SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
BEATRICE MENGAJAK BERTEMU TEMANNYA


__ADS_3

Sakit fisik yang ada di pipi kirinya mungkin telah hilang. Tapi sakit hati yang membekas teramat dalam, tidak begitu hilang dalam ingatan seorang Beatrice. Terlebih Beatrice harus menyaksikan dirinya yang ditampar keras Julien's didepan anak-anaknya. Luka itu semakin mengiris hati seorang Beatrice.


Seharian Beatrice mengurung diri didalam kamar. Dia tidak enggan keluar dari dalam kamarnya. Saat ia haus, ia memanggil seorang asisten rumah tangga pribadinya. Hingga Beatrice tidak harus mengeluarkan banyak tenaga untuk keluar kamar.


Julien's yang hendak tidur di kamar Beatrice juga, mendapat penolakan. Tapi Beatrice juga melarang Julien's tidur di kamar Nania. Julien's akhirnya tidur kamar tamu yang berada di lantai bawah.


Tamparan yang Julien's berikan di pipi kiri Beatrice, membuat Beatrice semakin dendam pada seorang Nania. Perubahan sikap Julien's bersumber dari Nania. Perempuan yang telah mengacak-acak rumah tangganya itu adalah penyebab Julien's berubah sikap. Jika dia tidak datang ke rumah tangga Beatrice, mungkin Julien's akan tetap menjadi seorang yang penyayang serta sabar.


Beatrice tidak mungkin diam dengan semua yang terjadi padanya. Nania merebut semua yang seharusnya dalam genggaman Beatrice. Suaminya, kedua malaikat kecilnya. Mungkin di hari-hari mendatang, ibu mertuanya yang begitu mencintai Beatrice akan di rebut oleh Nania.


Beatrice tidak mungkin membiarkan Nania terus berada di kehidupannya. Dia harus mencari cara untuk membuat Nania diusir oleh Julien's dari rumahnya. Beberapa cara telah dilakukan oleh Beatrice, dari cara kasar yang tentu menggunakan fisik. Hingga cara halus yang telah dilakukan oleh Beatrice. Tetapi Nania tak juga hengkang dari kehidupan Beatrice.


Mungkin sebuah fitnah besar bisa membuat Nania pergi dari rumahnya. Fitnah yang akan membuat Nania dibenci oleh Julien's serta banyak orang. Namun fitnah apa yang yang harus dibuat oleh Beatrice. Dia masih bingung untuk mencari fitnah yang akan membuat Nania hengkang.


Berpikir keras, Beatrice mencari fitnah yang mungkin akan dia gunakan untuk membuat Nania pergi. Namun Beatrice tidak menemukan ide apapun. Otaknya buntu untuk mendapatkan ide yang pas dalam mengusir Nania. Mengingat Beatrice harus mempertimbangkan resiko yang mungkin harus dipikirkan matang-matang olehnya.


Ditengah kebuntuan yang dirasakan oleh Beatrice. Tiba-tiba terbersit nama seorang Alex di pikirannya. Mungkin Alex bisa membantu Beatrice untuk membuat fitnah akan Nania. Namun tidak mungkin Alex menjadi subjek yang melakukan fitnah itu. Dia hanya harus menjadi objek untuk Beatrice mendapatkan keuntungan akan rencana fitnahnya.


Akhirnya kebuntuan dari otaknya terpecahkan. Beatrice menemukan secercah harapan untuk membuat fitnah besar pada Nania. Mungkin Beatrice akan memfitnah Nania untuk tidur dengan Alex. Dimana dengan seperti itu, sudah pasti Julien's akan marah besar pada Alex. Begitu juga dengan orang-orang yang akan memandang rendah Nania.


Ide itu cukup cemerlang sebenarnya. Tapi kondisi Beatrice tidak memungkinkan untuk melakukan aksi tersebut sendiri. Mengingat Beatrice yang masih dalam keadaan sakit berat. Hingga tenaganya cukup terbatas untuk melakukan tindakan itu.

__ADS_1


Beatrice kembali berpikir akan orang yang bisa dia peralat dalam melancarkan aksinya. Tentu orang tersebut yang memiliki jalan pikiran yang sama dengan Beatrice. Dengan begitu, Beatrice akan mudah mencuci orang itu dalam melakukan fitnah pada Nania.


Akhirnya Beatrice menemukan orang yang cocok untuk melakukan tugas besar itu. Salah seorang temannya yang dulu pernah diselingkuhi oleh suaminya, mungkin mau untuk bekerjasama dengan Beatrice. Mengingat temannya itu juga membenci perempuan yang ketiga yang hadir dalam rumah tangga seseorang.


