SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
PERTEMUAN KEMBALI NANIA DENGAN IBU MERTUANYA


__ADS_3

Tak lama dari Alex yang berangkat kerja ke rumah sakit. Terdengar dari kamar Nania seseorang yang membanting pintu rumah dengan begitu kerasnya. Nania yang sedang merapikan bajunya kedalam lemari. Seketika terkejut dengan suara yang terdengar tersebut.


Dia keluar dari kamarnya. Melihat orang yang membanting pintu dengan keras tersebut. Jarak kamarnya yang cukup jauh dengan pintu masuk. Tak dapat Nania lihat dengan jelas orang yang masuk kedalam rumah tersebut.


Nania baru ingat, mungkin orang yang masuk itu adalah ibu dari Alex. Siapa lagi yang menjadi penghuni rumah ini. Rumah yang besar, tapi sebagian sudut ruangannya diisi oleh mahluk tak kasat mata. Mungkin itu yang ada di pikiran Nania. Mengingat sunyinya kondisi rumah mertuanya tersebut.


Nania yang semakin penasaran, akhirnya turun dari lantai atas. Sudah jelas, dia ingin melihat orang yang membanting pintu tadi. Apa benar orang tersebut adalah mertuanya. Tapi kenapa dia membanting pintu dengan begitu kerasnya. Apa dia sedang marah? Pikir Nania dalam hatinya.


Ternyata benar dugaan dari Nania. Orang yang membanting pintu itu adalah mertuanya. Dia terlihat cukup kelelahan bersandar diatas sofanya. Wajahnya terlihat cukup kesal. Dengan mulut yang tak berhenti mengoceh memaki nama seseorang.


Mungkin ibu mertuanya haus, usai pulang dari kumpul-kumpul bareng genk sosialitanya. Ini saat yang tepat untuk Nania bisa sedikit lebih akrab dengan ibu mertuanya. Menawarkan minuman yang segar, sepertinya akan berjalan baik. Mengingat ibu mertuanya tentu haus. Sehingga yang dia butuhkan saat ini adalah segelas air untuk membasmi rasa hausnya tersebut.


Jantung Nania berdetak cukup kencang. Sedikit demi sedikit suara itu mulai terdengar ditelinga Nania. Suara yang mulai terdengar juga ke telinga ibu mertuanya, ketika berada dihadapannya.


Ibu mertua Nania sedikit terkejut dengan kedatangan dari Nania yang jauh lebih awal dari prediksinya. Matanya semakin melotot, kekesalan darinya kian memuncak. Terlebih dia mendengar suara detak jantung Nania yang terdengar begitu hebatnya.


"Mau apa kamu menghampiri saya?" Tanya ibu mertua Nania dengan begitu sewotnya.


"Sa-sa-saya cuman ingin menawarkan minum buat ibu." Tawar Nania.


"Saya tidak haus! Jadi jangan coba-coba untuk merayu saya." Balas mertua Nania dengan begitu sewotnya.

__ADS_1


Nania yang berharap akan ada obrolan lain, antara dirinya dengan ibu mertuanya itu. Berdiri dihadapan ibu mertuanya. Dia sedikit menatap wajah mertuanya yang terlihat masih menyimpan kekesalan.


"Kenapa kamu masih disini? Saya sudah muak melihat wajah kamu. Jadi saya harap kamu segera pergi dari sini!" Titah ibu mertuanya dengan tegas.


"Ibu tidak ingin saya bawakan makan, atau minum. Saya siap membawakan makan siang untuk ibu." Tawar Nania semakin ramah.


"Tidak! Saya tidak butuh itu semua. Saya pikir kamu harus sadar, kamu itu perempuan yang tidak pantas untuk di hargai. Diri kamu hina, saya tidak ingin memakan makanan dari perempuan hina seperti kamu. Kalau Beatrice tidak menyuruh kamu membantu saya. Mungkin saya akan menolak mentah-mentah kamu disini. Untung saja Beatrice meminta saya buat nampung kamu. Makanya saya mau nampung kamu." Hina ibu mertua Nania dengan begitu kasarnya.


