SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
NANIA MENCARI BUKTI KEBOHONGAN MARRIE


__ADS_3

Nania nampak gusar di kamarnya, duduk berdiri. Kembali duduk, lalu kembali berdiri. Beberapa hal itu dilakukan Nania, ketika Julien's tak kunjung mengunjungi kamarnya.


Kala pagi sebuah kecupan manis diberikan Julien's pada Nania. Aroma tubuh Nania dikala pagi menjadi aroma yang paling disukai oleh Julien's. Namun pagi ini Julien's tak mengunjungi kamarnya.


Dengan wajah menunduk, Nania bergegas menuju meja makan. Tidak seperti biasanya digandeng Julien's menuju meja makan. Pagi ini Nania pergi dengan sendirinya. Sementara Julien's telah duduk di kursi miliknya.


Senyuman yang diberikan pada Julien's tak terbalaskan. Julien's nampak sedikit kesal pada Nania. Dia tak mau membalas senyum Nania, bahkan untuk melirik pun dia enggan.


Julien's terpengaruh oleh fitnah dari Marrie. Sehingga dia percaya kosmetik yang diberikan oleh Nania adalah penyebab jerawat pada wajah Marrie. Dia pun bersikap begitu dingin pada Marrie di meja makan.


Tak ada keromantisan yang biasanya dilakukan oleh Nania dan Julien's. Pagi itu Julien's benar-benar dingin. Sebelum Julien's memasuki mobilnya. Nania menghampiri Julien's terlebih dahulu.


"Kamu kenapa diam seperti itu?" Tanya Nania.


"Kamu kenapa melakukan itu kepada Marrie?" Tanya Julien's.


"Jadi kamu percaya kalau aku sengaja kasih kamu kosmetik yang tidak cocok untuk Marrie?" Tanya balik Nania dengan suara melirih.


"Tapi kenyataannya Marrie jadi jerawatan setelah pake kosmetik dari kamu." Jawab Julien's.


"Baik, aku akan buktikan kalau aku gak bersalah. Aku gak pernah punya niatan untuk mencelakai Marrie." Tegas Nania.


Julien's tak kembali membalas ucapan dari Nania. Dia langsung masuk kedalam mobil. Kemudian langsung meminta sopirnya untuk berangkat.


Sakit, namun sikap dari Julien's membuat Nania semakin ingin membuktikan jika dia tidak bersalah. Nania akan membuktikan itu semua pada Julien's.


Begitu Marrie pergi ke sekolah, Nania secara mengendap-endap masuk kedalam kamar Marrie. Dia berusaha mencari bukti yang bisa mematahkan fitnah Marrie kepadanya. Namun Dia tidak menemukan apapun untuk dijadikan bukti pada Julien's.


Bak jatuh, tertimpa tangga pula. Ketika Nania akan keluar dari kamar Marrie. Tiba-tiba dia berpapasan dengan Beatrice yang akan masuk juga kedalam kamar Marrie. Nania dan Beatrice saling terkejut begitu berpapasan.


"Mau apa kamu masuk ke kamar anak saya?" Tanya Beatrice dengan tegas.


"Tadi aku..." Jawab Nania menggantung sambil menggaruk rambut bagian belakangnya.


"Tadi apa?" Beatrice mendesak.


"Tadi aku mau merapikan kamar Marrie." Jawab Nania.


Beatrice melihat kamar yang masih berantakan.


"Kamu bersihin bagian mana, lihat kasur Marrie masih berantakan." Ucap Beatrice.


Nania semakin panik. Untung dia mendapatkan sebuah ide untuk membuat aksinya itu tidak ketahuan oleh Beatrice.

__ADS_1


"Sapu, aku mau ngambil sapu terlebih dahulu. Baru aku bersihin kasur Marrie." Ucap Nania mencoba tenang.


Beatrice menatap tajam Nania. Kemudian dia memanggil pembantunya.


"Iya Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pembantu Beatrice.


"Saya mau tanya sama kamu. Kalau kamu mau merapikan kamar Marrie, kamu suka bertanya terlebih dahulu pada Marrie?" Tanya Beatrice.


"Iya Bu." Jawab pembantu Beatrice sambil menunduk.


"Ada seorang yang mengaku penghuni rumah utama di sini, tapi gak punya adab. Masuk kamar orang tanpa permisi." Sindir Beatrice.


Nania langsung kesal. Namun dia berusaha menahan rasa kesalnya untuk tidak menjadi keributan dengan Beatrice. Dia hanya meminta maaf pada Beatrice.


"Iya, aku salah. Aku lupa minta izin pada Marrie. Maafin aku." Ucap Nania menunduk.


"Ternyata attitude kamu jauh lebih buruk dari seorang pembantu. Bagaimana kamu bisa di pilih oleh Julien's." Ledek Beatrice.


Hati Nania semakin terbakar. Namun dia berusaha menahan amarahnya. Dia tak memperdulikan lagi ucapan Beatrice. Kemudian dia pergi meninggalkan Beatrice untuk mengambil sapu. Dia tak ingin Beatrice curiga padanya.


