
Raut wajah marah pasti nampak dari ekspresi wajah Julien's. Kecewa yang berujung pada amarah terhadap Nania itu seakan membuatnya begitu tak selera untuk sarapan. Dia tak memakan sedikit pun makanan yang ada di piringnya. Dia hanya terdiam dengan pikiran kacau sambil menatap piring.
"Kenapa gak makan kamu?" Tanya Beatrice menatap Julien's.
"Aku sedang gak nafsu makan." Jawab Julien's.
"Bukan karena perempuan itu gak ada di meja makan?" Sindir Beatrice.
Tak mau meladeni ucapan Beatrice. Julien's memilih untuk langsung berangkat.
"Kalau gitu aku berangkat dulu. Anak-anak ayah berangkat dulu." Ucap Julien's sambil mengusap kepala Romeo.
Tak pamit pada Nania. Julien's pergi dengan begitu saja. Sementara Nania masih mengurung diri didalam kamar, pasca cekcok hebat dengan Julien's semalam.
Didalam mobilnya, Julien's tetap merasakan perasaan bersalah yang teramat besar pada Nania. Amarahnya yang membuat Nania menangis membuat dia begitu merasakan perasaan itu. Walaupun merasa bersalah, namun ego Julien's yang begitu tinggi. Memaksanya untuk menjadi seorang pria yang egois dan enggan meminta maaf.
Nania yang sedikit kecewa pada Julien's yang tak kunjung mempercayai omongannya. Memilih untuk mengurung diri di kamar. Dia hanya memandangi photo Julien's di ponselnya. Dengan mata sembab, dia berusaha terlihat baik-baik saja ketika keluar dari kamar.
Sekuatnya Nania menyembunyikan perasaan sedihnya. Tetap saja mata sembab yang nampak jelas terlihat, tak bisa disembunyikan. Bahkan seorang Romeo pun dapat merasakan kesedihan dari seorang Nania. Sehingga dia berusaha menghibur Nania ketika Nania keluar dari kamarnya.
Romeo mengajak Nania bermain bersama. Dari bermain mobil-mobilan, hingga Romeo mengajak Nania bermain lari-larian di dalam rumah.
__ADS_1
Romeo begitu senang bermain lari-larian dengan Nania. Dengan lincah dia menghindar dari kejaran Nania. Romeo yang aktif berlari kesana-kemari menghindari kejaran Nania.
Tak terkecuali di dalam kamar Marrie yang terbuka. Romeo yang sudah terdesak, berlari ke kamar Marrie. Kemudian dia berlari kesana-kemari menghindari Nania. Hingga tanpa sengaja dia menendang tong sampah yang terletak disamping lemari baju Marrie.
Berceceran semua sampah di dalam kamar Marrie. Sampah yang di dominasi oleh sisa makanan, cukup mengotori lantai kamar Marrie. Sehingga Nania harus segera merapikan semua sampah itu, sebelum Beatrice mengetahuinya.
Satu persatu sampah itu Nania pungut. Sampai sebuah plastik berwarna merah yang berisi dua foundation membuat Nania tertarik untuk melihatnya. Perlahan dia membuka plastik itu, kemudian mengeluarkan isi yang ada didalam plastik tersebut.
Nania terkejut ketika mengeluarkan benda yang ada didalam plastik tersebut. 2 buah foundation dari dua jenis berbeda. Satu adalah foundation yang Marrie beli sendiri. Sedangkan satu lagi yang masih dalam sebuah kardus kecil, foundation milik Nania.
Ketika Nania membuka foundation yang Marrie beli sudah hampir habis. Sementara begitu Nania buka kardus berisi foundation pemberiannya, foundation itu masih tersegel. Sehingga ini bisa menjadi bukti jika jerawat yang timbul di wajah Marrie, bukan berasal dari foundation pemberiannya. Tetapi foundation yang Marrie beli sendiri.
Satu jam menuju waktu istirahat Julien's. Nania sudah tampil cantik dengan sebuah midi dress berwarna biru muda dan rambut yang diikat keatas. Nania bersiap menemui Julien's di salah satu restoran. Dia tak sabar untuk membuktikan ucapannya pada Julien's
Dengan sebuah midi dress berwarna biru muda. Nania begitu terlihat cantik. Rambutnya yang ikat keatas dan sebuah tas mahal pemberian dari Julien's, semakin membuat Nania terlihat elegan. Dia tak sabar untuk bertemu dengan Julien's.
Sebuah kafe yang tak jauh dari restoran kerja. Nania menunggu dengan sebuah kopi yang telah menemaninya hampir setengah jam. Baru setelah Nania ingin menambah kopi miliknya, Julien's datang. Tanpa ekspresi apapun, Julien's duduk menghadap Nania.
"Kamu masih marah sama aku?" Tanya Nania.
"Aku tidak pernah marah sama kamu, tapi..." Jawab Julien's menggantung.
__ADS_1
"Tapi kecewa. Itu yang ingin kamu bilang." Lanjut Nania.
Julien's menatap wajah Nania. Kemudian Nania penuh percaya diri mengeluarkan foundation yang dia temukan di kamar Nania.
"Ini foundation yang aku berikan pada Marrie. Dan ini foundation milik Marrie. Lihat, foundation yang aku berikan pada Marrie masih di segel. Bagaimana bisa foundation dari ku bisa buat wajah Marrie berjerawat." Tegas Nania.
Julien's yang awalnya kurang begitu simpatik, tiba-tiba langsung merasa bersalah begitu melihat bukti yang diberikan oleh Nania. Wajahnya penuh rasa bersalah. Julien's langsung menggenggam tangan Nania yang berada diatas meja.
Wajah Julien's penuh penyesalan. Dia menatap wajah Nania dengan tatapan yang sayu. Matanya perlahan berkaca-kaca.
"Maafin aku Nania. Aku telah percaya pada Marrie, Aku gak pernah mau mendengarkan penjelasan dari kamu." Ucap Julien's.
Nania yang sebenarnya sedikit kecewa dengan keegoisan Julien's. Ingin marah pada Julien's, tetapi wajah Julien's yang penuh penyesalan dan air mata. Perlahan rasa marah itu, berubah menjadi perasaan iba pada Julien's.
Melihat Julien's berderai air mata. Nania pun turut berderai air mata juga. Dia tak tega melihat Julien's diliputi perasaan bersalah padanya. Sehingga dia berusaha untuk menghibur Julien's.
"Iya Julien's, aku udah maafin kamu. Bahkan ketika kamu belum minta maaf pun aku sudah maafin kamu." Ujar Nania.
Julien's langsung mencium kedua tangan Nania. Kedua matanya juga terpejam begitu mendengar ucapan dari Nania. Dia bahagia Nania mau memaafkannya.
Pikirannya sekarang hanya berfokus pada Marrie. Dia memikirkan hukuman apa yang pantas dia berikan pada Marrie. Mengingat apa yang Marrie lakukan begitu kejam pada Nania. Nania pun menyarankan pada Julien's untuk tidak melakukan tindakan apapun pada Marrie. Menurutnya Julien's hanya perlu menegur Marrie saja, tanpa harus menghukum Marrie.
__ADS_1