
Begitu tiba di rumah, Julien's langsung meminta Marrie untuk segera mengganti pakaiannya. Sebuah gaun cantik telah Julien's persiapkan untuk di kenakan oleh Marrie dalam kunjungan Julien's ke balai kota, tempat pertemuan dirinya dengan walikota.
Marrie yang sudah mendapatkan pesan dari Julien's untuk ikut bersama dengan dirinya ke balai kota. Seketika langsung bergegas menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Sementara Beatrice yang menginginkan Julien's pergi bersama dengan Marrisa, sedikit kesal dengan keputusan dari Julien's tersebut. Dia menyesali apa yang telah di pilih oleh Julien's. Sebuah pilihan salah yang seharusnya tidak di ambil oleh Julien's.
"Apa kamu yakin akan mengajak Marrie ke acara sebesar itu?" tanya Beatrice.
"Apa kamu mau mengganti posisi Marrie untuk datang ke balai kota?" tanya balik Julien's.
__ADS_1
"Seharusnya kamu pergi bersama dengan Marrisa, bukan dengan Marrie." jawab Beatrice dengan nada kesalnya.
"Kamu itu memang gila, siapa dia. Kenapa aku harus pergi dengan dia. Itu bukan pilihan, tapi itu sebuah pemaksaan." ucap Julien's dengan tegasnya.
Beatrice tidak bisa menjawab lagi pertanyaan dari Julien's, sebab apa yang di sampaikan oleh Julien's adalah sesuatu hal yang benar. Julien's dan Marrisa tidak memiliki ikatan apapun, sehingga tidak seharusnya dia pergi bersama dengan Marrisa ke balai kota. Apalagi datang untuk acara resmi. Mungkin orang akan berpikiran buruk pada Julien's ketika mereka melihat Julien's pergi bersama dengan Marrisa.
Beatrice yang baru pulang dari kemoterapi pun, kembali merasakan hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Dia harus kehilangan semangat hidupnya, dimana Julien's sepertinya tidak akan memenuhi keinginan dari seorang Beatrice. Keinginan dari Beatrice untuk bisa melihat Marrisa bersanding dengan seorang Julien's. Padahal itu adalah permintaan dari Beatrice pada seorang Julien's. Tapi nyatanya itu sulit terealisasi dengan sikap Julien's yang tetap menolak Marrisa untuk menjadi calon istrinya.
__ADS_1
Beatrice berjalan dengan kepala yang masih terasa sakit. Seperti sebuah jarum yang menusuk bagian kepalanya. Mungkin rasa sakit itu di rasakan Beatrice dengan begitu kuatnya. Hingga Beatrice berjalan dengan sempoyongan menuju kamar.
Nania yang melihat Beatrice yang semakin tidak seimbang, inisiatif untuk menolong Beatrice. Tapi baru juga akan menolongnya, Nania langsung di bentak dengan kasar oleh Beatrice. Dia di minta untuk tidak mendekat pada seorang Beatrice, sehingga Nania pun langsung mengurungkan niatnya untuk menolong Beatrice.
"Kamu jangan pura-pura baik dengan saya. Saya tidak Sudi di tolong oleh perempuan seperti kamu. Tubuh saya terlalu suci untuk di sentuh perempuan kotor seperti kamu." ujar Beatrice dengan begitu tegasnya.
Nania tak bisa menjawab perkataan dari Beatrice. Dia hanya bisa bersedih dengan sikap kasar Beatrice pada dirinya. Entah sampai kapan Beatrice akan merubah sikap kasarnya pada Nania. Sikap yang terus Beatrice perlihatkan pada Nania, membuat Nania begitu terpukul dengan apa yang ada.
__ADS_1
Beatrice tetap memilih berjalan menuju kamarnya dengan mengandalkan tembok rumah. Dia berjalan dengan meraba tembok rumahnya menuju kamar. Beatrice terlihat tidak nyaman dengan apa yang ada. Tapi Beatrice lebih memilih hal tersebut, di banding harus di papah oleh seorang Nania.