
Hubert melihat William anaknya yang terbaring lesu diatas ranjangnya. 2 tahun sudah kanker darah menggerogoti tubuh kecilnya. William tersenyum melihat Hubert yang memperhatikannya dari luar kamar. Hubert segera mengganti wajah sedihnya dengan wajah bahagia. Perlahan Hubert menghampiri William.
"Ayah dari mana?" Tanya William.
"Ayah dari rumah teman ayah." Jawab Hubert ekspresif.
"Ayah gak kerja?" Tanya William kembali.
Hubert terdiam.
"Ayah..." Kejut William.
"Ayah libur sayang. Jadi hari ini ayah gak kerja." Ucap Hubert mengelus lembut wajah William.
"Berarti ayah bisa ajak aku main ke taman hari ini. Aku bosan tinggal di kamar terus. Aku ingin main keluar ayah." Pinta William.
"Baik sayang. Ayah bakal ajak kamu buat jalan-jalan di taman." Balas Hubert.
Hubert mengeluarkan kursi roda milik William. Memangku William keatas kursi roda. Melingkarkan syal di lehernya. Hubert perlahan mendorong kursi roda William menuju keluar kamar.
Sepanjang perjalanan William terus bernyanyi untuk menghilangkan rasa sakit yang terus menyerang tubuhnya. William yang sebenarnya sudah remaja, tetapi memiliki tubuh yang kurus layaknya anak-anak. Hingga berat tubuhnya begitu kecil.
Hubert sesekali menyaut dengan nyanyian yang digaungkan oleh William. Hubert terus memberi semangat pada William yang di vonis kanker darah stadium akhir. Walaupun harapan hidup William begitu tipis, tetapi segala upaya dilakukan oleh Hubert untuk bisa melihat anaknya tetap bertahan.
Sampai di taman. William begitu bahagia dapat bertemu dengan banyak orang yang menghabiskan waktu mereka di taman. Hubert membeli es krim untuk William. Sebuah es krim strawberry menjadi favorit William. Dengan lahap dia menjilati es krim tersebut.
Sembari menemani William memakan es krim. Hubert duduk di bangku taman, disamping Hubert. Dia menyalakan ponselnya. Melihat panggilan terakhir teleponnya yang berasal dari Nick. Hubert melihat William dengan layar ponselnya menuju panggilan terakhir dari Nick.
"Apa aku harus terima tawaran dari pak Nick. Mengingat aku butuh biaya besar untuk bisa membawa William kemoterapi di rumah sakit." Curahan Hubert didalam hatinya.
Jempolnya bergerak untuk menekan tombol panggilan telepon kearah nomor telepon dari Nick. Tetapi hatinya masih ragu. Hubert harus memikirkan panjang, tetapi sulit juga untuknya mendapatkan pekerjaan baru.
__ADS_1
Hubert akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran dari Nick. Dia segera menelepon Nick. Sedikit menjauh dari William yang mengira dirinya masih bekerja di restoran Julien's.
"Hallo chef Hubert." Sapa Nick.
"Hallo pak Nick. Bisa kita bertemu hari ini." Pinta Hubert.
"Ada keperluan apa chef mengajak saya bertemu?" Tanya Nick.
"Pokoknya kita bertemu saja dulu. Tidak enak jika kita membicarakan ini lewat telepon." Jawab Hubert.
"Baik. Dimana kita akan bertemu?" Tanya Nick.
"Terserah pak Nick." Jawab Hubert.
"Bagaimana kalau di sebuah kafe yang dekat dengan restoran Julien's?" Ajak Nick.
"Ide yang bagus itu. Setengah jam lagi saya akan datang kesana." Janji Hubert.
"Baik. Saya akan segera kesana juga." Balas Nick menutup teleponnya.
"Kita pulang sayang." Ajak William.
"Masa baru sebentar kita sudah pulang saja ayah." Gerutu William.
"Besok-besok kalau ayah libur lagi. Ayah janji ajak William jalan-jalan ke tempat hiburan yang banyak permainannya." Janji Hubert.
"Janji ayah!" William mengacungkan jari kelingking.
"Janji." Hubert menempelkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking William.
