
Tak terdengar suara pisau yang menyentuh talenan seperti pagi biasanya. Atau bunyi ketika cipratan air menyentuh minyak panas yang bunyinya hingga terdengar ke kamar Nania. Pagi ini dapur bak kota mati. Hanya sesekali sopir pribadi Julien's yang menyeduh kopi atau sedikit mengambil cemilan untuk menemaninya.
Romeo dan Theo yang baru bangun, tiba-tiba mendatangi kamar Nania. Keduanya sama-sama lapar. Sehingga meminta Nania untuk membuat sarapan di pagi ini. Namun Nania yang tak jago masak, sempat bingung. Terlebih pembantunya saat ini sedang tak di rumah.
Theo dan Romeo yang terus meminta sarapan pada Nania, akhirnya membuat Nania bergegas dari kamarnya. Dia berjalan dengan digandeng oleh Romeo menuju dapur. Sementara otaknya terus berpikir masakan apa yang harus dia buat.
Nania membuka freezer, dia melihat banyak bahan makanan yang ada disana. Namun Nania tidak tahu bagaimana cara mengolah semua bahan makanan tersebut. Sehingga dia begitu kebingungan.
Akhirnya kebuntuan dari Nania terpecahkan. Dia melihat telur yang berjajar begitu indah. Dia ingat pernah membuat Souffle omlete yang merupakan masakan khas Jepang. Dia mengeluarkan beberapa butir telur. Kemudian mulai membuka ponselnya untuk melihat cara membuatnya. Lewat jejaring berbagi video, Nania memulai membuat Souffle omlete.
Satu persatu bahan dia kumpulkan. Kemudian setelah itu baru sebuah celemek berwarna biru yang sering Julien's pake dikenakan.
Cara membuat Souffle omlete yang sebenarnya mudah, terlihat seakan sulit untuk Nania. Dia begitu kesulitan untuk memisahkan kuning telur dan putih telur. Sehingga banyak telur yang terbuang, sebab dia gagal memisahkannya.
Membuang hampir 5 butir telur, akhirnya 4 butir berhasil Nania pisahkan dari putihnya. Sehingga 4 butir itu yang akan menjadi bahan bagi Nania membuat Souffle omlete.
Memanaskan penggorengan dengan sedikit mentega diatasnya. Ketika kepulan asap sedikit membungbung diatas penggorengan. Nania mulai memasukkan telur tersebut.
Walaupun tak jago, namun cara membuat Souffle yang mudah. Membuat Nania tak memiliki kesulitan sedikit pun untuk membuat menu khas Jepang tersebut. Yeah, meski bentuknya tidak sebagus Souffle omlete biasanya. Namun untuk membuat kedua anak tirinya tak merengek. Souffle omlete buatan cukup untuk kedua anak tirinya.
Nania membawa 3 buah Souffle omlete buatannya menuju meja makan. Satu piring untuk Theo, satu untuk Romeo dan satu lagi pastinya untuk dirinya yang juga sama kelaparannya seperti kedua anak tirinya.
Baru menyantap beberapa potong Souffle omlete buatannya. Tiba-tiba Julien's yang memegang sebuah tas besar berisi pakaian Beatrice selama di rumah sakit di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya dalam genggaman Beatrice. Sedangkan Marrie nampak mengikuti dibelakang kedua orangtuanya.
Romeo dan Theo langsung memeluk Beatrice dan Julien's. Sementara senyum manis dan sapaan Nania berikan pada Julien's maupun Beatrice. Namun hanya Julien's yang membalasnya.
Melihat baju Romeo dan Theo yang kotor dan penuhi sisa telur. Julien's bertanya pada kedua anaknya.
"Kalian makan apa?"
__ADS_1
"Omlete." Jawab Theo.
Julien's melirik kearah Nania. Kemudian kembali bertanya kepada kedua anaknya.
"Siapa yang buat Omelette?"
"Mama Nania." Romeo menggemaskan.
Mendengar itu adalah masakan dari Nania. Julien's seketika begitu antusias. Dia langsung melepaskan pegangan dari Beatrice. Lalu menghampiri Nania.
"Pagi ini kamu masak sayang?" Tanya Julien's.
"Tadi Romeo dan Theo ingin sarapan, jadi aku buatin Souffle omlete buat mereka." Jawab Nania.
Julien's mencium pipi Nania dengan pujian yang diberikannya juga.
Hati Beatrice seketika cemburu, dia langsung bergegas pergi menuju kamarnya dengan raut wajah penuh kecemburuan. Kemudian ketiga anaknya menyusul Beatrice.
Beatrice berbaring diatas kasurnya. Kemudian Julien's menghampirinya. Dia menawarkan sarapan untuk Beatrice. Namun Beatrice menolak dan meminta untuk sendiri di kamarnya. Akhirnya Julien's memilih pergi meninggalkan Beatrice yang sendiri di kamarnya.
