
Nania mengirimi Aurille pesan. Dia ingin datang ke apartemen Aurille untuk sekedar mencurahkan isi hatinya yang dalam beberapa hari ini begitu kacau dengan masalah yang dia hadapi.
Dengan tangan terbuka Aurille menerima tawaran dari Nania. Dia mempersilakan Nania untuk mencurahkan seluruh keluh kesahnya pada Aurille. Dimana Aurille akan mendengarkan apa yang menjadi keluhan Nania selama ini.
Usai mengerjakan tugas-tugasnya sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. Nania langsung membawa salah satu koleksi mobil milik Julien's menuju apartemen Aurille.
Tak ingin datang dengan tangan kosong, Nania menepikan mobilnya di sebuah gerai kue. Dia mencari sebuah tiramisu yang menjadi favorit Aurille. Dia memutari toko kue yang berjejer ratusan kue lezat dengan berbagai jenis varian rasa.
Tiramisu yang Nania cari akhirnya dia temukan. Dengan segera Nania mengambil tiramisu itu. Kue tiramisu sudah ditangan, kini dia dalam antrian untuk membayar kue tersebut di kasir.
Menunggu gilirannya membayar kue tersebut. Nania menyempatkan diri untuk menonton sebuah film yang diputar di toko tersebut. Sebuah film bercerita tentang sebuah pasangan yang mana salah satu pasangannya terkena penyakit ganas layaknya Beatrice.
Satu adegan yang menampar Nania. Dimana salah satu pasangan itu berjanji untuk tidak meninggalkannya hingga ajal menjemput. Dia juga berjanji untuk tidak mengkhianati cinta pasangannya, sekalipun ada yang lebih sempurna darinya. Tetapi cinta dia akan selamanya untuk dirinya.
Batinnya semakin teriris ketika ada seorang yang perempuan yang ternyata akan dijodohkan dengan pria itu. Tetapi dia menolak, sebab dia menghargai istrinya yang terkena penyakit. Sehingga dia memilih untuk menjauhi.
Tak ingin semakin tersiksa dengan adegan film itu yang menampar hidupnya. Begitu gilirannya untuk membayar kue tersebut. Nania langsung membayarnya, kemudian dengan segera pergi dari toko tersebut.
Nania menangis hebat didalam mobilnya. Dia menundukkan kepalanya kearah stir mobilnya. Nania menyalahkan dirinya yang justru menciptakan prahara dalam rumah tangga Beatrice. Seharusnya dia tidak melakukan itu. Mengingat hal itu yang semakin membuat batin Beatrice menjadi lebih hancur. Pun dengan kesehatan Beatrice yang semakin rapuh dengan kenyataan Nania yang hadir dalam keluarga besarnya.
10 menit menjadi waktu untuk Nania meredakan semua penyesalan hidupnya yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Beatrice. Telepon dari Aurille, sedikit membuatnya dapat menghentikan tangisannya.
"Loe masih dimana?" Tanya Aurille.
"Gue masih di jalan. Sekarang sudah mau sampai." Jawab Nania dengan suara sendu.
"Loe lama banget. Perasaan dari tadi udah jalan, tapi gak sampai juga." Gerutu Aurille.
"Iya sabar. Sebentar lagi sampai juga." Tetap sendu.
__ADS_1
"Tunggu Nan. Perasaan suara loe seperti orang yang habis nangis. Loe nangis kenapa Nan?" Tanya Aurille.
"Enggak. Gue kena debu saja. Jadi suara gue terdengar kayak orang habis nangis." Jawab Nania.
"Yakin loe gak kenapa-kenapa?" Aurille memastikan.
"Iya. Gue baik-baik saja." Jelas Nania.
"Kalau seperti itu. Hati-hati yah Nan." Tutup Aurille.
"Iya." Tutup Nania.
Sebelum kembali menyetir mobil. Nania mencoba mengembalikan semua kekuatan untuk bisa lebih fokus lagi. Dia mengusap semua air mata yang berderai membasahi wajahnya. Nania tak ingin Aurille melihatnya bersedih. Walaupun dalam curhatan nanti, Nania pasti menangis mencurahkan isi hatinya yang dipenuhi dengan penyesalan dan ketakutan.
Tetapi Nania tak ingin memulainya dengan tangisan. Sehingga dia harus bisa lebih tegar dan kuat lagi saat pertama bertemu dengan Aurille.
Bel apartemen Aurille ditekan oleh Nania. Tak berselang lama Aurille yang hanya mengenakan celana super pendek dan tank top membuka pintu apartemennya. Dia langsung memeluk Nania dengan begitu eratnya.
"Benar dugaan gue, tadi loe bohong. Pasti loe abis nangiskan Nan?" Tebak Aurille.
