SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
JULIEN'S TERSIRAM MINYAK PANAS


__ADS_3

Sedikit menyimpan perasaan bersalah pada Beatrice. Suapan makanan yang masuk kedalam mulut Julien's terasa hambar. Tak selezat biasanya, dia makan dengan pikiran yang masih berkeliaran bebas.


Nania merasakan apa yang dirasakan suaminya. Dia mencuri pandang, melihat wajah putus asa seorang Julien's. Dia ingin menyemangati Julien's. Tapi dia bingung apa yang harus dia ucapkan.


Marrie melewati meja makan begitu saja. Dia melewatkan sarapan pagi yang jadi rutinitas di keluarga Julien's. Tak terdengar sedikitpun sapaan dia berikan pada ayahnya. Dia pergi begitu saja dengan tas sekolah yang dia tenteng.


Julien's mencoba memanggil Marrie. Namun amarahnya pada Beatrice di hari lalu, cukup membuat Marrie kecewa. Hingga dia mengacuhkan Julien's yang berulang kali memanggil namanya.


Julien's yang tak ingin suasana didalam rumahnya semakin dingin. Mencoba berbesar hati untuk meminta maaf pada Beatrice didalam kamarnya, sebelum berangkat kerja. Dia mendatangi Beatrice yang saat itu sedang berbaring dengan wajah yang cukup datar.


"Kenapa kamu gak sarapan?" Tanya Julien's sembaring duduk di atas kasur disamping Beatrice.


Beatrice terdiam tak bergeming.


"Kamu masih marah sama aku?" Tanya Julien's mengelus pundak Beatrice.


Lagi, Beatrice tak bergeming. Dia tetap diam dengan pandangan yang begitu kosong.


"Kalau gitu aku minta maaf sama kamu. Aku janji gak akan seperti itu lagi." Ucap Julien's.


"Gak usah berjanji. Selama ada perempuan itu di rumah ini. Akan selalu ada pertengkaran diantara kita. Mungkin ini yang akan mendewasakan kita." Ucapnya.


Julien's yang tak ingin kembali ribut. Memilih untuk pergi. Setidaknya perasaannya cukup tenang, setelah bisa meminta maaf pada Beatrice.


Nania yang sudah menunggu didepan mobil Julien's. Bersiap untuk menyambut keberangkatan Julien's. Di tangan kanan, sweater berwarna abu-abu telah disiapkan. Sementara tangan kiri, dia gunakan untuk memegang tas berisi peralatan kerja Julien's.


"Gimana, kamu sudah minta maaf sama mbak Beatrice?" Tanya Nania.


"Sudah. Walaupun dia nampaknya belum mau untuk memaafkan aku." Jawab Julien's.


Nania terdiam dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Kenapa kamu diam?" Tanya Julien's.


Nania yang terkejut langsung mengganti ekspresi wajahnya seolah-olah dia baik-baik saja.


"Enggak. Ini Sweater dan tas kamu." Ucap Nania menyodorkan sweater dan tas Julien's bersamaan.


"pakein dong ke badan aku." Goda Julien's.


Nania yang langsung tersenyum, sedikit malu-malu memakaikan sweater tersebut di badan Julien's.

__ADS_1


"Terima kasih sayang." Ucap Julien's manis.


Nania yang nampak malu-malu, tak mampu menatap tajam wajah Julien's ketika dua bola mata Julien's menyorot tajam wajahnya.


"Iya sama-sama." Jawab Nania sedikit menahan tawa.


Tanda cinta dikening yang Julien's berikan pada Nania dikeningnya. Menjadi pertanda dia harus segera berangkat. Nania begitu senang dengan ciuman yang Julien's berikan padanya di setiap pagi. Ciuman yang begitu berkesan.


Mampu menyembunyikan kesedihannya dihadapan Nania. Namun Julien's tetap tidak bisa menyembunyikan kesedihannya ketika sedang dalam perjalanan menuju tempatnya bekerja. Didalam mobil, dia terus memikirkan Beatrice yang masih belum bisa membuka pintu maaf. Belum lagi Marrie yang kecewa berat pada Julien's. Dua-duanya kini menjadi pikiran berat untuk Julien's.


Permasalahan keluarga yang dialami Julien's, tak hanya membuat perasaannya menjadi galau. Hal itu juga berimbas pada pekerjaannya. Dia nampak tak fokus bekerja. Beberapa kali tangannya nyaris terluka terkena pisau, saat akan memotong bahan masakan. Hingga asisten Julien's meminta Julien's untuk pulang. Namun Julien's menolaknya.


Puncak dari ketidak fokusan seorang Julien's adalah ketika dia hendak memindahkan minyak panas kedalam penggorengan. Tanpa sengaja, minyak panas itu sontak menyiram tangan kanan Julien's. Dia pun langsung mengerang kesakitan.


Semua stafnya langsung menolong Julien's. Mereka memberikan pertolongan pertama pada Julien's. Namun minimnya peralatan yang ada, tidak sebanding dengan luka yang dialami oleh Julien's. Sehingga akhirnya Julien's pun dilarikan ke rumah sakit.


