SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
KEBERSAMAAN JULIEN'S DAN NANIA DI BREST


__ADS_3

Tak seperti di rumahnya yang sudah terbiasa belanja bulanan untuk bahan-bahan makanan penting seperti telur, tepung dan bahan pokok lainnya. Beda dengan kondisi rumah mertua Julien's. Di dalam lemari pendingin ibu Nania, hanya ada buah-buahan hasil kebunnya. Tak ada ayam di freezer, juga telur pun tak ada. Jika ingin masak, maka harus pergi dulu ke pasar.


"Kamu nyari apa?" tanya Nania.


"Tadinya aku ingin masak minimal omelette buat kita sarapan. Tapi aku tidak menemukan telur di lemari pendingin ini." jawab Julien's menutup lemari pendingin tersebut.


"Iya, ibu aku tidak pernah stok bahan makanan di dalam lemari pendingin. Oleh sebab itu tidak ada bahan makanan di dalam situ." Jelas Nania.


"Bagaimana kita akan masak sarapan pagi ini?" tanya Julien's bingung.

__ADS_1


"Kita pergi dulu ke pasar." jawab Nania singkat.


Dengan sepeda besar milik Nania yang sempat di gunakan untuk berjualan bunga. Julien's siap membawa Nania ke pasar untuk belanja bahan makanan. Julien's mengendarai sepeda itu, sementara Nania dengan tas belanjanya. Duduk di bagian belakang sepeda. Sebelum mengayuh sepeda tersebut, Julien's meminta Nania untuk pegangan yang erat pada tubuhnya. Mengingat Julien's akan mengayuh sepeda itu dengan begitu cepatnya.


Ibu Nania meminta Julien's lebih berhati-hati lagi ketika mengayuh sepeda itu. Sebab terkadang rantai sepeda itu tiba-tiba putus. Ibu Nania khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk terjadi pada Julien's dan Nania, saat mengayuh sepeda nantinya.


Julien's menghiraukan himbauan mertuanya tersebut. Dia yakin, hari ini adalah hari keberuntungan bagi seorang Julien's. Hingga rantai sepeda itu tidak akan putus ketika Julien's mengayuh sepedanya.


"Aku minta kamu pelan-pelan mengayuh sepedanya." Pinta Nania yang ketakutan.

__ADS_1


"Santai saja, aku pernah ikut Tour De France. Jadi untuk urusan sepeda, aku sudah ahlinya." balas Julien's dengan jumawa.


Julien's yang asyik mengayuh sepedanya dengan begitu kencang. Akhirnya harus menerima kenyataan pahit. Rantai sepeda itu putus, begitu Julien's berada di jalanan yang menurunkan. Akhirnya sepeda itu oleng. Untungnya Julien's bisa segera mendorong sepeda itu ke arah samping jalan. Hingga Julien's dan Nania jatuh ke arah rerumputan hijau yang tentu tidak berbahaya.


Nania sempat kesal pada Julien's. Mengingat Julien's yang mengayuh sepeda dengan begitu kencang. Padahal Nania sudah berulang kali mengingatkan Julien's untuk mengayuh sepeda dengan kecepatan yang normal. Namun Julien's tetap tidak mendengar ucapan dari seorang Nania. Hingga akhirnya keduanya terjatuh dari sepeda.


Berbeda dari Nania, Julien's justru tertawa dengan momen dirinya yang terjatuh. Ini kali pertama dalam hidupnya, terjatuh dari sepeda. Sebuah momen yang tidak akan pernah bisa di lupakan oleh Julien's.


Julien's terus merayu Nania untuk meminta maaf. Mungkin dengan permintaan maaf dari Julien's, Nania bisa lebih sedikit mengurangi rasa kesalnya. Permohonan maaf Julien's yang di barengi dengan sebuah rayuan maut. Akhirnya tak mampu Nania bendung. Sebuah maaf akhirnya di berikan Nania pada seorang Julien's. Raut wajah kesalnya hilang, berganti menjadi salah tingkah dengan rayuan maut seorang Julien's.

__ADS_1


Akhirnya Julien's dan Nania pergi ke pasar dengan mendorong sepeda berdua. Julien's bersyukur mereka bisa terjatuh di jalan. Sebab dengan begitu, Julien's memiliki banyak waktu untuk mengobrol santai dengan Nania. Pun dengan Nania sendiri, dia merasa ada hikmah yang banyak ketika keduanya terjatuh dari sepeda. Keduanya bisa lebih dekat lagi, apalagi dengan permasalahan di hari sebelumnya. Dengan momen ini, Nania dan Julien's bisa semakin dekat lagi satu sama lain. Cinta keduanya pun semakin besar.


__ADS_2