
Hembusan angin yang cukup kencang membuat semua penghuni di rumah Julien's menarik selimut mereka. Tak terkecuali Nania yang juga harus menutup seluruh tubuhnya dengan selimut biru bergambar animasi tersebut. Udara dingin hampir membuatnya tak bisa berjauhan dari selimut.
Ditengah-tengah perjuangan dalam melawan dinginnya malam. Nania terpaksa harus keluar dari selimut hangatnya. Tiba-tiba Nania merasakan rasa haus yang teramat. Sementara air di gelas yang dia sediakan telah kosong.
Sial untuknya, terpaksa Nania harus keluar dari selimut hangatnya untuk pergi ke dapur mengambil segelas air putih. Dengan sweater super tebal, serta dua kaos kaki panjang. Nania mulai berjalan menuju dapur.
Udara diluar kamarnya justru semakin terasa dingin. Ada hembusan angin yang masuk dari luar rumah. Nania yang penasaran dengan hembusan yang masuk kedalam rumah. Berjalan kearah pintu rumah.
Benar saja, pintu rumah terbuka. Tetapi saat Nania akan menutup pintu itu, Marrie yang asyik bertelepon dengan begitu asyiknya. Nania sedikit mengintip sambil mendengarkan obrolan yang tengah dilakukan Marrie dalam telepon tersebut.
Hembusan angin yang cukup kencang, tak mampu membuat Nania bertahan lama untuk tetap menguping pembicaraan Marrie di telepon. Nania harus segera pergi, sebelum hembusan angin ingin benar-benar membuat tubuhnya menjadi hipotermia.
Tujuannya untuk mengambil minum tetap dia lakukan. Nania pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih yang menjadi favoritnya.
Segelas penuh air kembali dia isi untuk menjaga-jaga jika dia haus kembali. Tetapi sebelum dia membawa ke kamarnya. Nania sempat terpikir siapa yang sedang Marrie telepon di jam saat ini. Dini hari, waktu yang tentu anak remaja seusia Marrie tengah terlelap tidur. Belum lagi hembusan angin yang menusuk tulang. Rasanya Marrie tidak akan melakukan itu, jika yang dia telepon hanyalah teman biasa.
Nania tetap positif thinking. Mungkin benar itu adalah teman sekelas Marrie. Sehingga dia tak harus terlalu berpikiran jauh pada Marrie. Dia memilih langsung kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya.
Tanpa terasa Marrie sendiri telepon hampir 2 jam lebih. Perlahan rasa ngantuk membuat Marrie mulai tak fokus. Dia pun meminta untuk mengakhiri telepon tersebut. Tetapi teman special Marrie yang bernama Hans menolak. Dia tetap memaksa Marrie untuk mengobrol dengannya. Marrie yang tengah kasmaran pada Hans, akhirnya menuruti permintaan dari Hans. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap mengobrol dengan Hans.
Baru setelah Hans sudah mulai mengantuk, Marrie diperbolehkan untuk mengakhiri telepon tersebut. Hingga Marrie akhirnya bisa tidur di waktu shubuh.
Pagi menjemput, semua anggota keluarga Julien's sudah berkumpul di meja makan. Termasuk Nania yang sudah duduk disamping Alex.
Satu kursi tersisa yang masih kosong. Kursi itu adalah kursi milik Marrie yang biasanya duduk di samping Beatrice.
"Marrie kemana?" Tanya Julien's.
"Mungkin sebentar lagi dia akan datang. Tunggu saja." Jawab Beatrice.
5 menit waktu yang digunakan untuk menunggu Marrie datang ke meja makan. Digunakan Alex untuk bermesraan dengan Nania. Dia menunjukkan beberapa video lucu yang dia temukan di sosial media. Alex meminta Nania untuk memberikan tanggapan pada setiap video yang ditunjukkan padanya.
Nania mencuri pandang, dia melihat Julien's yang nampak begitu cemburu melihat bagaimana Alex yang mencoba mendekatinya. Nania sedikit memberi jarak, tetapi Alex tetap berusaha berdekatan dengan Nania sambil terus tertawa melihat setiap video yang dia temukan.
Beatrice terasa begitu bahagia dengan kecemburuan dari suaminya tersebut. Dia menang, sebab Julien's benar-benar cemburu pada adiknya sendiri. Keputusan Beatrice untuk menerima Alex sebagai dokter pribadinya untuk semester benar-benar membuat Julien's cemburu besar.
Tak ingin ada waktu menunggu yang digunakan oleh Alex untuk bermesraan terus-menerus dengan Nania. Dia dengan inisiatifnya memanggil Marrie untuk sarapan di kamarnya.
