SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
MAKAN DI RESTORAN KOREA


__ADS_3

Waktu makan siang telah hampir. Pertanda waktu makan siang itu hampir tiba, dengan bunyi keroncongan dari perut Alex yang terdengar begitu nyaring. Alex pun mulai mengajak Nania untuk makan siang bersama.


Sebenarnya Alex ingin mengajak Nania makan siang berdua saja. Dengan begitu, Alex akan memiliki waktu bersama Nania lebih banyak lagi. Waktu yang tentu di butuhkan Alex dalam upaya mendekati Nania. Namun Romeo dan Theo yang juga ingin makan siang bersama dengan Alex dan Nania. Akhirnya makan berdua itu gagal, berganti menjadi makan berempat antara Nania, Alex, Romeo dan Theo.


Awalnya makan siang itu akan berlangsung di kantin rumah sakit. Tapi rencana itu di ubah, setelah Romeo ingin memakan makanan Korea seperti dimsum dan bulgogi. Hingga rencana makan Alex yang sederhana itu, berubah menjadi makan siang yang cukup ekslusif di sebuah restoran Korea. Alex tak bisa menolak permintaan dari Romeo, mengingat permintaan dari Romeo itu adalah perintah. Hingga Alex harus menuruti permintaan dari Romeo tersebut. Alex mengajak Nania, Romeo dan Theo menuju restoran Korea yang berada tak jauh dari lokasi rumah sakit.


Tak harus menggunakan mobil untuk sampai di restoran Korea itu. Cukup berjalan kaki saja, rombongan Alex itu sudah sampai di restoran yang di tuju oleh mereka berempat. Suka cita langsung terlihat dari wajah Romeo. Dimana tak lama lagi Romeo akan menyantap dimsum lezat yang akan dia makan.


Sebenarnya bukan Romeo yang menginginkan dimsum itu. Romeo sendiri di hasut oleh Theo. Kemarin teman-temannya menceritakan perihal dimsum pada Theo di sekolah. Hingga Theo tertarik untuk menyantap dimsum yang di kenal memiliki cita rasa yang cukup lezat itu. Apalagi ketika di cocok dengan saus tiram dimsum yang juisy, semakin menambah kelezatan dari dimsum itu sendiri.


"Romeo tahu dimsum dari siapa?" Tanya Alex sambil membuka menu yang ada di restoran itu.


"Romeo tidak tahu dimsum. Tapi Theo yang tahu dimsum." Jawab Romeo dengan begitu polos.


"Jadi yang memberitahu dimsum itu Theo. Pantas, om Alex curiga. Romeo tahu dari mana soal dimsum." Balas Alex.


Theo yang akhirnya ketahuan telah menghasut Romeo untuk makan dimsum. Mulai malu-malu. Theo bersembunyi di balik buku menu yang besar. Dia tak ingin melihat wajah kesal Alex menghantam dirinya. Hingga cara terakhir di lakukan Theo adalah dengan menutup wajahnya. Alex pun tak akan bisa menatap wajahnya tersebut.

__ADS_1


"Tidak apa Theo. Om Alex tidak marah. Kenapa Theo menghasut Romeo untuk makan dimsum?" Tanya Nania dengan begitu lembut pada Theo.


"Theo tidak ingin mengganggu om Alex dan mama Nania. Tante Alex dan mama Nania pasti mau pergi ke kantin buat makan berdua. Makanya Theo menghasut Romeo untuk ikut makan bersama om Alex dan mama Nania. Theo kasihan sama ayah." Jelas Nania dengan begitu polosnya.


"Kasihan! Kenapa kasihan Theo?" Tanya Alex penasaran.


"Ayah begitu sayang pada mama Nania. Dia menci...." Ucap Theo yang terpotong.


Ucapan dari Theo terpotong, usai seorang pelayan tanpa sengaja menjatuhkan gelas kaca. Seketika satu restoran heboh dengan beberapa gelas kaca yang terjatuh itu. Begitu juga dengan Alex dan Nania yang langsung beralih fokus pada gelas-gelas yang jatuh tersebut.


Begitu Alex ingin menanyakan kembali ucapan dari Theo. Seorang pelayan mendatangi meja tempat Alex berada. Mungkin sudah hampir 5 menit mereka berada di sana. Sehingga pelayan itu harus segera menawarkan menu yang akan di pesan oleh Alex dan Nania.


"Untuk minumnya apa saja mas?" Tanya si pelayan.


"Jus strawberry." Ucap Theo spontan.


"Tidak, aku ingin jus apel." Ucap Romeo yang tak mau kalah.

__ADS_1


"Kalau tante, eh maksudnya mama Nania mau apa?" Tanya Alex yang membuat Nania langsung salah tingkah.


"Aku air putih saja." Jawab Nania yang terlihat malu-malu.


Semua pesanan dari meja Alex sudah di pesan. Pelayan itu segera pergi kembali untuk segera membawa pesanan yang Alex pesan. Mungkin dalam beberapa menit ke depan, makanan itu akan segera tiba. Mengingat restoran tersebut yang sangat mengutamakan pelayanan pelanggan yang baik. Hingga makanan yang akan di hidangkan pada meja pelanggan, tentu hidangan yang super cepat jadi.


Alex yang penasaran dengan kelanjutan dari ucapan seorang Theo. Kembali membuka obrolan yang sempat tersela oleh kedatangan dari seorang pelayan tadi. Alex ingin Romeo melanjutkan ucapannya yang tentu memiliki arti tersendiri.


Nania tak ingin Alex tahu, bahkan curiga kepada dirinya. Dia langsung mencoba mengalihkan pembicaraan yang awalnya coba Alex arahkan ke sana. Nania mengajak Theo untuk mengobrol perihal kegiatan dirinya di sekolah yang tentu lebih menarik untuk di bahas.


Obrolan pun benar-benar berubah, ketika Nania dan Alex bernostalgia. Keduanya mengingat momen ketika sekolah dulu. Mungkin itu akan jadi momen yang paling indah untuk di ingat. Mengingat momen itu memiliki kesan yang indah. Hingga Nania dan Alex tak bisa melupakan momen tersebut.


Romeo yang belum sekolah, hanya bisa menyimak pembicaraan dari ketiga orang yang ada di hadapannya. Dia tak mengerti, hingga Romeo fokus memainkan sumpit yang berada di hadapan dirinya.


"Aku pikir obrolan kita cukup diskriminatif bagi seorang Romeo." Ucap Theo sambil tertawa.


"Oh iya, om lupa. Jagoan kita belum sekolah. Jadi dia pasti tidak paham dengan obrolan kita ini." balas Alex mengelus lembut rambut seorang Romeo.

__ADS_1


Semuanya langsung tertawa melihat wajah bingung dari Romeo, ketika di tatap dengan begitu tajamnya. Dia seolah bingung mengapa ketiga orang yang ada di hadapannya menatap dirinya dengan begitu tajam. Hingga Romeo pun kebingungan dengan tingkah orang-orang yang ada di hadapannya tersebut.


__ADS_2