
Begitu kedua bola matanya terbuka, pikirannya langsung tertuju pada Thomas. Iya hari ini Thomas mengajak Nania berkencan. Nania sudah membayangkan apa yang akan Thomas lakukan padanya.
Nania memeluk bantalnya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana Thomas akan memperlakukannya ketika mereka bercinta. Dia benar-benar tak ingin bercinta tanpa perasaan cinta, sebab hanya akan menyakiti satu sama lain.
Nania mulai mencari ide untuk membuat kencan bersama Thomas tanpa hubungan badan sama sekali. Namun perut dia yang kosong, serta sedikit rasa ngantuk. Menambah kebuntuan di dalam otaknya. Sehingga dia tak menemukan ide yang cemerlang untuk membuat kencan itu tanpa hubungan badan.
Aroma yang mulai menyusup ke kamarnya dari makanan yang Julien's buat. Mulai membangun cacing di perut Nania protes. Bunyi dari perutnya terdengar begitu keras, pertanda untuk segera diisi. Namun Nania tak mungkin sarapan dengan Julien's dan keluarganya tanpa mandi dan sedikit make up. Sambil menunggu masakan Julien's benar-benar terpajang diatas meja. Nania mandi terlebih dahulu.
Terakhir tinggal mengoleskan lipstik berwarna merah mawar ke bibir. Sempurna, Nania tetap cantik meskipun hanya mengenakan pakaian rumahan. Dia percaya diri berjalan menuju meja makan yang tinggal tersisa satu kursi untuknya saja.
Julien's memperlakukan Nania layaknya seorang puteri. Dia menarik kursi untuk tempat Nania duduk. Tak lupa ciuman dikening yang Julien's berikan pada Nania membuat Nania semakin bahagia. Namun memantik rasa cemburu dari Beatrice. Begitu juga dengan Marrie yang nampak tak senang ayahnya mencium istri keduanya.
Semuanya telah berada di meja makan. Romeo pun diminta memimpin doa untuk kali ini. Dengan suara imut dan lugunya, pembacaan doa dari Romeo membuat semuanya begitu gemas. Diusianya yang baru 5 tahun, namun Romeo bisa membaca doa dengan begitu Kyushu. Walaupun sedikit agak lucu.
Begitu selesai, semuanya langsung menyantap makanan yang mereka pilih untuk sarapan. Ditengah sarapan, Julien's memulai pembicaraan. Dia bertanya perihal alasan Nania diminta datang ke sekolah Marrie.
Marrie yang takut ayahnya tahu tentang peringkat yang diberikan oleh gurunya akan tindakan yang dilakukan bersama teman-temannya. Memelototi wajah Nania dengan begitu tajam. Dia meminta Nania tak membocorkan apa yang sebenarnya terjadi. Dia harap Nania akan menyembunyikan semuanya.
Nania tak gentar. Dia tetap mengatakan apa yang terjadi pada Julien's dan Beatrice. Sehingga membuat Marrie langsung terkejut, sekaligus ketakutan.
Julien's begitu marah pada Marrie. Namun Nania mencoba menenangkan emosi Julien's. Nania tak ingin Marrie semakin tertekan dengan amarah dari Julien's. Nania meminta Julien's cukup menasehati Marrie. Namun Marrie juga harus berjanji untuk tidak mengulangi kenakalannya tersebut.
Tak ingin Julien's semakin marah. Marrie akhirnya berjanji didepan semuanya untuk tidak mengulangi kenakalannya bersama teman-temannya. Sehingga amarah Julien's mulai mereda dengan janji yang Marrie buat tersebut.
Namun Marrie tetap menyimpan dendam pada Nania. Sebab Nania telah memberitahu semua omongan gurunya pada ayahnya. Sehingga Marrie berniat membalas dendam pada Nania.
Ketika sarapan usai, seperti biasa Julien's berangkat bekerja. Nania mengantar Julien's sampai di depan gerbang rumah. Ciuman di pipi Nania berikan pada Julien's. Ciuman yang bisa menambah semangat Julien's untuk semangat selama bekerja.
Julien's membalas ciuman di pipinya dengan sebuah kado berupa cincin. Dia kemarin melihat sebuah cincin yang manis yang nampaknya cocok untuk Nania. Sehingga membuat Nania semakin bahagia. Dia langsung memeluk Julien's sebagai ucapan terima kasih. Sebelum akhirnya Julien's berangkat bekerja.
