SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
MARRIE BATAL MENEMUI OSCAR


__ADS_3

Kegagalan Oscar dalam pelamaran driver taksi online. Kurang lebih sedikit membuat dirinya kecewa. Ekpektasi Oscar yang setinggi langit, harus dihancurkan oleh perbuatan seorang pegawai rekrutmen. Daripada Oscar harus menerima perlakuan yang tidak pantas dari pegawai rekrutmen tersebut. Dirinya lebih memilih untuk tidak bergabung di perusahaan taksi online yang sempat dia idamkan.


Menepi dari keramaian kota. Oscar membawa mobilnya melaju menuju sebuah bangunan kosong terbengkalai. Oscar ingin sedikit merenung disana. Menikmati kegagalan yang dihadapinya saat ini.


Sampai di bangunan kosong itu. Oscar langsung mencari tempat yang nyaman untuk sekedar duduk sambil bersandar. Aku pikir hidup terlalu munafik untuk dijadikan alasan tidak bahagia. Kegagalan mungkin menjadi sebuah cerita yang akan selalu mengiringi perjalanan hidup kita. Tidak harus takut akan destinasi yang akan dituju. Sebab perjalanan yang berkesan, terkadang lebih indah. Daripada sekedar destinasi yang diimpikan.


Suntikan motivasi yang secara tersirat membayangi pikirannya. Seketika membuat Oscar kembali bersemangat. Walaupun selama perjalanan menuju bangunan itu dipenuhi dengan sebuah prasangka buruk akan nasibnya. Tapi perlahan Oscar bisa menerima semuanya sebagai sebuah takdir yang adil dari dalam hidupnya.


Oscar mengeluarkan bungkus rokok dalam saku jaketnya. Mulai menghisap sebatang rokok. Kembali melihat bangunan-bangunan bertingkat yang penuh dengan lalu lalang orang. Selain kepercayaan diri dari Oscar yang kembali. Perasaan jenuh akan hidupnya yang sempat terlintas begitu saja. Kembali meninggi dengan motivasi yang ia buat sendiri.


Sebatang rokok telah habis ia hisap. Rokok itu benar-benar menjadi teman yang cukup baik untuknya. Mereka tidak menuntut untuk dihisap, tapi ketika mereka dihisap. Rokok itu mampu menenangkan semua beban dan pikiran yang sempat membuat kacau segalanya.


Begitu akan menyulut rokok keduanya, tiba-tiba ponsel seorang Oscar berdering dengan begitu hebatnya. Sebuah panggilan telepon dari Marrie ia dapatkan. Tanpa pikir panjang, Oscar langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hallo Marrie." Sapa Oscar memulai pembicaraan.


"Hallo Oscar. Kamu dimana sekarang?" Tanya Marrie pada Oscar.


"Aku sedang berada di tempat biasa aku jadikan, tempat merenung." Jawab Oscar singkat.


"Tempat merenung? Dimana itu?" Tanya Marrie kembali dengan begitu penasaran.


"Kamu mau tahu tempat ini?" Tawar Oscar.


"Boleh jika kamu mengizinkan. Aku lagi tidak nyaman banget di rumah. Rasanya seperti berada di neraka dengan semua permasalahan rumah yang kompleks." Jelas Marrie dengan begitu lengkapnya.


"Kalau begitu aku akan kirim alamatnya lewat pesan singkat. Nanti kamu tinggal ikuti saja lewat map." Jelas Oscar.


Oscar menutup panggilan dari telepon tersebut. Kemudian mengirimkan lokasi tempat dirinya berada. Begitu membuka lokasi tempat Oscar berada. Marrie langsung bersiap-siap untuk pergi menemui Oscar.


Hanya mengenakan sebuah tank top berwarna hitam yang dipadukan dengan sweater berwarna senada. Marrie siap menemui Oscar di tempat persembunyian darinya. Ini tidak berlebihan, semuanya sudah lebih baik. Marrie bersiap untuk menemui Oscar.


Penampilan rapi dari seorang Marrie menjadi perhatian khusus bagi Beatrice. Keduanya berpapasan tepat di tangga rumah. Beatrice memperhatikan penampilan Marrie yang terlihat cantik. Aroma parfum yang menyengat hidung, turut jadi perhatian darinya.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?" Tanya Beatrice dengan tegasnya.


"Aku mau main sama teman mah.' Jawab Marrie sedikit gugup.


"Teman siapa?" Tanya Beatrice kembali.


"Teman aku mah." Jawab Marrie singkat.


"Teman kamu pasti ada namanya dong. Siapa dia?" Beatrice semakin penasaran.


"Eeeee Aurora mah." Jawab Marrie berbohong.


Beatrice yang mulai curiga dengan gelagat dari seorang Marrie. Langsung melakukan cross check. Dia menelpon Aurora yang menurut Marrie, akan bermain bersamanya.


"Siang Aurora." Ucap Beatrice.


"Siang tante."


"Boleh tante. Memang ada apa?"


