
Thomas terus menceritakan sosok Oscar yang telah mengkhianati dirinya pada seorang Nick. Thomas dengan perasaan yang cukup kesal pada Oscar. Menceritakan bagaimana awal mula Thomas mengenal Oscar, hingga akhirnya Oscar mengkhianati Thomas.
Nick hanya mendengarkan apa yang Thomas ucapkan. Di temani sebatang rokok, Nick nampak begitu menikmati perjalanan menuju restoran. Sementara Thomas tak ayalnya seorang komentator bola yang terus berbicara, sambil menyetir mobil.
Begitu Thomas menghentikan ucapannya yang sebenarnya banyak hiperbolanya. Kini giliran Nick yang melayangkan beberapa pertanyaan pada seorang Thomas. Pertanyaan yang membuat Thomas langsung terdiam.
"Terus kamu merasa kalah sama anak remaja seperti dia?" Nick menatap wajah Thomas.
"Tidak. Saya tidak pernah merasa kalah. Justru saya semakin ingin membuat Oscar menderita." jawab Thomas.
"Menderita dengan membayar orang memukuli dia? Itu maksud kamu!" tanya Nick kembali sambil menghisap rokok.
"Iya itu resiko buat dia. Saya pikir apa yang telah saya lakukan itu yang terbaik. Apalagi Oscar telah berkhianat pada saya. Mungkin itu ganjaran yang pas untuk dia." jawab Thomas kembali.
"Saya jadi penasaran dengan sosok remaja itu, hingga kamu harus menyewa preman untuk menghabisi dia." ucap Nick.
"Bapak ingin melihatnya?" tanya Thomas.
"Boleh, saya penasaran dengan sosok remaja itu." jawab Nick santai.
Thomas yang awalnya hendak pergi ke restoran bersama Nick. Kini mengarahkan mobil miliknya menuju rumah sakit, tempat Oscar di rawat. Tak apa harus kembali putar balik. Terpenting Thomas bisa menunjukkan sosok Oscar pada Nick, yang penasaran akan sosok Oscar.
Menempuh waktu yang cukup lama. Akhirnya Thomas tiba di parkiran rumah sakit. Tak seperti di hari sebelumnya. Kini Thomas di sambut baik oleh sekuriti yang bertugas. Mengingat Nick adalah salah seorang donatur di rumah sakit tersebut. Kedatangan Thomas kali ini benar-benar di sambut sangat baik oleh staf rumah sakit.
Thomas berjalan di belakang Nick. Dia terus memberikan arahan menuju kamar perawatan seorang Oscar. Nick yang sudah khatam dengan setiap kamar perawatan di rumah sakit tersebut. Tidak harus bertanya kembali pada staf rumah sakit. Dengan langkah pasti, Nick mulai berjalan menuju kamar perawatan dari Oscar.
__ADS_1
Beruntung bagi Oscar kini. Ketika mereka sampai di kamar perawatan daripada Oscar, Marrie sedang pergi ke toilet. Hingga Oscar berada di dalam kamar perawatan sendiri saja.
Melihat situasi yang cukup aman. Thomas dengan penuh kehati-hatian membuka pintu kamar perawatan dari Oscar. Langkah Thomas dan Nick begitu pelan, hingga nyaris tak terdengar oleh Oscar.
Oscar yang membuka hampir seluruh kancing bajunya. Memperlihatkan dadanya yang mulai bidang. Namun satu tempat di bagian tubuh Oscar yang menjadi pusat perhatian seorang Nick.
Sebuah tanda lahir berwarna merah yang berada di bawah pundak kanannya. Langsung mengingatkan Nick pada sosok Paulo. Anak hasil dari pernikahan Nick dengan seorang perempuan asal Brazil. Nick dulu meninggalkan Paulo dan ibunya demi menikah kembali dengan seorang perempuan yang di jodohkan dengan dirinya.
"Paulo, tanda lahir itu sama seperti yang ada di bawah pundak Paulo dulu." ucap Nick di dalam hatinya.