Beatrice segera mengambil ponselnya. Dia melakukan scrolling untuk mencari nomor temannya yang telah lama tidak berkomunikasi dengan Beatrice. Satu persatu nama di kontak ponselnya dilihat oleh Beatrice. Sampai akhirnya Beatrice menemukan nomor temannya tersebut.


Lily adalah teman kuliah Beatrice dulu. Kisah hidup lebih menyakitkan dari seorang Beatrice. Suami Lily selingkuh, dikala Lily menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Uang yang dikumpulkan oleh Lily dari hasil kerja kerasnya. Digunakan mantan suaminya untuk berselingkuh dengan perempuan lebih muda darinya. Hal itu yang membuat Lily begitu membenci perempuan ketiga yang hadir dalam rumah tangga seseorang.


Tak ingin lama menunggu lagi. Beatrice langsung melakukan panggilan telepon pada Lily. Sebagai seorang single parent dengan dua orang anak. Aktivitas Lily cukup banyak dihabiskan untuk bekerja. Terlebih saat ini Lily bekerja di sebuah kantor media. Dimana disana banyak tulisan-tulisan dari seorang Lily yang menceritakan kisah hidupnya yang perih akan kehadiran orang ketiga.


Satu panggilan cukup untuk Beatrice langsung bisa terhubung dengan Lily. Senyum sumringah langsung terlihat di wajah Beatrice, begitu panggilan telepon yang ia lakukan terhubung dengan Lily.


"Hallo Li. Kamu masih ingat aku?" Tanya Beatrice.


"Sebentar. Aku tidak asing dengan suara ini. Tapi aku ingat-ingat dulu." Jawab Lily mencoba mengingat suara dari Beatrice.


Lily tak menemukan nama yang tepat akan suara itu. Tidak ada nama yang ada dipikiran seorang Lily akan suara tersebut. Akhirnya Lily tidak mengenali suara yang bagi pernah terdengar, tetapi asing kini ditelinganya.


"Siapa aku Li?" Tanya Beatrice lagi penuh antusias.


"Aku menyerah! Seperti aku lupa dengan suara itu." Jelas Lily tak berdaya.

__ADS_1


"Kamu ingat Beatrice Miller. Teman kuliah kamu dalam fakultas komunikasi. Aku harap kamu masih ingat dengan aku Li." Terang Beatrice dengan begitu terperinci.


"Ah... Aku ingat. Dulu kita pernah mengerjakan tugas bersama. Aku ingat kamu. Aku juga masih ingat nama pacar yang jadi suami kamu sekarang. Dia adalah Julien's. Sekarang dia jadi chef ternama." Jelas Lily.


"Syukur kamu masih ingat dengan aku. Apa kabar kamu Li. Jujur aku sangat suka dengan tulisan yang kamu buat di surat kabar. Semuanya cukup menyentuh." Beatrice basa-basi pada Lily.


"Terima kasih Beatrice dengan sanjungannya. Aku hanya membuat apa yang aku pikir itu menjadi sebuah curahan hati seorang perempuan secara universal. Meskipun beberapa bersumber dari pandangan pribadi dengan pengalaman pribadi yang terjadi di masa lalu." Lily bercerita.


"Akhir pekan ini, kamu ada acara?" Tanya Beatrice.


"Sepertinya aku akan di rumah akhir pekan ini." Jawab Lily dengan santai.


"Bagaimana jika nanti kita bertemu di restoran milik suamiku. Aku ingin sedikit berbagi cerita dengan kamu." Ajak Beatrice dengan begitu halus.


"Boleh juga itu, aku pikir bertemu teman lama sangat menyenangkan. Akan selalu ada nostalgia yang mungkin akan kita bangkitkan dalam pertemuan itu." Lily menerima tawaran dari Beatrice.


"Baik. Nanti aku kirimkan alamat restoran suamiku. Hingga kita bisa mengobrol disana." Jelas Beatrice.


"Baik. Tidak sabar untuk menunggu akhir pekan nanti." Tutup Lily dengan begitu manisnya.


Beatrice begitu kegirangan ketika menutup telepon dari Lily. Bagaimana tidak, akhirnya Beatrice menemukan orang yang bisa dia manfaat untuk membuat Nania di fitnah. Orang tersebut tentu adalah Lily. Dengan kebencian Lily akan orang ketiga. Mungkin saja, Lily akan melakukan tindakan diluar dari perintah yang Beatrice titahkan. Mengingat Lily memiliki kenangan sepahit kopi dengan perempuan seperti Nania.

__ADS_1


__ADS_2