"Apakah hari ini kamu ada janji dengan Marrie?" Tanya Beatrice spontan.


"Sepertinya tidak ada tan. Aku tidak memiliki janji apapun dengan Marrie di hari ini." Jelas Aurora.


"Kalau begitu, terima kasih." Tutup Beatrice.


Marrie menundukan kepalanya dengan begitu ketakutan. Kebohongan darinya terbongkar begitu saja. Mungkin Beatrice sudah paham betul dengan kebohongan yang sering dibuat oleh Marrie. Tak heran, jika Beatrice bisa dengan mudah mengetahui kebohongan dari seorang Marrie.


"Kamu mau menemui siapa?" Tanya Beatrice dengan begitu tegas.


Marrie tak menjawab pertanyaan dari Beatrice. Dia tetap tertegun sambil menundukkan kepalanya. Mulutnya terasa sulit untuk mengatakan nama seorang Oscar. Mengingat Beatrice kurang menyukai seorang Oscar yang menurut Beatrice bukan pria baik-baik.


"Jawab Marrie!" Bentak Beatrice mengagetkan Marrie.

__ADS_1


Akhirnya Marrie mengakui bahwa dirinya akan menemui Oscar.


"Aku akan bertemu dengan Oscar mah." Ucap Marrie.


"Berapa kali mama bilang. Jangan pernah menemui laki-laki tidak jelas itu lagi. Dia bukan laki-laki baik. Jadi kamu harus hati-hati sama dia." Tegas Beatrice dengan pandangan meyakinkan.


Marrie tetap menunduk, tak bisa menatap wajah Beatrice.


Suara Beatrice yang keras, terdengar juga ke telinga seorang Julien's. Akhirnya Julien's pun langsung menghampirinya Beatrice dan Marrie.


"Ada apa ini?" Tanya Julien's sedikit panik.


"Tanya saja sama anak kamu ini. Aku sudah bilang untuk jauhi laki-laki tidak jelas itu. Tapi dia malah sengaja ingin menemui laki-laki itu." Jelas Beatrice dengan begitu kesalnya.


"Laki-laki siapa?" Tanya Julien's kembali.


"Laki-laki yang kamu berikan mobil mewah itu. Siapa lagi, kalau bukan dia." Jawab Beatrice semakin kesal.


"Maksud kamu Oscar. Bagaimana bisa kamu bilang dia tidak jelas. Oscar laki-laki baik. Jadi hentikan semua praduga kamu terhadap dia." Tegas Julien's pada Beatrice.


"Darimana kamu tahu dia baik. Kamu kenal keluarga dia, sanak saudara dia. Tidak! Iya kamu tidak mengenal dia siapa-siapa. Mengapa bisa berasumsi kamu tahu dia." Tegas Beatrice kembali.


"Kalau dia tidak baik. Mana mungkin dia menolong aku. Itu tidak mungkin Beatrice. Dia laki-laki baik. Tidak seperti yang ada dipikiran kamu." Jelas Julien's.


Bising rasanya suara perdebatan dari kedua orangtuanya akan Oscar. Akhirnya Marrie memilih untuk membatalkan rencana pertemuan dengan Oscar. Dia pikir akan lebih baik dirinya untuk mengikuti permintaan dari Beatrice, dibanding harus memaksakan dirinya untuk bertemu dengan Oscar. Mengingat Beatrice yang dengan tegas melarang dirinya bertemu dengan Oscar.


Marrie kembali kedalam kamar dengan perasaan sedihnya. Air matanya seketika menetes begitu tubuhnya berada diatas kasur. Ia tak bisa menyembunyikan kesedihan akan keputusan dari Beatrice yang melarang dirinya untuk bertemu dengan Oscar. Beatrice seolah yang tidak menyukai Oscar, selalu menjadi pintu besar dalam hubungan Marrie dengan Oscar. Padahal Julien's sudah memberikan lampu hijau untuk Marrie dekat dengan Oscar. Tapi tidak dengan Beatrice. Dia tetap tidak bisa memberikan lampu hijau untuk Marrie dan Oscar.


Tak ingin Oscar menunggu dirinya. Dengan alasan keperluan keluarga, Marrie langsung mengirimkan pesan singkat akan dirinya yang tak jadi menemui Oscar. Beberapa permohonan maaf diberikan Marrie pada Oscar, akan batalnya Marrie menemui Oscar.


Oscar yang sudah paham dengan kondisi rumah Marrie. Memahami akan Marrie yang batal datang menemuinya. Tentu Beatrice akan menolak untuk memberikan izin pada Marrie untuk menemui dirinya. Terlebih Beatrice kurang menyukai Oscar.


Tak ada kata kesal yang keluar dari mulut seorang Oscar. Dia memaklumi semuanya. Permohonan maaf seorang Marrie, diterima baik oleh Oscar. Emoticon dua telapak tangan yang saling menempel, dibalas dengan sebuah jempol oleh Oscar.

__ADS_1


__ADS_2