Menenteng cincin pemberian Julien's, membuat hal itu jadi pertanyaan besar bagi Beatrice. Dengan wajah penuh kebencian, Beatrice menanyakan perihal cincin yang Nania tenteng.
Nania bingung untuk menjawab pertanyaan dari Beatrice. Dia takut Beatrice semakin cemburu jika cincin itu dia dapat dari Julien's. Sehingga dia terpaksa berbohong, cincin itu dia beli secara online.
Kebohongan Nania akhirnya terbongkar oleh Marrie yang ternyata dari tadi mengintip Nania di depan gerbang rumahnya. Marrie mengatakan cincin itu adalah pemberian dari Julien's. Sontak Beatrice cemburu berat ketika mengetahui fakta tersebut. Beatrice merebut cincin tersebut. Dengan sekuat tenaga cincin itu Beatrice buang entah kemana.
Nania segera mencari keberadaan cincin itu. Sementara Beatrice bergegas menuju kamarnya dengan penuh amarah.
Marrie cukup puas melihat perlakuan Beatrice pada Nania. Itu balas dendam yang cukup setimpal dengan kejujuran yang Nania ungkap perihal Marrie pada Julien's. Sehingga Marrie tertawa hebat begitu Nania mencari cincin miliknya yang Beatrice buang keluar rumah.
__ADS_1
Tak ketemu, Nania harus menerima kenyataan cincinnya tersebut hilang. Dia begitu bersedih kehilangan cincin pemberian dari Julien's. Mengingat itu hadiah yang begitu indah yang Julien's berikan padanya. Namun hilang begitu saja.
Bunyi ponselnya yang terus berulang, membuat Nania akhirnya menghentikan pencarian dari cincin itu. Dia mengangkat terlebih dahulu telepon yang sudah diduga itu dari Thomas. Nania masuk kedalam kamarnya, kemudian mengunci rapat pintu. Nania berharap tidak ada yang mendengar suaranya ketika menelepon Thomas.
"Hallo.." Ucap Nania pelan.
"Hallo Nania sayang. Sudah siap untuk malam ini?" Jawab Thomas.
Nania terdiam, dia menyapu wajahnya.
"Pasti udah siap dong. Jangan lupa bawa baju Lingerie untuk malam ini. Biarkan aku yang membuka baju mu nanti malam." Ucap Thomas.
Nania hanya membisu. Kemudian Thomas yang harus melanjutkan pekerjaannya menutup telepon tersebut.
Dipikirannya kini ada dua hal. Pertama cincinnya yang hilang dibuang Beatrice. Kedua kencan dengan Thomas yang sangat dia benci. Dia bingung untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi.
Untuk sedikit menenangkan pikirannya, Nania memilih untuk beristirahat dikamar. Dia menyuruh salah satu pembantunya untuk mengantar Theo berangkat sekolah. Sementara dia beristirahat dengan rebahan diatas kasur.
Melihat Theo yang berangkat dengan pembantunya. Beatrice langsung marah. Dia menghampiri Nania di dalam kamarnya.
"Nania... Nania... Nania..." Panggil Beatrice sembari mengetuk pintu kamar Nania.
Dreng... Beatrice dengan wajah penuh amarah langsung menampar pipi kiri Nania.
"Dasar pemalas. Bisa-bisanya kamu biarkan Theo berangkat dengan pembantu. Julien's menikahi kamu supaya bisa menjaga anak-anak. Bukan malah kamu enak seperti ini." Bentak Beatrice.
Nania hanya menundukkan kepala. Dia sebenarnya ingin bicara. Namun tentu pembelaan dia akan dianggap salah oleh Beatrice. Sehingga Nania lebih memilih untuk diam.
"Ingat Nania, jika kamu kembali membiarkan anak saya berangkat bersama pembantu ke sekolah. Saya akan bongkar pernikahan kalian. Saya tidak peduli seberapa hancur nanti Julien's." Ancam Beatrice.
Nania langsung terkejut dengan ancaman Beatrice tersebut. Hatinya semakin khawatir. Mengingat ancaman dari Beatrice cukup serius.
Waktu yang ditunggu Thomas untuk berkencan tiba. Dia yang hari ini masuk shift pagi, tepat pukul 4 sore dia sudah boleh pulang. Raut wajah bahagia nampak. Dia berjalan dengan penuh kebahagiaan meninggalkan tempat kerjanya. Hanya beberapa jam lagi, dia dan Nania akan berkencan romantis.
