SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
HARI KEDUA JULIEN'S DI RUMAH SAKIT


__ADS_3

Julien's menatap lembut tubuh Nania yang terbaring lemas diatas sofa di ruangan tempatnya di rawat. Wajah lelah Nania nampak begitu terlukis. menahan ngantuk semalaman untuk menemani Julien's. Julien's tersenyum kecil, pertama kalinya ketika dia membuka mata. Istrinya keduanya berada disampingnya.


Entah sebuah mimpi atau apa, namun tiba-tiba Nania membuka matanya. Dia terbangun yang langsung disambut ucapan selamat pagi dari Julien's.


Dengan wajah apa adanya, Nania sedikit merapikan rambutnya. Sebelum menghampiri Julien's.


"Kamu udah bangun sayang?" Tanya Nania sambil menguap.


"Dari tadi." Jawab Julien's.


Nania kembali menguap.


"Tidur lagi kalau kamu masih ngantuk." Titah Julien's.


"Enggak kok, aku cuman butuh cuci muka doang." Ucap Nania.


"Ya udah cuci muka dulu." Perintah Julien's.


Nania pergi keluar dari ruangan Julien's menuju toilet.


Tangan kanan Julien's yang tersiram minyak panas, memaksa dia harus menggunakan tangan kiri untuk aktivitasnya. Dengan sekuat tenaga, Julien's berusaha menggunakan tangan kirinya untuk menghubungi Marrie.


Panggilan pertama, tidak diangkat Marrie. Baru di panggilan kedua, Marrie mengangkat panggilan telepon dari Julien's.


"Hallo yah." Ucap Marrie.


"Kamu kok gak jenguk ayah?" Tanya Julien's.


Marrie terdiam.


"Kamu marah sama ayah?" Tanya Julien's kembali.


"Enggak kok yah, aku kemarin capek aja..Makanya belum bisa pergi kesana." Jawab Marrie.


"Ok kalau gitu. Hari ini ayah tunggu kamu jenguk ayah." Pinta Julien's.


Nania membuka pintu. Dia berdiri di depan pintu untuk tidak menggangu obrolan Julien's dengan Marrie.


"Ok Marrie usahain hari ini bisa." Janji.


"Baik, ayah tunggu sayang."


"Iya yah." Tutup Marrie.


Julien's kembali meletakkan ponselnya. Kemudian Nania mendekat kearah Julien's.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Nania.


"Marrie." Jawab Julien's.


"Dia mau jenguk kamu?" Tanya Nania kembali.


"Iya."


Nania terdiam.


"Kenapa?" Tanya Julien's bingung.


"Enggak. Aku cuman gak mau ribut saja nanti dengan Marrie. Kalau dia datang, aku pergi saja keluar." Jawab Nania.


"Gak bakal sayang. Aku janji, gak bakal ada keributan lagi. Masa Marrie mau ribut di rumah sakit kayak gini. Jadi kamu gak usah keluar dari sini, kalau dia datang." Perintah Julien's.


Nania menganggukan kepalanya.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, beberapa detik kemudian. Seorang perawat perempuan membawakan sebuah nampan berisi sarapan yang bisa dimakan oleh Julien's.


"Pagi ibu bapak, saya ingin mengantarkan sarapan untuk tuan Julien's." Ucap perawat itu.


Nania dengan senang hati menerima nampan berisi menu sarapan untuk Julien's tersebut. Dia ingin menyuapi suaminya itu.


"Ada baiknya juga yah aku sakit." Ucap Julien's.


"Kok bisa?" Nania bingung.


"Aku jadi disuapin sama istri cantik ku ini." Gombal Julien's.


Nania tersenyum kecil, kemudian mulai menyendok satu sendok penuh cereal untuk mendarat dimulut Julien's.


Dengan penuh kehati-hatian, Nania menyuapi Julien's. Dia begitu telaten. Sehingga Julien's pun makan dengan begitu lahapnya.


Setiap suapan yang Nania berikan, begitu membuat Julien's bersemangat. Dia pun begitu bahagia dengan perhatian yang Nania berikan padanya.


