
Senyuman hangat yang sedari pagi telah melukis wajah Marrie. Perlahan menghilang, berganti dengan kesedihan yang ia rasakan saat melihat kedua orangtuanya bertengkar. Marrie masih terbayang tamparan keras yang dilayangkan oleh Julien's di pipi kiri Beatrice. Tamparan itu cukup menyakitkan secara fisik dan batin tentunya.
Sesekali Marrie harus mengeringkan matanya yang terus meneteskan air mata, kala kembali mengingat kejadian itu. Pertengkaran yang dipicu oleh keinginan Marrie yang ingin pergi bersama Oscar. Tetapi menjadi pertengkaran hebat yang melibatkan banyak pihak didalam keluarga besarnya.
Saking dalamnya Marrie memikirkan kembali kejadian pilu itu. Panggilan telepon dari Oscar pun terlewat begitu saja olehnya. Padahal ponsel Marrie berada disamping tubuhnya yang duduk diatas kasur. Baru dipanggilan telepon kedua, Marrie menyadarkan ada panggilan telepon masuk di ponsel.
Kembali mencoba mengeringkan air mata yang terus berjatuhan membasahi wajahnya. Sebelum akhirnya Marrie mengangkat panggilan telepon dari Oscar tersebut.
"Hallo Marrie." Sapa dari Oscar.
"Hallo Oscar." Jawab Marrie dengan nada sendu.
Mendengar suara Marrie yang terdengar seperti seorang yang telah menangis. Oscar seketika dibuat panik. Dia langsung mengatakan apakah Marrie baik-baik saja. Atau sesuatu buruk telah terjadi padanya.
Namun Marrie tak menceritakan semuanya di telepon. Marrie ingin bercerita pada Oscar saat mereka melakukan perjalanan mengelilingi kota Nice dengan mobil baru dari Oscar.
Oscar sudah berada didepan gerbang rumah Marrie. Dirinya hanya tinggal menunggu Marrie keluar dari rumah. Marrie yang sudah siap pergi, tak harus membuat Oscar menunggu lama. Dia sudah siap untuk pergi bersama Oscar di hari ini.
Perhatian dari Oscar langsung terlihat kala Marrie sudah berada di depan gerbang rumah. Dengan kepekaan dari seorang Oscar, ia langsung mendorong gerbang rumah Marrie. Hingga Marrie tak harus repot untuk membuka dan menutup gerbang rumahnya.
"Terima kasih Oscar." Ucap Marrie dengan suara sendu yang masih terdengar.
"Sama-sama." Jawab Oscar singkat.
Kembali Oscar menunjukkan sisi romantis dari dirinya pada Marrie. Oscar membukakan pintu mobil untuk Marrie bisa masuk. Kembali sebuah ucapan terima kasih diberikan Marrie pada Oscar. Lalu dibalas Oscar dengan lembut, kalimat sama-sama.
__ADS_1
Begitu sudah berada didalam mobil, Marrie lupa tak memasang sabuk pengamannya. Sebelum menjalankan mobil tersebut, Oscar yang melihat Marrie masih belum memasang sabuk pengaman itu. Dengan respon cepat, memasangkan sabuk pengaman itu melingkar ditubuh Marrie.
Marrie dibuat semakin terpesona dengan setiap tindakan nyata yang ditunjukkan oleh Oscar. Dimana Oscar begitu perhatian dan peka. Hingga Marrie semakin jatuh hati pada seorang Oscar.
"Kita mau kemana dulu?" Tanya Oscar bersiap menginjak gas mobilnya.
"Terserah kamu." Jawab Marrie pasrah.
Melihat ekspresi wajah Marrie yang begitu kusut. Serta suara Marrie yang terdengar seperti seorang yang telah menangis. Akhirnya membuat Oscar penasaran dengan kondisi Marrie itu sendiri. Dia menanyakan apa yang terjadi pada Marrie. Hingga terlihat tidak seperti biasanya.
"Ada apa Marrie. Aku pikir kamu berbeda hari ini?" Tanya Oscar dengan begitu lembutnya.
"Apa kamu ingin mendengar curhatan dariku?" Tanya balik Marrie.
"Kenapa tidak, aku sekarang teman baik kamu. Jadi sudah seharusnya aku ada disaat kamu sedang terpuruk seperti hari ini." Jawab Oscar dengan begitu bijaknya.
"Tunggu.... Maksud kamu, sekarang ayah kamu memiliki dua orang istri. Jadi perempuan muda yang ada di rumah kamu itu adalah istri kedua ayah kamu?" Tanya Oscar begitu penasaran.
"Kurang lebih seperti itu." Jawab Marrie begitu singkat.