Rasa cemburu itu benar-benar membuat perasaan hancur. Bahkan dia begitu tak rela melihat Julien's mencium Nania yang juga merupakan istrinya. Perasaan Beatrice tak pernah ikhlas dengan semua itu. Dia mengeluarkan semua rasa cemburunya pada tangisan yang sebenarnya coba dia tahan.
Julien's ke kamar Nania. Dia menemui Nania yang sedang merapikan tempat tidur. Kemudian dia mengatakan Beatrice ingin sendiri, dan tak mau diganggu. Sehingga Julien's meninggalkan dia. Namun Julien's meminta Nania untuk mandi, sebab Julien's ingin mengajak Nania pergi ke sekolah Theo.
Mengenakan mini dress berwarna abu-abu dengan motif horizontal dan renda dibagian area dadanya. Nania nampak terlihat anggun. Sebuah sepatu dengan hack yang menjulang keatas. Semakin memperlihatkan kaki jenjang milik Nania. Dia seketika langsung membuat Julien's ingin menggodanya ketika akan masuk kedalam mobil.
"Cantik sekali kamu pagi ini." Puji Julien's.
Nania tersipu malu, sedikit menunduk sambil menyisir kesamping rambutnya. Dia begitu terkesan dengan pujian dari Julien's.
__ADS_1
Kemudian Nania dan Julien's masuk kedalam mobil. Dimana Julien's dengan romantis membuka pintu mobil untuk Nania masuk. Nania duduk disamping kursi mengemudi. Sedangkan Julien's sendiri duduk di kursi mengemudi. Sementara Theo yang asyik dengan ponselnya. Berada di kursi belakang.
Eits, tak sekedar membuka pintu mobil saja. Julien's juga memasang sabuk pengaman yang melingkar ditubuh Nania. Semakin membuat Nania begitu bahagia.
Semua sudah siap, Julien's mulai memutar kunci mobilnya. Perlahan dia memundurkan mobilnya untuk keluar dari garasi rumahnya. seorang satpam telah membuka lebar gerbang rumah Julien's. Sehingga mobilnya bisa langsung meluncur menuju sekolah Theo.
Theo yang asyik memainkan ponsel miliknya. Membuat Julien's dan Nania bisa bermesraan didalam mobil. Nania tak canggung memeluk Julien's yang sedang menyetir. Begitu juga Julien's yang berulang kali mencium rambut Nania.
Hanya perlu waktu 20 menit dari rumahnya. Julien's dan Nania akhirnya tiba di sekolah Theo. Sekolah berkelas internasional tersebut memang terlihat sangat megah. Dari parkiran sekolah saja sudah terasa betapa megahnya sekolah tersebut.
Nania menggandeng tangan kanan Theo. Sedangkan Julien's berada disamping Nania, sambil merangkul pundak Nania yang terlihat mempesona.
Sampai di depan kelas Theo, Nania dengan penuh perhatian memberikan petuah pada Theo. Layaknya seorang ibu yang baik, Nania begitu perhatian. Dia juga merapikan seragam sekolah Theo yang sedikit mulai kusut. Perhatian yang membuat Julien's semakin mencintai Nania. Setelah Theo pun masuk kedalam kelas.
Tetap merangkul pundak Nania. Julien's dan Nania bergegas menuju parkiran, untuk kembali masuk ke mobil. Beberapa orang tua siswa lainnya memperhatikan Nania dan Julien's. Namun keduanya tetap tak memperdulikannya. Mereka tetap berjalan dengan mesranya.
Didalam mobil di parkiran, kemesraan itu berubah menjadi semakin romantis. Tak kala Nania mulai melakukan jurus godaan maut pada Julien's. Dengan sengaja dia menurunkan dress bagian atasnya untuk semakin memperlihatkan tonjolan di dadanya. Sehingga Julien's semakin gerah dengan godaan yang dilancarkan oleh Nania.
"Kenapa diturunkan?" Tanya Julien's.
"Gerah." Jawab Nania tepat ditelinga Julien's dengan suara menggoda
"Tapi aku jadi lebih gerah." Ucap Julien's menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa bisa?" Tanya Nania sedikit tertawa.
Julien's menarik tubuh Nania mendekatnya. Kemudian menatap tajam wajah Nania.
"Saya gak tahan melihat yang semakin turun itu." Ucap Julien's menatap bagian dada Nania.
__ADS_1
Tangan nakalnya perlahan meraba dua buah dada Nania. Kemudian perlahan dia mulai menciumi leher mulus Nania. Sementara tangan Nania mulai membuka satu persatu kancing kemeja Julien's. Dia meraba dada bidang Julien's. Sehingga keringat mulai mengucur dari badan keduanya.
Julien's mulai membuka resleting celananya, kemudian secara perlahan menundukkan kepala Nania. Dengan gerakan cepat Nania melahap tongkat kesaktian milik Julien's. Julien's begitu merasakan rasa kenikmatan yang amat sangat. Dia tak mampu menyembunyikannya. Nania benar-benar membuatnya puas. Sampai Julien's benar merasakan ******* di momen yang puas. Nania deserve good.