Disiapkan berikutnya, Julien's justru menutup mulutnya. Dia menatap wajah Nania yang tetap cantik, tanpa polesan make up diwajahnya. Dia memandangi Nania dengan penuh cinta. Hal itu membuat Nania menjadi salah tingkah.


"Ayo buka lagi mulutnya." Perintah Nania.


Julien's menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenyang?" Tanya Nania.


"Bukan, tapi aku bahagia. Aku bahagia dengan semua cinta yang kamu berikan. Mencintai seorang pria tua beristri seperti aku itu punya banyak tantangan. Tapi kamu tak gentar, semua kamu lewati. Untuk membuktikan cinta kamu kepada ku." Jawab Julien's.

__ADS_1


Nania yang terenyuh melihat dan mendengar ucapan Julien's. Perlahan mulai meneteskan air mata. Dia ikut terharu dengan semua ucapan yang keluar dari mulut Julien's.


"Aku mencintai kamu. Bukan karena fisik atau apapun yang kamu miliki. Tapi rasa yang tumbuh serta komitmen aku untuk tetap disamping kamu dengan segala apapun yang ada di diri kamu. Aku akan mencintainya." Ucap Nania.


Julien's mengangkat tubuhnya, kemudian mencium kening Nania.


Tetapi suasana haru itu seketika berubah, saat dua anak Julien's yakni Romeo dan Theo datang menjenguk Julien's. Ada tetesan air mata di wajah Romeo, dia begitu kangen pada Nania yang seharian kemarin menemani Julien's di rumah sakit. Romeo tak bisa menahan rindu. Dia langsung memeluk Nania.


"Romeo kenapa nangis?" Tanya Nania.


"Kangen ibu." Ucap Romeo dengan polosnya.


"Sama ayah gak kangen?" Tanya Julien's.


Tetap dipangkuan Nania, Romeo menggelengkan kepalanya.


Sontak semuanya tertawa melihat kepolosan dari seorang Romeo. Dia pun berhasil merubah suasana sendu itu menjadi lebih ceria.


Untuk menambah keceriaan di hari ini. Nania mengajak Julien's dan Romeo berjalan-jalan di taman rumah sakit.


Dengan duduk di bangku panjang, ketiganya nampak begitu bahagia. Romeo yang berada ditengah-tengah kedua orangtuanya. Begitu lahap melahap coklat pemberian Nania. Dia tak henti memakan coklat itu, sambil sesekali menyuapi Nania.


Romeo dan Theo telah menjenguknya. Hanya tinggal Marrie yang belum menemui Julien's di rumah sakit. Dia begitu kangen pada Marrie. Begitu jam pulang sekolah Marrie tiba, Julien's langsung meneleponnya berulang kali. Dia meminta Marrie untuk segera menjenguknya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, hanya molor beberapa menit dari perkiraan Julien's. Anak perempuan satu-satunya Julien's, datang menjenguknya. Dengan membawa bingkisan berupa buah-buahan segar dia begitu bahagia bisa menjenguk ayahnya.


Nania yang sering ribut dengan Marrie, memilih untuk keluar dari ruang perawatan Julien's. Marrie dengan spontan langsung berkata begitu Nania akan membuka pintu kamar.


"Bagus kalau tahu diri. Aku juga muak lihat muka kamu." Marrie sewot.


"Marrie, gak boleh gitu dong sayang." Pinta Julien's.


Melihat Nania akan pergi. Julien's mencoba menahan Nania dengan memanggil namanya.


"Nania.... Nania... Jangan pergi dong sayang." Pinta Julien's.


"Aku mau ke toilet dulu." Jawab Nania.


Meskipun Julien's meminta Nania tetap berada diruang perawatannya. Namun Nania tetap pergi meninggalkan Julien's dan Marrie bersama.


"Mar... Ayah cuman minta satu hal dan kamu boleh minta apapun dari ayah. Tolong hargai ibu Nania. Bagaimana pun juga saat ini dia adalah ibu kamu juga." Pinta Julien's.


"Enggak ayah! Aku gak bakal anggap dia ibu aku sampai kapan pun juga." Tegas Marrie.


Julien's mengalah. Dia akhirnya tak melanjutkan pembahasan tentang Nania dihadapan Marrie.

__ADS_1


__ADS_2