SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
PEMBELAAN JULIEN'S PADA NANIA


__ADS_3

Kepala Beatrice terasa begitu pusing, dia terlihat begitu tidak sehat. Wajahnya pun turut pucat. Dengan bagian bibirnya yang mulai memutih. Kondisi tubuh Beatrice semakin tidak berdaya, hingga Beatrice sudah mulai memikirkan kematian yang mungkin akan segera tiba untuk dirinya.


Beatrice berjalan dari dapur rumahnya menuju kamar dengan sempoyongan. Dia harus meraba tembok rumah, agar posisi tubuhnya benar-benar bisa seimbang. Sehingga Beatrice tidak akan terjatuh.


Namun kaki Beatrice yang mulai lemas, tidak sanggup menanggung beban badannya yang sebenarnya begitu kurus. Beatrice pun akhirnya jatuh. Dia tak berdaya di atas lantai rumahnya di depan pintu dapurnya.


Jatuhnya Beatrice yang begitu keras, terdengar ke telinga Nania yang berad di kamar mandi. Nania dengan segera menolong Beatrice. Walaupun begitu kesulitan, namun dengan tenaga yang di miliki oleh Nania. Dia pun membawa tubuh Beatrice tersebut menuju kamar Beatrice.


Di kamar Beatrice sendiri, Julien's sudah nampak tertidur dengan lelapnya. Hingga saat Nania mengetuk pintu kamar, Julien's tidak mendengar ketukan pintu dari Nania tersebut. Julien's baru terbangun saat Nania mendorong paksa pintu kamar yang sebenarnya tidak terkunci tersebut.


Julien's dengan segera menerima tubuh Beatrice yang di pangku oleh Nania tersebut. Kemudian menaruh tubuh Beatrice di atas kasur. Dengan segera Julien's membalur tubuh dingin Beatrice dengan minyak angin.


Nania yang menggendong tubuh Beatrice dari depan dapur menuju kamar. Terlihat begitu kelelahan. Napasnya seperti seseorang yang telah lari maraton. Sehingga napas Nania terdengar begitu pendek.

__ADS_1


Melihat Nania yang begitu capek, Julien's mengambil segelas air putih yang sengaja dia siapkan untuk dirinya minum di tengah malam.


"Buat kamu." Julien's menyodorkan gelas minum tersebut.


"Terima kasih." Balas Nania menerima gelas tersebut.


Tak berselang lama, Beatrice pun akhirnya sadar. Dia terlihat masih begitu pucat. Matanya terbuka, tapi tatapan dari dirinya begitu kosong. Julien's dan Nania pun langsung menghampiri Beatrice yang masih begitu linglung.


Beatrice melirik ke arah Nania. Bukannya meminta maaf, Beatrice justru malah berprasangka buruk pada Nania. Dia mengatakan jika Nania menolong dirinya tidak tulus. Beatrice bisa merasakan hal tersebut.


Ucapan dari Beatrice benar-benar tidak masuk logika. Padahal Nania dengan susah payah membawa tubuh Beatrice menuju kamar. Tapi Beatrice masih menganggap apa yang di lakukan oleh Nania tidak tulus. Beatrice benar-benar terserang penyakit hati. Sehingga hatinya begitu buta untuk melihat kebaikan dari seorang Nania.


"Bagaimana kamu tahu Nania tidak tulus menolong kamu?" Tanya Julien's dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Aku tidak melihat dari wajahnya, tapi aku merasakan hal tersebut." Jawab Beatrice mengira-ngira.


"Aku tidak mengerti sama kamu. Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu pada Nania. Padahal Nania begitu tulus menolong kamu. Tapi kamu justru berkata demikian. Itu benar-benar membuatku tidak habis pikir." Ucap Julien's semakin kesal.


Melihat Julien's dengan Beatrice bertengkar. Nania pun langsung meminta Julien's untuk tidak memarahi Beatrice kembali. Baginya tidak peduli pertolongan dari dirinya mendapat sebuah keyakinan dari Beatrice atau tidak. Terpenting Nania sudah menyelamatkan Beatrice di hari ini. Nania juga mengingatkan Julien's untuk segera memberikan Beatrice obat. Sehingga Beatrice bisa kembali pulih.


Menuruti permintaan dari Nania, Julien's pun segera mengambil obat untuk Beatrice. Tidak ada Julien's, mulut jahat Beatrice kembali membuat Nania sakit hati. Bagaimana tidak, Nania di maki Beatrice dengan begitu kasarnya. Dia mengatakan jika Nania adalah perempuan yang tidak baik. Sehingga Nania layak mendapatkan perlakuan seperti itu dari Beatrice.


Nania yang sudah tebal dengan ucapan dari Beatrice, tidak memperdulikan ucapan dari Beatrice kepada dirinya. Bagi Nania, apa yang di ucapkan Beatrice pada dirinya hanyalah sebuah angin berlalu. Tidak ada yang harus di pusingkan oleh Nania. Semuanya sudah tidak perlu di ambil pusing lagi oleh Nania.


. Sebagai istri kedua, tentu hal-hal tersebut akan menjadi makanan sehari-hari bagi seorang Nania. Dia akan terus mendapatkan ujaran kebencian dari istri pertama. Nania harus semakin dewasa dalam hal tersebut. Sehingga Nania tidak akan sakit hati kembali dengan ucapan dari seorang Beatrice.


Ucapan dari Beatrice yang tidak mempan pada Nania. Justru mendapat pembalasan dari Julien's. Menurut Julien's, seharusnya Beatrice tidak mengatakan hal yang buruk pada Nania. Sebab hal buruk akan membuat Beatrice menjadi seorang yang buruk lagi. Beatrice harus mengingat hal tersebut. Hingga Beatrice harus melatih kembali mulutnya agar tidak berkata kotor pada seorang Nania yang merupakan madunya.

__ADS_1


__ADS_2