
Tiga hari tanpa Nania di rumah, tak ada perbedaan yang dirasakan oleh Beatrice. Dia tetap tak mendapat cinta Julien's kembali. Julien's tetap lebih fokus pada pekerjaan yang harus di selesaikan. Di banding dengan memperhatikan istrinya yang tengah sakit. Beatrice pun merasakan ketidak adaan Nania tidak begitu pengaruh.
Namun Beatrice tetap merasa senang, sebab dengan berada di rumah mertuanya. Nania tentu akan mendapat penyiksaan secara batin. Mengingat ibu mertuanya yang begitu membenci Nania. Fitnah Beatrice tempo hari itu, tentu tak akan semudah itu dilupakan oleh ibu mertuanya. Fitnah akan Nania sebagai simpanan dari seorang pria beristri.
Beatrice sudah membayangkan bagaimana Nania akan mendapatkan penyiksaan secara batin oleh ibu mertuanya itu. Mengingat mulut ibu mertuanya itu di kenal pedas ketika melontarkan kata-kata. Tentu Nania akan merasa seperti berada di neraka.
"Mungkin Nania tidak akan betah di sana. Terlebih dengan ocehan dari mertuanya. Tentu itu adalah penjara paling menyeramkan dalam hidup Nania. Satu tingkat di atas neraka aku pikir." Ucap Beatrice.
Untuk semakin meyakinkan dirinya akan Nania yang menjadi korban dari ganasnya mulut mertuanya itu. Beatrice langsung melakukan panggilan telepon pada mertuanya itu. Dengan begitu Beatrice bisa tahu lagi penderitaan yang tengah dirasakan oleh Nania.
__ADS_1
"Hallo mah." Beatrice memulai pembicaraan itu.
"Hallo Beatrice. Ada apa?" Tanya ibu mertuanya.
"Mama lagi dimana?" Tanya Beatrice basa-basi.
"Mama lagi menonton film dengan Nania." Jawab mertuanya dengan begitu singkat.
"Kenapa? Mama pikir Nania tidak seperti yang kamu bilang. Dia tidak sejahat yang ada di pikiran kamu Beatrice. Dia baik, dan Nania bukan seorang perempuan yang merusak rumah tangga orang." Ucap ibu mertuanya.
__ADS_1
"Tapi ma, dia tidak sebaik yang mama kira. Dia bukan perempuan baik-baik. Dia itu perempuan jahat ma." Beatrice meyakinkan ibu mertuanya.
"Kemarin jika Nania tidak menolong mama. Mungkin mama akan kedinginan di kamar mandi. Untung Nania menolong mama. Sehingga mama bisa selamat." Ucap ibu mertuanya.
Beatrice yang semakin tersudut. Akhirnya memilih untuk segera mengakhiri panggilan telepon dengan ibu mertuanya itu. Dia begitu kesal dengan Nania yang justru malah berhasil meluluhkan hati ibunya. Padahal tujuan Beatrice mengirim Nania ke rumah mertuanya, tentu untuk membuat Nania merasakan neraka dunia. Tapi kenyataannya justru sebaliknya, Nania justru mendapat keuntungan dari apa yang dilakukan oleh Beatrice. Nania semakin dekat, bahkan sukses merebut hati ibu mertuanya.
Tentu itu adalah perjudian yang gagal bagi seorang Beatrice. Dia merelakan Nania berada di rumah mertuanya. Sementara dirinya di rumah harus bekerja dengan ekstra untuk mengurus dua buah hatinya. Sekalipun dia memiliki seorang pembantu, namun Romeo yang masih kecil. Tetap harus dia mengurus. Terlebih Romeo begitu rewel, dengan kepergian dari Nania yang ke rumah neneknya.
Beatrice harus mencari cara agar Nania tetap di benci oleh ibu mertuanya. Jika Nania mendapatkan lampu hijau dari ibu mertuanya, tentu ini akan jadi alarm bahaya untuk Beatrice. Posisi Beatrice bukan hanya akan hilang di hati Julien's saja. Tapi juga akan hilang di hati ibu mertuanya. Mengingat Nania berhasil membuat ibu mertuanya luluh dengan sikapnya.
__ADS_1
Ada sedikit penyesalan dengan rencana dari seorang Beatrice yang akhirnya gagal. Dia mungkin harus mencari cara lain agar Nania tetap di benci oleh mertuanya. Mengingat cara yang telah di lakukan oleh Beatrice tidak cukup efektif. Beatrice harus mencari cara lainnya yang lebih bagus.