Nania mengubungi Julien's. Dia mengatakan bahwa malam ini dia akan pergi bersama Aurille. Sehingga dia akan pulang larut malam. Julien's yang mempercayai Nania sepenuhnya, mengizinkan Nania untuk pergi.
Di jam 7 malam, Nania dengan mobilnya mulai berangkat menuju sebuah kafe dipinggiran kota Nice. Nania terus memikirkan nasibnya saat berkencan dengan Thomas. Mengingat Thomas begitu terobsesi padanya.
Ditengah kegalauan hatinya, tiba-tiba Nania terlintas sebuah ide bagus. Dia melintasi sebuah apotek. Dipikirannya kini ada sebuah ide bagus untuk dia bisa terhindar dari obsesi Thomas. Nania bisa memberikan obat tidur itu pada Thomas ketika makan malam. Mungkin itu cukup untuk membuatnya menjadi lelah, kemudian tertidur.
__ADS_1
Nania memarkir mobilnya tepat disebuah apotek. Lalu dia mendatangi apoteker yang yang berjaga di apotek tersebut.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" Sapa apoteker
"Saya ingin obat tidur yang ampuh untuk saya." Ucap Nania.
"Baik, akan segera saya ambilkan."
"Terima kasih."
Apoteker itu kembali dengan obat tidur berbentuk serbuk, yang dibungkus kedalam plastik kecil dengan ukuran 2 gram. Lalu dia memberikan obat itu pada Nania. Setelah membayar, dia langsung kembali ke mobil untuk membawa obat itu.
Begitu sampai di kafe itu, Nania tanpa sepengetahuan Thomas mengendap menuju barista. Dia meminta barista itu untuk memasukkan obat tidur itu kedalam minuman yang akan nantinya Nania pesan. Tentu minuman itu untuk Thomas. Sempat menolak, namun uang segepok yang Nania berikan pada barista itu. Akhirnya membuat barista itu mau menuruti permintaan Nania.
Nania bergegas ke meja yang telah Thomas pesan. Dia duduk menghadap Thomas. Sapa manis Thomas membuat Nania sedikit risih. Sehingga dia langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Nania.
"Terserah kamu. Terpenting malam ini kita berduaan." Jawabannya.
Dia orange jus dan dua shoft cake dipilih oleh Nania untuk jadi menu makanan malam ini. Tentu dengan orange jus yang telah dicampur obat tidur.
Tak lama setelah memesan, dua gelas orange jus dan dua shoft cake yang Nania pesan datang. Nania yang telah memberikan kode pada pelayan itu langsung menaruh orange jus yang telah dicampur obat tidur pada Thomas. Sementara satu gelas lagi untuknya.
Nania mengajak Thomas untuk melakukan tos pada minuman mereka berdua. Kemudian Nania meminta Thomas untuk minum minuman itu hingga habis. Walaupun Thomas hanya menghabiskan setengahnya, sebab setengahnya lagi untuk minum setelah menyantap shoft cake.
Cinta yang ingin Thomas segera menghabiskan minumannya. Dengan rayuan maut mencoba meminta Thomas untuk segera mungkin memakan shoft cake miliknya.
Rayuan cinta berhasil. Thomas dengan lahap menyantap shoft cake miliknya. Begitu dia haus, dia langsung menghabiskan dalam satu tegukan. Minuman yang ada dihadapannya. Cinta hanya tinggal menunggu obat tidur itu bereaksi.
Untuk membuat obat tidur itu cepat bereaksi. Cinta sengaja mengobrol panjang lebar yang membuat Thomas bosan. Hingga perlahan dia terus menguap.
Saat yang tepat untuk segera bergegas ke apartemen. Nania dan Thomas bergegas ke apartemen Thomas, menggunakan mobil Nania.
Disepanjang perjalanan Thomas tak mampu menahan rasa kantuknya. Dia tak henti menguap dengan mulut terbuka lebar. Begitu juga matanya yang tak henti meneteskan air mata.
Tiba di apartemen. Nania mengajak Thomas untuk masuk kedalam kamarnya. Baru sampai di depan pintu kamar, Thomas langsung terjatuh. Dia tidur. Nania menyeret tubuh Thomas yang tertidur keatas kasur.
Agar seolah-olah semalam telah terjadi sesuatu antara Thomas dan Nania. Nania melepas semua pakaian Thomas. Dia hanya mengenakan selimut miliknya saja.
__ADS_1
Bersyukur! Akhirnya Nania tidak harus melayani nafsu bejad dari seorang Thomas. Dia pun lantas segera mungkin pulang ke rumahnya.