SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
TAWARAN LOWONGAN KERJA UNTUK HUBERT DAN LOUISE DARI NICK


__ADS_3

Hubert berjalan pergi meninggalkan ruangan kerja Julien's dengan wajah sedih. Surat pemecatan dirinya masih basah usai terkena tetesan air matanya. Dia masih tak menyangka Julien's akan memecat dirinya dari restoran. Pesangon yang Julien's berikan cukup besar untuk Hubert, seolah tak ada artinya. Dia tetap tidak menerima dengan keputusan Julien's tersebut.


Marah, tapi dia sadar diri. Ini kesalahan besar yang merugikan restoran. Hingga Hubert hanya melampiaskan kekecewaannya dengan berteriak di depan sebuah danau besar. Dia melempar beberapa batu menuju pertengahan danau. Kemudian Hubert berteriak sekeras mungkin.


Tak ada kata yang jelas diucap oleh Hubert. Dia hanya berteriak untuk melampiaskan kekecewaannya dengan keputusan Julien's. Hubert bersimpuh, dia kembali menangis. Surat pemecatan dirinya yang basah itu pun dilepas dari genggamannya, hingga akhirnya terjatuh keatas tanah.


Dia menunduk dengan air mata yang kembali terjatuh. Passion memasak yang telah mendarah daging tumbuh ditubuh Hubert menjadikan dirinya begitu lemah saat harus kehilangan pekerjaan sebagai seorang juru masak.


Ditengah kesunyian yang hanya beriramakan hembusan angin, serta burung-burung berkicau. Tiba-tiba Ponsel Hubert berdering dengan begitu kerasnya. Hubert yang nampak lemas, sempat membiarkan ponselnya berdering cukup lama di saku celananya. Sebelum akhirnya Hubert mengangkat telepon dari nomor yang tak dikenal tersebut.


"Hallo.." Sapa Hubert dengan suara lemah.


"Hallo. Perkenalkan saya Nick Voline. Pemilik Restoran D'Martiva. Saya ingin menawarkan saudara untuk bekerja di restoran saya." Jawab Nick tegas.


Hubert terdiam dengan wajah bingung.


"Iya saya tahu adalah tuan Hubert Frankine. Seorang chef berpengalaman yang memiliki jam terbang cukup banyak. Oleh sebab itu saya menawarkan tuan Hubert untuk bergabung bersama restoran saya." Beber Nick semakin jelas.


"Dari mana anda tahu saya?" Tanya Hubert.


"Tidak penting saya tahu dari mana. Terpenting apakah kamu mau bergabung dengan restoran saya. Sebab saya bisa kasih kamu gaji dua kali lipat dari restoran kamu sebelumnya. Bagaimana tuan Hubert?" Tawaran Nick.


"Du.. Dua kali lipat." Ucap Nick heran.


"Iya. Saya bisa kasih dua kali lipat. Bahkan saya akan kasih tunjangan lain buat kamu. Jika kamu mau bergabung dengan restoran saya." Janji Nick.

__ADS_1


Hubert mulai tertarik dengan tawaran dari Nick. Tetapi dia belum bisa memutuskan hari ini. Hubert butuh waktu untuk membuat keputusan. Pasalnya dia masih bersedih dengan keputusan Julien's memecatnya. Nick pun memberikan waktu seminggu bagi Hubert untuk memutuskan tawaran dari Nick.


Nick langsung tersenyum dengan senyuman sinis. Nick merasa menang. Sebab dia merasa sudah membuat kekacauan di restoran Julien's. Selain itu Nick berpeluang merekrut karyawan terbaik di restoran Julien's.


Usai menghubungi Hubert, kini target kedua Nick adalah Louise. Sama seperti Hubert. Louise juga dalam keputusasaan. Louise bengong di teras rumahnya. Kopi yang dibuat sang istri perlahan mendingin diterpa hembusan angin.


Setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya, Louise memilih untuk bungkam. Dia sedih dan kecewa berat dengan keputusan Julien's. Sama hal dengan Hubert, Louise menyadari kesalahannya. Tetapi Louise tak menyangka akan di pecat dari restoran tempatnya mencari selama hampir 20 tahun tersebut.


Nick yang mencoba menghubungi Louise tak urung mendapatkan jawaban. Louise membiarkan ponselnya berada diatas laci di kamarnya. Disaku celananya hanya terdapat dompet serta sisir yang acap kali digunakan Louise untuk menyisir rambutnya yang mulai botak.


Dipanggilan kelima, baru Nick dapat menghubungi Louise. Istri Louise yang ingin mengambil dompet di kamar, mendengar dering dari ponsel Louise yang terus berdering. Dia langsung mengambil ponsel Louise. Kemudian mengantarkan ponselnya tersebut pada Louise yang asyik bengong.


"Ponsel kamu berdering. Seseorang menelpon kamu." Ucap istri Louise memberikan ponselnya.


"Siapa yang menelpon?" Tanya Louise dengan mata kosong.


Louise secara perlahan menerima ponselnya. Dia mengangkat telepon dari Nick. Suara Louise masih sama. Dia masih berduka, hingga suara sendu yang keluar dari mulutnya.


"Hallo selamat siang." Sapa Louise.


"Hallo chef Louise Gravae. Senang bisa mengobrol dengan anda." Jawab Nick.


"Mohon maaf ini siapa?" Tanya Louise bingung.


"Perkenalkan, saya Nick Voline. Saya seorang pemilik restoran D'Martiva. Saya dengar-dengar chef Louise sudah tidak bekerja lagi di restoran La'Renta milik chef Julien's." Nick basa-basi.

__ADS_1


"Itu bukan urusan anda." Louise kesal.


"Iya chef saya tahu itu bukan urusan saya. Tapi saya ada sebuah tawaran yang menarik untuk chef Louise." Ucap Nick.


"Tawaran apa?" Tanya Louise.


"Saya ingin menawarkan sebuah pekerjaan di restoran milik saya. Sebagai seorang chef utama sama seperti posisi anda di restoran La'Renta. Bahkan saya bisa gaji chef 2 kali lipat dari gaji yang diberikan oleh chef Julien's." Beber Nick.


Louise tercengang. Dia tidak langsung mempercayainya. Hingga dia terus bertanya secara mendalam pada.


"Gaji 2 kali lipat. Apa itu tidak gila. Saya orang baru. Tapi dapat gaji sebesar itu. Gak masuk akal." Ucap Louise.


"Iya orang baru di restoran saya. Tapi pengalaman chef sudah cukup untuk saya memberikan gaji yang setimpal. Gaji 2 kali lipat dari yang diberikan oleh chef Julien's pada chef Louise." Beber Nick.


Louise terdiam sambil terus memikirkan tawaran dari Nick.


"Bagaimana chef Louise, anda tertarik bergabung dengan restoran saya?" Tanya Nick.


"Saya pikir-pikir dulu. Sebab saya harus berdiskusi dengan keluarga saya terlebih dahulu." Jawab Nick diplomatis.


"Baik. Saya tunggu keputusan anda dalam 3 X 24 jam. Jika tidak ada jawaban. Maka saya nyatakan anda tidak bersedia bekerja di restoran saya."


"Baik. Saya nanti akan segera memberikan kabar."


"Selamat siang." Tutup Nick.

__ADS_1


"Selamat siang."


__ADS_2