Thomas yang nampak kesal pada Oscar. Mencoba untuk melakukan tindakan kejahatan pada seorang Oscar. Thomas yang memiliki satu botol kecil tinta di saku celananya. Mencoba memasukkan tinta itu ke dalam infusan seorang Oscar. Dengan begitu, Oscar akan keracunan oleh tinta yang di bawa oleh Thomas.
"Bagaimana jika kita bunuh langsung saja anak ini." Ajak Thomas dengan begitu antusias.
Thomas bingung dengan sikap Nick yang berubah. Dia terlihat begitu menolak keras ajakan dari seorang Thomas.
"Kenapa?" tanya Thomas bingung.
"Kamu tidak lihat, di sini banyak kamera pengawas. Jika kita melakukan itu. Bukan tidak mungkin kita akan mudah di tangkap oleh polisi. Aku tidak ingin kembali masuk penjara." jawab Nick begitu ketakutan.
Alasan yang cukup logis di sampaikan oleh Nick. Hingga Thomas pun akhirnya percaya dengan ucapan dari Nick tersebut. Ia kembali memasukkan botol tinta itu ke dalam saku celananya.
Nick yang mulai penasaran dengan Oscar .Mendekat ke arah Oscar. Dia memegang tangan Oscar dengan begitu lembut. Mencoba mengingat kembali sosok Paulo yang hampir 12 tahun Nick tinggalkan.
"Jika kamu adalah Paulo, mungkin ayah akan paling merasa bersalah. Ayah telah membuat kehidupan kamu dan ibumu menderita. Maafkan Ayah Paulo." ucap Nick di dalam hatinya.
__ADS_1
Mungkin bukti lain harus Nick segera temukan. Jika memang Oscar adalah sosok Paulo yang selama ini di tinggal pergi oleh Nick. Tapi tidak hari, cukup bagi Nick untuk bisa bercengkrama dengan seorang Oscar. Dia pun mengajak Thomas untuk segera pergi dari kamar perawatan Oscar.
Oscar berjalan di depan Nick, sementara Nick yang sebenarnya masih menyimpan rasa penasaran pada Oscar. Berjalan mundur untuk terus melihat seorang Oscar. Sebelum akhirnya benar-benar berjalan maju untuk keluar dari kamar perawatan Oscar.
Nick menjadi penutup pintu kamar perawatan Oscar. Thomas yang tak ingin terlihat kurang sopan di depan Nick, meminta Nick untuk kembali berjalan di depannya. Sementara Thomas mengikuti Nick dari belakang.
Marrie yang baru selesai dari toilet. Begitu panik saat melihat Nick dan Thomas yang baru keluar dari kamar perawatan Oscar. Tentu Marrie khawatir Thomas dan Nick akan melakukan kejahatan pada Oscar. Hingga Marrie langsung berlari menuju kamar perawatan Oscar.
Thomas dan Nick segera berlari, begitu Marrie berteriak. Keduanya memilih untuk kabur, di banding harus berurusan dengan Marrie yang di kenal cerewet.
Tiba di kamar perawatan Oscar. Marrie langsung masuk ke dalam kamar perawatan Oscar. Begitu melihat kondisi Oscar yang baik-baik saja, Marrie seketika mengucap syukur. Tidak terjadi hal buruk pada Oscar. Mengingat kedatangan Thomas dan Nick, di khawatirkan akan melakukan kejahatan pada seorang Oscar.
Mendengar hembusan napas dari Marrie yang terdengar cukup kencang. Oscar yang sadari tadi tertidur dengan pulas. Akhirnya terbangun, dia menanyakan mengapa Marrie terlihat begitu panik.
"Ada apa?"
"Tidak! Aku tadi melihat dua orang yang baru saja keluar dari kamar kamu. Aku khawatir keduanya melakukan tindakan kejahatan."
"Tapi dia tidak melakukan apa-apa?"
"Untungnya tidak. Keduanya mungkin hanya menjenguk kamu saja."
"Kedua orang itu siapa?"
"Entah, aku hanya melihat sekilas. Jadi aku tidak hapal wajahnya,"
__ADS_1