Tok... Tok... Tok... Tiga kali ketukan yang dilakukan oleh Julien's di kamar Marrie. Tak cukup untuk membuat Marrie keluar dari kamar. Julien's kembali mengetuk pintu kamar Marrie sambil memanggil namanya. Tetap, Marrie tak menggubris Julien's. Kamarnya tetap terkunci rapat.
Julien's mengeluarkan kunci kamar Marrie. Kemudian dengan segera membuka kamar Marrie. Dia terkejut begitu melihat Marrie yang masih terlelap tidur.
Julien's menghampiri Marrie. Kemudian dia mencoba membangunkan Marrie dengan menggoyangkan tubuh Marrie sambil menyebut namanya.
Akhirnya Marrie terbangun. Matanya merah, dia terlihat seperti seseorang yang tidak tidur semalaman. Tetapi untuk apa Marrie tidak tidur semalaman? Pertanyaan dalam benak Julien's.
Mengetahui ini sudah pagi. Marrie segera bergegas ke kamar mandi. Dia melakukan ritual mandi bebek yang hanya mengguyur air, tanpa menggunakan sabun atau sampo.
Sebelum Julien's keluar dari kamar Marrie. Tiba-tiba ponsel Marrie berdering. Julien's yang penasaran dengan suara dering tersebut, langsung melihat ponsel Marrie.
Nampak nama seorang pria yang bernama Hans yang muncul dilayar. Gambar hati yang ada didekat tulisan Hans semakin membuat Julien's curiga. Apa mungkin orang yang menelpon Marrie tersebut adalah pacarnya. Tetapi Marrie baru 15 tahun, Julien's belum siap Marrie untuk pacaran. Dia ingin Marrie fokus sekolah.
Marrie membuka pintu kamar mandi dengan handuk yang menutupi bagian dada hingga lutut. Julien's yang tak mau Marrie Curiga, langsung menaruh kembali ponsel milik Marrie tersebut. Dia bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Setelah itu, Julien's kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapan bersama anggota keluarga lainnya.
"Mana Marrie?" Tanya Beatrice.
"Dia ternyata ketiduran, tadi baru aku bangunin. Sebentar lagi dia kesini." Jawab Julien's sambil duduk di kursinya.
Tak berselang lama, Marrie dengan seragam sekolah yang nampak tak rapi. Menyapa semua orang yang ada di meja makan. Dia duduk disamping Beatrice
"Mar aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" Tanya Nania.
Marrie dengan pandangan sinis, menjawab ketus pertanyaan Nania tersebut.
__ADS_1
"Tanya apa?"
"Semalam kamu telepon sama teman sekolah kamu?" Tanya Nania dengan penuh rasa penasaran.
"Semalam kapan?" Tanya Marrie bingung.
"Sekitar jam 2 atau jam 3 malam." Jawab Nania.
"Wih kamu sekarang jaga keamanan Mar. Sampai jam segitu belum tidur." Celetuk Alex.
Marrie yang tak ingin kedua orangtuanya mengetahui dia bertelepon dengan Hans hingga larut malam. Langsung menyiram Nania dengan segelas air putih.
"Kamu jangan asal fitnah. Aku gak pernah telepon hingga larut gitu. Aku bangun kesiangan, karena begadang kerjain tugas." Amuk Marrie.
Melihat istri keduanya disiram oleh Marrie. Julien's langsung memarahi Marrie. Dia juga meminta Marrie meminta maaf pada Nania.
Marrie tak bergeming dengan tetap terdiam dengan melipat kedua tangannya diatas perut. Wajah kesal nampak masih terlukis di wajahnya. Dimana dia masih kesal dengan Nania yang membongkar dirinya sedang bertelepon dengan Hans.
Julien's mulai menghitung untuk Marrie segera meminta maaf pada Nania. Tetapi Marrie tetap enggan meminta maaf. Dia malah pergi meninggalkan meja makan.
Beatrice yang lebih pro pada Marrie. Berbalik memarahi Julien's. Menurutnya Julien's terlalu keras pada Marrie. Sehingga Marrie menjadi seperti itu. Sebagai bentuk protes pada Julien's, Beatrice juga pergi dari meja makan.
Alex coba menyemangati kakaknya. Dia meminta kakaknya untuk sedikit tenang. Mengingat kondisi seperti ini memang sulit untuk Julien's.
Nania yang bertindak sebagai baby sitter juga meminta Julien's untuk tetap tenang. Dia tak mempersoalkan Marrie yang telah menyiram tubuhnya. Sebab emosi Marrie memang sedang ada di puncak. Hingga dia melakukan hal tersebut pada Nania.
Sarapan pagi itu kembali berlanjut. Tak ada obrolan apapun, selain Theo dan Romeo yang berulang kali ribut kecil untuk mengambil menu sarapan yang ingin mereka makan.
