
Nania tak menerima baik kedatangan seorang Julien's. Dia masih terlihat begitu kesal dengan seorang Julien's yang telah membuat Nania sakit hati dengan ucapannya. Nania tak membiarkan Julien's untuk tidur bersama dirinya di dalam kamar. Nania meminta Julien's untuk tidur di sofa rumahnya. Sementara Nania tidur sendirian di kamarnya.
Sebelum pagi datang, Nania menyempatkan diri untuk melihat Julien's yang tidur kedinginan di atas sofa. Sebenarnya Nania cukup kasihan dengan Julien's yang tidur di sofa. Tapi itu adalah keputusan Nania. Nania ingin memberikan Julien's pelajaran, akan pentingnya mendengarkan. Sebab Julien's begitu mudah untuk mencerna ucapan dari pihak luar, tanpa mau mendengar penjelasan seorang Nania yang juga istrinya.
Julien's yang begitu kedinginan dengan suasana pagi di Brest. Melipat kedua tangannya di atas perut. Kakinya juga di lipat, hingga ada sedikit kehangatan yang bisa Julien's rasakan.
Melihat suaminya yang begitu kedinginan, Nania dengan segera mengambil sebuah selimut. Dengan penuh perhatian dan cinta, Nania menyelimuti tubuh kedinginan seorang Julien's dengan selimut tersebut. Hingga Julien's bisa sedikit merasakan kehangatan.
Baru akan meninggalkan Julien's, Nania langsung terkejut. Julien's ternyata terbangun. Dia langsung memeluk tubuh Nania dari belakang. Melampiaskan semua rasa cintanya pada seorang Nania.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang." ucap Julien's dengan begitu tulusnya.
Seketika Nania dilema besar. Di hatinya sudah ada sebuah kata maaf untuk Julien's. Tapi mulutnya seolah sulit untuk mengucap kata maaf itu. Hingga Nania harus bingung untuk memutuskan apa yang akan dia ucapkan pada Julien's.
Sebagai benteng pertahanan terakhir, Nania akhirnya memilih untuk menangis saja. Mungkin dengan menangis Julien's bisa memahami perasaan Nania yang cukup bersedih akan ucapan dari Julien's. Nania ingin Julien's lebih memahami lagi perasaan cintanya yang besar pada seorang Julien's. Hingga Julien's sudah membuang rasa cemburunya pada Nania. Nania tidak akan mengkhianati perasaan cinta seorang Julien's. Hingga Julien's tidak harus khawatir, apalagi takut. Hanya itu saja permintaan seorang Nania pada Julien's.
"Ini salah aku. Aku yang terlalu berlebihan pada kamu. Seharusnya aku tidak harus cemburu lagi pada Alex. Aku tahu cinta kamu begitu besar padaku. Sehingga aku tidak harus takut kehilangan kamu." ucap Julien's dengan begitu ketir.
Melihat Julien's yang begitu merasa bersalah. Nania langsung memeluk tubuh Julien's. Kembali menangis hebat di pelukan Julien's.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah mengkhianati cinta kita Julien's. Aku janji akan hal itu. Kamu tidak harus takut Julien's." ucap Nania yang terus menangis.
Mendengar tangisan dari Julien's dan Nania. Ibu Nania keluar dari dalam kamarnya. Kemudian dia menghampiri Nania dan Julien's.
Melihat kedatangan ibunya, Nania segera melepaskan pelukannya dari Julien's. Begitu juga dengan air matanya. Nania langsung mengusap air matanya yang sedari tadi menetes dengan begitu derasnya. Hingga wajah Nania di penuhi oleh air matanya sendiri.
"Ibu senang kalian sudah baikan kembali. Bahagia rasakan kalian bisa seperti ini kembali. Ibu berharap kalian bisa lebih dewasa lagi di masa mendatang. Sebab ini adalah ujian pernikahan yang sesungguhnya. Kalian harus bisa melewati ini semua. Melewati semua ini dengan penuh kedewasaan." Nasehat ibu Nania dengan bijaknya.
Julien's merangkul Nania. Dia berjanji untuk bisa lebih membimbing Nania kembali. Julien's mengakui dirinya terkadang memang masih belum bisa dewasa secara psikologis. Padahal usianya hampir menginjak 40 tahun. Seharusnya Julien's yang bisa menenangkan Nania, bukan justru ibu Nania yang bisa mendamaikan keduanya.
__ADS_1