
Alarm di ponselnya sedari tadi berbunyi. Waktu yang disetting untuk Thomas bangun di pagi ini. Tapi cuaca di luar cukup dingin. Sehingga Thomas ngeyel untuk kembali menarik selimutnya. Tidur beberapa menit lagi, dirasa cukup untuk membuat tubuhnya sedikit hangat.
Thomas kembali memejamkan matanya. Menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya. Sebelum akhirnya kembali tertidur pulas diatas kasurnya.
Tanpa disadari, tidur sejenak yang diharapkan Thomas justru berubah menjadi tidur pulas yang banyak memakan waktu. Thomas tidak sadar, ia telah menggunakan banyak waktu untuk tidur kembali pagi ini.
5 menit yang diharapkan oleh Thomas. Berubah menjadi 1 jam lebih untuk tubuhnya kembali terbaring. Udara yang awalnya dingin, berubah menjadi sedikit hangat. Mengingat matahari yang mulai menyinari seluruh kamar Thomas.
Dengan langkah terburu-buru, Thomas bergegas dari kasurnya menuju kamar mandi. Ia hampir telat 1 jam lebih. Ditambah waktu mandi Thomas yang cukup lama, bisa membuat Thomas semakin telat. Akhirnya Thomas hanya membasuh wajahnya sedikit. Sebelum segera mengenakan pakaian kerjanya.
Mengenakan mobil pemberian dari Nick, Thomas berusaha membawa mobilnya secepat mungkin. Bunyi klakson hampir di setiap persimpangan Thomas bunyikan. Ia sudah tak sabar untuk sampai di restoran. Mengingat banyak waktu yang telah terbuang pagi ini. Jika di jalanan macet seperti ini, akan semakin banyak lagi waktu yang terbuang.
Beberapa kali adu mulut dengan pengendara lain. Akhirnya Thomas tiba di restoran. Ia segera menuju loker untuk melepaskan sweaternya, sebelum masuk ke dapur untuk melakukan persiapan.
Namun di perjalanan menuju dapur, langkah Thomas terhenti. Julien's dengan pakaian chef rapi. Menghentikan Thomas, mengajak Thomas berbicara di meja.
Thomas dan Julien's pun duduk disalah satu sudut meja pelanggan. Thomas bingung apa yang hendak dibicarakan Julien's padanya. Sementara Julien's yang sudah geram dengan sifat kurang disiplin dari Thomas. Siap memberikan kejutan pada Thomas.
__ADS_1
Mata Thomas tak dapat menatap langsung mata Julien's yang nampak terlihat menyeramkan. Posisi tubuhnya yang begitu tegap, semakin membuat Thomas tidak berdaya untuk menatap Julien's.
"Ada apa chef Julien's mengajak saya mengobrol disini?" Tanya Thomas gugup.
"Kamu masih tanya kenapa saya meminta kamu duduk disini?" Tanya balik Julien's dengan wajah tengil.
"Saya tidak tahu chef." Thomas semakin menunduk penasaran.
"Kamu tahu ini jam berapa?" Tanya Julien's menunjuk kearah jam dinding di restoran.
Perlahan kepala Thomas mulai mengarah menuju jam dinding. Matanya langsung tertuju kearah jarum jam. Dimana jarum jam tersebut menunjukkan hampir pukul 10 pagi.
"Itu sudah mau pukul 10 bodoh!" Amuk Julien's sambil memukul meja.
Thomas langsung terkejut melihat kemarahan dari Julien's. Dia ketakutan akan amukan yang dilakukan oleh Julien's.
"Ini bukan kali pertama kamu telat seperti ini. Ini sudah berulang kali. Tapi kamu tidak pernah berubah. Hari ini kamu datang telat lebih dari 1 jam. Tidak ada kabar sama sekali. Dimana profesionalisme kamu?" Tegas Julien's dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Iya chef maafkan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi." Janji Thomas tetap menunduk.
"Saya sudah tidak bisa pegang janji kamu lagi. Saya sudah muak dengan semua omong kosong kamu. Ini mungkin sudah saatnya untuk saya bersikap tegas pada kamu." Ancam Julien's dengan wajah serius.
"Maksud chef apa?" Thomas akhirnya mampu menatap wajah marah Julien's.
"Saya pecat kamu!" Jawab Julien's tegas.
Mulut Thomas terbuka sedikit. Dia tak menyangka Julien's akan memecatnya hari ini. Semua yang telah dia berikan pada restoran, seakan tidak ada artinya di mata Julien's.
"Chef serius memecat saya?" Tanya Thomas kembali dengan wajah tidak yakin.
"Saya tidak pernah bercanda akan hal ini. Saya serius. Saya tidak bisa mentolerir lagi sikap kamu. Saya pikir kamu sudah kelewatan. Maka sebagai punishment yang saya berikan, kamu saya pecat dari restoran ini." Tegas Julien's meyakinkan.
Remuk seluruh tubuh Thomas. Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan oleh Thomas. Keputusan Julien's sudah bulat. Ia sudah tidak membutuhkan lagi jasa Thomas. Dimana Julien's sudah yakin memecat Thomas.
Amarah dalam diri Thomas semakin membara pada Julien's. Hatinya semakin kotor untuk menghancurkan Julien's. Terlebih Julien's hari ini telah membuat Thomas malu. Membentak, memarahi hingga melecehkan harga diri Thomas didepan semua rekan kerjanya. Terasa begitu menyakitkan untuk Thomas. Dia sudah tak bisa memaafkan Julien's lagi. Sudah terlalu banyak rasa sakit yang di torehkan Julien's di hatinya. Hingga rasa sakitnya berubah menjadi sebuah dendam pada Julien's.
__ADS_1
Tak ada lagi kata yang bisa dinegosiasikan. Semuanya telah jelas. Thomas tanpa berpamitan pada Julien's, pergi dari hadapan Julien's. Beberapa teman kerja Thomas mencuri pandang untuk melihat kepergian dari Thomas. Mereka sedikit menyesali kepergian Thomas dari restoran itu. Mengingat kinerja Thomas cukup baik dan rapi. Sehingga Thomas begitu berkesan untuk staf restoran lainnya.