
Tak ingin melewatkan waktu bersama Oscar. Hari libur sekolah di hari ini, dimanfaatkan Marrie untuk jalan-jalan bersama Oscar dengan mobil barunya. Marrie ingin memutari kota Nice dengan mobil itu.
Sepanjang perjalanan Marrie tak ingin melewatkan segala rupa pemandangan yang ada di kota Nice. Gedung-gedung tinggi yang menapaki langit. Deburan ombak yang menari-nari di pinggir pantai. Hingga panorama alam yang indah, ingin Marrie rasakan bersama Oscar hari ini.
Kebetulan paket baju yang dipesan oleh Marrie, kemarin telah tiba. Dimana Marrie bisa mengenakan baju itu untuk pergi jalan-jalan bersama Oscar. Marrie tak sabar untuk mengenakan baju itu. Dalam pikirannya, Marrie akan terlihat cantik dengan baju baru itu. Hingga mungkin Oscar akan terpesona dengan baju baru yang Marrie kenakan.
Sepanjang sarapan bersama keluarganya, Marrie tak henti tersenyum. Semuanya heran dengan senyum yang terlukis di wajahnya. Terlebih Beatrice yang tak suka dengan senyuman yang Marrie tunjukkan. Dia langsung meminta Marrie untuk tidak senyum seperti itu lagi.
"Ada apa kamu tersenyum seperti itu?" Tanya Julien's penasaran pada Marrie.
"Enggak ayah. Aku cuman lagi bahagia saja." Jawab Marrie malu-malu.
"Bahagia mau bertemu dengan kak Oscar?" Celetuk seorang Theo.
Marrie semakin malu-malu. Matanya melotot mengarah ke Theo. Marrie seolah ingin mengatakan, jangan disebut nama seorang Oscar. Cukup tahu saja.
__ADS_1
"Theo tahu dari mana, kak Marrie akan bertemu dengan kak Oscar?" Tanya Julien's pada Theo.
"Enggak dari siapa-siapa. Theo tahu saja." Jawab Theo dengan polosnya.
Julien's serta Nania seketika tertawa dengan ucapan polos dari Theo. Tingkah lucu Theo tersebut membuat keduanya tak bisa menahan tawa. Marrie sendiri semakin malu-malu. Terlihat dari wajah Marrie yang mulai memerah dengan ucapan dari Theo tersebut.
Beatrice yang sedari tadi terdiam saja. Akhirnya mengutamakan pendapatnya. Mungkin bukan sebuah pendapat, tapi lebih mengarah pada sebuah larangan pada Marrie.
"Mama minta kamu jangan terlalu dekat dengan anak jalanan itu. Sepertinya dia bukan orang baik-baik. Jadi Mama harap kamu jangan terlalu dekat dengan anak itu." Pinta Beatrice dengan begitu tegasnya.
"Tahu darimana kamu jika dia tidak baik? Jangan asal bicara saja. Jika dia tidak baik, mana mungkin dia menolong aku saat keadaan aku begitu payah waktu itu." Banyak Julien's dengan sedikit kesal pada Beatrice.
"Aku pikir Oscar anak yang baik. Dia terlihat sopan ketika bertemu dengan orang baru seperti kita." Pendapat Nania.
"Dia gak jauh beda dari kamu. Terlihat polos, tapi aslinya jahat. Memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Perempuan munafik." Serangan Beatrice pada Nania.
__ADS_1
Prak... Julien's memukul meja. Kemudian dia berdiri dengan kedua matanya yang menatap tajam wajah Beatrice.
"Nania tidak mungkin akan membalas ucapan kotor kamu. Tapi aku sebagai suami dari Nania, memiliki hak untuk membela istri aku. Apa yang kamu katakan sungguh tidak mendasar. Kamu mengatakan hal yang sama sekali tidak ada dalam konteks obrolan kita." Amuk Julien's.
Tak ingin kalah dari Julien's. Beatrice juga turut berdiri. Jari telunjuk darinya tepat menunjukkan kearah wajah Julien's.
"Kalian berdua adalah orang-orang munafik. Dimana kalian adalah seorang pendosa besar. Kalian berselingkuh dibelakang aku. Kemudian memanfaatkan keadaan lemah yang ada pada diriku untuk mengambil kesempatan untuk menikah. Kalian adalah pendosa besar!" Balas Beatrice dengan amukan juga.
Tak terima dengan perkataan dari Beatrice, Julien's yang naik darah. Langsung melayangkan sebuah tamparan keras di pipi kiri Beatrice.
Melihat suasana yang semakin panas, Nania langsung membawa Theo dan Romeo menjauh dari tempat meja makan. Nania tak ingin kedua anak tirinya itu melihat pertikaian dari kedua orangtuanya. Sebab itu bisa mengganggu mental dan psikisnya.
Marrie juga turut bersedih melihat keributan yang terjadi antara Julien's dengan Beatrice. Dia merasa bersalah telah membuat Julien's dan Beatrice ribut. Marrie yang mulai menangis meminta Julien's dan Beatrice untuk menghentikan keributan yang terjadi diantara keduanya.
Beatrice yang kadung sakit hati dengan Julien's. Langsung menyiramkan segelas air putih dihadapannya tepat di wajah Julien's. Sebelum Beatrice pergi ke kamarnya, ia mengatakan akan semakin membenci Nania dengan apa yang terjadi di hari ini. Beatrice akan membuat hidup Nania menderita seperti apa yang dia rasakan.
__ADS_1
Julien's yang sudah mulai dapat mengontrol emosinya. Perlahan mulai mendingin. Tidak ada lagi amarah yang menggebu didalam hatinya. Sedikit penyesalan dari dirinya ketika menampar Beatrice dihadapan ketiga anaknya. Tentu itu adalah contoh yang tidak baik untuk ketiga anaknya. Terlebih ketiga anaknya begitu dekat dengan Beatrice. Tamparan itu, bisa saja membuat Julien's dibenci oleh ketiga anaknya sendiri.
Julien's menjatuhkan kembali tubuhnya diatas kursi. menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dengan penuh penyesalan dalam hatinya. Julien's menunduk, sambil membayangkan seharusnya dia tidak melakukan tindakan konyol tersebut. Nasi telah jadi bubur. Tentu penyesalan itu hanya tinggal penyesalan yang barang tentu akan disesali oleh Julien's sepanjang hari.