Nania langsung mengganti pakaiannya yang sedikit basah usai mendapatkan siraman air dari Marrie. Dia mengganti dengan sebuah dress pendek berwarna merah. Dress itu akan dia pakai untuk pergi mengantar Theo ke sekolah juga.
Hari ini Alex tak bisa mengantar Nania dan Theo pergi ke sekolah. Dia harus segera mendatangi departemen kesehatan setempat untuk mendapatkan surat yang Alex tunggu-tunggu. Sebuah surat izin praktek dari Alex secara resmi sebagai dokter. Sebenarnya Alex ingin mengajak Nania. Tetapi Nania yang harus mengantar Theo ke sekolah, membuat Alex terpaksa berangkat sendiri kesana.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Julien's. Dimana dia langsung mengajak Nania untuk berangkat bersama. Ajakan dari Julien's langsung diterima oleh Nania.
Duduk di bangku taman dengan posisi kepala Julien's yang bersandar dibahu Nania. Julien's nampak begitu bahagia bisa kembali dekat dengan Nania. Dia mengelus tangan Nania yang berada di pahanya. Beberapa kali dia juga menciumnya. Cara Julien's melepas rindu pada Nania.
"Kamu gak kerja?" Tanya Nania.
"Aku gak punya semangat untuk kerja." Jawab Julien's.
"Kenapa?" Tanya Nania.
"Gak tahu. Aku gak semangat saja. Semuanya bias. Tak bisa bebas dengan kamu ternyata membuat hidup aku terasa tak ada arahnya." Jawab Julien's tetap dengan sendu.
"Kamu harus semangat. Masih ada Marrie, Theo dan Romeo yang harus kamu jadikan motivasi hidup kamu. Jadi kamu harus semangat." Pinta Nania.
Julien's menatap wajah Nania. Dia kembali menemukan motivasi hidupnya. Nania benar-benar membuat Julien's menjadi lebih kuat lagi.
Hampir sejam berduaan di taman. Akhirnya Julien's memutuskan untuk pergi berangkat ke restoran. Sementara Nania kembali berangkat menuju sekolah Theo.
Hans yang seorang pengangguran. Mengajak Marrie untuk bolos sekolah. Dengan mobil pemberian orangtuanya, Hans ingin mengajak Marrie ke tempat pembelanjaan. Disana Hans ingin mengajak Marrie membeli sesuatu.
Awalnya Marrie yang takut ketahuan oleh orangtuanya, menolak ajakan dari Hans. Tetapi bujuk rayu Hans yang manis. Akhirnya berhasil meluluhkan hati Marrie. Hans memutar mobilnya menuju sebuah mall yang tak jauh dari sekolah Marrie.
Dengan kartu ATM milik ibunya, Hans dengan royal membelanjakan Marrie berbagai baju. Hingga Marrie bebas memilih baju apapun yang dia inginkan.
Selepas itu, Hans mengajak Marrie ke pusat permainan yang berad di mall tersebut. Mulai dari permainan boneka capit, hingga menari. Dijajal oleh keduanya. Tawa bahagia benar-benar menghiasi wajah Marrie.
Waktu pulang tiba, Nania yang awalnya menunggu Theo diluar gerbang sekolah. Mulai masuk ketika waktu pulang hampir tinggal 5 menit lagi. Nania dengan sabar menunggu Theo di depan kelas.
Theo datang dengan senyuman yang begitu manis. Dia memeluk Nania layaknya seorang ibu kandung. Theo bahagia, dia mendapatkan nilai untuk test hari ini. Hingga Theo berterima kasih pada Nania yang sering mengajaknya belajar di malam hari.
Nania pun mencium Theo atas keberhasilan Theo mendapatkan nilai A. Nania memuji Theo yang membuat Theo semakin termotivasi untuk semakin lebih baik lagi di test berikutnya.
__ADS_1
Nania juga mengingatkan Theo untuk tidak sombong dengan nilai yang didapatnya. Dia meminta Theo untuk tetap rendah diri dengan semua yang dia dapat. Sebab kesombongan akan membuat dirinya terjatuh dengan sendirinya.
Siap! Theo langsung menyanggupi permintaan dari Nania. Theo berjanji tidak akan sombong dan akan semakin termotivasi untuk terus mendapatkan nilai A di test-test berikutnya. Setelah itu Nania pun menggandeng Theo menuju mobil untuk pulang.
Roberto yang hari ini menyupiri Nania untuk pulang sudah kepanasan menunggu Nania kembali. Dia tak henti mengipasi tubuhnya dengan kertas pamplet berbentuk persegi panjang.
"Kamu kepanasan?" Tanya Nania.
"Iya bu, panas banget." Jawab Roberto.