Hubert membawa William pulang ke rumah. Sekaligus dia mengganti pakaiannya untuk bertemu dengan Nick. Mengingat pertemuan dengan Nick cukup penting. Hubert mengenakan sebuah kemeja formal. Demi menghargai Nick yang akan menawarkan sebuah pekerjaan padanya.
__ADS_1
Berpamitan terlebih dahulu pada Belle istrinya. Hubert meminta doa terbaik dari Belle untuk keputusasaan tersebut. Belle memeluk erat tubuh Hubert. Dia mendoakan yang terbaik untuk Hubert yang akan menerima tawaran dari Nick.
Dengan membawa mobil jenis sedan miliknya. Hubert segera memacu mobilnya menuju kafe yang menjadi tempat pertemuannya dengan Nick. Tak ada beban yang cukup berat dari dalam diri Hubert. Dia seratus persen yakin dengan keputusannya untuk menerima tawaran pekerjaan dari Nick. Terlebih Nick siap membayar Hubert dua kali lipat dari gaji yang diberikan di tempat Julien's. Sehingga Hubert akan punya banyak uang untuk mengobati William serta biaya sekolah anaknya yang lain.
Hubert langsung segera mencari meja yang telah dipesan oleh Nick untuk bertemu dengan Nick. Meja nomor 15 adalah meja tersebut. Hubert segera menuju meja tersebut yang kebetulan Nick sudah berada di sana dengan pakaian yang super formal.
Hubert menyapa Nick. Menjabat tangan Nick, sebelum akhirnya dipersilakan untuk duduk. Nick juga langsung memanggil seorang pelayan untuk melayani pesanan Hubert.
Seorang pelayan pria mendatangi meja Nick. Menyapa keduanya dengan begitu ramah. Sebelum menanyakan pesanan apa yang ingin dipesan oleh Nick dan Hubert.
Hubert hanya memesan segelas kopi dengan gula yang sedikit. Sementara Nick memesan segelas susu plus es. Nick memesan juga sepiring sepotong roti untuk mengganjal perutnya. Usai mencatat pesanan dari Nick dan Hubert, pelayan pria itu segera mungkin bergegas dari hadapan Nick dan Hubert.
"Chef Hubert, kira-kira ada perlu apa chef mengajak saya bertemu disini?" Tanya Nick antusias.
"Saya bersedia untuk menerima tawaran pekerjaan yang ditawarkan oleh pak Nick." Jawab Hubert yakin.
"Anda yakin ingin bekerja di restoran saya?" Tanya Nick meyakinkan.
"Yakin pak Nick. Saya tidak tahu harus bekerja dimana lagi. Sementara saya butuh banyak uang untuk pengobatan anak saya." Ucap Hubert.
"Bukankah Julien's memberikan kamu pesangon yang besar?" Tanya Nick mendetail.
"Benar, tetapi itu hanya bisa digunakan untuk biaya hidup beberapa bulan saja. Tetapi untuk bulan-bulan berikutnya saya tetap harus punya banyak uang. Jadi saya harus bekerja lagi." Tegas Hubert.
Sebelum kembali melemparkan pertanyaan pada Hubert. Pesanan dari Nick dan Hubert datang. Meja yang awalnya kosong berubah dengan adanya segelas kopi pesanan dari Hubert. Maupun segelas es susu dan sepotong roti milik Nick. Usai semuanya tertata rapi diatas meja. Nick melanjutkan pertanyaannya pada Hubert.
"Terus apa kamu tidak memikirkan perasaan Julien's?" Tanya Nick.
"Maksudnya?" Tanya balik Hubert.
"Kamu salah satu orang kepercayaan Julien's. Apa kamu tidak merasa tidak enak dengan Julien's jika kamu bekerja di restoran saya?" Tanya Nick mulai menyeruput es susu yang dipesan.
__ADS_1
"Saya pikir itu tidak perlu. Sebab chef Julien's pun seolah membiarkan saya begitu saja. Hanya satu kesalahan, dia langsung memecat saya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak enak padanya." Tegas Hubert.
Dengan wajah liciknya, Nick mencoba memanfaatkan situasi. Dia meyakini Hubert bisa menjadi senjatanya dalam membalaskan dendam lama pada Julien's. Dendam akan restoran orangtuanya yang bangkrut akibat berdirinya restoran Julien's.