
Entah mendapat kabar burung dari siapa, tapi Beatrice yang sehari-hari berada di rumah. Bisa mengetahui jika Julien's menerima Oscar sebagai kurir di restoran miliknya. Itu bukan ide yang bagus, pendidikan Oscar seharusnya bisa menjadi pertimbangan Julien's dalam memilih seorang kurir untuk restorannya.
Beatrice dengan mulut bawelnya, terus mengoceh pada Julien's yang baru tiba dari pulang kerja. Beatrice seolah tidak paham akan kondisi Julien's yang lelah, selepas pulang bekerja. Dia tetap memaparkan argumentasi dia akan Oscar yang baginya tetap tidak layak bekerja di sana.
"Jadi seperti itu cara kamu melakukan rekrutmen karyawan? Kamu hanya dengan modal kenal, bisa menjadikan seseorang itu karyawan kamu. Itu namanya nepotisme Julien's. Kamu harus sadar itu." Oceh Beatrice Beatrice dengan tiba-tiba.
"Apa maksud kamu? Siapa yang aku jadikan nepotisme?" Tanya Julien's dengan wajah penasaran.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu. Aku sudah tahu semuanya. Jadi kamu tidak bisa berbohong lagi padaku." Beatrice mulai meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu maksud. Siapa yang nepotisme itu!" Julien's mulai emosi.
"Anak jalanan yang katanya malaikat kamu itu. Hari ini kamu terima dia buat jadi kurir di salah satu restoran kamu. Itu namanya nepotisme Julien's. Kamu harus sadar itu." Beatrice semakin marah.
"Emhm.. Aku pikir kamu berlebihan. Negara saja bisa melakukan itu, kenapa aku tidak bisa. Lagi pula, aku pikir Oscar bisa dengan semua pekerjaan dia. Dia juga telah memiliki surat izin untuk berkendara. Salah dia dimana, lalu?" Bantah Julien's dengan begitu tegasnya.
Sepertinya akan semakin rumit jika Julien's terus meladeni semua ucapan dari seorang Beatrice. Dia seolah tanpa kontrol, berbicara sesuka hati. Lebih baik, Julien's mengalah. Dia pergi meninggalkan Beatrice yang terus mengomel di teras rumah.
Omelan Beatrice ternyata tak hanya di teras rumah saja. Beatrice tetap mengikuti Julien's, bahkan saat Julien's sudah berada di di dalam rumah. Beatrice terus mengikuti suaminya tersebut.
__ADS_1
Beatrice tetap mempersoalkan akan Oscar yang diterima sebagai kurir baru di restoran. Baginya Oscar tetap tidak layak untuk bekerja. Hingga Beatrice meminta Julien's untuk memecat kembali Oscar.
Julien's bukan seorang pria yang inkonsisten. Ketika dia berkata A, mungkin dia tidak akan berkata B. Dia akan tetap pada prinsipnya yang kuat. Prinsip akan keteguhan hatinya untuk memilih seorang Oscar menjadi kurir di restoran miliknya.
Konsistensi seorang Julien's terus Beatrice goda. Dia berusaha meyakinkan Julien's, jika pilihan dirinya akan Oscar adalah sebuah kesalahan. Oscar tidak akan bekerja sesuai dengan prinsip restoran yang dimiliki oleh Julien's. Mungkin itu yang harus dipikirkan oleh Julien's. Sehingga perlu pertimbangan lebih lanjut dalam memilih Oscar tentunya.
Julien's benar-benar konsisten. Dia tak terpengaruh sedikitpun dari apa yang coba Beatrice ungkapkan. Julien's tetap meyakinkan dirinya akan Oscar yang akan menjadi karyawan teladan di restoran miliknya. Hingga Julien's tak harus khawatir dengan apa yang menjadi kekhawatiran seorang Beatrice.
Beatrice sendiri merasa Oscar akan menjadi benalu dalam keluarganya. Marrie yang merupakan anaknya, sudah mulai tertarik pada Oscar. Dia khawatir, itu akan jadi peluang Oscar dalam menguasai Julien's. Mengingat Oscar adalah anak jalanan yang dalam pandangan Beatrice adalah seorang manusia liar yang penuh kejahatan.
__ADS_1