SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
PERTENGKARAN JULIEN'S DAN BEATRICE


__ADS_3

Hentakan kaki yang Julien's goyangkan seakan berirama. Satu, dua, tiga, hentakan itu semakin padu dengan suara nyanyian yang keluar dari mulut Julien's. Dia menikmati suasana pagi di halaman rumahnya. Menunggu Nania mengambilkan tas kecilnya yang tertinggal di kamar.


Nania yang ditunggu akhirnya datang. Ditangannya tas Julien's ditenteng dengan begitu eratnya. Dia tak ingin tas itu jatuh, hingga dia menenteng dengan begitu kuat.


Ucapan terima kasih langsung Julien's sampaikan begitu Nania memberikan tas itu padanya. Dengan senyuman semanis madu, Nania menjawab ucapan terima kasih tersebut.


Tetapi mata Julien's yang masih bagus dalam melihat semua objek dihadapannya. Terfokus pada jari manis Nania yang nampak kosong. Beberapa hari lalu Julien's memberikan cincin seharga mobil padanya. Namun kenapa Nania tidak menggunakan cincin tersebut.


"Kemana cincin kamu?" Tanya Julien's.


Nania terkejut. Dia begitu bingung untuk menjawab pertanyaan dari Julien's. Sehingga dia menjawab dengan sedikit gelagapan.


"Emm... Ada kok." Jawabnya ragu.


"Ada kok, tapi gak di pakai?" Tanya Julien's kembali dengan tatapan tajam.


Nania terdiam sambil menundukkan kepalanya. Julien's berdiri hanya berjarak 2 sentimeter darinya. Tangan kanan Julien's mengangkat dagu lancip Nania. Kedua bola matanya benar-benar tepat menatap dua bola mata Nania.


"Kemana cincin itu?" Tanyanya mendalam.


"Aku jawab jujur, tapi kamu jangan marah." Pinta Nania.


Julien's mengangguk.

__ADS_1


"Cincin itu hilang." Ucap Nania.


"Kenapa bisa hilang?" Tanya Julien's kembali.


"Di... Lempar mbak Beatrice." Jawab Nania gugup.


Julien's menghela nafas. Kemudian dia memegang kedua pundak Nania.


"Kenapa kamu gak bilang, aku bisa tegurkan." Ucap Julien's.


"Jangan-jangan, aku mohon kamu jangan tegur dia Julien's." Pinta Nania penuh ketakutan.


"Kenapa?" Tanya Julien's bingung.


"Aku gak mau ada keributan diantara kalian berdua." Jawab Nania.


Nania terdiam. Sementara Julien's dengan wajah yang mulai kesal kembali masuk kedalam rumahnya. Dia ingin menegur Beatrice. Walaupun dari belakangnya, Nania terus mengatakan jangan dan jangan melakukan hal itu.


Pertama Julien's mendatangi kamar Beatrice. Dia tidak disana. Kemudian dia mencari di ruang tamu, tapi dia juga tidak ada disana. Ketika dia hendak berjalan ke dapur. Julien's berpapasan bertemu dengan Beatrice.


Julien's menatap tajam wajah Beatrice dengan raut wajah marah. Tangannya mulai dia kepal. Dia berusaha untuk menahan emosinya. Nania yang ada dibelakang Julien's, hanya bisa berdoa tidak terjadi keributan di pagi ini. Sebab efeknya bisa panjang.


"Kenapa, kenapa kamu menatap wajah saya seperti itu?" Tanya Beatrice sinis.

__ADS_1


"Harusnya saya yang tanya sama kamu. Kenapa kamu buang cincin Nania pemberian dari saya." Jawab Julien's dengan nada tinggi.


Kerasnya suara dari Julien's. Terdengar hingga ke kamar anak-anak. Mereka semua berlarian ke dapur untuk melihat apa yang terjadi.


Theo dan Romeo langsung memeluk Nania. Keduanya ketakutan melihat ayahnya yang nampak begitu marah. Sementara Marrie hanya bisa terdiam melihat kedua orangtuanya bertengkar.


"Karena perempuan murahan itu. Hebat, dia bisa mencuci otak kamu sejauh ini." Ucap Beatrice.


"Jangan pernah kamu bilang Nania perempuan murahan. Dia perempuan yang istimewa yang jauh dibanding dengan kamu." Julien's semakin marah.


Beatrice mulai meneteskan air mata mendengar ucapan dari Julien's.


"Kenapa kamu buang cincin Nania. Aku bahkan kasih kamu lebih dari itu. Tapi kenapa kamu tega buang pemberian dari aku untuk Nania yang tak seberapa itu." Bentak Julien's kembali.


Beatrice tak menjawab apapun. Dia tetap terdiam sambil menangis.


Semakin tingginya nada yang Julien's keluarkan, membuat Romeo dan Theo semakin ketakutan. Nania yang tak ingin keduanya trauma menyaksikan pertengkaran kedua orangtuanya. Membawa keduanya pergi. Sementara Marrie turut menangis melihat pertengkaran kedua orangtuanya.


"Nania adalah orang yang menyelamatkan aku dari perempuan pekerja malam. Dia mau menjadi istriku. Walaupun dia tidak memiliki aku sepenuhnya. Sebab aku tetap sebagai suami kamu. Tapi kenapa kamu selalu menyakiti Nania." Julien's perlahan menangis.


Beatrice tetap dengan posisinya. Dia berdiri dengan cucuran air mata yang tak henti mengalir.


Julien's bersimpuh dikedua kaki Beatrice.

__ADS_1


"Aku mohon sama kamu. Terima Nania sebagai istri kedua aku. Bukan hanya setengah hati, tapi sepenuh hati. Aku mohon Beatrice." Pinta Julien's dengan rintihan.


Beatrice tak menjawabnya. Dia lebih memilih pergi untuk masuk kedalam kamarnya.


__ADS_2