Roberto membuka pintu mobil untuk Nania masuk. Tetapi saat Nania akan masuk kedalam mobil, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Kamu tunggu dulu di sekolah Theo. Aku mau datang kesana untuk menjemput kamu. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Isi pesan dari Alex.
Nania yang sudah akan masuk pun kembali menutup pintu mobil. Dia penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Roberto padanya.
Akhirnya Nania meminta Roberto untuk pulang sendiri. Sementara Nania dan Theo akan menunggu Alex menjemput mereka.
Nania meminta maaf pada Roberto yang telah membuat dia kepanasan menunggu dirinya dan Theo pulang. Namun Nania dan Theo justru memilih pulang bersama Alex.
Sedikit raut kecewa, tetapi Roberto tetap memakluminya. Dia tetap menampilkan senyum manisnya menerima kenyataan Nania tak pulang bersamanya.
Berjarak dari kepulangan Roberto dengan mobilnya. Alex tetap dengan koleksi mobil mewah milik Julien's. Datang dengan membawa kabar yang membahagiakan.
Dia memarkir mobil tepat di depan gerbang sekolah Theo yang mana Nania menunggu disana. Dengan tangan yang keduanya disembunyikan kebelakang tubuhnya. Alex meminta Nania untuk menebak apa yang disembunyikan oleh Alex dibelakang punggungnya.
Nania yang tak ingat Alex akan mengambil surat izin prakteknya, menjawab random apa yang disembunyikan oleh Alex.
ponsel
uang
makanan
atau mungkin kado
Semua jawaban random Nania yang semuanya salah.
Ternyata benda yang ada dipunggung Alex adalah surat izin yang baru saja dia terima. Dengan penuh suka cita Alex menunjukkan surat izin itu pada Nania. Kemudian disambut bahagia juga oleh Nania.
Tak hanya itu, Nania juga memberikan selamat pada Alex yang telah mendapatkan surat izin praktek tersebut. Dengan surat itu, secara otomatis Alex bisa melakukan praktek kedokteran. Bisa juga melamar kerja di rumah sakit mana pun.
Keberhasilan dari Alex dalam mendapatkan surat izin itu. Tak ingin dilewatkan begitu saja. Alex ingin merayakannya bersama Nania dan Theo. Mungkin bermain di mall bisa jadi salah satu pilihan yang tepat untuk Alex habiskan waktu bersama Nania dan juga Theo.
Nania yang tak memiliki kegiatan apapun lagi. Menyetujui permintaan dari Alex. Dia bersedia untuk menemani Alex hangout di mall.
Mall yang dipilih Alex untuk hangout bersama Nania sama dengan mall tempat Marrie bermain bersama Hans. Ketika melewati sebuah restoran yang berada didalam mall. Theo dengan penglihatannya, melihat Marrie yang sedang asyik bersama seorang pria. Dia nampak asyik mengobrol dengan seragam sekolah yang masih menempel ditubuhnya.
Theo langsung mengatakan pada Nania akan keberadaan Marrie yang bersama seorang pria tersebut pada Nania dan Alex. Nania dan Alex yang awalnya tak melihat Marrie. Seketika dengan kedua mata mereka, melihat Marrie yang asyik mengobrol dengan tangan pria merangkul pundak Marrie.
Alex emosi. Dia langsung masuk kedalam restoran itu untuk menarik Marrie. Tetapi Hans tak terima. Dia mencoba menahan tangan Alex. Hingga adu mulut antara Alex dan Hans tak terelakkan lagi.
Baru setelah Alex mengatakan dia adalah paman dari Marrie. Hans tak berani lagi bicara. Dia terdiam, membiarkan Marrie dibawa oleh pamannya sendiri.
Didalam mobil, Alex langsung memarahi Marrie yang ketahuan pacaran. Lebih parah lagi, Marrie bolos sekolah. Hal yang membuat Alex semakin kesal pada Marrie.
Marrie meminta maaf pada Alex Dia meminta Alex untuk tidak melaporkan peristiwa hari ini pada ayahnya. Mengingat Julien's melarang Marrie untuk berpacaran. Sehingga jika Julien's tahu, Marrie akan menjadi sasaran dari amukan seorang Julien's.
Alex akan diam, jika Marrie mau meminta maaf pada Nania. Mengingat pagi tadi Marrie telah menyiram Nania dengan segelas air.
Dengan sangat terpaksa, Marrie meminta maaf pada Nania. Dia berusaha merangkai sebuah kalimat maaf yang sebenarnya sangat tidak ingin dia ucapkan pada Nania.
Selain itu Alex juga meminta Marrie untuk tidak berhubungan kembali dengan Hans. Selain perbedaan usia yang jauh. Hans juga membawa pengaruh buruk untuk Marrie.
__ADS_1