Manajer restoran langsung menghubungi telepon rumah Julien's. Mereka ingin segera mengabarkan kecelakaan yang dialami oleh Julien's. Beberapa kali telepon itu berbunyi, namun tak satu pun ada yang mengangkat telepon itu.


Hampir 5 kali dering telepon rumah Julien's berbunyi, baru ada orang dari rumah Julien's yang mengangkat telepon tersebut. Orang tersebut adalah Beatrice. Dia yang baru kembali dari kamar mandi, mendengar bunyi telepon rumahnya. Kemudian dia mengangkat panggilan telepon tersebut.


Dia terkejut mendengar kabar Julien's yang dilarikan ke rumah sakit. Dengan tubuh lemahnya, dia tetap berusaha datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi suaminya.


Dia berlari kearah bagian administrasi untuk menanyakan kamar yang menjadi tempat suaminya dirawat. Begitu mendapat informasi tersebut, dia langsung bergegas menuju kamar perawatan suaminya.


Dia bersedih melihat Julien's nampak begitu kesakitan dengan perban yang membalut tangan kanannya, dibalik cermin kecil pintu ruang perawatan Julien's. Tangan kanannya mulai dia letakan di gagang pintu. Heg.. Dia menurunkan gagang pintu itu untuk masuk kedalam ruang perawatan Julien's.


Beatrice memberikan senyum begitu berada didalam ruang perawatan Julien's. Perlahan dia menghampiri Julien's yang nampak begitu kesakitan dengan luka bakar yang dia alami.


"Gimana kondisi tangan kamu?" Tanya Beatrice.


"Masih sakit, terasa panas." Jawab Julien's.


Beatrice terdiam, dia bingung untuk bertanya apalagi pada Julien's. Komunikasi yang kurang, seakan membuat ada rasa canggung dalam diri Beatrice.


"Kamu haus?" Basa-basi Beatrice.


Julien's menggelengkan kepalanya.


"Kamu sudah kasih tahu Nania tentang musibah yang aku alami?" Tanya Julien's.


"Belum." Sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau kamu gak mau kasih tahu Nania, biar aku kasih tahu dia. Tapi aku boleh minta tolong untuk ambilkan ponselku?" Ucap Julien's.


"Gak usah, biar aku aja yang kasih tahu dia." Ucap Beatrice.


"Terima kasih." Tutup Julien's.


Dihadapan Julien's, Beatrice langsung menelpon Nania menggunakan ponselnya. Hatinya terasa begitu sakit. Ketika dia benar-benar khawatir dengan kondisi Julien's. Tetapi Julien's justru malah memikirkan Nania. Sungguh sakit untuknya. Pengorbanan dia seolah tak ada artinya untuk Julien's.


Begitu telepon pada Nania terhubung, Beatrice langsung mengarahkan pada telinga kiri Julien's.


"Hallo mbak." Sapa Nania.


"Hallo sayang, tangan ku terkena minyak panas. Sekarang aku ada di rumah sakit di dekat restoran." Jawab Julien's.


Nania terkejut. Dia langsung bergegas menuju rumah sakit dari sekolah Theo. Dalam waktu singkat, dia berjanji akan segera sampai di rumah sakit.


Nania membuktikan ucapannya, tak sampai 30 menit dia sudah sampai di rumah sakit. Dia segera mencari kamar yang menjadi ruang perawatan dari Julien's. Begitu dia sampai, dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu dengan wajah yang nampak begitu panik.


Kedatangan Nania membuat Beatrice memilih untuk pergi. Dia memilih untuk menunggu Julien's diluar kamar perawatannya. Hingga Nania dan Julien's bisa bermesraan berdua.


"Kenapa kamu bisa sampai tersiram seperti ini Julien's?" Tanya Nania tetap dengan wajah.


"Pikiran ku sedang kacau, makanya aku gak bisa fokus." Jawab Julien's.


"Tapi luka bakarnya tidak terlalu parahkan?" Tanya Nania.


"Tidak sih, tapi terasa panas sekali." Terang Julien's.


"Mau aku kipasin?" Tawar Nania.


"Boleh, kalau kamu gak pegal."


Nania mencari benda yang bisa digunakan sebagai kipas dadakan untuk Julien's. Dia menggunakan selembar yang dia dapat dari SPG di jalanan. Dengan sekuat tenaga dia menggoyangkan selembar itu untuk menghasilkan angin yang bisa mendinginkan tangan Julien's.


"Gimana, lebih baik?" Tanya Nania.


"Gak berasa." Jawab Julien's sedikit tertawa.


Sambil mengipasi dengan selembar itu, Nania juga menggunakan mulutnya untuk memberikan sedikit hembusan angin pada tangan Julien's. Namun tipuan dari Nania itu justru membuat Julien's geli. Dia malah tertawa merasa geli ketika angin yang Nania tiupkan dari mulutnya menyentuh bagian tangannya.


Diluar kamar, Beatrice hanya bisa memandangi kemesraan yang terjadi antara Julien's dan Nania. Dia cemburu, tapi itu sudah menjadi resiko yang harus dia terima. Sehingga hanya air mata yang bisa menenangkan dirinya dari rasa cemburu tersebut.

__ADS_1


__ADS_2