satu pertolongan yang diberikan Oscar pada Marrie, rasanya cukup untuk membuat gadis berusia 16 tahun itu jatuh hati pada Oscar. Sepanjang pelajaran yang diikutinya, Marrie tak henti membayangkan wajah tampan Oscar yang dengan penuh jiwa ksatria menolongnya.


Pagi itu pelajaran matematika dengan pembahasan Aljabar, sebuah materi yang sedikit rumit untuk diselesaikan. Marrie tak fokus memperhatikan setiap materi yang diterangkan oleh bu Irene. Padahal semua siswa begitu fokus memperhatikan materi yang diberikan oleh bu Irene.


Bu Irene yang akhirnya sadar akan Marrie yang tak memperhatikan pelajaran yang diberikan olehnya. Bu Irene pun langsung menegur Marrie yang terus melamun membayangkan Oscar.


"Marrie... Coba sekarang kamu jelaskan apa itu variabel?" Tanya bu Irene mengejutkan Marrie.


Marrie kebingungan. Dia menatap teman-temannya. Tapi semuanya tak ada yang memberitahu Marrie. Sehingga Marrie melambaikan bendera putih. Tanda menyerah.


"Sa-sa-saya tidak tahu bu." Jawab Marrie penuh rasa malu.


Hu.... Seketika ledekan langsung diberikan oleh seluruh siswa lain pada Marrie. Mengingat Marrie tak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh bu Irene. Padahal materinya baru saja disampaikan oleh bu Irene pada seluruh siswa.


Bu Irene memanggil Marrie ke depan kelas. Dia lantas meminta Marrie untuk berdiri di lapangan, sebagai hukuman akan tindakannya tersebut. Marrie sempat menolak. Tapi itu perintah dari bu Irene yang tak bisa ditolak oleh Marrie. Sehingga dia harus mau untuk menuruti perintah dari bu Irene tersebut.


Kesal bercampur malu. Marrie dengan terpaksa menerima hukuman yang diberikan oleh bu Irene. Selama pelajaran bu Irene di kelasnya masih berlangsung. Hukuman yang diberikan pada Marrie pun akan tetap ada.

__ADS_1


Ditengah kekesalan yang melanda Marrie, tiba-tiba panggilan telepon masuk ke ponselnya. Senyum sumringah langsung terlukis dari wajah Marrie, saat mengetahui panggilan telepon itu dari Oscar. Marrie seketika semangat untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hallo Oscar." Sapa Marrie.


"Hallo Marrie."


"Ada apa?" Tanya Marrie malu-malu.


"Kamu pasti lagi sekolah. Tadinya aku ingin ngajak kamu nonton." Jawab Oscar manis.


"Iya sih. Tapi aku kesal banget hari ini."


"Aku kesal sama guru matematika hari ini. Dia menghukumku untuk berdiri di lapangan yang panas." Gerutu Marrie.


"Kurang ajar juga. Kenapa kamu tidak kabur saja dari dia. Untuk apa kamu menurutinya." Ide dari Oscar.


"Tapi apa itu bisa lebih baik?" Tanya Marrie ragu-ragu.

__ADS_1


"Saya rasa itu lebih baik. Daripada harus menuruti perintahnya yang aneh. Apakah hukuman seperti itu masih efektif di era ini?" Ucap Oscar.


Marrie berpikir sejenak.


"Lantas apa yang harus aku lakukan?" Tanya Marrie.


"Bagaimana jika kamu kabur saja. Kamu lari lewat gerbang belakang sekolah. Aku akan tunggu disana." Tawaran dari Oscar.


"Tapi apa itu tidak berbahaya?" Tanya Marrie masih ragu.


"Saya rasa tidak. Itu lebih baik, daripada harus menuruti perintah guru kurang ajar itu." Terang Oscar.


"Baik. Aku pikir itu juga lebih baik. Panas rasanya berdiri ditengah lapangan seperti ini." Keluh Marrie.


"Benar. Aku tunggu kamu dibelakang sekolah." Tutup Oscar.


Begitu situasi aman. Marrie segera pergi meninggalkan lapangan untuk kabur dari hukuman, sekaligus bolos sekolah. Sementara Oscar sudah menunggu Marrie di tembok belakang sekolah. Dia tak sabar untuk mengajak Marrie bolos sekolah.

__ADS_1


Memanfaatkan tangga rusak dibelakang sekolah. Marrie bak Tarzan perempuan, menaiki tembok sekolah yang tinggi. Dia pun berhasil melewati dan melawan rasa takutnya. Sehingga bisa kabur dari tembok tinggi dan besar tersebut.


__ADS_2