"Iya gue abis nangis." Jawab Nania pasrah.
"Siapa yang buat loe nangis kayak gini?" Tanya Aurille semakin penasaran.
"Gak ada." Nania sedikit menggerutu.
"Udahlah Nan loe gak sungkan buat cerita sama gue. Siapa yang buat loe nangis kayak gini. Julien's atau istrinya yang galak itu?" Tanya Aurille semakin penasaran.
Nania diam sambil menatap wajah penasaran dari Aurille. Nampak dia tidak nyaman dengan semua pertanyaan Aurille padanya. Terlebih Aurille langsung menembak beruntun pertanyaan pada Nania. Sehingga dia begitu kurang nyaman.
__ADS_1
Akhirnya Aurille menyadari kesalahannya yang tak kunjung mengizinkan Nania masuk kedalam apartemennya. Selepas memberondong pertanyaan pada Nania. Akhirnya Aurille mempersilakan Nania untuk masuk kedalam apartemennya.
Nania duduk di sofa ruang tamu Aurille. Dia memberikan box berisi kue tiramisu kesukaan Aurille tersebut. Dengan senang hati Aurille menerima kue pemberian Nania tersebut. Dia langsung mengambil pisau untuk membelah kue tersebut.
Menunggu Aurille kembali dari dapur dengan pisaunya. Nania kembali mengingat adegan film yang nampaknya relate dengan kehidupannya saat ini. Dia terpikir kembali akan perasaan Beatrice yang hancur dengan keberadaan Nania ditengah keluarga mereka.
Kali ini Nania mengakui kegalauan yang dia alami. Dia tak bisa menutupi lagi apa yang membuatnya bersedih. Aurille berhasil memancing Nania bercerita, kala dia memotong kue tiramisu pemberian Nania.
"Ayolah Nan loe cerita saja sama gue. Biar hati loe lega. Gue tahu kok loe lagi banyak pikiran. Makanya loe kelihatan sedih seperti itu." Pinta Aurille.
"Iya. Gue sedih banget. Tapi begonya gue, kenapa baru sekarang gue menyadari perasaan bersalah ini." Jawab Nania semakin tak berdaya.
Ditangan Aurille sepotong kue tiramisu telah berdiri kokoh memenuhi isi piringnya. Dia duduk mendekat Nania dengan kedua kaki yang berada diatas sofa.
"Perasaan bersalah apa Nan?" Tanyanya penasaran sambil menyendok tiramisu kedalam mulutnya.
"Tadi pas gue beli kue itu, gue lihat satu adegan film. Dimana adegan itu memperlihatkan sepasang suami istri yang tetap setia dengan cobaan yang mereka hadapi. Istrinya sakit keras, tapi si suami tetap setia pada istrinya. Sebab dia paham perasaan istrinya yang hancur. Jika dia meninggalkan atau membagi cintanya, dalam keadaan seperti itu." Terang Nania dengan mata sayu.
Aurille yang antusias dengan cerita Nania serta sepotong kue yang beberapa bagian telah masuk kedalam perutnya. Tiba-tiba ikut bersedih. Dia menyadari apa yang Nania rasakan. Menjadi orang ketiga ditengah sakit keras Beatrice adalah kesalahan. Tapi ini takdir yang harus Nania jalani.
Aurille menguatkan Nania dengan memeluk erat Nania. Dia mencoba memberikan support moril untuk kembali meningkat kepercayaan diri Nania yang hancur akan perasaan bersalah.
Aurille ikut menangis saat air mata Nania perlahan jatuh membasahi wajahnya. tak tega melihat sahabatnya tersebut bersedih. Sehingga perasaan sedih juga dia rasakan atas kepahitan hidup yang Nania jalani.
Tak hanya perasaan bersalah yang Nania alami saja yang membuat Nania bersedih. Teror dari Thomas juga semakin membuatnya begitu stress. Keberuntungan yang dia dapat, bukan tidak mungkin akan menghilang sewaktu-waktu. Sehingga Thomas bisa dengan mudah mengekploitasi dirinya.
Nania juga meminta saran pada Aurille perihal Alex. Dia bingung dalam menghadapi Alex yang perlahan menunjukkan rasa cintanya pada Nania. Sementara dia sulit untuk menolak permintaan dari Alex. Nania dalam dilema besar.
Bukannya memberi nasehat pada Nania. Aurille justru penasaran dengan sosok Alex yang merupakan calon dokter muda. Dia tiba-tiba ingin mengenal Alex tersebut. Aurille pun meminta Nania untuk memperkenalkan Alex kepadanya.
__ADS_1
Ide yang bagus. Jika Alex dekat dengan Aurille, itu artinya Alex akan berhenti mengejar Nania. Sehingga Nania bisa dengan mudah menjauhi Alex.