Selesai merapikan kamar Marrie. Nania bersiap untuk mencari bukti lain. Dia berniat mendatangi toko tempat kosmetik yang dia beli untuk Marrie.


Tanpa membawa Theo dan Romeo. Nania berangkat menggunakan salah satu mobil milik Julien's. Dia berangkat tanpa diketahui Beatrice. Sebab dia takut akan terjadi keributan jika Beatrice mengetahui dia pergi menggunakan mobil milik Julien's.


Sehabis memarkir mobil, Nania segera bergegas menuju kedalam toko. Namun tepat di depan toko, Thomas dengan seorang temannya berada disana. Sempat berhenti sejenak, untuk menghindari pertemuan dengan Thomas. Namun dengan pandangan yang menoleh kearah samping dan tangan yang ditempelkan di samping wajah. Nania berharap Thomas tidak melihatnya.


"Nania." Ucap Julien's antuasias.


Nania tak memperdulikan Thomas. Dia tetap berjalan kedalam toko.


Thomas tak tinggal diam, dia mengikuti Nania dari belakang sambil terus memanggil nama Nania.


Thomas berhasil menghentikan langkah Nania. Dia berhasil menarik tangan Nania. Kemudian menahannya.


"Nania tunggu dulu." Ucap Thomas.


"Ada apa sih." Jawab ketus Nania sambil membanting tangan Thomas.


"Aku cuman butuh satu jawaban dari kamu." Ucap Thomas.


"Jawaban apa?"


"Sejauh mana hubungan kamu dengan chef Julien's?" Tatap tajam Thomas.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu." Nania mencoba pergi.


"Urusan aku." Thomas menarik tangan Nania kembali.


"Aku masih mencintai kamu." Tegas Thomas.


"Tapi aku enggak, dan aku minta kamu jangan pernah mengganggu lagi aku." Ucap Nania mencoba melepaskan tangan Thomas.


"Aku gak akan biarkan orang lain miliki kamu. Apalagi seorang pria tua seperti chef Julien's. Aku gak akan biarkan." Thomas semakin kuat menggenggam tangan Nania.


Tanpa pikir panjang, Nania langsung berteriak untuk melarikan diri dari genggaman tangan Julien's. Akhirnya seorang pria yang merupakan petugas keamanan dari toko kosmetik mendatangi Nania. Seketika Thomas panik, kemudian langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Nania.


Thomas dan temannya yang awalnya asyik bermain ponsel. Ikut berlari menghindari kejaran dari petugas keamanan. Sementara rasa lega dapat dirasakan oleh Nania dengan kepergian dari Thomas. Dia segera mungkin masuk kedalam toko.


Nania disambut baik oleh seorang SPG toko, begitu masuk kedalam toko. Nania yang ingin bertemu dengan pemilik toko. Meminta SPG toko itu untuk mengantarnya kepada pemilik toko.


Diwaktu bersamaan, pemilik toko itu baru masuk kedalam toko. Sehingga Nania langsung bertemu dengan pemilik toko tersebut.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pemilik toko.


"Siang pak, saya mau tanya sesuatu." Ucap Nania.


"Tanya soal." Tanya pemilik toko kembali.


"Saya mau tanya soal salah satu produk kosmetik yang beberapa hari yang lalu saya beli. Apakah itu aman untuk remaja?" Tanya Nania.


"Oh tentu saja itu aman. Kami belum menemukan kasus kerusakan kulit yang disebabkan oleh produk kami. Sebab produk kami memang diperuntukkan untuk kulit remaja." Tegas pemilik toko.


"Tapi kenapa anak tiri saya bisa jerawatan?" Tanya Nania kembali.


"Pertanyaan apakah benar anak ibu pakai produk kami. Bisa sajakan dia pakai produk dari yang lainnya. Terus menyalahkan produk kami. Hati-hati, itu bisa jadi pencemaran nama baik." Bantahnya.


Nania seketika terdiam dengan penjelasan dari pemilik toko. Dia setuju dengan penjelasan dari pemilik toko itu. Tetapi bukti itu tidak cukup untuk membantah fitnah dari Marrie padanya.


Bukti yang tak banyak yang didapat oleh Nania, tetap membuatnya berani untuk mengatakan Marrie telah memfitnahnya. Sehingga dia memberanikan diri untuk menemui Julien's, dengan tujuan untuk menjelaskan semuanya.


Dia duduk disamping Julien's yang sedang makan di meja makan. Tangan Nania mencoba menggenggam tangan kiri Julien's yang tergeletak diatas meja. Kemudian Nania menggenggam dengan erat. Perlahan dia mulai menatap wajah Julien's yang terlihat begitu letih.


"Kamu masih marah sama aku?" Tanya Nania.


"Aku gak marah, tapi aku kecewa sama kamu." Jawab Julien's.


"Karena kosmetik itu?" Tanya Nania.

__ADS_1


"Karena kelalaian kamu. Seharusnya kamu bisa lebih hati-hati lagi." Jawab Julien's bergegas pergi.


Seketika air mata Nania menetes begitu melihat sikap dingin Julien's. Dia tak menyangka Julien's akan bersikap seperti itu padanya.


__ADS_2