Ucapan tajam, setajam belati yang mencabik-cabik daging. Cukup membuat air mata Nania terjatuh. Bagaimana tidak, ucapan ibu mertuanya seakan tidak ada penyaringan sama sekali. Semuanya berjalan begitu saja. Tanpa ada penyaringan yang dilakukan oleh dirinya. Ini cukup menyakitkan untuk Nania terima. Namun ini adalah resiko yang harus ditanggung oleh Nania. Mengingat konsekuensi yang harus didapat Nania, setelah melanggar perjanjian dari Beatrice.


Nania yang tak kunjung pergi dari hadapan ibu mertuanya. Seketika langsung didorong kasar oleh ibu mertuanya tersebut. Seolah tak memiliki perasaan sama sekali, dia mendorong Nania dengan begitu kasarnya.


"Sudah saya bilang kamu pergi dari sini. Kenapa masih disini saja. Saya sudah muak dengan keberadaan kamu disini." Ucap ibu mertuanya kembali dengan begitu kasarnya.


Nania berjalan dengan tetesan air mata yang mulai membasahi wajahnya. Rasa sakit yang ia terima, tak mampu ia tahan. Hingga menangis menjadi jalan terakhir untuk menghilangkan segala rasa sakit yang dia dapatkan.


Didalam kamar, air mata itu seakan sulit terbendung. Air mata itu semakin deras menetes dari kedua matanya. Terlebih saat Nania mengingat ucapan dari mertuanya yang begitu kasar. Sungguh mengiris hatinya.


Dering dari ponselnya berbunyi. Suara panggilan telepon dari seseorang membuat Nania langsung mengambil ponselnya yang ia taruh di saku celana. Begitu dia melihat nama Julien's di layar ponselnya. Nania berusaha menghentikan tangisannya tersebut, sebelum mengangkat panggilan telepon dari Julien's.


Saat Nania rasa sudah tidak ada tangisan lagi yang terdengar. Baru Nania mengangkat panggilan telepon dari Julien's tersebut.

__ADS_1


"Iya sayang." Nania memulai pembicaraan dengan nada sendu.


Julien's yang mendengar sesuatu yang aneh dengan suara Nania. Langsung mengalihkan panggilan telepon itu, menjadi panggilan video call. Julien's khawatir terjadi sesuatu pada Nania.


Sama seperti di panggilan telepon, Nania juga menyeka terlebih dahulu air mata yang membasahi wajahnya. Dia tak ingin Julien's melihat dalam keadaan bersedih. Suatu hal yang tentunya tidak boleh terjadi. Mengingat Julien's tentu akan khawatir jika melihat Nania bersedih.


Begitu sudah tidak ada air mata yang membasahi wajahnya. Nania langsung mengangkat panggilan video call dari Julien's tersebut. Wajahnya tersenyum dengan begitu terpaksa. Mungkin itu senyuman yang paling dipaksakan oleh Nania untuk Julien's.


Tanpa melihat senyum palsu dari seorang Nania. Mata sembab dari Nania juga, cukup untuk membuat Julien's tahu. Jika Nania baru saja menangis dengan begitu hebatnya. Mata Nania memerah, begitu juga dengan sedikit air mata yang masih membasahi bulu mata Nania. Semakin membuat Julien's dapat melihat jika Nania baru saja menangis hebat.


"Kamu menangis kenapa sayang?" Tanya Julien's dengan begitu paniknya.


"Tidak. Mataku hanya kelilipan saja." Jawab Nania membersihkan matanya.


"Ayolah sayang, jangan berbohong seperti itu. Aku bisa merasakan kesedihan yang kamu rasakan. Jadi kamu tidak bisa berbohong seperti itu." Jelas Julien's dengan begitu tegasnya.


"Enggak sayang. Aku serius. Semuanya baik-baik saja. Jadi kamu tidak usah khawatir seperti itu. Semuanya baik-baik saja. Jadi tidak ada yang harus kamu khawatirkan." Pinta Nania dengan begitu tegasnya.


"Tapi kamu yakin baik-baik saja. Aku gak mau kamu disana di jahatin atau seperti apa. Aku tidak ingin itu terjadi sayang." Julien's semakin panik.


"Tidak, semuanya baik-baik saja. Ok sayang." Jelas Nania.

__ADS_1


Nania terpaksa harus menutup panggilan telepon tersebut. Dengan alasan ingin menyediakan makan siang untuk ibu Julien's. Nania berhasil mengakhiri panggilan video tersebut. Hingga Julien's tidaklah bertanya pada Nania.


__ADS_2