Oscar berbicara didalam hatinya. Tentu ini informasi penting yang harus Oscar sampaikan pada Thomas. Mengingat Julien's memiliki dua orang istri yang mana dalam budaya Prancis itu sangat dilarang. Namun apa mungkin Oscar akan melakukan hal itu. Mengingat kebaikan dari seorang Julien's tak kalah besar padanya. Dimana Julien's telah memberikan banyak materi untuk Oscar. Tak kalah jauh dari apa yang telah Thomas berikan kepada Oscar.
Melihat Oscar yang bergumam sendiri, Marrie langsung bertanya pada Oscar. Apa yang membuat dirinya berbicara didalam hatinya. Oscar langsung mengalihkan pembicaraan itu, dimana Oscar mengatakan jika dirinya sedang memikirkan perasaan sulit yang mungkin dialami oleh ayah Julien's. Terjebak dalam situasi yang pelik. Antara tetap setia pada istri pertama, atau memenuhi kebutuhan biologis sebagai seorang manusia biasa.
Untuk mengusir kesedihan yang tengah melanda Marrie. Oscar berjanji akan membuat Marrie kembali tersenyum. Mengingat hari ini Oscar memiliki mobil baru yang masih bagus untuk dibawa jalan-jalan dengan waktu dan jarak yang jauh.
__ADS_1
Destinasi pertama tentu alun-alun kota Nice yang terkenal akan bangunan bersejarahnya. Dimana disana Marrie dan Oscar dapat melihat bangunan-bangunan ikonik khas abad pertengahan. Selain melihat bangunan ikonik, disana juga Marrie dan Oscar banyak mengabadikan momen dengan berphoto di beberapa spot photo yang indah pastinya.
Puas dengan alun-alun kota yang menyajikan panorama gedung-gedung ikonik khas abad pertengahan. Tujuan kedua dari Oscar adalah pantai Nice yang terkenal nan mempesona. Tapi sayang hari ini keduanya tak membawa baju pantai. Hingga begitu tiba di pantai, baik Marrie maupun Oscar. Hanya memandangi lautan yang luas saja dari samping mobilnya.
Teriknya matahari yang menyorot pantai. Seketika membuat Oscar haus. Dia menawarkan minum juga untuk Marrie. Namun Marrie tak ingin minum, mungkin es krim bisa menjadi menu yang cukup lezat disantap kala cuaca panas seperti ini.
Oscar dengan sigap mencari penjual air serta es krim disekitar pantai. Tak terlalu jauh dari mobilnya. Oscar akhirnya menemukan sebuah toko yang menjual air serta es krim yang diminta Marrie.
Oscar membawa sebuah es krim dengan corn berwarna pink. Sementara tumpukan es krim itu bervariasi, dari mulai vanila, coklat hingga strawberry. Hingga rasa dari es krim itu pun tentu akan bervariasi.
"Enak gak es krimnya?" Tanya Oscar menggoda Marrie.
"Kurang sih... Karena cuman satu doang." Jawab Marrie tak kalah menggoda.
"Jangan banyak makan es krim. Nanti gigi kamu sakit." Saran Oscar.
"Kamu pikir aku anak kecil, sehabis makan es krim langsung sakit gigi. Aku sering tahu makan es krim. Tapi gak pernah tuh sakit gigi." Terang Marrie dengan begitu yakinnya.
"Mungkin belum saja. Nanti kalau semakin sering, kamu pasti sakit gigi." Goda Oscar kembali.
Kemudian langsung dibalas oleh Marrie dengan senggolan tangan.
"Tapi dari sekedar es itu, kita bisa belajar arti hidup." Ucap Oscar meyakinkan.
"Maksudnya?" Tanya Marrie menatap wajah Oscar.
__ADS_1
"Iya aku pikir es krim seperti hidup saja. Ketika kita membiarkan es krim itu berada di suhu ruang. Maka es krim itu akan mencair begitu saja. Tapi ketika kita letakan di lemari pendingin, es krim itu akan tetap beku dan enak untuk disantap. Itu sama seperti hidup. Mungkin kita selalu berpikir bahwa kita merasa tidak berguna. Padahal kita berada di tempat yang salah, dimana tidak ada orang yang bisa mengapresiasi sekecil apapun usaha kita. Hingga kita merasa diri kita gagal. Padahal kenyataannya, kita yang gagal dalam memilih tempat berpijak." Jelas Oscar begitu detail.
Mendengar ucapan keren dari Oscar. Marrie seketika kembali tersenyum. Ia terkesan dengan kata-kata yang diucapkan oleh Oscar. Dimana kata-kata yang penuh motivasi serta tujuan dalam hidup.