
Sedari matahari belum nampak dari ufuk timur. Nania sudah memasukkan kembali barang perlengkapan Julien's selama di rumah sakit. Dia begitu bahagia Julien's sudah sembuh dengan tangannya yang kembali normal.
Perlahan matahari mulai memancarkan sinar keemasannya yang menandakan pagi yang sudah akan dimulai. Mata Julien's perlahan membuka dengan suara mobil yang sudah mulai meningkat. Sapa manis dari Nania membuat Julien's semakin bersemangat untuk pulang.
Julien's menyantap sarapan dengan begitu lahapnya. Setiap sendok penuh makanan yang Nania sodorkan, tak pernah tersisa begitu memasuki mulut Julien's. Dia nampak lahap menyantap sarapan yang disajikan oleh rumah sakit.
15 menit digunakan untuk sarapan. Waktunya untuk mengganti pakaian. Mengenakan kaos dalam berwarna putih, dengan dilapisi sweater berwarna biru. Julien's nampak begitu gagah. Dia bersiap kembali ke rumah dengan luka bakar yang tersisa hanya 50% saja.
Di parkiran rumah sakit, Roberto yang merupakan sopir pribadi Julien's telah menunggu. Dia bersiap menyambut kepulangan Julien's dari rumah sakit. Dengan setelan jas, serta kacamata berwarna hitam. Roberto berdiri tegak disamping mobil.
Dia langsung berjalan dibelakang Julien's dan Nania begitu melihat keduanya berjalan menuju parkiran. Dia menawarkan untuk membawa tas besar yang digendong oleh Nania. Namun Nania menolaknya, dia masih bisa membawa tas tersebut.
Dengan kesigapannya, Roberto membantu Nania dan Julien's ketika memasuki mobil. Dia membukakan pintu mobil untuk keduanya. Roberto nampak begitu sigap sebagai seorang sopir pribadi.
__ADS_1
Mobil dijalankan dengan begitu santainya oleh Roberto. Dia sengaja menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Sebab Roberto tidak ingin mengganggu keromantisan dari Nania dan Julien's. Sehingga mobil pun dia jalankan dengan kecepatan yang sedang.
Didalam mobil, Julien's benar-benar seperti anak kecil. Dia terus menggenggam tangan Nania, serta mencoba untuk terus berada di pangkuan Nania. Tingkah konyol Julien's membuat Roberto tertawa kecil. Julien's nampak seperti bocah 5 tahun yang sedang manja pada ibunya.
Melihat Roberto menertawakannya, Julien's langsung meledek Roberto. Roberto yang masih jomblo menjadi bahan bulian dari Julien's.
"Makanya kamu buruan nikah. Biar bisa kayak gini." Ucap Julien's yang semakin mesra dengan Nania.
"Carilah. Saya yang sudah tua saja bisa dapat bidadari. Masa kamu gak bisa." Ledek Julien's kembali.
Roberto hanya tersenyum kecil dengan ledekan dari Julien's tersebut.
Sampai di rumah. Kepulangan Julien's dari rumah sakit langsung disambut gembira oleh ketiga anaknya. Mereka langsung memeluk Julien's dengan begitu eratnya di depan pintu rumah.
__ADS_1
"Romeo kangen papa."
"Theo juga kangen."
"Kalau kangen cium dong pipi papa."
Baik Romeo maupun Theo secara berbarengan mencium pipi kanan dan kiri Julien's. Kedua akhirnya bisa melepas rindu pada Julien's.
Dari kejauhan, Beatrice yang semakin kurus dengan penyakit kanker yang menggerogotinya. Hanya bisa menyaksikan kebahagiaan dari Julien's. Dia begitu sungkan untuk menyambut kedatangan dari Julien's. Meskipun Julien's adalah suaminya. Tetapi Beatrice merasa begitu tidak nyaman, terlebih ada Nania disamping Julien's.
Di meja makan, Beatrice telah menyiapkan berbagai menu untuk Julien's sarapan. Menu yang menjadi kesukaan Julien's tersebut, sengaja Beatrice minta pada pembantunya untuk memasak menu itu. Namun sarapan lezat yang disediakan oleh rumah sakit, dengan bumbu tambahan berupa senyuman manis Nania. Terasa begitu kenyang mengisi perut Julien's. Sehingga menu itu nampak biasa saja begitu Julien's melihatnya.
Julien's lebih memilih untuk bersantai dengan segelas kopi arabica kesukaannya. Ditemani oleh Nania dan hembusan angin yang menyejukkan. Dia bersyukur bisa kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1